
Daniar sudah tidak sanggup mendengar suaminya dibicarakan. Sekalipun oleh ibunya sendiri. Tanpa mengurangi rasa hormat, Daniar menyudahi aktivitasnya dan segera berpamitan kepada ibu mertua.
Dengan berderai air mata, Daniar menyusun pakaian sang suami satu per satu ke dalam lemari. Sakit, ya batinnya teramat sakit mendengar kenyataan pilu yang harus dihadapi suaminya. Kenapa? Di dunia ini kenapa masih ada orang tua yang begitu perhitungan atas masa depan anaknya.
Bukannya merasa bangga dengan keberhasilan anak dalam dunia pendidikan, tapi ini ... anak ingin maju pun seolah menjadi beban bagi orang tua. Sungguh, Daniar tidak menyangka jika begitu banyak kerikil tajam yang merintangi suaminya dalam mengenyam pendidikan. Dan anehnya, kerikil itu justru datang dari orang-orang yang seharusnya mendukung masa depan sang suami.
Ya Tuhan ... entah apa lagi yang akan terjadi pada kehidupan rumah tangga hamba? batin Daniar.
Tak kuat menahan perih di hati. Daniar memutuskan untuk membereskan pakaiannya. Jika memang cita-cita kang Yandri menjadi beban ibunya, lalu kenapa ibu harus menagih utang kang Yandri padaku? Bukankah itu urusan ibu dan anak? Kenapa harus melibatkan aku yang hanya sekadar menantu? Apa karena kang Yandri menikah sebelum sukses? Tapi, adakah yang bisa menjamin dia bakalan sukses sebelum menikah? Hmm, hanya Tuhan yang tahu. Daniar kembali bermonolog dalam hatinya.
Satu per satu, Daniar memasukkan pakaiannya ke dalam sebuah tas besar. Ya, Daniar sudah mengambil keputusan. Dia akan pulang ke rumah orang tuanya. Dia tidak ingin menjadi beban suaminya. Terlebih lagi, saat dia mengetahui jika mertuanya ternyata begitu perhitungan.
Setelah pakaiannya rapi di dalam tas. Diam-diam Daniar pergi ke luar rumah. Tujuannya adalah sekolah di mana tempat dia bekerja. Daniar sudah tidak bisa menunggu lagi. Dia ingin segera memberitahukan niatnya pulang kepada sang suami.
Tiba di belakang sekolah, Daniar memanggil salah satu siswanya.
"Gibran! Kemarilah!" panggil Daniar seraya melambaikan tangan kepada seorang siswa laki-laki yang tengah menunggui temannya di depan kamar mandi.
Anak yang bernama Gibran itu menghampiri Daniar. "Iya, ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Gibran
"Apa kamu melihat pak Yandri?" tanya Daniar.
"Tadi sih, Gibran lihat bapak lagi salat dhuha di musala," jawab Gibran.
"Apa kamu bisa panggilkan beliau kemari?" pinta Daniar.
"Baik, Bu," jawab anak itu seraya berlalu pergi dari hadapan Daniar.
Sepeninggal muridnya, Daniar duduk di bawah pohon jati yang cukup besar. Rasa mual bergejolak dalam perutnya. Namun, Daniar mencoba menahannya.
Tak berapa lama, pria jangkung yang teramat menyayangi Daniar, datang juga. Raut wajahnya terlihat cemas saat melihat Daniar tengah duduk di bawah pohon jati.
__ADS_1
"Ada apa kamu kemari, Yar?" tanya Yandri.
Daniar berdiri, tiba-tiba dia memeluk erat suaminya. Entahlah, rasa iba bercampur sedih setelah mendengar perjuangan Yandri dalam menuntut ilmu, semakin menyesakkan dada Daniar. Namun, terlepas dari semua rasa yang campur aduk itu, rasa kagum Daniar kepada sang suami semakin membuncah.
"Hei, kamu kenapa, Sayang?" tegur Yandri semakin cemas.
"Ma-maafkan Niar, Kang. Ni-niar selalu menjadi beban Akang," ucap Daniar di sela-sela isak tangisnya.
"Sst, kok ngomongnya gitu, Yar. Demi Allah, Akang enggak pernah ngerasa dibebani sama kamu. Sudah kewajiban Akang untuk menjaga kamu. Sudah, enggak usah terlalu banyak pikiran. Kasihan dedek bayinya," kata Yandri.
Daniar melepaskan pelukannya. Sejurus kemudian, dia menatap Yandri. "Kang, boleh Niar minta sesuatu?" tanya Daniar.
Yandri tersenyum. "Hmm, tentu saja boleh. Kamu lagi ngidam, ya? Apa kamu mau mangga muda lagi?" gurau Yandri.
Daniar menggelengkan kepalanya. "Niar ... emm ... Niar mau pulang ke rumah ibu, Kang," cicit Daniar seraya menundukkan kepala.
Jujur, Yandri cukup terkejut mendengar permintaan istrinya. Tidak ada angin tidak ada hujan, istrinya tiba-tiba minta pulang. Sejenak, Yandri hanya mampu diam.
"Kang," panggil Daniar seraya menyentuh lengan suaminya.
"Boleh, 'kan, Daniar pulang ke rumah ibu?" Daniar kembali mengulang permintaannya.
Yandri menghela napas. "Kita bicarakan nanti di rumah ya, Sayang. Sebentar lagi waktu istirahat habis. Akang mau ngajar dulu," jawab Yandri.
Daniar mengangguk. Dia kemudian pamit kepada suaminya dan kembali ke rumah. Meskipun dalam hatinya, Daniar merasa dongkol karena Yandri terkesan tidak menghiraukan permintaannya.
.
.
Waktu terus berlalu. Pukul setengah dua siang, Yandri tiba di rumah. Dia cukup terkejut melihat tas yang sudah tersimpan rapi di sudut kamar. Yandri pikir, keinginan istrinya pulang, itu hanya sekadar candaan saja. Namun, rupanya Daniar cukup serius dengan niatnya.
__ADS_1
"Apa ini, Sayang?" tanya Yandri pura-pura tidak mengerti.
Daniar menatap suaminya. "Itu baju yang sudah Niar kemas, Kang," jawabnya.
"Kamu serius dengan keinginan kamu tadi pagi, Yar?" tanya Yandri.
"Iya, Kang," jawab Daniar.
"Tapi kenapa?" Yandri mendekati Daniar dan duduk di sampingnya.
Daniar tidak bisa menjawab. Tidak mungkin dia mengatakan tentang obrolannya dengan sang ibu mertua tadi pagi. Bagaimanapun juga, beliau adalah ibu kandung dari suaminya. Apa jadinya sang suami jika Daniar sampai mengadukan obrolannya tadi pagi?
"Niar hanya rindu sama ibu, Kang. Apalagi di saat seperti ini. Daniar benar-benar membutuhkan ibu, Kang," jawab Daniar, menjadikan kehamilannya sebagai sebuah alasan untuk pulang.
Yandri menarik napasnya panjang. Dia akui, tempat tinggalnya yang cukup terpencil, membuat Daniar terlalu sulit untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Ditambah lagi, Daniar merupakan anak yang terbiasa hidup senang. Dia pasti akan merasa kesulitan meskipun sudah berusaha beradaptasi. Terlebih lagi dalam kondisinya saat ini yang tengah hamil muda, Daniar pasti sangat ingin dimanja.
"Baiklah, Akang paham keinginan kamu, Yar. Tapi kamu juga tahu kalau Akang tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Apa kamu ridho jika Akang pulang seminggu sekali lagi?" tanya Yandri.
"Iya, Kang. Tidak apa-apa, ada ibu yang bakalan jagain Niar. Akang fokus kerja saja, supaya bisa ngumpulin biaya lahiran dedek," jawab Daniar seraya mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
Yandri ikut-ikutan mengusap perut istrinya. "Maafkan Ayah ya, Nak. Belum bisa membahagiakan kamu dan ibumu," ucap Yandri.
"Iya, tidak apa-apa Ayah, yang penting Ayah sehat dan bisa cari uang buat Dedek sama Bunda," jawab Daniar seraya menirukan suara anak kecil.
Yandri tersenyum, dia kemudian mengecup kening Daniar. "Ya sudah, kapan kita berangkat?" tanya Yandri.
"Sore ini bisa, 'kan, Kang?" sahut Daniar.
Yandri terpaku. Entah kenapa dia merasa jika Daniar telah mempersiapkan segalanya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Daniar tiba-tiba minta pulang? Dan kenapa juga Daniar seolah telah mempersiapkan semuanya? Apa ada sesuatu hal yang telah membuat dia merasa tidak betah tinggal di sini? Tapi apa?
__ADS_1
Berbagai pertanyaan melintas dalam benak Yandri. Namun, tak ada satu pun jawaban yang bisa Yandri temukan untuk setiap pertanyaannya.
"Gimana, Kang? Bisa, 'kan?"