Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Kesedihan Ansel


__ADS_3

Acara makan malam mereka pun selesai. Breena meminta Dayyan untuk membelikan nya Pie Berau dan buah Elai.


Pie Berau adalah makanan khas yang banyak diburu oleh wisatawan untuk oleh oleh. Pie Berau dibuat dengan bahan dan pemanis alami. Bukan pemanis buatan. Pie Berau sendiri memiliki beberapa varian rasa. Mulai dari keju, kacang hijau, nanas, ubi hingga full cream dan coklat. Semua nya dari bahan alami dan tanpa pemanis buatan.


Sedangkan buah Elai, buah yang tumbuh di wilayah Kalimantan. Buah ini terlihat seperti buah durian pada umumnya. Namun tidak seperti buah durian yang memiliki warna daging berwarna kuning. Elai cemderung berwarna orange. Elai memiliki rasa yang manis dan terstur yang lembut.


Dayyan pun pergi bersama dengan Brian.


"Mas, Breena tunggu dikamar Kak Ansel iya. Hari ini Breena mau bermanja manja sama Kak Ansel" pesan Breena sebelum suami nya pergi.


"Iya sayang. Tunggu iya anak anak nya Abi. Abi carikan dulu apa yang kalian minta tadi ia" ucap Dayyan lembut kemudian ia mencium perut Breena didepan semua rombingan dan tamu.


"Hati hati iya Abi. Dedek tunggu iya"


Setelah kepergian Dayyan dan Brian. Rombongan yang lain pun kembali ke hotel. Mereka akan beristirahat karena lelah abis perjalanan jauh.


"Ayo keponakan keponakan Uncle. Kita kembali ke hotel. Abis itu kita lihat lihat mobil apa yang kalian mau" ucap Ansel santai sambil menggandeng tangan adik nya itu.


Windy yang melihat Ansel yang selalu menghindari nya hanya bisa menghela nafas nya. Ia tak tau apa salah nya sampai sampai ia merasa orang terkasih nya menjaga jarak dengan nya.


Bukan Windy tak berusaha mendekati Ansel. Tetapi setiap Windy berusaha mendekat dan ingin berbicara, Ansel selalu saja mempunyai alasan untuk tak bertemu dengan nya.


"Sabar, mungkin Ansel lagi ada masalah" ucap Anggi yang melihat raut sedih di wajah Windy.


Sesampai nya dihotel. Breena pun juga ikut masuk kedalam kamar yang ditempati Ansel. Ia memilih duduk di balkon kamar itu. Sedangkan Ansel dan Dion duduk di sofa memainkan ponsel masing masing.


"Gue nggak mau tau. Lo harus cari mobil yang Gue pesan tadi. Pokok nya harus ada sebelum Gue pulang dari liburan Gue" ucap Ansel berbicara dengan asisten nya.


"Iya iya besok Gue cari" ucap asisten Ansel kesal.


Ansel pun langsung mematikan panggilan nya dan mematikan ponsel nya juga. Lalu ia menghampiri Breena yang ada di balkon kamar nya.


"Kak" panggil Breena setelah merasakan ada yang duduk di sebelahnya.


"Kenapa Dek?" tanya Ansel yang memandang langit malam.


"Ada masalah?"


"Nggak ada"


"Jangan bohong Kak. Kakak nggak bisa bohongi Breena. Kita besar dan tumbuh bersama Kak. Aku tau kalau Kakak lagi bohong" ucap Breena kesal.


Huuufffttt


"Kamu memang Adek Kakak" ucap nya sambil mengelus kepala Breena.

__ADS_1


"Karena aku Adek Kakak jadi ayo cerita. Ada apa?" desak Breena.


Ansel masih terdiam. Ia bingung mau menceritakan nya dari mana dulu.


"Apa ini tentang Windy?" tanya Breena ragu.


Ansel hanya menganggukan kepala nya. Dan dapat dilihat wajah nya berubah menjadi sedih dan ada kecewa dimatanya.


"Cerita Kak. Breena nggak suka lihat Kakak seperti ini" ucap Breena yang sudah berkaca kaca.


"Jangan nangis. Kakak baik baik aja"


"Kakak bohong"


"Baiklah Kakak akan cerita tapi tunggu Dayyan iya" bujuk Ansel.


Sambil menunggu Dayyan, mereka berdua pun hanya saling diam. Mereka lebih memilih menatap bintang yang tak banyak yang ada dilangit malam itu.


Tiga puluh menit menunggu, akhirnya Dayyan pun datang. Dan langsung menghampiri mereka di balkon kamar Ansel. Tak lupa ia memberikan Pie Berau kepada Dion.


Sekarang Dayyan sudah duduk dihadapan istrinya dan Kakak Sepupu istrinya. Ia menatap satu persatu wajah Breena dan Ansel. Di wajah Breena ada raut kebahagiaan sedangkan di wajah Ansel kentara sekali ada raut kecewa disana.


"Kak ayo cerita" paksa Breena lagi.


"Kalian ingat kan waktu Kakak bilang mau melamar Windy dihari wisuda nya waktu kamu baru keluar dari rumah sakit?" tanya Ansel memulai ceritanya.


Ansel menganggukan kepalanya dan tersenyum kecut.


"Iya Kakak melakukan saran kalian, tapi apa kalian tau apa yang Kakak alami disana?" tanya Ansel sambil menatap kearah langit.


"Apa yang terjadi Kak?"


"Dengan niat baik Kak kesana, berniat ingin meminta restu Ibu nya Windy. Namun yang Kakak lihat sungguh membuat hati Kakak hancur Dek" jeda Ansel. Ia mendongakan kepala nya, menahan air matanya agar tak terjatuh.


"Begitu Kakak sampai, Kakak melihat begitu banyak mobil di halaman rumah nya. Saat itu Kakak tidak mengatakan sama Windy kalau Kakak mau kerumah Ibu nya. Dan Windy pun bilang kalau dia harus pulang, karena Ibu nya menelpon nya dan meminta nya pulang. Begitu Kakak mendekati pintu rumah nya yang terbuka. Kakak bisa dengar apa yang dibahas didalam rumah itu. Kakak lihat Windy dan Ibu nya sedang berdebat didepan tamu tamu mereka. Awalnya Kakak tidak tau apa yang menjadi perdebatan mereka. Tapi ketika Kakak semakin mendekat dengan pintu Kakak mendengar kalau Windy bilang menyetujui menikah dengan lelaki yang ada dirumah nya itu. Kakak melihat bagaimana lelaki itu tersenyum dan memakaikan cincin dijari manis Windy Dek" jelas Ansel yang kini sudah meneteskan air matanya.


Breena pun tak percaya dengan apa yang dijelaskan oleh Ansel. Windy tidak ada cerita dengan nya. Kalau memang Windy telah bertunangan lantas mengapa ia ikut dengan mereka saat ini.


"Adek nggak tau apa apa tentang itu Kak. Windy juga nggak ada bilang apa apa sama Adek soal ini" ucap Breena lirih.


"Sakit hati Kakak Dek. Kalau memang dia sudah tau mau dijodohkan. Kenapa dia memberikan Kakak harapan dan membalas cinta Kakak. Disaat Kakak ada niatan mau melanjutkan hubungan kejenjang yang lebih serius, kenapa dia menghancurkan harapan Kakak" ucap Ansel tersenyum kecut.


"Jadi karena ini Kakak menghindar dari nya?" tanya Breena sambil mengelus lengan Ansel.


"Iya. Kakak juga nggak nyangka kalau dia ikut sama kalian. Kakak pikir dia akan menolak ajakan kalian"

__ADS_1


"Terus mau sampai kapan Kakak menfhindar dari nya?" tanya Dayyan membuka suara.


"Kakak juga nggak tau ian" jawab Ansel lesu.


"Saran ku lebih baik segera akhiri hubungan kalian Kak. Bagaimana pun juga dia sudah terikat hubungan dengan lelaki lain" ucap Dayyan memberi saran.


"Mas Dayyan benar Kak, lebih baik di akhiri secepatnya. Dari pada seperti ini terus akan semakin membuat Kakak tersiksa dan sakit hati. Aku nggak mau lihat Kakak seperti ini" ucap Breena sedih.


"Pasti Dek. Kakak pasti akan mengakhirinya" ucap Ansel pasti.


"Apa Mommy dan Daddy sudah tau Kak?"


"Iya seperti dugaan kamu Dek. Tanpa Kakak mengatakan nya pun Daddy pasti uda tau terlebih dahulu"


"Terus bagaimana tanggapan Mommy dan Daddy Kak?"


"Sudah pasti Mommy menangis dipelukan Kakak mu ini" ucap Ansel disertai dengan candaan.


"Jangan bercanda Kak. Breena lagi serius" kesal Breena.


"Iya Dek. Begitu Kakak sampai di mansion, Mommy uda menyambut kedatangan Kakak dengan wajahnya yang sudah basah air matanya"


"Ia uda Kak mungkin belum jodoh. Jadi saran Dayyan segera akhiri Kakak. Tak baik menjalin hubungan dengan wanita yang sudah di khitbah dengan orang lain. Walau pun kita yang terlebih dahulu mempunya hubungan dengan nya" ucap Dayyan.


"Dek, setelah Kakak mengakhiri hubungan dengan nya, kakak ingin kamu tetap bersahabat dengan nya. Jangan karena Kakak hubungan kalian juga merenggang. Dan ......" Ansel menjeda ucapan nya. Ia memandang sedih Adik sepupu yang yang sepersusuan.


"Dan?"


"Dan setelah nya Kakak akan ke negara nya Daddy. Kakak akan menetap disana. Grandma meminta Kakak untuk mengurus perusahaan yang ada disana" ucap Ansel sedih.


Ia begitu berat meninggalkan adik nya ini. Tetapi ini juga permintaan Grandma nya. Tak mungkin ia tidak menuruti nya.


"Jadi Kakak akan menetap disana, terus kakak tidak akan menghadiri acara wisuda Breena?"


"Iya Kakak akan menetap disana. Kakak mau menemani Grandma, juga mengurus perusahaan disana. Dan yang lebih penting Kakak juga mau menenangkan hati Kakak. Tapi Kakak janji waktu kamu wisuda Kakak akan datang"


"Janji"


"Iya Kakak janji Dek"


Hhuuuffftt


"Iya uda Kakak. Kakak jangan sedih sedih lagi. Semoga Allah mendatangkan jodoh Kakak yang lebih baik lagi dari nya. Breena nggak suka lihat Kakak yang sedih dan rapuh seperti ini. Breena mau besok kakak uda seceria seperti dulu lagi" pinta Breena.


"Iya Adek kakak yang bawel. Ud sana kamu istirahat. Kakak nggak mau keponakan Kakak sampai kenapa kenapa"

__ADS_1


"Iya ini kami balik ke kamar kami"


Breena dan Dayyan pun segera keluar dari dalam kamar Ansel dan Dion. Dion yang sedari tadi mendengar apa yang dikatakan oleh mereka pun hanya bisa terdiam. Ia tidak akan ikut campur untuk masalah Ansel dan Windy.


__ADS_2