Setelah Hujan

Setelah Hujan
Gelap Mata


__ADS_3

Yandri cukup terkejut mendengar suara seorang wanita yang menawarinya minuman. Sontak dia menoleh. Tampak seorang wanita cantik mengenakan syar'i begitu anggunnya. Yandri hanya menghela napas ketika menyadari siapa sebenarnya wanita berhijab itu.


"Tidak, terima kasih. Aku sudah minum tadi," jawab Yandri berbohong.


Siska menarik napas dalam. Sudah jelas-jelas dia melihat jika Yandri belum menyentuh minuman apa pun, tapi kenapa dia harus berbohong? Apa mungkin karena dia masih menyimpan kebenciannya, pikir Siska.


"Apa kamu masih begitu kecewa kepadaku?" tanya Siska, pelan.


Yandri mengernyit. Dia tidak mengerti arah pembicaraan wanita yang tiba-tiba muncul di hadapannya setelah bertahun-tahun.


"Apa aku punya alasan untuk kecewa?" Yandri malah balik bertanya.


"Sudah belasan tahun, Yan. Tapi kenapa sikapmu masih dingin padaku," balas Siska.


"Hmm, itu hanya perasaan kamu saja. Sikapku memang seperti ini. Aku pikir, kamu pun tahu tentang itu," jawab Yandri.


"Aku benar-benar minta maaf, Yan. Aku menyadari semua kebodohanku. Tapi aku bersumpah, sekarang aku telah berubah. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu," ungkap Siska tanpa merasa malu untuk menyatakan perasaan cintanya.


"Maaf, kamu salah mencintai orang. Aku pria yang sudah berkeluarga. Permisi!"


Tak ingin menanggapi wanita dari masa lalunya, Yandri kemudian melangkahkan kaki untuk menghindari Siska.


"Kau tidak ingin membagi perasaanmu denganku?" teriak Siska.


Untuk sejenak, langkah Yandri terhenti. Jujur saja, dia tidak mengerti makna di balik pertanyaan yang dilontarkan Siska.


"Aku tahu kamu sudah lama berpisah dengannya, Yan. Apa kamu tidak ingin membagi keluh kesahmu padaku. Emm, setidaknya sebagai seorang sahabat," lanjut Siska, penuh harap.


Yandri cukup terkejut mengetahui jika Siska tahu tentang statusnya. Namun, dia tidak akan pernah membagi perasaannya dengan siapa pun. Terlebih lagi dengan seorang wanita. Meski hanya sebatas persahabatan.


"Tidak pernah ada persahabatan sejati di antara pria dan wanita. Dan kalaupun ada, itu bukanlah aku!" tegas Yandri, seraya berlalu pergi.


Sakit. Tentunya hati Siska kembali sakit ketika menerima penolakan Yandri lagi. Namun, entah kenapa Siska masih berusaha untuk mengesampingkan rasa sakitnya. Mungkinkah karena rasa cinta Siska terlalu besar dibandingkan rasa sakitnya?


.


.


Waktu terus berjalan. Keluhan Bu Maryam terhadap sikap Yandri yang dingin kepada wanita, membuat Yandri semakin enggan untuk pulang. Dia bahkan kembali berniat menimba ilmu ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ya, cita-cita kecil Yandri untuk menjadi seorang Guru Besar, kini kembali menyeruak dalam benaknya.


"Assalamu'alaikum, Bin. Ini Ayah," ucap Yandri saat dia menghubungi sekolah asrama putrinya.


"Wa'alaikumsalam. Iya, Yah ... apa kabar?" jawab Bintang di ujung telepon.

__ADS_1


"Alhamdulillah, kabar Ayah baik, Nak. Kamu sendiri gimana, sehat?" Yandri balik bertanya.


"Bibin sehat, Yah," jawab Bintang.


"Hmm, syukurlah kalau begitu. Oh iya, Bin. Ayah mau bicara penting sama kamu, bisa?" tanya Yandri lagi.


"Bisa Yah. Kebetulan Bibin lagi rehat, kok," kata Bintang.


"Mungkin, untuk enam bulan ke depan, Ayah enggak bisa menemui kamu, Nak. Soalnya Ayah berniat melanjutkan pendidikan Ayah di Malaysia. Kamu enggak pa-pa, 'kan?" tanya Yandri.


Hening. Untuk beberapa detik, tidak terdengar jawaban dari ujung telepon.


"Bin, kamu keberatan, ya?" tanya Yandri.


"Eh, enggak Yah," jawab Bintang.


"Kok diam?" lanjut Yandri.


"Enggak pa-pa, Yah. Bibin cuma sedikit kaget saja, kenapa Ayah harus melanjutkan pendidikan di negara lain?" kata Bintang.


"Kebetulan ada program pertukaran pelajar di sekolah Ayah. Dan Ayah terpilih untuk menjadi perwakilan dari sekolah," papar Yandri.


"Ya sudah, Ayah berangkat saja," jawab Bintang.


"Itu artinya, satu tahun setengah kita enggak bakalan ketemu, Yah," sahut Bintang.


"Sepertinya begitu, Nak," balas Yandri.


"Hmm, ya sudah, enggak apa-apa, Yah. Lagian, Ayah di negeri orang, 'kan, bukan untuk liburan, hehehe,..." gurau Bintang.


"Insya Allah, kalau ada libur, Ayah pasti pulang, Nak," jawab Yandri.


"Iya, Yah. Udah dulu ya, Yah. Bibin dipanggil Rohisyah," ucap Bintang.


"Oh, oke Nak. Jaga diri baik-baik. Ayah sayang sama Bibin."


"Iya, Yah. Bibin juga sayang sama Ayah. Dah Ayah, assalamu'alaikum!" pungkas Bintang, mengakhiri pembicaraannya di seberang telepon.


"Wa'alaikumsalam."


Setelah membalas salam anaknya, Yandri kembali meletakkan ponsel di atas meja kerjanya. Harapannya untuk kembali bersatu dengan Daniar, semakin tipis. Karena itu, Yandri pun kembali menumbuhkan cita-cita masa kecilnya untuk melupakan perasaan dia terhadap Daniar.


.

__ADS_1


.


Pertemuan pertamanya setelah bertahun-tahun pun tidak merubah sikap Yandri kepada dirinya. Siska berpikir, semua itu tentu karena wanita itu. Mantan istrinya Yandri.


Aku harus memikirkan cara supaya Yandri tidak harus selalu bertemu dengan Daniar. Jika mereka masih terus bertemu, tentunya akan semakin sulit bagi Yandri untuk melupakan wanita itu. Dan, yang menjadi alasan pertemuan itu adalah Bintang, putri mereka satu-satunya. Jika Yandri bisa mengambil hak asuh Bintang dari Daniar, tentunya dia tidak punya alasan untuk bertemu Daniar lagi. Hmm, aku punya ide bagaimana menghentikan pertemuan mereka, batin Siska menyeringai.


Siska sedikit memoles wajahnya dengan riasan natural. Setelah itu, dia mengambil kunci motornya dan keluar dari rumah. Siska berniat mengunjungi Bu Maryam untuk menyampaikan sesuatu.


Setelah melewati perjalanan selama hampir setengah jam, Siska akhirnya tiba di rumah Bu Maryam.


"Assalamu'alaikum!" sapa Siska sembari mengetuk pintu rumah Bu Maryam.


"Wa'alaikumsalam." Seorang wanita tua datang untuk membuka pintu. "Eh, Nak Siska. Mari silakan masuk!" ajak wanita itu yang tak lain adalah Bu Maryam.


"Apa kabar, Bu?" Siska menyapa seraya mencium punggung tangan Bu Maryam.


"Alhamdulillah, kabar Ibu baik. Kamu sendiri?" Bu Maryam balik bertanya.


"Alhamdulillah, sehat Bu," balas Siska.


"Ayo duduk, Nak!" Bu Maryam mempersilakan tamunya untuk duduk.


Sesaat kemudian, mereka duduk saling berhadapan. Bu Maryam berteriak memanggil anaknya untuk membuatkan minuman. Lepas itu dia kembali bertanya kepada Siska.


"Tumben kemari, Nak. Ada keperluan apa?" tanya Bu Maryam yang merasa penasaran karena Siska datang, padahal Yandri tidak ada di rumah.


Ya, memang benar. Saat Yandri tengah menjalani masa cutinya, Siska selalu mencari-cari alasan untuk mengunjungi Bu Maryam agar bisa bertemu Yandri.


"Begini, Bu. Ibu sendiri tahu jika sikap Yandri masih begitu dingin terhadap Siska. Dan semua itu tentunya ada alasannya," kata Siska memulai topik pembicaraan.


"Maksud kamu? Alasan yang seperti apa, Nak? Bukankah Yandri pernah bilang jika dia sudah memaafkan kesalahan kamu di masa lalu?" tutur Bu Maryam.


"Itu memang benar, Bu. Tapi bukan alasan seperti itu yang Siska maksud," tukas Siska.


"Lantas?"


"Bu, Yandri tidak akan merubah perasaannya selama masih rutin bertemu Daniar," cicit Siska.


"Jujur Ibu tidak mengerti, Sis. Tolong langsung pada intinya saja," jawab Bu Maryam yang mulai merasa kesal dengan pembahasan Siska yang terlalu bertele-tele menurutnya.


"Bagaimana jika kita ambil hak asuh Bintang, Bu. Ibu sendiri tahu gimana sikap Yandri terhadap Bintang. Jika Bintang masih berada di tangan Daniar, dia bisa dijadikan alat untuk mengeruk uang Yandri. Akan tetapi, jika Bintang tinggal bersama Ibu, semua pengeluaran Bintang bisa Ibu ketahui dengan jelas. Ibu bisa mengatur sendiri semua penghasilan Yandri tanpa harus berbagi lagi dengan Bintang. Karena semua kebutuhan Bintang, Ibu yang akan mengaturnya nanti."


Entah setan mana yang merasuki Siska hingga dia sanggup menghasut Bu Maryam. Padahal, niat awal Siska hanya ingin menjauhkan Daniar dan Yandri. Namun, entah kenapa dia begitu lancar membicarakan sebuah rencana keji memisahkan ibu dan anak. Sepertinya, cinta sudah membuat Siska gelap mata.

__ADS_1


__ADS_2