Setelah Hujan

Setelah Hujan
Hidup Baru


__ADS_3

Menjelang dzuhur, motor yang dikendarai Yandri tiba di rumah mertuanya. Bu Salma menyambut gembira kepulangan putri sulung dan cucunya. Semenjak suaminya meninggal, Bu Salma selalu merasa kesepian di rumah. Ditambah lagi, Danita pun diboyong oleh Roni untuk tinggal di tempat kelahiran Roni. Sedangkan Danisa? Hmm, hampir setiap hari anak itu tidak pernah ada di rumah. Karena itu Bu Salma selalu merasa kesepian di rumahnya sendiri.


"Alhamdulillah ... cucu Enin sudah sampai juga," ucap Bu Salma menyambut cucunya.


Gadis kecil itu langsung merentangkan kedua tangan mungilnya. "Nin!" teriaknya seraya berlari menghampiri Bu Salma.


Bu Salma berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Bintang. Setelah itu, dia merangkul Bintang dan menggendongnya. Dia juga menciumi pipi Bintang yang terlihat tirus.


"Anak kalian kok kurusan sih!" protes Bu Salma saat merasa tubuh Bintang terasa ringan.


"Mungkin karena Bintang semakin tinggi saja, Bu. Jadi kelihatan kurus," jawab Daniar mencari alasan.


"Hmm, mungkin juga. Ya sudah, ayo masuk!" ajak Bu Salma, "Enin sudah siapkan puding coklat kesukaan Bintang. Yuk, kita cicipi!" lanjutnya seraya menggendong Bintang memasuki rumah.


"Suka, Nin, Bibin suka cokat," celoteh Bintang.


Yandri dan Daniar saling bergandengan tangan dan mengikuti Bu Salma dari belakang.


.


.


Hari demi hari terus berlalu. Tanpa terasa, sudah hampir seminggu Daniar tinggal bersama ibu dan adik bungsunya. Bintang yang awalnya tidak pernah ingin keluar rumah, kini mulai tertarik untuk bermain di luar. Sudah dua hari dia meminta Daniar menemaninya bermain di luar. Terlebih lagi, saat dia melihat sekolah taman kanak-kanak yang hanya terhalang satu rumah di samping rumah Bu Salma.


"Bun, Bibin cekolah," ajak Bintang seraya menarik tangan Daniar.


Mau tidak mau, Daniar mengikuti keinginan sang putri. "Tapi sambil makan, ya," kata Daniar.


Bintang mengangguk. Dia kemudian berlari ke luar rumah. Tiba di halaman sekolah, Daniar bertemu dengan Bu Elly yang baru saja hendak memasuki kelas.


"Eh, Bu Niar. Apa kabar?" sapa Bu Elly.


"Alhamdulillah, kabar saya baik, Bu. Ibu sendiri, apa kabar?" Daniar balik menyapa seraya mengulurkan tangannya.


"Alhamdulillah, baik Bu," jawab Bu Elly, menyambut uluran tangan Daniar. "Kok tumben ada di sini, lagi enggak ada jadwal, Bu?" tanya Bu Elly yang mengetahui jika Daniar mengajar di salah satu sekolah tempat dia tinggal bersama suaminya.


"Kebetulan saya sudah resign dari sekolah, Bu," jawab Daniar.


Bu Elly terkejut, "Kenapa?"


Daniar pun menceritakan asal muasal dia berhenti dari tempatnya bekerja.

__ADS_1


"Oh, jadi begitu ya. Terus, saat ini aktivitas Bu Niar, apa?" tanya Bu Elly lagi.


"Untuk sementara, saya sedang menikmati peran sebagai ibu rumah tangga saja, Bu," jawab Daniar.


"Apa Ibu tidak ingin mengajar lagi?" tanya Bu Elly.


"Jujur saja, Bu. Apa yang saya alami di tempat kerja kemarin, membuat saya sedikit trauma. Bintang masih terlalu kecil untuk dititipkan. Apalagi dia tipe anak yang susah untuk beradaptasi dengan orang baru. Sedangkan mencari sekolah yang mengizinkan pegawainya membawa anak, saya rasa itu bukan hal yang mudah," tutur Daniar.


"Tidak mudah untuk tingkat SD atau SMP, Bu. Tapi untuk taman kanak-kanak, saya rasa itu cukup mudah. Jika Ibu memang berkenan, Ibu bisa kembali bekerja di sekolah ini. Selain untuk mengajar, Ibu juga bisa sambil mengasuh Bintang. Tuh lihat, sepertinya Bintang sudah mulai tertarik untuk sekolah." Bu Elly menunjuk Bintang yang mulai asyik bermain balok susun bersama murid-murid TK.


Daniar tersenyum. Tidak dipungkiri jika jiwa mengajarnya masih melekat kuat dalam dirinya. Terkadang, terbersit niat di hati Daniar untuk kembali melamar pekerjaan di taman kanak-kanak yang dulu pernah dia tinggalkan. Namun pengalaman bersama Bu Aisyah, membuat Daniar tidak siap jika harus ditolak kembali dengan alasan sang anak. Namun, siapa sangka jika mantan atasannya dulu, kembali mengajak Daniar untuk bekerja.


"Bagaimana, Bu Niar? Apa Ibu bersedia?" tanya Bu Elly membuyarkan lamunan Daniar.


"Akan saya diskusikan terlebih dahulu dengan kang Yandri, Bu," jawab Daniar.


"Baiklah, saya tunggu jawabannya secepatnya ya, Bu Niar. Dan saya harap, jawaban Ibu bukanlah jawaban penolakan, hehehe,..." ucap Bu Elly.


"Insya Allah, Bu," balas Daniar.


"Ya sudah, Bu. Kalau begitu, saya masuk kelas dulu. Mari!" pamit Bu Elly.


"Iya, silakan Bu," jawab Daniar.


.


.


Di rumah Bu Maryam.


Wanita paruh baya itu terlihat kesal saat mengetahui jika menantunya telah pulang kampung. Terlebih lagi, sang anak pyn memutuskan untuk kembali ke sekolah. Karena itu, Bu Maryam merasa kesulitan untuk menemui putranya. Bu Maryam segan untuk mengunjungi Yandri di sekolah.


"Bagaimana ini, Yo? Pernikahan Joni hanya tinggal seminggu lagi, tapi Ibu sama sekali belum mendapatkan uangnya," ucap Bu Maryam terlihat cemas.


"Apa Ibu sudah bicara lagi dengan bang Yandri?" tanya Yoga.


"Belum, Yo. Sejak Daniar pindah, bukannya pulang ke rumah, Yandri juga malah ikut-ikutan pindah lagi ke sekolah. Ibu jadi segan, 'kan, kalau harus nyamperin Yandri di sekolah," dengus Bu Maryam terlihat kesal


"Daniar pindah? Memangnya dia pindah ke mana, Bu?" tanya Yoga, heran.


"Ke rumah ibunya," jawab Bu Maryam.

__ADS_1


"Dia enggak ngajar lagi di tempat bang Yandri dong?" Lagi-lagi Yoga bertanya.


"Ya enggak atuh, Yo," jawab Bu Maryam.


"Kenapa Daniar pindah, Bu?" tanya Yoga lagi.


"Ih, mana Ibu tahu, Yo. Udah ah, enggak usah ngomongin dia lagi! Sekarang, tolong pikirkan bagaimana caranya supaya Ibu mendapatkan uang untuk sumbangan pernikahan keponakan kamu itu," tukas Bu Maryam.


"Apa kak Sarah tahu kalau ibu mau nyumbang?" tanya Yoga lagi.


Sejenak, Bu Maryam berpikir. "Setahu Ibu sih, enggak. Karena Ibu enggak pernah cerita juga kalau Ibu mau nyumbang buat kawinan Joni," jawab Bu Maryam


Ya udah enggak usah terlalu memaksakan diri Bu. Lagian kak Sarah belum tahu ini," jawab Yoga.


"Huh, semua ini gara-gara kakak ipar kamu. Coba kalau dia enggak pindah, Ibu pasti bisa menekan Yandri untuk menghasilkan uang tersebut. Huh, benar-benar menyebalkan!" Kembali Bu Maryam menggerutu kesal


.


.


Setelah berdiskusi dengan ibu dan suaminya, akhirnya Daniar memutuskan untuk kembali bekerja di taman kanak-kanak tempat dia bekerja dulu, saat Daniar masih melajang. Tidak terlalu sulit beradaptasi di tempat kerja itu, karena memang rekan kerja Daniar merupakan personel lama taman kanak-kanak tersebut. Bahkan mereka menyambut antusias Daniar untuk kembali menjadi partner kerjanya.


"Welcome back, Bu Niar!" sambut Bu Ratna seraya merentangkan kedua tangannya.


Untuk sesaat, kedua orang itu saling berpelukan untuk melepaskan rindu.


"Saya senang Anda bisa kembali lagi sukwan di tempat ini, Bu," kata Bu Ratna.


"Sama, Bu. Saya juga senang bisa kembali bergabung dengan Ibu dan Bu Elly," timpal Daniar.


"Iya, Bu. Selamat bergabung kembali. Saya yakin Ibu pasti kerasan bekerja di sini," jawab Bu Elly.


"Tentu saja saya kerasan, Bu. Bukankah basic pengalaman saya memang mengajar anak-anak kecil, Bu," jawab Daniar.


"Hahaha, iya-ya, Bu. Benar juga. Ya sudah, silakan dilanjut temu kangennya. Lima menit lagi bel masuk berbunyi," kata Bu Elly seraya beranjak menuju kantornya.


Daniar dan Bu Ratna hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Bu Elly.


"Ayo, Bu. Saya kenalkan pada guru baru di sini," ajak Bu Ratna seraya menggandeng tangan Daniar dan mendekati seseorang yang sedang memperhatikan anak-anak yang bermain di perosotan.


"Hai Bu Ria, kenalkan ini namanya Bu Daniar. Beliau dulu sempat kerja di sini, dan sekarang akan kembali bekerja bersama kita," ucap Bu Ratna.

__ADS_1


Bu Ria mengulurkan tangannya. Mereka kemudian saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing. Melihat dari gelagatnya, Daniar sudah bisa menebak jika Bu Ria ini merupakan orang yang pandai bergaul.


Alhamdulillah ... semoga ini menjadi awal hidup baru di tanah kelahiran aku sendiri, batin Daniar.


__ADS_2