
Tanpa terasa, sudah hampir tiga bulan Yandri bekerja di tempat baru. Setelah tiga bulan, para guru baru itu diberikan kesempatan untuk bersilaturahmi dengan keluarganya. Begitu juga dengan Yandri. Hari ini, dia mengambil cuti selama sepekan untuk melepas rindu bersama keluarganya.
"Ayaaaah!" teriak Bintang saat melihat Yandri memasuki halaman rumah. Gadis kecil itu berlari dan segera menghambur ke dalam pelukan ayahnya.
"Bintang, putri Ayah yang paling cantik," sahut Yandri seraya meraih Bintang ke dalam pangkuannya. Yandri kemudian menggendong Bintang dan memasuki rumah.
"Assalamu'alaikum!" sapa Yandri sambil membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam. Eh, Nak Yandri? Kok pulang enggak kasih kabar, Nak," seru Bu Salma yang begitu terkejut melihat menantunya datang.
"Sengaja, Bu. Mau ngasih kejutan, hehehe ..." jawab Yandri, terkekeh. "Ngomong-ngomong, di mana bundanya Bintang, Bu?" tanya Yandri yang sama sekali belum melihat Daniar di rumah.
"Niar lagi ngelatih pramuka di sekolah, Nak. Katanya besok ada perlombaan tingkat kecamatan," jawab Bu Salma.
Yandri tersenyum. Istrinya itu memang tidak pernah bisa jauh dari ekskul yang satu itu.
"Bintang main sama Enin dulu, ya. Ayah mau ganti baju," kata Yandri seraya menurunkan anaknya.
"Ayo Bin, kita kasih makan kucing," ajak Bu Salma pada cucunya.
"Yuk Nin," sahut Bintang.
Kedua orang berbeda generasi itu pergi ke halaman belakang untuk memberi makan hewan peliharaan Danisa. sedangkan Yandri pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
.
.
Bu Maryam menatap kosong jendela kamarnya. Sudah tiga bulan dia tidak bertemu dengan Yandri. Entah bagaimana kabarnya anak itu selama tiga bulan terakhir. Sebenarnya, Bu Maryam menyimpan rasa penasaran akan kabar sang anak. Namun, dia sendiri enggan untuk bertanya kepada menantunya. Egonya masih begitu tinggi bersarang di hatinya. Sehingga Bu Maryam selalu mencoba menampik kerinduannya terhadap sang putra.
"Sudah sore, Bu. Sebaiknya Ibu tutup pintu jendelanya. Udara sore sudah tidak baik untuk Ibu. Nanti batuk Ibu bisa kambuh lagi,"ucap Puri menghampiri ibu mertuanya. Sejenak, kedua tangan Puri terulur untuk menutup jendela kamar sang mertua.
"Jangan ditutup, Pur! Biarkan saja," cegah Bu Maryam.
"Tapi Bu, sebentar lagi magrib," sahut Puri.
"Kalau Ibu bilang biarkan, ya biarkan saja, Pur. Apa susahnya sih," timpal Habibah ketus.
__ADS_1
Habibah datang ke kamar ibunya untuk mengantarkan obat yang tadi siang dia beli dari apotek.
"Ini obatnya, Bu," ucap Habibah seraya memberikan bungkusan plastik kecil berwarna putih.
"Terima kasih, Nak," kata Bu Maryam. "Ngomong-ngomong, apa kamu sudah menghubungi Daniar dan menanyakan kabar Yandri, Bah?" tanya Bu Maryam.
"Ish Ibu ... ngapain juga Bibah nanya Yandri ke Daniar. Bisa kege'eran tuh anak," dengus Habibah, kesal.
"Ih, kok Kak Bibah ngomongnya gitu, sih," protes Puri.
"Ya terus, Kak Bibah harus ngomong apa? Lah kamu, 'kan tahu sendiri hubungan Kak Bibah sama Daniar," timpal Yoga yang sudah berada di antara mereka.
"Nah, laki kamu pinter tuh. Lagian, kenapa enggak Ibu aja yang langsung nanya ke si Niar," tukas Habibah.
Brak!
Bu Maryam menutup jendela kamarnya dengan kasar. "Sudah, pergi kalian semua dari kamar Ibu!" ucapnya geram.
Untuk sesaat, Puri, Yoga dan Habibah hanya saling pandang. Namun, melihat wajah ibunya yang tidak sedap dipandang mata, akhirnya ketiga orang itu keluar dari kamar Bu Maryam.
.
.
Malam semakin larut. Namun, Daniar sama sekali belum melihat suaminya masuk kamar. Sepertinya, Yandri masih asyik menikmati suasana malam di taman belakang.
Karena tak bisa memejamkan mata, Daniar pun bangun dan beranjak dari tempat tidur. Sedetik kemudian, dia pergi ke taman belakang untuk menemani Yandri yang tengah asyik memperhatikan taburan bintang di langit.
"Kenapa belum tidur, Yah?" tegur Daniar yang seketika membuat Yandri menoleh.
"Eh, Bunda!" sahut Yandri, "tidak bisa tidur juga?" tebaknya.
Daniar tersenyum, dia berjalan menghampiri Yandri dan duduk di sampingnya. "Bagaimana mungkin Bunda bisa tidur kalau Ayah sendiri enggak tidur. Kenapa sih, Yah? Ada yang lagi Ayah pikirin?" tanya Daniar.
"Enggak, Bun. Ayah enggak mikirin apa-apa," jawab Yandri.
"Terus, ngapain Ayah ngelamun di sini?" Daniar kembali bertanya.
__ADS_1
"Ayah enggak ngelamun, Bun. Ayah cuma lagi nyari udara segar saja," kilah Yandri.
"Yah, kita ini sudah lama berumah tangga. Apa Bunda tidak cukup pantas untuk diajak berbagi?" tanya Daniar.
Yandri menghela napas. Dia kemudian menggenggam kedua tangan istrinya.
"Percaya sama Ayah, Bun. Ayah tidak sedang memikirkan apa pun. Mungkin ini hanya sekadar perasaan tak nyaman saja, karena dua hari lagi Ayah akan kembali meninggalkan kamu dan Bintang," sahut Yandri memberikan alasan.
Sekarang, giliran Daniar yang menghela napas. Katakanlah apa yang memang suaminya katakan itu benar. Namun, Daniar bisa merasakan jika suaminya sedang menyembunyikan sesuatu. Entah apa ....
Tiba-tiba saja, Daniar teringat akan ibu mertuanya. Dia sendiri merasa aneh. Sudah hampir sepekan suaminya pulang, tapi sama sekali tidak pernah mengajak Daniar untuk menemui ibunya. Jangankan menemui, menanyakan ibunya pun tidak. Hmm, ada apa dengan kang Yandri, batin Daniar.
"Oh iya, Yah. Liburan Ayah hanya tinggal dua hari lagi, kok Ayah belum jenguk ibu?" tanya Daniar yang mulai penasaran melihat sikap Yandri.
"Ayah belum punya uang lebih, Bun," jawab Yandri, enteng.
"Hmm, Yah. Menjenguk orang tua itu tidak harus membawa uang sekarung. Bagi setiap ibu, saat melihat anaknya sehat dan mengunjunginya, itu juga sudah cukup membahagiakan. Karena sejatinya, kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua juga," jawab Daniar.
"Hmm, itu, 'kan definisi menurut Bunda. Beda lagi dengan definisi kebahagiaan menurut orang tua lainnya," sahut Yandri.
Daniar mengernyitkan keningnya. "Kok Ayah ngomongnya gitu sih?" tanya Daniar seraya mengerucutkan bibirnya.
"Sudahlah, Bun. Ayah tahu betul bagaimana watak ibu. Ayah tidak akan pulang sebelum Ayah bisa membahagiakan ibu," jawab Yandri.
"Lantas, definisi kebahagiaan ibu itu seperti apa menurut Ayah? Bergelimang harta, begitu?" tanya ketus Daniar.
Yandri tersenyum kecut. Sedetik kemudian, dia menggedikkan kedua bahunya.
"Ish, Yah. Jangan terlalu berprasangka buruk dulu. Bunda yakin jika ibu bukan orang yang matrealistis. Setiap ibu akan merasa senang jika dikunjungi oleh anak-anaknya. Seburuk apa pun orang tua kita, mereka tetap orang tua yang telah melahirkan dan mendidik kita. Mumpung masih diberikan kesempatan, berbaktilah kepada beliau, Yah. Temui ibu. Ibu pasti sangat merindukan Ayah," tutur Daniar mencoba membujuk suaminya.
Bukan tanpa alasan Daniar bisa berkata seperti itu. Daniar juga seorang ibu, dan Daniar yakin jika kebahagiaan seorang ibu itu terletak di atas kebahagiaan anaknya. Begitu juga dengan kebahagiaan ibu mertuanya. Daniar yakin, ibu mertuanya pasti akan merasa bahagia jika dijenguk oleh anak-anaknya.
"Mungkin bulan depan saja kita temui Ibu, Bun. Saat ini Ayah harus mempersiapkan kebutuhan Bintang memasuki sekolahnya terlebih dahulu," jawab Yandri yang hatinya mulai melunak.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur," pungkas Yandri seraya merangkul istrinya dan mengajaknya memasuki rumah.
Maafkan Bunda jika terkesan memaksa, Yah. Tapi Bunda tidak ingin ibu semakin membenci Bunda dan memiliki pikiran jika Bunda melarang Ayah menemuinya, batin Daniar
__ADS_1