Setelah Hujan

Setelah Hujan
Merajuk


__ADS_3

Pilihan terakhir memang begitu menyeramkan. Semua orang mendukung pilihan terakhir. Hanya Yandri yang menolaknya. Dia masih berusaha keras untuk memikirkan jalan yang terbaik.


Ketukan di pintu kamarnya sontak membuat lamunan Yandri buyar.


"Apa Kakak boleh masuk, Dek?" tanya lembut kakak tertua di balik pintu.


"Masuklah, Kak," jawab Yandri.


Pria jangkung itu mendekati meja. Sekilas, dia mengambil gelas dari atas meja dan mereguk isinya.


Tak lama berselang, Aminah membuka pintu dan memasuki kamar Yandri. Dia mendekati Yandri yang tengah berdiri di samping meja.


"Kakak ingin bicara sama kamu, Dek. Duduklah!" perintah Aminah.


Yandri menarik kursi yang berada di belakang meja. Begitu juga dengan Aminah yang sudah duduk terlebih dahulu di kursi satunya lagi. Setelah itu, mereka duduk saling berhadapan.


Aminah meraih tangan Yandri dan menggenggamnya erat. Untuk sesaat, dia menatap Yandri.


"Kakak rasa, ide yang dilontarkan Raihan bukanlah ide yang buruk, Yan." Aminah memulai pembicaraan.


"Tapi, Kak. Ibu akan merasa terbuang jika kita melakukan hal itu," tukas Yandri, "anak ibu begitu banyak, tapi tak ada satu pun yang bisa merawatnya," imbuhnya.


"Kita bisa apa, Yan. Semua juga punya keperluan masing-masing, punya kesibukan dan urusan masing-masing," jawab Aminah seraya menghela napas.


"Yandri paham jika mereka sibuk, tapi Yandri tidak mengerti dengan sikap kak Bibah. Padahal dia tinggal satu atap sama ibu, tapi kenapa dia tidak mau mengurus ibu?" keluh Yandri.


"Yan, sikap Habibah berubah setelah Bahar meninggalkan dia demi perempuan itu. Habibah melihat perkara hanya dengan perasaannya. Karena itulah dia acapkali berubah menjadi seorang temperamental jika harus berhadapan dengan ibu. Karena yang ada dalam pikirannya, sakitnya ibu yang menyebabkan dia kehilangan Bahar," tutur Aminah.


Yandri kembali menarik napas cukup panjang.


"Jika memang itu pilihan yang terbaik, Yandri bisa apa, Kak. Tapi jujur saja, Yandri tidak tega harus mengantarkan ibu. Sebaiknya, Kakak dan kak Nauval saja yang antarkan. Besok Yandri harus kembali ke Indramayu," jawab Yandri.


Di bilik sebelah, Bu Maryam hanya mampu terduduk lemah di atas kursi rodanya. Hatinya perih mendengar diskusi anak-anaknya. Dia tidak menyangka, jika keenam anaknya sama sekali tidak perduli terhadapnya.


Bu Maryam hanya bisa memejamkan mata. Dia menengadahkan wajahnya, mencoba menahan air mata yang terus mengalir deras.


.


.


Bulan demi bulan telah terlewati. Delapan bulan sudah Bu Maryam menempati sebuah panti jompo yang berada di kawasan kota Kawalu. Setiap bulannya, anak-anak Bu Maryam menjenguk secara bergantian.


Perubahan dalam diri Bu Maryam pun mulai terlihat. Bahkan, Bu Maryam sudah mulai kerasan tinggal di panti jompo itu.


"Apa Yandri belum pulang, Nah?" tanya Bu Maryam ketika Aminah menjenguknya.


"Yandri sedang ada proyek di luar provinsi, Bu. Harusnya, semester kemarin Yandri pulang. Namun, cutinya hanya seminggu, karena itu tidak dia ambil," tutur Aminah.

__ADS_1


"Iya, waktu telepon juga, Yandri bilang seperti itu," jawab Bu Maryam.


"Oh iya, Bu. Minah mau minta maaf, Minah tidak bisa menemukan kue bolu kukus yang Ibu minta. Sebagai gantinya, Minah belikan ini untuk Ibu," lanjut Aminah.


Ekspresi wajah Bu Maryam langsung berubah. Sudah sejak lama dia menginginkan kue itu. Namun, perawat yang biasa membelinya, sedang cuti melahirkan. Karena itu, sudah hampir sebulan Bu Maryam tidak bisa menikmati cupcake yang sangat disukainya.


"Sudah Bu, tidak usah merajuk lagi. Ibu ini bukan anak kecil. Semoga saja di kota, Nauval bisa mendapatkannya untuk Ibu bulan depan. Enggak apa-apa, 'kan?" bujuk Aminah.


Bu Maryam tidak menjawab. Dia malah meminta perawat untuk membawanya kembali ke kamar.


"Ibu ngantuk. Ibu mau tidur. Pulanglah!" perintah Bu Maryam.


.


.


Dua bulan berlalu. Sudah sepuluh bulan Yandri berada di pulau Batam. Hingga hari ini, ketua yayasan memanggil tim untuk kembali ke asrama.


"Syukurlah, waktunya dipercepat," kata Yandri seraya berkemas.


"Iya, alhamdulilah Tadz. Saya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak istri," timpal Ustadz Dani.


Yandri hanya tersenyum kecut. Sungguh, dia pun sudah sangat merindukan anak istrinya. Namun, sampai detik ini Yandri tidak mengetahui keberadaan mereka.


"Keluarga memang obat rindu yang paling mujarab, Tadz," sahut Yandri.


"Hahaha, Ustadz benar. Keluarga adalah harta terindah di dunia," balas Ustadz Dani.


.


.


"PKL-nya kapan dimulai, Bin?" tanya Daniar kepada putrinya.


"Minggu depan, Bun," jawab Bintang.


"Satu kelompok sama Adwira, kan?" Daniar kembali bertanya.


"Iya, Bun." Bintang menjawab lagi.


"Hati-hati ya, Bin. Jangan lupakan tata krama meskipun di daerah orang." Nasihat Daniar.


"Iya, Bun. Tenang aja, Insya Allah Bibin bisa jaga diri. Oh iya, ngomong-ngomong nanti Bunda tinggal bareng siapa kalau Bibin pergi?" tanya Bintang mengalihkan pembicaraan.


"Sendiri juga bisa, Bin," sahut Daniar.


"Mana boleh! Bunda minta ditemenin mbak Ratih saja," tukas Bintang.

__ADS_1


"Mbak Ratih, kan punya suami Bin, enggak enak juga sama suaminya kalau harus disuruh nginep di sini," jawab Daniar, beralasan.


"Terus, gimana dong?" tanya Bintang lagi.


"Udah enggak usah khawatir ... Bunda pasti baik-baik saja, kok," timpal Daniar.


.


.


Dua minggu kemudian.


"Iya sebentar ya, Bu ... saya hubungi mbak Idah dulu. Cuma mbak Idah yang tahu toko kue itu," ucap perawat Ninda, berusaha untuk menenangkan rengekan Bu Maryam.


"Assalamu'alaikum!"


Sapaan di ambang pintu seketika membuat rengekan Bu Maryam berhenti. Bu Maryam dan suster yang merawatnya sontak menoleh.


"Yandri anakku!" seru Bu Maryam, berusaha untuk mengangkat tangannya.


Yandri merasa terharu ketika dia melihat secara langsung perkembangan kesehatan tubuh ibunya. Rasa syukur tak henti-hentinya dia panjatkan kepada Tuhan Sang Pemilik hati dan Raga manusia.


"Ibu kenapa? Kok merajuk seperti itu?" tanya Yandri sesaat setelah memeluk ibunya.


"Ibu pengen makan kue, Nak. Tapi semua orang di sini jahat! Anak-anak Ibu juga jahat. Mereka tidak mau membelikan Ibu kue itu." Adu Bu Maryam seraya mengerucutkan bibirnya.


"Bukannya jahat Bu, tapi kita sedang menunggu balasan pesan dari salah satu perawat di sini," ralat Ninda.


"Sudah, Bu. Ini Yandri bawakan buah-buahan untuk Ibu. Dimakan ya, biar Yandri kupasin," bujuk Yandri seraya mengacungkan parcel buah yang dibawanya.


"Ish, enggak mau! Ibu enggak mau buah, Ibu maunya kue viral itu!" teriak Bu Maryam sembari memalingkan wajahnya.


"Ya sudah, Ibu sekarang minum obat dulu ya. Nanti sore, Ninda bawain kuenya. Ibu mau, 'kan?" bujuk Ninda.


"Janji?" rajuk Bu Maryam.


"Iya, Ninda janji. Yuk, kita ke kamar."


Bu Maryam mengangguk. Dia melupakan kerinduannya terhadap Yandri. Sedetik kemudian, Ninda membawa Bu Maryam memasuki kamarnya.


"Apa Ibu baik-baik saja, Bu? Setelah berbulan-bulan berpisah, dia bahkan sama sekali tidak ingin ngobrol bersamaku," keluh Yandri.


"Itu hal yang wajar, Nak Yandri. Terlebih lagi, usia ibu Nak Yandri sudah semakin uzur. Ingatannya mulai berkurang. Sikapnya kembali seperti anak kecil, merajuk jika keinginannya tidak terpenuhi. Harus banyak-banyak bersabar," tutur Bu Hajjah Titing, pemilik panti jompo.


"Iya, Bu. Saya mengerti," jawab Yandri. "Ngomong-ngomong, kue seperti apa yang ibu saya inginkan, Bu?" tanyanya.


"Entahlah, Nak. Ibu sendiri tidak tahu. Selama ini Bu Maryam dirawat oleh Idah, dan kebetulan Idah sedang cuti melahirkan. Kami sudah berusaha menghubungi Idah dan menanyakan kue yang biasa dia bawa untuk Bu Maryam. Namun, sampai detik ini Idah belum membalas chat kami," papar Bu Hajjah Titing.

__ADS_1


Tak lama berselang. Ninda kembali menghampiri Yandri dan pemilik panti yang sedang berbincang-bincang.


"Namanya cupcake viral, Pak. Dari toko kue Stars Bakery yang berada di jalan Nagarawangi."


__ADS_2