Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Bab 39. Bukti Dari Mbak Ani


__ADS_3

Dayyan keluar dari kamarnya dan bergegas menuju kemobilnya. Ia berencana akan memeriksa kamera CCTV yang ia selipkan disudut kaca mobilnya. Ia berharap ada bukti yang bisa ia gunakan untuk membela dirinya nanti malam.


Saat ditangga ia berpapasan dengan Mbak Ani.


"Assalamualaikum Gus. Maaf Gus bisa kita berbicara?" tanya Mbak Ani hati hati.


"Wa'alaikum salam Mbak. Ada apa iya Mbak? Apa yang mau dibicarakan ini penting Mbak? Karena saya sedang ada urusan" jawab Dayyan.


"Nggih Gus ini sangat penting"


"Tapi saya tidak bisa berbicara dengan Mbak hanya berdua saja. Mbak tau kan apa yang baru saja menimpa saya? Maaf Mbaj, saya hanya berjaga jaga saja takut ada yang salah paham lagi" ucap Dayyan tak enak hati.


"Saya mengerti Gus. Bagaimana kalau berbicaranya bersama Ning Breena juga Gus? Saran Mbak Ani.


"Apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi Mbak?" terka Dayyan.


Mbak Ani hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau gitu kita bicarakan dikamar saya saja Mbak. Agar tidak ada orang lain yang tau. Disana ada Breena juga kok Mbak, jadi Mbak tidak perlu takut" ucap Dayyan ketika melihat kecanggungan diwajah Mbak Ani.


"Nggih Gus. Kalau gitu Gus Dayyan duluan saja. Nanti saya akan menyusul setelah membuatkan minum untuk Gus Dayyan dan Ning Breena" ucap Mbak Ani kemudian ia pergi kedapur untuk membuatkan minuman.


Sementara Dayyan kembali kedalam kamarnya. Ia berharap Mbak Ani mempunyai bukti tentang kejadian tadi.


Sesampainua didapur, Mbak Ani melihat teman teman sesama khadamah sedang menceritakan kejadian yang mereka lihat tadi. Ia berdiri dibalik dinding dapur itu mendengarkan apa saja yang mereka katakan.


"Ada kejadian apa sih kok rame banget? Ceritanya sampai nyebar keseluruh asrama putra dan putri" tanya Mbak Lusi yang memang tidak berada disana saat kejadian tadi.


"Ning Breena memergoki Gus Dayyan sedang berpelukan dengan Ustadzah Hana dihalaman depan ndalem" jawab Mbak Vani.


"Masa sih? Bukannya mereka bukan muhrim iya?" tanya Mbak Lusi yang tidak mempercayai berita itu.


"Kita aja juga nggak tau pasti. Tapi ceritanya gitu. Ning Breena marah marah dan Gus Dayyan membentaknya didepan Ustadzah Hana" jawab Vani.


"Aku kok kasian iya sama Ning Breena. Dibentak sama suaminya gitu sampai ia nangis. Aku sih nggak yakin iya kalau Gus Dayyan mau meluk perumpuan lain. Orang selama ini aja kita kan tau sendiri bagaimana Gus Dayyan kalau didekati sama perempuan. Pasti Gus Dayyan langsung menghindar" ucap Mbak Dina mengeluarkan pendapatnya.


"Iya sih selama ini Gus Dayyan memang seperti itu. Tapi .... " Mbak Vani menggantungkan ucapannya.


"Tapi kenapa?" tanya Mbak Dina dan Mbak Lusi berbarengan.


Mbak Vani melihat kesekelilingnya. Dirasa aman ia mendekat kearah kedua temannya itu. Lalu melanjutkan ucapannya.


"Tapi kok aku curiga iya sama Ustadzah Hana. Dia tadi tuh diam aja loh waktu Ning Breena memarahinya. Justru aku melihat dia senyum senyum gitu kaya yang lagi bahagia banget. Aku curiganya kalau ini memang disengaja oleh Ustadzah Hana. Iya kita tau sendirilah selama ini Ustadzah Hana kan menaruh hati sama Gus Dayyan" ucap Mbak Vani pelan takut ada yang dengar.


Ekhem


Belum sempat kedua temannya menanggapi ucapan Mbak Vani. Mereka sudah dikejutkan dengan suara deheman dari Mbak Ani.


"Tolong jangan berasumsi yang tidak tidak. Takutmua justru akan memperburuk suasana. Kita tidak tau dengan apa yang kita lihat. Itu bisa aja yang kita lihat memang sebuah kebenaran atau hanya fitnah saja agar terjadi salah paham. Kita cukup do'akan saja semoga pernikahan Gus Dayyan dan Ning Breena masih bisa diselamatkan" ucap Mbak Ani tegas membuat ketiga temannya menundukkan kepala mereka.

__ADS_1


"Maaf Mbak Ani" ucap ketiganya.


"Hmm" balas Mbak Ani. Kemudian ia pergi meninggalkan area dapur dan menuju kekamar Gus nya.


Setelah kepergian Mbak Ani mereka bertiga bernafas lega. Pasalnya kalau Mbak Ani sudah berkata tegas itu membuat mereka takut pada senior mereka.


Tok tok tok


Dayyan yang mendengar suara ketukan dipintunya pun segera membukanya.


"Bawa masuk saja Mbak. Letakkan saja di atas meja sofa" pinta Dayyan.


"Nggih Gus" jawab Mbak Ani kemudian masuk kedalam kamar Dayyan dan meletakkan minuman yang dibuatnya diatas meja sofa.


"Breena sedang tidur Mbak. Apa kita bisa membicarakan ini dengan Umma dan Abah saja Mbak?"


"Bisa Gus. Mungkin akan lebih aman kalau kita bicarakan ini sama Bu Nyai dan Pak Kyai"


"Iya sudah Mbak duluan saja keruang kerja Abah. Nanti saya akan menyusul"


"Nggih Gus kalau begitu saya keluar dulu" pamit Mbak Ani yang langsung keluar dari kamar Gus nya.


"Mas tinggal sebentar iya sayang. Yang nyenyak tidurnya. Mas mencintai kamu sayang" pamit Dayyan tak lupa mencium kening istrinya.


Saat ini Mbak Ani sudah berada didalam ruang kerja Abah Arsya. Ketika dipersilahkan duduk, Mbak Ani lebih memilih duduk dibawah saja.


"Duduk diatas sini Mbak Ani. Jangan duduk dibawah gitu. Biar enak nanti kita ceritanya" pinta Abah Arsya.


Ia merasa sungkan harus duduk diatas bersama seorang Kyai besar dan keluarganya nanti.


"Diatas saja Mbak. Kita tunggu Dayyan dulu iya Mbak" Pinta Umma Hanum.


Mau tidak mau Mbak Ani pun duduk juga disofa yang sama dengan yang diduduki oleh Umma Hanum.


Tok tok tok


Setelah mengetuk pintunya Dayyan langsung masuk kedalam ruang kerja Abahnya.


"Assalamualaikum" ucap Dayyan.


"Wa'alaikum slam. Sini duduk disebelah Abah Dayyan" ucap Abah Arsya.


Setelah Dayyan sudah duduk. Umma Hanum pun langsung bertanya ke Mbak Ani.


"Ada apa Mbak Ani? Kenapa Mbak Ani ingin berbicara dengan putra saya?" tanya Umma Hanum lembut.


"Maaf Bu Nyai. Saya hanya ingin meluruskan yang tadi terjadi diluar Bu Nyai" ucap Mbak Ani menunduk.


"Apa Mbak Ani melihat kejadian yang sebenarnya?" tanya Dayyan antusias. Ia berharap Mbak Ani bisa menjadi saksi nanti malam.

__ADS_1


"Nggih Gus. Sebenarnya Gus Dayyan tadi tidak memeluk Ustadzah Hana Bu Nyai. Tetapu yang sebenarnya terjadi, Gus Dayyan hanya memegang lengan Ustadzah Hana. Karena yang saya lihat sepertinya Ustadzah Hana pura pura terjatuh kearah Gus Dayyan ketika melihat Ning Breena keluar dari ndalem Bu Nyai" ucap Mbak Ani sambil menunduk.


"Apa benar seperti itu Dayyan?" tanya Abah Arsya.


"Iya Bah. Dia tadi tiba tiba jatuh dan kearah Dayyan. Dayyan reflek langsung memegang tangannya" bela Dayyan.


"Tapi kita juga butuh bukti Dayyan. Bukan hanya kesaktian dari Mbak Ani saja" ucap Abah Arsya. Karena bagaimana pun menurutnya mereka juga membutuhkan bukti agar lebih akurat.


"Maaf Mbak Ani, apa Mbak punya buktinya juga" tanya Dayyan.


"Nggih Gus. Tadi saya memvideokannya. Alhamdulillah videinya juga lengkap Gus. Dari awal Ustadzah Hana datang mendekati Gus Dayyan sampai ke Gus yang membentak Ning Breena" ucap Mbak Ani sambil menyerahkan ponselnya kepada Dayyan.


Umma Hanum dan Abah Arsya pun mendekat kearah Dayyan untuk melihat sebenarnya yang terjadi yang ada divideo yang diambil oleh Mbak Ani.


"Maaf Gus bukannya saya mau mencampuri urusan rumah tangga Gus Dayyan dan Ning Breena. Maaf kalau saya tadi sudah menguping pembicaraan Gus Dayyan dan Ustadzah Hana. Tapi saya lakukan itu karena saya tidak mau Ning Breena tersakiti lagi. Maaf Gus saran saya sebisa mungkin Gus menghindar dari Ustadzah Hana. Maaf kalau saya sudah lancang memberi anda saran Gus" lanjut Mbak Ani yang tak enak hati.


"Ada apa Mbak? Kenapa Mbak Ani berbicara seperti itu?" tanya Umma Hanum.


"Maaf Bu Nyai. Maaf saya sudah lancang. Saya pernah mendengar Ustadzah Hana mengancam Ning Breena, kalau dia akan merebut Gus Dayyan dengan cara apa pun Bu Nyai" ucap Mbak Ani menunduk takut sambil memilin ujung hijabnya.


"Astafirullah. Kenapa Ustadzah Hana bisa seperti itu Abah? Umma harap Abah bisa mengambil tindakan tegas yang tepat untuk Ustadzah Hana. Umma nggak mau menantu kesayangan Umma harus tersakiti lagi Abah" pinta Umma Hanum.


"Iya Umma. Umma tenang dulu. Abah juga sedang memikirkan apa yang harus kita lakukan pada Ustadzah hana" ucap Abah Arsya mencoba menenangkan istrinya.


"Menurut Dayyan. Kita ikuti saja duku permainannya Ustadzah Hana Umma. Kita lihat sampai dimana dia memfitnah Dayyan. Dan fitnah apa lagi yang akan dimainkannya. Kemudian baru kita keluarkan bukti yang kita miliki Umma. Rasanya Dayyan sudah tidka sabar ingin dia angkat kaki dari pesantren ini Umma" ucap Dayyan menahan emosinya.


Ia batu teringat ketika mereka pertama kalinya datang kepesantren. Ada yang mencoba mengancam istrinya, sehingga ia membawa istrinya pulang ke Jakarta.


"Terima kasih Mbak Ani atas bantuannya dan bukti yang telah Mbak berikan. Saya mau pinjam ponsel Mbak Ani dulu. Nanti kalau masalahnya sudah selesai, saya akan mengembalikan ponsel Mbak Ani. Saya takut kalau ponsel ini masih bersama Mbak Ani, takutnya ada yang tau dan justru malah mengambilnya dari Mbak Ani untuk menghilangkan bukti" ucap Dayyan.


"Silahkan Gus. Saya juga lebih tenang kalau ponsel ini bersama Gus atau Pak Kyai. Semoga dengan bukti ini bisa membantu Gus Dayyan. Kalau begitu saya permisi dulu Pak Kyai, Bu Nyai, Gus Dayyan" ucap Mbak Ani sambil menundukkan wajahnya.


Setelah kepergian Mbak Ani. Dayyan pun juga ikut keluar. Ia ingin melihat keadaan Breena.


"Abah Umma, Dayyan titip ponsel Mbak Ani sama Abah dan Umma. Dayyan mau kembali kekamar dulu. Mau lihat Breena. Tadi saat Dayyan tinggal dia lagi tidur Umma" pamit Dayyan.


"Iya pergilah nak. Tenangkan istrimu dulu. Umma tau dia sedang tidak baik baik saja. Tapi ... "?


"Tapi apa Umma?" tanya Dayyan bingung Umma nya menggantungkan ucapannya.


"Apa kamu sudah membereskan masalah berita tentang Breena Dayyan?"


"Sudah Umma, tinggal menunggu dari pihak mereka. Kalau mereka tidak mau mengklarifikasinya, Dayyan dan Papa Doni akna menarik semua saham kami di rumah sakit milik Anderson dan di perusahaan AD Grup" jelas Dayyan.


"Iya sudah kamu kembalilah kekamarmu nak. Kasihan istrimu ditinggal sendirian" ucap Abah Arsya.


Kemudian Dayyan pun keluar dari ruang kerja Abah nya dan menuju kekamarnya.


Dalam hati ia berharap rumah tangganya akan bertahan dan semua masalah cepat selesai. Ia ingin mengajak Breena berbulan madu setelah ia mendengar pernyataan cintanya Breena.

__ADS_1


Dan ia berencana mengajak Breena kelilig Sumatera setelah Breena wisuda nanti.


__ADS_2