Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Rencana Rapat Pemegang Saham Di Admaja Corporation


__ADS_3

Setelah kepergian Bagaskara, Arsenal mengamuk di dalam ruangan nya. Ia menghambur kan semua berkas yang ada di atas meja kerja nya. Berkas berkas penting itu pun berserakan di lantai.


"Apa yang sedang kamu rencana kan Bagaskara" teriak nya penuh amarah.


Arsenal segera mengambil ponsel nya dan menghubungi anak buah nya yang mencari keberadaan keponakan nya itu.


"Hallo Bos"


"Bagaimana?" Tanya Bagaskara dengan suara dingin nya.


"Maaf Bos, kami baru saja mendapat kan kabar, kalau putri dari Tuan Jonathan selama ini tinggal di Bandung. Tapi kami tidak tau dia tinggal di daerah mana nya" jelas anak buah nya itu.


"Bandung?" tanya Arsenal tak percaya.


Bagaimana bisa ia mau percaya, sedang kan anak buah nya sudah mencari Lia diseluruh Indonesia. Dan mendengar kata Bandung. Kota yang hanya berjarak beberapa jam saja dari Jakarta, yang selama ini menjadi tempat persembunyian keponakan nya itu.


"Cari dia sampai dapat. Bunuh dia langsung. Dan bawa mayat nya ke hadapan ku sebelum rapat pemegang saham di laksanakan beberapa hari lagi" perintah Arsenal penuh penekanan.


"Si–Siap Bos"


Telpon pun di matikan secara sepihak oleh Arsenal. Ia begitu geram dengan ucapan Bagaskara tadi. Sampai kapan pun ia tak akan menyerah kan harta yang sudah susah payah ia rebut kembali ke tangan pemilik sebenar nya.


...----------------...


Sementara itu Bagaskara yang baru saja memasuki mobil nya langsung menelpon Brian.


"Hallo Assalamualaikum Paman"


"Wa'alaikum salam Brian. Kamu dimana?"


"Lagi di Bogor Paman sama Ani juga. Ada apa Paman?" tanya Brian sopan.


"Tidak ada. Paman hanya ingin menyampaikan sama kamu kalau rapat pemegang saham akan di lakukan beberapa hari lagi. Apa kamu sudah siap untuk menghadiri rapat itu?"


"Siap Paman. Brian nanti juga akan membawa Ani kesana"


"Baik lah Paman tunggu. Kalian hati hati iya. Jangan sampai bertemu dengan anak buah nya Arsenal"


"Paman tenang saja. Selama disini, Ani selalu memakai cadar nya kok Paman. Jadi tidak akan ada yang kenal dengan Ani"

__ADS_1


"Iya uda Paman tutup dulu iya. Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam Paman"


Ani yang melihat suami nya sudah selesai menerima telepon pun mendekati nya.


"Siapa Mas?" tanya Ani penasaran.


"Paman Aska sayang" jawab Brian lembut sambil membawa tubuh mungil Ani ke dalam dekapan nya.


"Mau ngapain?"


"Cuma mau bilang kalau beberapa hari lagi akan ada rapat pemegang saham di perusahaan Admaja Corporation. Paman meminta kita datang sayang. Sebagai pemilik sah nya" jelas Brian lembut.


"Harus iya Mas?" tanya Ani yang panik.


Brian dapat melihat kepanikan istri nya itu. Ia semakin mengeratkan pelukan nya. Berusaha menenangkan sang istri.


"Jangan panik sayang. Semua akan baik baik saja. Jangan pikir kan apa pun tentang perusahaan. Ada Paman Aska dan Mas yang akan berusaha membela hak kamu sayang"


"Jangan tinggalin Ani Mas. Ani nggak mau kehilangan lagi. Cukup Ani kehilangan kedua orang tua Ani Mas. Ani nggak mau kehilangan salah satu keluarga Ani lagi" pinta Ani dengan isak tangis nya.


"Iya uda sekarang ayo kita bersiap. Nanti sore kita akan kembali ke Jakarta. Mas sudah kangen sama putri kecil kita. Apa Bunda tidak merindukan putri kecil Bunda yang cantik itu?"


"Bunda sangat sangat merindukan nya Dad. Iya uda Bunda beresin barang barang kita dulu iya"


Setelah mengatakan itu, Ani langsung membereskan semua barang barang yang mereka bawa serta beberapa oleh oleh yang sudah mereka beli kemarin.


Bahkan Brian membeli banyak oleh oleh. Alasan nya cuma satu, akan di bagi kan ke semua keluarga.. Jadi ia harus membeli banyak oleh oleh itu. Apa lagi ada bumil yang banyak mau nya itu. Pasti ia akan menodong oleh oleh sama mereka.


...----------------...


Di kediaman Papa Doni, saat ini Breena dan Dayyan sedang duduk santai di halaman belakang rumah mewah itu.


Kalau di tanya dimana kedua orang tua Sayyan? Jawaban nya adalah Orang tua Dayyan pergi ke perusahaan untuk mengecek. Serta nanti setelah Dzuhur mereka akan mengisi kajian di Masjid biasa Dayyan memberikan kajian setiap minggu nya.


Ya, hari ini pekerjaan Dayyan di ambil alih oleh Abah Arsya dan Umma Hanum.


"Sayang, jadi kapan kamu mau mulai KOAS nya?" tanya Papa Doni tiba tiba.

__ADS_1


"Belum tau Pah. Bagus nya kapan iya Mas?" tanya Breena ke suami nya.


"Kalau menurut Mas bagus setelah kamu melahir kan saja sayang"


"Itu kelamaan Mas" protes Breena. Sebab Breena sudah ingin sekali memulai KOAS nya.


"Mas hanya memberi saran sayang. Selebih nya iya terserah kamu saja. Asal kan kamu bisa menjaga kesehatan kamu dan dedek twins" ucap Dayyan sambil mengusap perut buncit Breena.


"Kalau menurut Mama kapan?" tanya Breena menatap Mama Ratih yang sedang mengupas buah.


"Kalau menurut Mama, bagus nya setelah resepsi nya Brian dan Ani saja sayang. Tanggung kalau mulai nya sekarang" ucap Mama Ratih memberikan ide.


Ketiga nya tampak berpikir. Mereka menimbang nimbang usulan dari Mama Ratih


"Bener juga sih Mah. Lebih baik setelah resepsi nya Brian aja. Nggak mungkin Breena baru KOAS uda mulai bolos. Walau pun itu rumah sakit kita dan Breena bakal menggantikan posisi Papa nanti. Tapi kita harus bersikap profesional juga kan. Tidak membeda beda kan para Dokter yang bertugas" ucap Papa Doni membenar kan usulan nya Mama Ratih.


"Bener Pah. Maka nya Mama ngasih usulan setelah resepsi nya Brian aja. Nggak mungkin kan Breena hanya libur di hari resepsi nya saja. Pasti Breena akan libur beberapa hari"


"Mama sama Papa benar sayang. Mas juga nggak akan kasih kamu kerja setelah resepsi nya Brian dan Ani. Pasti kamu kelelahan di acara nanti. Walau pun hanya duduk saja nanti nya disana. Tapi kesehatan kamu dan dedek itu yang utama. Jadi Mas setuju dengan Mama Papa. Bagaimana sayang?"


"Iya Mas. Breena juga setuju. Jadi fiks iya Pah, KOAS nya setelah resepsi nya Mas Brian dan Mbak Ani iya?" tanya Breena memastikan lagi.


"Iya sayang" jawab Papa Doni sambil mengelus puncak kepala putri nya itu.


"Oiya Ian. Papa dengar, Admaja Corporation mau ngadain rapat pemegang saham. Apa itu benar?" tanya Papa Doni memastikan kabar yang ia dengar dari sahabat nya tadi.


"Iya Pah. Itu benar. Ian pun akan datang ke perusahaan itu sebagai perwakilan salah satu investor di perusahaan itu"


"Apa Ani juga akan ikut nanti nya Ian ke rapat itu?"


"Ian kurang tau Pah. Karena di undangam yanh di kirim ke email. Hanya akan membahas tentang maslah saham saja. Tapi apa mungkin iya Pah. Rapat nanti juga akan membahas masalah kepemilikan perusahaan itu yang sebenar nya?"


"Mungkin saja Ian. Papa tidak tau kalau masalah itu. Sebab Papa tidak ada nanam saham di perusahaan itu"


"Ian masih nggak percaya Pah, kalau perusahaan besar itu milik keluarga nya Ani. Setau Ian, Ani itu hanya anak dari kalangan biasa saja Pah, bukan dari kalangan pengusaha.. Abah dan Umma pun tidak pernah bercerita tentang masalah perusahaan itu" jelas Dayyan.


"Kita doa kan saja semoga semua nya berjalan lancar nanti nya. Dan masalah ini cepat selesai. Kasihan Ani, hak nya di rampas secara paksa oleh Paman tiri nya itu. Bahkan kedua orang tua nya harus meninggal karena ulah Paman nya itu" ucap Papa Doni penuh harap.


"Amin Pah amin. Semoga semua nya cepat teratasi iya Pah"

__ADS_1


Kegiatan mereka pun berlanjut. Dengan manja Breena meminta di suapi oleh Mama Ratih makan buah nya. Dengan ia yang bersandar di dada bidang suami nya itu.


__ADS_2