Setelah Hujan

Setelah Hujan
Berteman


__ADS_3

Jujur saja, Daniar merasa bingung. Namun, dia juga tidak bisa menolak ajakan Yandri. Lagi pula, tidak ada salahnya menyenangkan hati Bintang saat ini. Ya, hitung-hitung penebusan dosa karena sudah membuat gadis kecil itu kecewa tadi pagi.


Pasangan yang telah resmi bercerai itu pun, berjalan beriringan menuju pelataran parkir. Tiba di sana, Yandri melangkahkan kaki lebih cepat lagi untuk mendahului Daniar.


"Silakan masuk, Nona!" gurau Yandri, membuka pintu mobil untuk mantan istri seraya tersenyum manis.


Senyum yang sama seperti saat pertama kali Daniar bertemu dengannya. Hingga untuk beberapa detik, Daniar mematung di depan pintu mobil yang telah terbuka.


Tolong jangan perlakukan aku seperti ratumu lagi, Kang. Kalau begini caranya, akan susah bagiku untuk melupakan kamu, batin Daniar.


"Hey! Kok bengong sih, Bun. Masuklah! Atau ... kita akan terlambat menjemput Bintang," ujar Yandri, membuyarkan lamunan Daniar.


"I-iya, Kang," jawab Daniar, melangkahkan kaki memasuki mobil mantan suaminya.


Yandri berjalan memutari bagian depan mobilnya. Dia kemudian memasuki pintu kemudi. Setelah mobil menyala, Yandri kemudian melajukan mobilnya keluar dari halaman kantor pengadilan agama.


Setelah melewati 15 menit perjalanan. Akhirnya, mereka tiba di kolam renang Tirta. Tempat di mana sekolah Bintang melakukan kelas renang.


Daniar membuka pintu mobil. Sesaat kemudian, dia berjalan menuju tempat penjualan tiket.


"Permisi, Pak! Numpang tanya, apa siswa dari SD Tunas Bangsa sudah selesai, kelas berenangnya?" tanya Daniar kepada penjaga tiket kolam renang.


"Sebentar ya, Bu. Saya cek dulu," jawab si penjaga tiket.


Daniar mengangguk. Untuk sejenak, dia menunggu informasi dari si penjaga tiket. Hingga beberapa menit kemudian, si penjaga tiket pun kembali.


"Pembelajarannya baru saja usai, Bu. Sepertinya, anak-anak sedang berganti pakaian," tutur si penjaga tiket.


"Oh, baiklah. Kalau begitu, saya tunggu di sini saja," sahut Daniar.


"Iya, silakan Bu. Eemh ... Ibu bisa menunggunya di bangku itu," balas si penjaga tiket sambil menunjukkan sebuah kursi panjang dengan sopan.


Daniar mengangguk. Dia melangkahkan kaki menuju kursi tunggu yang telah disediakan pihak kolam renang. Daniar mendaratkan bokongnya di kursi tersebut. Sesekali, Daniar mencuri pandang kepada mantan suaminya yang sedang menunduk memainkan ponsel dari balik kemudi.


Tiba-tiba, ....


"Bundaa!" teriak Bintang, berlari menghambur ke arah Daniar.


Sembari tersenyum lebar, Daniar segera berdiri untuk menyambut kedatangan putrinya.


Brugh!


Bintang menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Daniar. Terasa begitu erat kedua tangannya melingkar di pinggang Daniar. Membuat Daniar menautkan kedua alisnya melihat sikap Bintang. Hmm, ada apa dengan dirinya? batin Daniar.


"Apa kelasnya sudah selesai?" tanya Daniar.


Bintang melepaskan pelukannya. "Sudah, Bun."

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo kita pergi!" ajak Daniar.


"Taksinya sudah datang, Bun?" tanya Bintang seraya mengedarkan pandangannya.


"Tuh!" Dagu Daniar menunjuk mobil Yandri yang tengah terparkir di antara banyaknya motor.


"Ayah!" pekik Bintang.


Mendengar suara anaknya, sontak Yandri mengangkat wajah. Senyumnya terbit saat melihat gadis kecil tengah berlari ke arahnya.


Yandri membuka pintu mobil. Dia keluar dan berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Bintang. Hingga beberapa detik kemudian, Bintang menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Yandri.


"Bibin senang, Ayah sama Bunda datang buat jemput Bibin," bisik Bintang di telinga ayahnya.


Yandri mengusap punggung Bintang. "Tentu saja kami akan datang, Nak. Kami adalah orang tua kamu. Sudah kewajiban kami untuk selalu menjagamu," sahut Yandri.


Ayah dan anak itu saling menguraikan pelukan tatkala Daniar mendekatinya.


"Apa kita bisa pergi sekarang?" tanya Daniar.


"Hmm, boleh juga, Bun. Eh, gimana kalau kita makan siang dulu sebelum jalan-jalan, sekalian shalat dzuhur juga. Setelah makan, baru kita pergi," tawar Yandri.


"Jalan-jalan?" ulang Bintang, mengernyitkan keningnya.


"Benar Sayang, hari ini kita akan jalan-jalan ke wisata alam Parung. Kamu mau, 'kan? Di sana ada mini zoo, kamu bisa melihat berbagai macam binatang. Ya ... meskipun enggak terlalu komplit," jawab Yandri.


"Hmm, anggap saja seperti itu," jawab Yandri.


"Horeee!" teriak Bintang, melompat-lompat kegirangan.


"Ya sudah, keburu siang. Ayo buruan Bibin masuk mobil!" perintah Daniar.


"Baik, Bun."


Dengan wajah ceria, Bintang membuka pintu belakang mobil ayahnya. Gadis kecil itu pun melompat memasuki mobil.


Dalam perjalanan menuju tempat wisata, mereka singgah di rumah makan Si Abah, sebuah rumah makan sederhana khas sunda yang sudah menjadi langganan Yandri dan Daniar ke mana pun mereka bepergian.


Tiba di sana, Daniar segera memesan makanan kesukaan Bintang dan Yandri. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya mereka menyantap makan siangnya diselingi cerita Bintang tentang kelas berenang hari ini.


Singkat cerita. Pukul 2 siang, mereka tiba di tempat wisata alam Parung. Setelah membeli tiket, mereka kemudian memasuki tempat wisata tersebut.


Bintang berjingkrak-jingkrak berlari kecil melihat kandang aneka jenis satwa yang berada di sana. Dimulai dari jenis unggas, reptil dan mamalia, sebagian hewan ada di tempat itu. Tidak hanya melihat hewan saja, Bintang pun sangat antusias mencoba beberapa jenis permainan yang menantang adrenalin. Anak itu memang tomboy, sepertinya dia tidak memiliki rasa takut saat mencoba permainan flying fox ditemani sang ayah. Daniar tersenyum lepas melihat kebahagiaan terpancar jelas di raut wajah Bintang.


Setelah puas bermain, akhirnya mereka melepas lelah di sebuah kedai es krim yang begitu viral di mana-mana.


"Coklat strawberry satu cup besar ya, Mas," pesan Yandri kepada si penjual.

__ADS_1


"Mau size yang mana, Pak?" jawab si penjual seraya menunjukkan cup berbagai ukuran yang terpampang di brosur depan.


"Paling besar saja, Mas," pinta Yandri.


"Baiklah. Mohon ditunggu beberapa menit, Pak," lanjut si penjual.


Yandri mengangguk. Setelah itu, dia berjalan mendekati Bintang dan Daniar yang sudah terlebih dahulu duduk di kursi pengunjung kedai.


Yandri menautkan kedua alisnya melihat ekspresi wajah kedua perempuan yang amat disayanginya. Baik Bintang ataupun Daniar, mereka sama-sama terlihat bersedih. Entah apa yang sedang dibahas oleh nmereka. Yandri kemudian mempercepat langkahnya agar segera sampai di meja tersebut.


"Ada apa ini?" tanya Yandri begitu tiba.


Bintang beranjak dari kursinya. Dia kembali memeluk pinggang ayahnya.


"Apakah ini piknik kita yang terakhir?" tanya Bintang terdengar serak.


Yandri begitu terkejut mendengar pertanyaan tak masuk akal, keluar dari bibir mungil anaknya. Seketika, dia menghela napas berat ketika melihat sikap Daniar yang semakin menundukkan wajah.


"Kemarilah, Nak. Kita bicara sebentar," ucap Yandri seraya membawa Bintang untuk duduk kembali. "Apa Bunda kamu sudah memberitahukan tentang perpisahan Ayah dan Bunda?" tanya Yandri.


Bintang mengangguk.


Ah, Bun ... kenapa harus terburu-buru? gerutu Yandri dalam hatinya.


"Maaf, Kang. Mungkin Niar telah lancang, tapi cepat atau lambat ... Bintang harus tahu jika kita tidak akan pernah tinggal bersama lagi," kata Daniar, seolah sedang mencari pembelaan.


Yandri kembali menghela napasnya. Dia kemudian menatap Bintang.


"Bunda kamu benar, Nak. Ayah dan Bunda tidak akan pernah tinggal bersama lagi dalam satu rumah. Namun, bukan berarti kita tidak bisa bersama-sama selamanya. Ikatan pernikahan kami boleh saja putus, tapi bukan untuk berpisah. Karena ikatan pernikahan itu sudah digantikan dengan hubungan berteman. Jadi, sebagai teman ... Ayah dan Bunda bisa bersama-sama mengajak kamu bermain dan berjalan-jalan. Seperti sekarang," papar Yandri.


"Apa itu artinya, Bibin harus memilih salah satu di antara kalian?" tanya Bintang.


Deg!


Baik Yandri ataupun Daniar, keduanya sama-sama terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Bintang. Entah mendapatkan inspirasi dari mana, sehingga anak sekecil itu mempunyai pertanyaan yang cukup menohok hati kedua orang tuanya.


"Ke-kenapa Bibin bertanya seperti itu?" tanya Daniar, sesak.


"Rara bilang, saat kedua orang tua berpisah, maka anak-anak pasti diberikan pertanyaan. Apakah mereka mau ikut ibu, atau mau ikut ayahnya," jawab Bintang polos.


"Astaghfirullah ..." gumam Daniar.


Yandri berpindah tempat. Dia kemudian duduk di samping kanan kursi anaknya.


"Dengar, Nak. Ayah dan Bunda tidak akan memberikan pilihan kepadamu. Seperti biasa, Ayah harus kerja ke luar kota, dan kamu pasti akan tinggal bersama Bunda. Namun, saat Ayah pulang, kita akan pergi jalan-jalan. Bedanya, kalau Ayah pulang, Ayah tidak bisa tidur di rumah enin Salma lagi. Tapi kalau kamu mau, kamu bisa tidur di rumah Ayah," kata Yandri.


"Di rumah nenek? No!" seru Bintang.

__ADS_1


__ADS_2