
Lelah, tapi tak mampu menyerah.
Mungkin itu yang dirasakan Daniar saat ini. Sejenak, dia ingin pergi meninggalkan Yandri yang begitu mudah percaya pada setiap perkataan ibunya. Namun, saat Daniar mengingat sikap saudara suaminya, dia pun merasa kasihan terhadap laki-laki yang telah mengangkat harkat dan martabatnya. Sabar, mungkin dia harus bisa memupuk lebih, kesabarannya.
.
.
Tak terasa, bulan suci akan segera berakhir. Nauval dan keluarga sudah pulang dari perantauan. Saat ini, mereka tengah berbelanja baju lebaran di salah satu pusat perbelanjaan di kota Tasikmalaya. Saat dia melihat istrinya tengah memilih pakaian untuk Devon, seketika Nauval teringat Rizal, putra bungsu Habibah yang seusia dengan anaknya. Nauval pun meminta izin Laila untuk membelikan baju lebaran buat Rizal.
"Ngapain sih, kamu masih urusin anaknya kak Bibah? Bukankah kak Bibah sudah menikah lagi? Ya biarkan saja ayah barunya yang bertanggung jawab atas semua kebutuhan anak-anak kak Bibah," kata Laila, ketus.
"Ish, Ma. Kedua anak kak Bibah, 'kan, yatim. Enggak ada salahnya kita bantu mereka. Lagi pula, hanya Rizal saja yang kita belikan pakaian baru. Lumayan, 'kan, itung-itung ngurangin beban kak Bibah. Jadi, kak Bibah hanya tinggal beli baju buat Ali saja," jawab Nauval.
"Terserah kamu, deh. Awas saja kalau bajunya lebih mahal dan lebih bagus dari punya Devon," ancam Laila, masih dengan nada bicara yang tidak ikhlas.
"Enggak, Ma. 'Kan baju Devon, Mama yang pilihkan," sahut Nauval.
"Ya sudah, biar bajunya Rizal juga, Mama yang pilih," usul Laila.
"Iya-iya, terserah Mama saja," jawab Nauval mengalah. Hmm, melawan istrinya, sama saja bunuh diri bagi Nauval yang memang tipe suami takut istri.
.
.
Keesokan harinya, dengan menggunakan kendaraan roda dua, Nauval pergi untuk mengantarkan baju lebaran.
Sebenarnya, Nauval sudah sangat mapan dalam hal materi. Rumah mewah bertingkat dua, begitu mencolok di antara jejeran rumah di kampung Laila. Di depan rumah Nauval juga terdapat kolam yang cukup luas miliknya. Di belakang rumah pun, dia memiliki beberapa petak sawah. Hanya saja, Nauval tipe suami yang bisa dikendalikan sang istri. Sehingga dia begitu jarang memperhatikan kebutuhan ibunya sendiri.
Bu Maryam begitu senang melihat putranya pulang. Di antara keempat putranya, hanya Nauval yang jarang sekali mengunjungi dia. Mungkin karena Nauval begitu sibuk dengan pekerjaannya di perantauan.
"Alhamdulillah, Nak. Ibu senang sekali kamu mau datang mengunjungi Ibu," ucap Bu Maryam sesaat setelah mempersilakan anaknya duduk.
__ADS_1
"Iya, Bu. Nauval juga senang," jawab Nauval.
"Kamu apa kabar? Gimana kabar istri dan anak kamu?" tanya Bu Maryam.
"Nauval baik, Bu. Laila dan Devon juga baik-baik saja. Oh iya, di mana Rizal, kok dari tadi Nauval belum lihat dia?" tanya Nauval.
"Rizal sedang bermain di rumah Bik Wanti," jawab Bu Maryam.
"Oh gitu, ya. Apa Ibu bisa panggilkan Rizal?" pinta Nauval.
"Memangnya ada apa, Nak?" Bu Maryam malah bertanya.
"Ini, Nauval punya sesuatu untuk Rizal," jawab Nauval seraya menunjukkan sebuah tas kecil berwarna biru.
"Apa itu?" tanya Bu Maryam, menautkan kedua alisnya.
"Ini baju lebaran buat Rizal, Bu," jawab Nauval sambil menyimpan tas kecil itu di atas meja.
"Ali, 'kan sudah besar, Bu. Lagi pula, kak Bibah sudah menikah lagi. Sudah syukur Nauval beli buat Rizal, jadi beban kak Bibah bisa sedikit berkurang," jawab Nauval memberikan alasan.
"Sebentar, Ibu panggilkan Rizal dulu," kata Bu Maryam seraya berlalu pergi.
Bu Maryam hanya tersenyum kecut mendengar jawaban putranya. Rizal bisa kamu ingat, Nak. Tapi sedikit pun kamu tidak pernah mengingat Ibu dan adik kamu, batin Bu Maryam.
.
.
Dua hari setelah kunjungan Nauval, tabiat Bu Maryam mulai berubah. Dia sering marah tanpa alasan. Makanan yang Habibah masak untuk berbuka dan sahur pun, jarang dia sentuh. Bu Maryam selalu menggerutu kesal saat Bahar pulang dari tempat kerja. Terkadang, dia menyindir menantunya dan membandingkan penghasilan sang menantu dengan menantu tetangga depan rumah.
"Coba kamu lihat si Ohan, lakinya si Ida. Meskipun cuma sopir angkot, tapi dia bisa bawa beras sekarung kalau pulang kerja. Lah suami kamu ... katanya pemilik konveksi, tapi bawa beras ke rumah cuma sekilo dua kilo saja. Huh, mana cukup buat makan kita semua." Bu Maryam mendengus kesal saat Habibah datang ke dapur hanya membawa satu kantong kresek beras.
"Ish Ibu, harusnya Ibu bersyukur karena kita masih bisa makan hari ini. Ibu jangan lihat orang yang lebih dari kita, dong. Sekali-sekali Ibu menunduk, lihat orang yang kondisi ekonominya di bawah kita. Masih banyak loh, orang lain yang bisa makan nasi hari ini, tapi esok hari mereka hanya makan umbi-umbian," jawab Habibah, mencoba membela suaminya.
__ADS_1
"Alaah, emang dasar suami kamu aja yang pelit. Dia itu pilih kasih. Dia sanggup memenuhi kebutuhan kedua anaknya. Tapi kebutuhan kamu dan anak-anak kamu? Huh, jangankan memenuhi kebutuhan anak tirinya, kebutuhan kamu pun dia abaikan." Bu Maryam meninggikan suara mendengar Habibah membela suaminya.
"Ya Tuhan, Bu. Usaha kang Bahar memang sedang turun. Habibah sendiri melihat jika orderan sedang sepi. Ibu kenapa tidak bisa bersabar? Bukankah Ibu sendiri yang dulu menyuruh Habibah menikah? Lagi pula, Habibah yang dinafkahi, kok jadi Ibu yang uring-uringan," sahut Habibah mulai merasa kesal dengan sikap ibunya.
Bu Maryam semakin geram saat mendengar Habibah membela suaminya kembali. Sontak dia beranjak dari dapur dan pergi ke kamar Habibah. Dengan cekatan, Bu Maryam mengambil pakaian Bahar dari dalam lemari dan menaruhnya begitu saja di lantai. Setelah terkumpul, Bu Maryam mengambil dua buah tas besar dan memasukkan pakaian Bahar ke dalam tas itu.
"Ibu! Apa yang Ibu lakukan? Hendak Ibu bawa ke mana pakaian kang Bahar?" tanya Habibah seraya mencekal pergelangan tangan ibunya.
Bu Maryam tidak menjawab. Dia hanya menarik tangannya dengan kuat. Sejurus kemudian, Bu Maryam menyeret kedua tas besar itu keluar. Dia tidak menghiraukan teriakan Habibah yang memintanya berhenti.
Tiba di teras rumah, Bu Maryam melihat sang menantu sedang menaiki tangga menuju rumahnya. Bu Maryam tersenyum sinis menatap tajam ke arah Bahar. Dengan setia, dia menunggu Bahar yang semakin mendekat.
Setelah Bahar tiba di depan pintu rumah Habibah, Bu Maryam melempar kedua tas itu ke hadapan Bahar.
"Enyah kamu dari rumah anakku!" usir Bu Maryam seraya berkacak pinggang.
"Ibu?! Apa-apaan Ibu ini? Kenapa Ibu mengusir Kang Bahar?" teriak Habibah seraya hendak mendekati suaminya.
Bu Maryam menyambar pergelangan tangan Habibah.
"Berhenti Habibah!" teriaknya. Kembali Bu Maryam menatap Bahar. "Aku tidak sudi memiliki menantu pembohong seperti kamu. Katanya akan membahagiakan anakku, tapi mana buktinya? Kamu tidak lebih dari seorang benalu di rumah anakku. Pergi kamu dari hadapanku! Pergi dari rumahku! Pergi!" teriak Bu Maryam semakin keras.
Para tetangga mulai keluar dari rumahnya masing-masing setelah mendengar keributan di rumah Bu Maryam. Tidak sedikit yang menghampiri dan mengerumuni Bahar yang melongo karena tidak mengerti akar permasalahannya. Merasa malu dengan kedatangan para tetangga, akhirnya Habibah menghempaskan tangan ibunya.
"Ibu keterlaluan!" teriak Habibah seraya berlari menuju dedaunan rimbun yang berada di belakang rumah.
"Bibah, sudah sore. Jangan ke sana!" teriak Rina, tetangga Habibah
Namun, Habibah tidak menghiraukan teriakan tetangganya. Dia terus berlari memasuki semak belukar yang tingginya setinggi orang dewasa.
Merasa cemas akan keselamatan Habibah, Rina kemudian memerintahkan tetangga yang lain untuk menghubungi Yandri.
"Cepat telepon pak Yandri!"
__ADS_1