Setelah Hujan

Setelah Hujan
Hadiah Ulang Tahun


__ADS_3

Pukul 2 siang, Daniar baru pulang dari sekolah. Tiba di rumah, ternyata sudah ada tamu yang menunggunya. Ya, mereka adalah Aminah dan Rahmat yang hendak membawa uang.


"Apa kabar, Dek?" tanya Aminah yang langsung menghampiri Daniar dan memeluknya.


"Alhamdulillah, kabar Niar baik, Kak. Ayo, silakan duduk!" Daniar mempersilakan tamunya untuk duduk kembali.


"Ah, iya Dek," sahut Aminah seraya kembali duduk di samping suaminya. "Begini, Dek. Kedatangan kami kemari, kami hendak meminjam uang kepada Yandri, dan Yandri menyuruh Kakak untuk menemui kamu," tutur Aminah mengutarakan maksud kedatangannya.


"Iya, Kak. Kang Yandri juga sudah bilang tadi di telepon. Sebentar ya, Kak. Niar ambil uangnya dulu," pamit Daniar seraya memasuki ruang tengah dan menuju kamarnya.


Di kamar, Daniar mengeluarkan uang dari amplop coklat yang bertuliskan Cadangan Pendidikan. Setelah itu, dia memasukkan uang tersebut dalam sebuah amplop putih panjang. Tak lupa dia menuliskan nominalnya. Daniar kemudian memfoto amplop itu sebagai bukti jika dia sudah melaksanakan tugas yang diberikan suaminya.


Tak lama berselang, Daniar kembali ke ruang tamu untuk menyerahkan amplop berisi uang kepada kakak iparnya. Daniar duduk di hadapan Aminah.


"Ini, Kak. Uang yang kakak minta," ucap Daniar seraya menyerahkan amplop putih tersebut.


Sambil tersenyum lebar, Aminah menerima amplop itu dari tangan Daniar. "Terima kasih, Dek," sahutnya.


"Sama-sama, Kak," balas Daniar.


"Kakak janji, begitu uangnya cair, Kakak akan segera mengembalikan uang ini," lanjut Aminah.


Daniar hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan kakak iparnya. Hmm, semoga saja kali ini tidak meleset, batinnya.


"Baiklah, Niar. Kalau gitu, Akang sama sama Kak Aminah pulang dulu," pamit Rahmat.


"Iya, silakan Kang," sahut Daniar.


Kedua tamunya beranjak dari tempat duduk. Setelah iparnya pergi, Daniar menyandarkan punggung seraya menengadahkan wajahnya. Kedua matanya terpejam. Dia tidak habis pikir dengan sikap suaminya yang selalu melunak menghadapi keinginan saudaranya.


Hmm, giliran keinginannya sudah tercapai, mereka langsung pulang begitu saja. Astaghfirullah, kang ... seandainya akang menyadari jika mereka hanya mengingat akang di saat butuh saja, batin Daniar seraya menghela napas.


.


.


Yandri terus berselancar di dunia maya. Dia melihat-lihat iklan penjualan mobil bekas di media sosial. Seulas senyum tipis terukir di bibir Yandri saat dia melihat mobil sedan berwarna maroon.


"Hmm, sepertinya ini cocok buat Bunda. Enggak terlalu gede juga body-nya," gumam Yandri, sedikit mencubit layar ponsel untuk memperbesar gambar mobil tersebut.


Yandri menyalin nomor kontak si pemasang iklan. Tak lama kemudian, dia menghubungi nomor tersebut untuk bertanya tentang produk yang ditawarkan. Tidak ada pembicaraan yang cukup serius. Yandri hanya sekadar ingin tahu saja. Karena dia sendiri belum yakin apa uang yang dimilikinya juga cukup atau tidak untuk membeli sebuah kendaraan beroda empat.


Setelah cukup puas bertanya, akhirnya Yandri menutup sambungan teleponnya. Kembali dia melihat mobil yang sudah dia ambil gambarnya. Sedetik kemudian, Yandri mengirimkan gambar tersebut dengan caption di bawahnya. 'Bagus enggak, Bun?'.


.


.


Di kamar. Daniar membuka ponselnya saat terdengar bunyi notifikasi pesan. Dahinya sedikit berkerut melihat foto mobil yang dikirimkan suaminya. "Bagus enggak, Bun?" gumam Daniar membaca caption yang ditulis Yandri di bawah foto tersebut.


Jari Daniar mulai bergerak lincah untuk membalas pesan suaminya.


Hmm, bagus juga, balas Daniar seraya menyentuh tanda panah untuk mengirimkan pesannya.


Ting!


Ponsel kembali berdenting. Daniar mengusap layarnya.


Mau enggak, bun? Pesan Yandri di ponsel Daniar.

__ADS_1


Hanya cewek bodoh yang mau nolak tawaran seperti ini. 🤭


Kembali Daniar mengirimkan pesannya. Tak lama kemudian, pesan balasan pun datang.


Semoga Bunda tidak termasuk cewek bodoh itu.


"Ish, sialan!" gerutu Daniar. Jarinya kembali menari untuk membalas pesan sang suami.


Udah ah, ngayal mulu. Bunda mau mandi. Bye! pungkas Daniar mengakhiri chattingan-nya.


Untuk beberapa menit, Daniar menunggu teleponnya berbunyi. Namun, rupanya Yandri pun mengakhiri pesannya. Daniar kembali menyimpan ponselnya. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


.


.


"Mau ikut enggak, Bun?" tanya Yandri.


Libur semester telah tiba. Yandri pulang untuk menikmati liburannya bersama keluarga. Hari ini, dia hendak mengajak istrinya ke suatu tempat.


"Ke mana Yah?" tanya Daniar yang masih sibuk membereskan meja bekas sarapan.


"Ada deh," jawab Yandri.


"Idih, enggak jelas banget," sungut Daniar.


Yandri tersenyum. "Ya sudah, kalau mau ikut, buruan ganti baju gih!" perintah Yandri.


"Mau ke mana sih, Yah?" tanya Daniar yang mulai penasaran.


"Kemarin katanya minta kado ulang tahun," kata Yandri.


"Ya enggak pa-pa, mumpung lagi libur juga. Bulan depan, 'kan belum tentu Ayah punya waktu luang," balas Yandri.


"Emang bulan depan Ayah enggak ambil jadwal relaksasi?" tanya Daniar.


"Bukan seperti itu, Bun. Bulan depan ada banyak pekerjaan yang harus Ayah selesaikan. Jadi relaksasinya enggak bisa sesantai ini," ungkap Yandri.


"Ya sudah, abis cuci piring, Bunda ganti baju deh," ucap Daniar.


"Jangan lama-lama, ya. Ayah mau pergi dulu ke kolam," kata yandri.


"Iya, Yah," sahut Daniar.


Setelah suaminya pergi, Daniar pun pergi ke dapur untuk mencuci piring kotor bekas sarapan keluarganya.


Satu jam kemudian.


"Bun, buruan dong!" teriak Yandri yang merasa kesal menunggu istrinya berganti pakaian.


"Iya Yah ... bentar," jawab Daniar dari dalam kamar.


Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Tampak Daniar mengenakan celana kulot berwarna oranye yang dipadukan blouse salur berwarna cerah pula.


"Ish, ngapain pake baju gituan, Bun?" tanya Yandri dengan ekspresi wajah terlihat jijik.


"Lah, kenapa Yah? Ada yang salah, kah?" tanya Daniar mengernyitkan kening.


"Salah banget, Bun. Kita tuh cuma mau lihat mobil ke showroom, bukan mau dangdutan!" tukas Yandri.

__ADS_1


Daniar semakin menautkan kedua alisnya. "Mobil? Showroom? Apa maksudnya semua ini, Yah?" tanyanya.


Ish, keceplosan, 'kan, batin Yandri. "Udah deh, Bunda enggak usah banyak nanya. Buruan ganti baju!" perintah Yandri mencoba menutupi kembali niatnya untuk memberikan kejutan kepada sang istri.


"Ish, Yah ..." rengek Daniar.


Mau tidak mau, Daniar kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Kali ini, dia mengenakan rok plisket polos berwarna navy dan blouse putih yang memiliki motif bunga di dadanya. Selesai berganti pakaian, dia kembali menemui Yandri.


"Kalau yang ini ... gimana, Yah?" tanya Daniar seraya berputar-putar untuk menunjukkan pakaiannya.


Yandri menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya sehingga membentuk bulatan kecil. Daniar pun tersenyum senang saat melihat simbol oke dari tangan suaminya.


"Ya udah, yuk pergi!" ajak Daniar sambil berjalan keluar.


Tiba di halaman depan, langkah Daniar dan Yandri terhenti saat melihat Bintang berdiri di dekat motor seraya berkacak pinggang.


"Kenapa kalian lama sekali?" gerutu Bintang terlihat kesal.


"Maaf Sayang, semua ini gara-gara Bunda kamu, nih. Kamu, 'kan tahu kalau Bunda tuh lama banget dandannya." Yandri memberikan alasan saat melihat wajah marah anaknya.


Daniar tersenyum kecut. "Hmm, Terima kasih, ya. Semua ini enggak bakalan terjadi kalau Ayah kamu enggak nyuruh Bunda ganti baju, Bin," sahut Daniar mengadu kepada anaknya.


"Halah, ngeles!" timpal Yandri.


"Tapi bener, 'kan?" tukas Daniar.


"Sudah jangan berdebat terus. Buruan berangkat, nanti anaknya keburu ngambek." Bu Salma melerai perdebatan anak dan menantunya saat melihat cucunya sudah memasang wajah kusut.


"Yandri tersenyum. "Yuk, lets go!" ajaknya seraya memangku Bintang dan mendudukkannya di atas jok motor.


Yandri menyalakan mesin motornya. Sejurus kemudian, motor pun melaju meninggalkan halaman rumah.


Setengah jam berkendaraan, motor itu berhenti di sebuah tempat penjualan mobil bekas.


"Mau ngapain kita ke sini, Yah?" tanya Daniar seraya mengernyitkan keningnya.


Belum sempat Yandri menjawab, tiba-tiba seorang pria bertubuh gempal, datang mendekati mereka.


"Ah, akhirnya Anda datang juga, Pak Yan." Pria itu menyambut kedatangan Yandri seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


"Ahaha, iya. Maaf Pak, semalam saya baru datang. Karena itu baru bisa menemui Bapak hari ini," jawab Yandri, menerima uluran tangan pria itu.


"Iya, tidak apa-apa, Pak. Lagi pula, Bapak sudah memberikan uang muka, jadi kendaraannya masih aman," timpal pria itu.


Daniar semakin mengernyitkan dahinya. Ish, ada apa sebenarnya ini? batin Daniar.


"Jadi, bagaimana kesepakatannya nih?" tanya Yandri.


"Hmm, Bapak lihat saja dulu barangnya. Setelah itu, baru kita buat kesepakatan," usul pria itu.


"Boleh. Di mana saya bisa melihatnya?" tanya Yandri lagi.


"Mari ikut saya, Pak!" ajak pria itu lagi.


"Ayo Bun!" Yandri menggenggam tangan istrinya dan mengajaknya masuk.


"Ish, kita mau ke mana sih, Yah?" tanya Daniar semakin penasaran


"Kita mau lihat hadiah ulang tahun kamu, Bun," balas Yandri, "tuh!" Tunjuknya pada sebuah mobil sedan berwarna maroon.

__ADS_1


"Apa?!"


__ADS_2