
Bu Salma dan Yandri segera membungkuk untuk menghentikan Daniar yang hendak membuka peralatan medisnya. Jarum infus yang menempel di tangan pun, kini sudah terlepas. Darah mulai berceceran di atas seprei berwarna putih.
"Niar, Sayang ... tenanglah!" ucap Bu Salma yang segera memeluk Daniar.
Namun, Daniar Masih berontak. Bahkan, kini dia hendak bangun.
"Jangan, Sayang! Tolong jangan bangun dulu, Nak. Kamu baru saja melakukan operasi besar!" seru Bu Salma, mencoba menahan tubuh Daniar.
Yandri memeluk Daniar. Menahan tubuh Daniar melalui sebuah pelukan hangat. Yandri berharap, pelukannya bisa menenangkan Daniar.
Namun, tiba-tiba Daniar mendorong tubuh Yandri sekuat tenaga hingga pria itu terjerembab di lantai.
"Nak, apa yang kamu lakukan?" seru Bu Salma.
Beruntungnya, ruang ICU yang memiliki dua bilik itu, hanya diisi oleh Daniar sebagai penghuninya. Karena itu, keributan yang terjadi pun tidak sampai mengganggu pasien lain.
Daniar menatap suaminya. Namun, kali ini ada yang berbeda dari tatapan Daniar terhadap sang suami. Mendengar suara suaminya, seketika mengingatkan Daniar akan perilaku ibu mertuanya selama ini. Karena itu Daniar mendorong kuat sang suami.
Yandri berdiri. Dia kembali hendak mendekati Daniar. Namun ....
"Stop!" teriak Daniar, menatap tajam suaminya.
Bu Salma terkejut. Begitu juga dengan Danisa yang baru tiba di pintu ruang ICU karena mendengar keributan dari dalam. Gadis tomboy itu hanya mampu menganga melihat sang kakak menghentikan pergerakan kakak iparnya.
"Pergi kamu dari sini!" usir Daniar kepada suaminya.
Yandri kaget. Dia pun menatap Bu Salma yang juga merasa bingung dengan perkataan anaknya.
"Sayang, kamu kenapa? Itu Yandri, Nak ... suami kamu!" tegas Bu Salma. "Kenapa kamu mengusirnya?" tanya Bu Salma yang mengira anaknya masih di bawah pengaruh obat bius.
"Tolong minta dia untuk segera pergi dari sini, Bu," pinta lirih Daniar.
Matanya tak pernah lepas dari Yandri. Tatapan mata yang dipenuhi rasa kecewa dan amarah yang sepertinya sebentar lagi akan menjadi sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
"Ta-tapi kenapa, Kak?" tanya Bu Salma, semakin kebingungan.
"Pokoknya Niar enggak mau lihat orang itu berada di sini. Suruh dia pergi dari ruangan ini, Bu. Niar mohon!" Kali ini Daniar memohon seraya mengatupkan kedua belah tangannya.
"Tapi, Nak!" Bu Salma masih tidak ingin mengikuti perintah Daniar. Menurutnya, apa yang diperintahkan Daniar, itu sangat tidak masuk akal.
__ADS_1
"Suruh dia pergi, atau aku yang akan pergi dari sini!" pekik Daniar, siap terbangun dari tempat tidurnya.
"E-e-e-eh ..." Danisa masuk, "biar Nisa aja yang membawa Bang Yandri keluar," ucap Danisa, menengahi pembicaraan dan mendekati kakak iparnya.
Daniar menoleh, begitu juga dengan Bu Salma dan Yandri. Mereka tidak mengerti dengan maksud Danisa.
"Ayo Bang, sebaiknya Abang keluar dari sini," ajak Danisa seraya menggandeng tangan kakak iparnya.
"Tapi, Dek. Abang ingin menemani kakak kamu di sini," tukas Yandri, menolak ajakan adik iparnya.
"Ish, Bang ... Nisa mohon," lanjut Danisa.
"Tapi, Dek."
"Sudahlah, Bang. Tolong jangan buat keributan dulu di sini. Ini sudah malam loh," ucap Danisa, mengingatkan.
"Iya, Dek. Abang tahu ini sudah malam sekali. Lagi pula, Abang hanya ingin berada di dekat istri Abang sendiri. Apa itu salah?" Yandri masih mencoba mencari alasan supaya bisa menjaga dan merawat Daniar.
"Enggak salah, Bang. Cuma waktunya aja yang kurang tepat," tukas Danisa. "Ayo buruan ah ... ikut Nisa. Ada yang harus Nisa omongin." Sekali lagi Danisa mencari akal supaya bisa mengajak kakak iparnya keluar kamar ICU.
Melihat Daniar yang sepertinya enggan bersamanya, hati Yandri sakit sekali. Dia semakin tidak mengerti, kenapa istrinya tidak bisa menerima kehadirannya. Padahal, di saat-saat seperti ini, seorang istri pasti sangat membutuhkan dukungan suami.
Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan istri hamba. Kenapa dia seperti tidak pernah ingin bertemu dengan hamba? batin Yandri.
"Anak Niar, Bu ... anak Niar, huhuhu ...."
Bukannya menjawab pertanyaan ibunya, Daniar malah menangis seraya menyebutkan anaknya. Mungkin, untuk saat ini Daniar masih belum bisa menerima kenyataan jika dia telah kehilangan calon anaknya.
"Ssst ... sudahlah, Niar. Ibu tahu kamu pasti sangat sedih. Namun, kamu harus bisa mengendalikan diri kamu, Nak. Supaya lekas sembuh," jawab Bu Salma.
Mendengar kata sembuh, Daniar seketika teringat akan operasi yang samar-samar dia dengar dari percakapan antara ibu dan suaminya.
Daniar yang sedang berada dalam dekapan sang ibu, menarik diri. Dia menatap ibunya, lekat.
"A-apa be-nar jika ra-rahim Niar sudah diangkat, Bu?" tanya Daniar terbata.
Bu Salma tak mampu lagi menahan kepiluannya. Melihat tatapan Daniar, hatinya terasa sakit. Bu Salma tidak tega untuk mengatakan semua kebenarannya. Sontak dia pun berlari ke dalam toilet kamar ICU sembari menangis.
Melihat ibunya pergi dengan berurai air mata, Daniar hanya mampu menahan sesak di hatinya. Dia semakin yakin jika apa yang dia dengar, adalah sebuah kebenaran.
__ADS_1
Astaghfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim ... astaghfirullahaladzim ....
Dalam hati, Daniar mengucap istighfar berulang kali untuk menguatkan hatinya.
Di luar ruang ICU.
Yandri tampak duduk lemas di kursi tunggu. Wajahnya terlihat sangat kuyu. Rasa lelah benar-benar menderanya. Bukan hanya secara fisik. Namun, pikiran dan hatinya ikut lelah. Yandri lelah memikirkan alasan Daniar menolak kehadirannya. Sungguh, dia tidak pernah mengerti kenapa ratu hatinya bersikap demikian.
"Apa salah Abang, Dek? Kenapa kak Niar seolah menolak kehadiran Abang?" gumam lirih Yandri.
Danisa menepuk-nepuk pelan bahu kakak iparnya. Dia pun merasakan keheranan yang sama. Entah kenapa kakak sulungnya bersikap demikian. Jujur saja, Danisa pun tak punya jawabannya.
"Sabar, Bang. Mungkin kak Niar hanya sedang shock saja," ucap Danisa, mencoba menenangkan Yandri.
"Tapi, apa harus dengan mengusir Abang juga, Dek? Abang nggak ngerti, kenapa kakak kamu terlihat membenci Abang? Kenapa tatapan matanya seolah menyimpan kemarahan?" ungkap Yandri.
"Ish, kok Abang ngomongnya gitu, sih. Itu cuma perasaan Abang saja. Nisa yakin, kak Niar hanya sedang shock saja karena telah kehilangan bayinya. Tidak lebih!" tegas Danisa.
"Semoga apa yang kamu katakan benar, Dek. Dan semoga pikiran Abang yang salah," ucap Yandri.
"Sudahlah, Bang. Tidak usah banyak pikiran. Sebaiknya, sekarang Abang pulang dan beristirahat. Abang kelihatan lelah. Besok Abang kemari lagi," tutur Danisa.
"Tidak, Dek. Abang tidak mau meninggalkan kakak kamu. Terlebih lagi dalam keadaan seperti ini," tukas Yandri.
"Bang, bukan hanya kak Niar yang membutuhkan perhatian Abang saat ini, tapi Bintang juga," ucap Danisa. "Kasihan juga Bintang, Bang. Sepertinya dia juga shock, apalagi melihat ibunya berdarah-darah seperti tadi. Dia pasti merasa trauma, Bang," lanjut Danisa.
Mendengar kata berdarah, Yandri pun teringat akan hal yang ingin dia tanyakan pada saat pertama kali bertemu adik iparnya. Namun, Karena sangat penasaran dengan kondisi Daniar, Yandri sempat melupakannya.
"Sebenarnya, apa yang terjadi sama kak Niar, Dek? Kenapa dia bisa sampai pendarahan hebat? Apa sebelum berangkat, dia mengeluh perutnya sakit lagi?" Yandri memberondong Danisa dengan berbagai macam pertanyaan.
"Saat hendak berangkat, Kak Niar terlihat baik-baik saja, Bang. Seminggu menjalani bedrest, kondisi kak Niar sangat sehat. Sesuai perintah Abang, Nisa pun pelan melajukan mobilnya. Karena takut mengganggu kandungan kak Niar juga. Tiba di tempat, kak Niar dan Bintang pergi ke rumah kakaknya Abang. Namun, tak lama kemudian Bintang datang dengan wajah panik. Dia hanya bilang jika ibunya berdarah. Nisa pun langsung jemput kak Niar yang sudah terduduk di atas bangku di depan sebuah warung. Kak Niar tiba-tiba pingsan, tapi sebelum pingsan dia hanya minta Nisa untuk membawanya ke rumah sakit," papar Danisa, menceritakan kronologi yang dia tahu.
"Bintang," gumam Yandri, "jadi Bintang tahu kejadiannya?" tanya Yandri.
"Sepertinya begitu, Bang. Sayangnya, Bintang tidak mau memberitahu semuanya kepada kami. Mungkin, dia sangat terluka, Bang. Karena itu dia bungkam."
"Ya Tuhan ... kasihan anak itu. Dia sudah lama mengharapkan kehadiran adiknya," ucap Yandri, mengusap wajahnya kasar.
"Karena itu, Abang harus menemaninya. Nisa yakin, Bintang pasti sangat sedih karena telah kehilangan calon adiknya. Pulanglah, Bang. Biar malam ini, Nisa sama Ibu yang nungguin kak Niar."
__ADS_1
"Baiklah, Dek. Malam ini Abang pulang dulu. Titip kak Niar, ya. Besok pagi Abang datang lagi," pinta Yandri.
"Iya, Bang."