Setelah Hujan

Setelah Hujan
Bertahanlah!


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Yah!" sapa Daniar lewat telepon.


"Wa'alaikumsalam. Gimana, Bun?" tanya Yandri di seberang telepon.


"Enggak, ini Bunda cuma mau ngasih tahu, kalau upacara penutupannya selesai sekitar pukul 10. Ayah jadi, "kan, jemput Bunda?" kata Daniar.


"Insya Allah jadi, Bun. Kebetulan Bintang juga pengen jemput kamu. Sepertinya dia kangen sama kamu," balas Yandri.


"Oh, ya sudah, ajak saja. Yang ikut nebeng mobil paling cuma Bu Masitoh saja," lanju Daniar.


"Loh, yang lainnya enggak jadi ikut pulang bareng kita?" Kembali Yandri bertanya.


"Bu Wineu sama Bu Etty ikut mobil kepala sekolah," sahut Daniar.


"Oh, gitu ya. Hmm, oke deh ... bentar lagi Ayah meluncur, Bu. Ini lagi suapin Bintang dulu," kata Yandri.


"Iya, Bunda tunggu, Yah. Assalamu'alaikum," pungkas Daniar.


"Wa'alaikumsalam," jawab Yandri di ujung telepon.


Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Yandri, Daniar memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Gimana, Bu Niar? Ibu jadi ikut pulang bareng kita?" tanya Bu Wineu, rekan kerja Daniar.


"Saya segan, Bu, kalau harus bareng sama ibu kepala sekolah," sahut Daniar.


"Ih, kok gitu sih," tukas Bu Etty.


"Hehehe, becanda Bu. Kebetulan suami saya mau jemput. Lagi pula, rumah saya, 'kan beda arah sama rumah ibu kepala sekolah. Kasihan juga kalau beliau harus nganterin saya dulu," lanjut Daniar.


"Kang Yandri mau jemput? Memangnya dia sudah kuat nyetir lagi, Bu?" Bu Etty kembali bertanya.


"Hhh ..." Daniar menghela napas, "dia mah emang bandel, Bu. Ya mungkin karena jenuh juga tiduran terus selama sebulan ini," lanjutnya.


"Iya, saya paham Bu. Tapi kalau bisa, jangan terlalu jauh juga, takut tiba-tiba pusing di jalan. Efek benturan di kepala itu bisa sangat lama loh, Bu. Kadang, meskipun sudah seperti orang sehat, tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit. Seperti keponakan saya, setelah mengalami benturan saat kecelakaan kerja, dikit-dikit dia ngeluh kepalanya sakit. Jadi harus ekstra jaga kesehatan. Enggak boleh kelelahan," papar Bu Etty panjang lebar.


"Iya, Bu. Nanti saya coba ingatkan suami saya," jawab Daniar.


.


.


Sementara itu di rumah sakit umum.


"Bagaimana, Dok? Apa istri saya sudah diizinkan pulang?" tanya Aji sesaat setelah Dokter Iwan memeriksanya.


"Iya, Pak. Kondisi organ tubuh yang lainnya sudah normal, jadi ibu bisa pulang hari ini. Hanya saja, Bapak harus bisa menjaga emosinya. Biasanya, pasien yang mengalami stroke, mereka cenderung labil dan tidak bisa menguasai emosi. Berikan perhatian yang cukup, agar ibu tidak merasa menjadi beban bagi keluarga," tutur Dokter Iwan.


"Apa saya boleh bertanya, Dok?" kata Aji.

__ADS_1


"Tentu saja. Silakan, Pak," jawab Dokter Iwan.


Jujur saja, saya hanya seorang penjahit biasa. Hasilnya pun hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Saya tahu jika biaya kesehatan istri saya sudah ditanggung oleh pemerintah. Namun, untuk ongkos datang kemari pun, cukup lumayan. Apa saya boleh membawa istri saya ke tempat alternatif, seperti tukang pijat, atau tempat-tempat untuk menyembuhkan pasien seperti istri saya dengan cara-cara tertentu?" tanya Aji yang pada intinya ingin membawa Khodijah berobat ke kampung-kampung.


Dokter Iwan menarik napasnya. Jika secara medis, Dokter Iwan sendiri tidak ingin mengizinkan. Namun, dia sadar tingkat ekonomi seseorang itu berbeda-beda.


"Silakan saja, Pak, jika menurut Bapak itu menjadi jalan yang terbaik. Toh itu juga ikhtiar Bapak untuk kesembuhan ibu, saya tidak akan menghalanginya. Tapi sebaiknya, Bapak harus pilih-pilih dulu pengobatan alternatif seperti apa yang cocok untuk ibu. Takutnya, kondisi ibu akan semakin parah jika tidak tepat penanganannya," saran Dokter Iwan.


"Baik, Dok. Saya mengerti," pungkas Aji.


.


.


Pukul 10.15, Yandri tiba di lapang bola yang dijadikan bumi perkemahan LT 2 tingkat kecamatan. Tiba di sana, putrinya langsung turun untuk mencari keberadaan Daniar.


"Bunda!" Bintang berteriak seraya berlari menghampiri Daniar yang sedang merapikan tambang pramuka.


Daniar menoleh, senyumnya mengembang saat melihat putrinya. Daniar pun berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan sang anak.


Brugh!


Bintang menjatuhkan diri ke dalam pelukan ibunya. Rupanya, dia begitu merindukan Daniar, sampai memeluk Daniar dengan erat.


"Neng Bintang kangen sama Bunda, ya?" kata Bu Etty yang sudah berdiri di hadapan mereka.


"Ya sudah, Bibin tunggu di tepi lapang, ya. Bunda mau membereskan peralatan ini terlebih dulu," ucap Daniar pada anaknya.


"Baik, Bun."


Bintang kembali berlari mendekati ayahnya yang sedang berbincang-bincang dengan salah satu rekan kerja sang istri.


"Bundanya mana?" tanya Yandri kepada anaknya.


"Bunda lagi beresin peralatan pramuka dulu, Yah. Katanya Bibin disuruh nunggu di sini sama Ayah," jawab Bintang.


"Oh ya sudah, kita tunggu saja," sahut Yandri.


Satu jam kemudian, Daniar mendekati Yandri dan anaknya.


"Kita pulang sekarang, Yah," ajak Daniar.


"Sudah selesai beres-beresnya?" tanya Yandri.


"Alhamdulillah, sudah. Yuk, Bu Masitoh sudah nunggu di tepi jalan," lanjut Daniar.


Yandri mengangguk. Sejurus kemudian, mereka pun meninggalkan bumi perkemahan.


.

__ADS_1


.


Tiba di rumah, Daniar segera membersihkan diri. Dua hari tidak mandi, rasanya tubuh Daniar seperti dilumuri minyak jelantah saja, lengket dan bau apek!


Setelah mandi, Daniar menunaikan salat dzuhur. Begitu juga dengan Yandri. Selesai salat, Yandri mengajak istrinya untuk makan siang bersama.


"Tahu enggak, Bun. Ayah enggak bisa nyium aroma apa-apa loh," ucap Yandri memulai pembicaraan.


Daniar menghentikan kunyahannya. Dahinya mengernyit seraya menatap intens suaminya.


"Maksudnya gimana, Yah?" tanya Daniar.


"Sepertinya indera penciuman Ayah tidak berfungsi, Bun," jawab Yandri.


Deg!


Jantung Daniar seakan berhenti berdetak saat mendengar jawaban suaminya.


"A-ayah jangan becanda, ah!" tukas Daniar.


"Mana ada Ayah becanda. Ayah serius, Bun," elak Yandri.


"Memangnya, kapan Ayah sadar jika sesuatu terjadi dengan indera penciuman Ayah?" tanya Daniar lagi.


"Kemarin, Bun. Saat ibu menyuruh Ayah untuk mengganti tabung gas yang sudah habis. Selesai memasang regulatornya, Ayah langsung bikin nasi goreng. Kira-kira sepuluh menit kemudian, ibu datang ke dapur. Kata ibu gasnya bocor, soalnya kecium bau gas sampai ruang keluarga. Tapi Ayah sendiri yang berada di dapur, enggak kecium apa-apa, Bun," papar Yandri.


Daniar semakin merasa cemas.


"Lalu saat Ayah hendak makan, Ayah ambil lalapan mentah tuh di kulkas. Enggak sengaja Ayah lihat daun seledri. Ya udah, Ayah ambil sedikit. Bunda, 'kan tahu kalau daun seledri memiliki aroma yang khas. Dan anehnya, saat Ayah cium batang dan daun yang sudah dihancurkan, sama sekali Ayah enggak cium aroma khas dari daun seledri," lanjut Yandri.


"Ya Tuhan ... Ayah serius?" tanya Daniar semakin khawatir.


Yandri mengangguk.


"Ya sudah, besok kita cek ke rumah sakit, Yah. Untuk memastikan," kata Daniar.


"Enggak usah, Bun. Kita, 'kan belum punya uang," sahut Yandri.


Daniar diam. Dia pun menyadari jika uang cadangan berobat, telah habis terpakai untuk menutupi hutang kakak iparnya.


"Sudah, Bun. Tidak usah dipikirkan, semuanya pasti baik-baik saja. Ayo lanjutkan makannya," perintah Yandri mencoba menenangkan Daniar.


Setelah mendengar apa yang terjadi dengan diri suaminya. Selera makan Daniar pun langsung hilang.


"Niar kenyang, Yah. Niar mau istirahat dulu," pungkas Daniar seraya beranjak dari kursi.


Dengan perasaan campur aduk, Daniar memasuki kamarnya. Dia duduk di depan cermin rias seraya menatap bayangannya pada pantulan cermin.


Bertahanlah, Niar! Tidak pernah ada kesuksesan yang tidak melewati kegagalan. Tidak akan pernah ada kebahagiaan yang tidak melewati titik terendah seseorang. Semuanya hanya butuh pengorbanan dan perjuangan. Semuanya hanya butuh kesabaran. Bertahanlah, karena buah kesabaran itu selalu manis. Monolog Daniar dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2