Setelah Hujan

Setelah Hujan
Mengambil Sikap


__ADS_3

Suara Yandri begitu menggema di kamar yang hanya berukuran 2 x 2 m itu. Meski kedua lututnya terasa lemas, tapi dia tetap berusaha untuk kuat berdiri.


Yandri meraih kain merah tersebut dan melemparkannya ke atas ranjang. Dia kemudian berkata kepada wanita itu, "Pakailah!"


Setelah itu, Yandri membalikkan badan dan keluar dari kamar Raihan. Sesaat sebelum keluar, dia menghentikan langkahnya tepat di hadapan Raihan.


"Segera pakai bajumu, lima menit lagi, Abang tunggu di ruang tengah," ucap Yandri dingin.


Tiba di ruang tengah, sejenak Yandri menatap Daniar. Sungguh tatapan yang membuat Daniar merasa iba akan suaminya. Daniar mendekati Yandri. Mengusap rahang tegas milik suaminya itu. Kelembutan sinar matanya seolah mengatakan, 'aku di sini untukmu'.


Yandri menghempaskan bokongnya di atas sofa. Dia menunggu adiknya, sedangkan Daniar pergi ke kamar karena mendengar rengekan Bintang.


Tak berapa lama, Raihan yang sudah mengenakan kaos oblong, datang menghadap kakaknya. Dia hanya bisa berdiri di depan sang kakak. Pandangannya menunduk karena tidak sanggup melihat tatapan sang kakak yang seolah ingin menerkamnya.


"Apa maksud semua ini, Raihan? Siapa wanita itu?" tanya dingin Yandri kepada sang adik.


Raihan semakin menundukkan kepala. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab semua pertanyaan kakaknya.


"Abang masih menunggu penjelasan kamu, Rai." Yandri masih mencoba sabar menghadapi adik bungsunya itu.


Raihan hanya mampu bergeming. Yandri orang yang sangat baik, dia bukan tipe orang pemarah ataupun temperamental. Namun, Raihan menyadari jika Yandri bukan orang yang bisa diajak kompromi dalam sebuah kesalahan. Dia tidak akan pernah mentolerir sikap yang menjatuhkan harga diri dan kehormatan keluarga. Raihan pun semakin menunduk. Rasa malu dan takut bercampur di hatinya.


"JAWAB!!"


BRAK!


Yandri membentak Raihan seraya menggebrak meja. Tangis anaknya pecah seketika karena terkejut. Daniar pun menggendong Bintang dan berusaha menenangkannya. Dia sendiri tidak berani menegur suaminya. Ini permasalahan kakak beradik. Dia tidak ingin terlalu ikut campur.


Karena Raihan sepertinya tidak berniat untuk menjawab pertanyaan, akhirnya Yandri berdiri dan mendekati Raihan.


"Apa dia pacar kamu?" Yandri kembali bertanya dengan tatapan menusuk.


Raihan masih bergeming. Dia sama sekali tidak berani mengangkat wajah dan menatap mata kakaknya.


Yandri pun semakin geram. Sepertinya, rasa sabar di hati Yandri sudah habis. Dia meraih dagu Raihan dan mengangkatnya dengan kasar.


"Apa dia pacar kamu, Raihan?!"


Yandri masih menanyakan pertanyaan yang sama. Namun, nada bicaranya kali ini naik satu oktaf.


"I-iya, Bang." Akhirnya Raihan menjawab.

__ADS_1


"Lantas, apa maksud kamu membawa dia menginap di sini?" Yandri masih bertanya tentang perempuan yang sedang duduk di tepi ranjang di kamar Raihan.


"Mi-mia sakit, Bang. Ka-kami pu-lang kemalaman dari kota. Karena itu, Rai membawanya kemari," jawab Raihan.


"Ah ... sakit? Apa dia seorang pesakitan, sehingga setiap malam kamu harus membawanya pulang?" tanya Yandri.


"Ti-tidak, Bang," jawab Raihan terbata.


"Lalu, kenapa harus membawanya menginap setiap malam, hah?"


Yandri sudah tak mampu menguasai emosinya. Dia berteriak cukup keras menanyakan sikap Raihan yang menurutnya sudah menyimpang terlalu jauh.


"Tidak seperti itu, Bang. Raihan baru kali ini membawa Mia kemari," sanggah Raihan.


"Jangan bohong kamu, Raihan! Apa kamu pikir, Abang tidak tahu kelakuan bejat kamu selama ini, hah? Abang mungkin jauh dari rumah ini, tapi mata dan telinga Abang ada di mana-mana. Dan kamu tidak bisa mengingkari hal itu. Terlebih saat ini, Abang melihat dengan mata kepala Abang sendiri, bagaimana kelakuan kamu, Raihan. Apa kamu akan menyangkal hal itu, hah? Menyangkal apa yang Abang lihat dengan mata telanjang?!" teriak Yandri seraya menghempaskan dagu Raihan.


Raihan kembali menundukkan kepala. Kedua lututnya terasa lemas saat mengetahui jika kakaknya telah tahu kelakuan dia selama ini.


"Abang tidak habis pikir sama kamu, Rai. Apa kamu tidak bisa membedakan mana wanita baik-baik dan bukan?" tanya lirih Yandri.


"Mia wanita baik-baik, Bang. Abang tidak bisa menghakimi Mia," tukas Raihan mencoba membela kekasihnya.


"Wanita baik-baik katamu? Sekarang Abang tanya sama kamu, di mana letak kebaikan seorang wanita ketika dia mau begitu saja diajak menginap di rumah laki-laki, hah? Perempuan seperti apa yang berani bertelanjang di kamar seorang laki-laki sebelum menikah? Apa itu yang namanya seorang perempuan baik-baik?"


"Dari mana perempuan itu berasal?" Kembali Yandri bertanya.


"Di-dia berasal dari daerah Ta-tawang, Bang," jawab Yandri.


"Astaga Rai ... desa Tawang itu masih tetanggaan dengan desa kita. Jika memang dia sakit, kenapa tidak kamu antarkan dia ke rumahnya? Kenapa harus membawanya kemari? Padahal kamu sendiri tahu jika sebelum masuk desa kita, kamu harus melalui desa Tawang terlebih dahulu?" tanya Yandri.


Yandri tidak habis pikir dengan kelakuan adiknya. Jika benar perempuan itu sakit, kenapa dia harus membawanya ke rumah, bukannya mengantarkan perempuan itu pulang. Bukankah desanya terlewati?


"Panggil perempuan itu kemari?" perintah Yandri.


Raihan menautkan kedua alisnya. Dia tidak mengerti kenapa kakaknya memberikan perintah seperti itu.


"Apa yang akan Abang lakukan padanya?" tanya Raihan, cemas.


"Apa pun yang Abang lakukan, semua itu untuk kebaikan kamu. Dan kamu tidak harus tahu apa yang akan Abang lakukan terhadap perempuan itu," ucap Yandri, dingin.


"Ta-tapi, Bang ...."

__ADS_1


"Cepat panggil dia!"


Karena Raihan tidak segera menurut, akhirnya yandri kembali membentak adiknya.


Raihan tergesa-gesa melangkahkan kaki ke kamar untuk memanggil sang kekasih. Sedangkan Yandri, pria jangkung itu memanggil istrinya dan meminta ponselnya. Beberapa detik kemudian, Daniar tiba dengan membawa ponsel milik suaminya.


"Apa yang akan Ayah lakukan kepada perempuan itu, Yah? Bunda harap, Ayah tidak lepas kendali," ucap Daniar seraya menyerahkan ponsel itu ke tangan Yandri.


"Masuklah, Bun!" perintah Yandri tak menghiraukan ucapan istrinya.


Tak ingin membantah perintah suaminya, Daniar kembali ke kamar.


Di ruang tamu, Yandri menghubungi seseorang dan memintanya untuk datang. Sementara itu, Raihan dan Mia sudah berdiri berdampingan di hadapan Yandri. Mia menundukkan wajah. Entah apa yang saat ini sedang dia pikirkan tentang kakak dari kekasihnya itu.


"Siapa nama kamu?" tanya Yandri.


"Mia, Bang."


"Baiklah, saya sudah tidak ingin berbasa-basi lagi. Saya harap, ini adalah pertemuan pertama dan terakhir saya dengan Anda. Silakan Anda pergi dari rumah ini!" perintah Yandri cukup tegas.


"Tapi, Bang. Abang ti–"


"Abang tidak bicara sama kamu Raihan. Pergilah ke kamarmu!" Yandri memberikan perintah kepada adiknya.


"Baik," jawab Raihan mendengus kesal. "Ayo Mia!" ajaknya seraya meraih tangan Mia dan melangkahkan kaki menuju pintu.


"Berhenti!" Yandri kembali berteriak. "Mau ke mana kamu, Raihan?" tanyanya.


"Raihan mau mengantarkan Mia pulang, Bang."


"Tidak perlu. Pergilah ke kamar!"


"Tapi, Bang."


Tak berapa lama, terdengar suara motor berhenti di luar rumah Yandri.


"Kamu tidak perlu mengantarkan perempuan itu. Abang sudah memanggil keluarganya untuk membawa dia pulang," ucap Yandri kepada adiknya.


Sejurus kemudian, dia kembali menatap Mia. 'Pergilah! Jangan sampai saya membongkar kelakuan kamu pada kakakmu," ucap Yandri, dingin.


Raihan tidak terima dengan perlakuan kakaknya. Dia pergi ke kamar seraya membanting pintu. Sedangkan Mia, dia keluar dengan menanggung malu dan geram bercampur aduk.

__ADS_1


Untuk sejenak, keheningan terjadi di ruang tamu. Yandri kembali menghempaskan tubuh lemasnya di atas sofa. Tenaganya terkuras habis oleh emosi. Seumur-umur, baru kali ini Yandri mengusir seorang wanita dengan kasar dari rumahnya. Meskipun Yandri termasuk pria yang cukup sopan dalam memperlakukan wanita. Namun, untuk wanita seperti Mia, Yandri harus bisa mengambil sikap dengan tegas.


Yandri mengusap wajahnya dengan kasar. Dia memejamkan mata seraya berkata, "Ya Tuhan ... ada-ada saja."


__ADS_2