
Disebuah rumah mewah yang terletak di jantung kota Jakarta. Seorang pria paruh baya berteriak karena mendapatkan laporan dari anak buah nya kalau mereka gagal mengikuti jejak dari Pak Bagaskara.
Ia berteriak memaki anak buahnya. Bahkan ia menghancurkan beberapa barang yang ada disekitarnya.
"Kenapa kalian tak pernah becus setiap kali mengikuti si Aska!! Apa saja yang kalian lakukan!! Kalau seperti ini terus saya tidak akan tau dimana anak itu disembunyikan!!" bentak nya memaki beberapa anak buah nya.
"Maaf kan kami Bos. Kami melihat mobil Pak Aska berhenti disebuah rumah. Namun ketika kami mendekati mobil itu, justru mobil itu telah kosong" jawab salah satu anak buah nya.
"Saya tidak mau tau. Secepatnya kalian harus menemukan anak itu. Jangan sampai ia menikah. Kalau itu terjadi aku tak bisa menguasai semua harta miliknya. Sekarang pergilah" usirnya.
Iya pria paruh baya itu adalah Arsenal Ezio. Saudara tiri Ayah nya Ani, yang ingin menguasai harta milik almarhumah Ibu nya Ayah Ani.
...----------------...
Sementara itu dipesantren, setelah kepergian Pak Bagaskara. Ani langsung pamit masuk ke kamar nya yang ada didepan kamar Dayyan. Semua orang pun mengerti dengan keadaan Ani saat ini.
Setelah Ani yang berpamitan masuk kekamar. Kini saat nya keluarga Anderson, Danuarta, Doni Abraham dan Dayyan pun pamit ke Jakarta karena hari sudah mulai sore.
"Umma sudah membawakan kamu bumbu rujak nya. Apa mau sekalian buah mangga nya juga sayang?" tanya Umma Hanum pada menantunya yang sedang bermanja di dada bidang suaminya, tanpa mempedulikan situasi yang ada.
Dayyan yang sebenarnya tak enak hati mengumbar kemesraan pun hanya bisa pasrah. Sebab Breena telah mengancamnya tidak akan memberikan jatah kalau ia sampai menolak apa yanh dilakukannya.
"Bumbunya aja Umma. Kalau mangga nanti cari disana aja. Kaya nya dirumah masih ada pohon yang berbuah" ucap Breena sambil menggambar pola abstrak didada bidang suaminya.
"Baiklah. Umma akan meminta Kang Amin memasukkan bumbunya ke mobil kalian dulu" ucap Umma kemudian ia mencari keberadaan Kang Amin.
"Pak Kyai, kalau begitu kami pamit dulu iya. Takut dijalan kejebak macet dan sampai di Jakartanya terlalu malam" pamit Daddy Martin.
"Iya Pak Martin. Hati hati dijalan. Sampai bertemu di acara nikahan anak anak kita"
Semua tamu Abah Arsya pu. Memasuki mobil mereka masing masing. Begitu pun dengan Breena, ia masuk ke mobil di kursi belakang bersama Mama nya.
Mobil pun melaju pelan meninggalkan area pesantren. Baru beberapa menit berjalan, Breena sudah tertidur di pangkuan Mama nya.
Beberapa jam kemudian, ke enam mobil pun sampai di Jakarta. Mereka berpencar ke tujuan masing masing. Begitu pun dengan mobil yang dikendarai Dayyan. Iya melaju menuju ke rumah mewah mertua nya.
Malam ini Dayyan memutuskan menginap kembali dirumah mertuanya. Sebab ia tak mau mengganggu tidur sang istri.
Sesampai nya di dalam kamar. Dayyan langsung membersihkan tubuhnya. Setelah selesai ia pun membersihkan tubuh Breena dan menggantikan baju Breena dengan baju tidur.
"Kau sungguh cantik sayang. Dan hari ini begitu banyak kejutan yang kamu berikan. Dari meminta omlet sosis dan sosis saus padang buatan Brian. Rujak buatan Umma. Sama mangga muda. Kamu uda seperti orang hamil yang tengah mengidam sayang. Dan doa Mas semoga kamu benaran hamil sayang" ucap Dayyan pelan. Lalu ia melirik kearah perut rata sang istri.
"Abi berdoa semoga kamu sudah berada didalam perut Umi sayang. Abi begitu menantikan kehadiran kamu" lanjut Dayyan sambil mengelus perut istrinya dan memberikan kecupan disana.
Dayyan pun segera berbaring disebelah sang istri. Ia pun menyusul sang istri kealam mimpi sambil memeluk istri tersayang nya.
__ADS_1
...----------------...
Dimansion Anderson Brian baru saja memarkirkan mobilnya di garasi. Ia turun dari mobil lalu menggendong putri kesayangannya menuju kekamar sang anak.
"Brian setelah menaruh Quin dikamarnya, turun lah lagi. Ada yang mau Mommy tanyakan sama mu" ucap tegas Mommy Aletha.
Brian pun hanya menanggapinya dengan anggukan.
"Ada apa Mom?" tanya Brian ketika ia sudah turun lagi kebawah.
"Ada apa dengan mu Brian. Kenapa kau nekat tadi disana memasakan apa yang diminta Breena. Bagaimana kalau Ani nanti salah mengartikan sikap mu itu?" omel Mommy Aletha.
"Brian tidak punya maksud apa apa Mom. Apa Mommy tidak melihat wajah Breena yang sudah mau menangis itu. Apa Mommy tega melihatnya seperti itu?" tanya Brian yang langsung di jawab gelengan kepala oleh sang Mommy.
"Tapi Bri bagaimana dengan Ani?" tanya Daddy Martin.
"Daddy sama Mommy jangan takut. Brian sudah menjelaskan sama Ani kalau Brian sudah tidak memiliki perasaan lagi sama Breena. Brian pun tadi masak dibantu sama Ani Mom Dad. Kalau tidak dibantu Brian yakin rasa dari masakan Brian itu pasti tidak enak. Biar Mommy tau, Ani pinter banget masak nya Mom. Masakan nya itu enak banget. Mommy lihat kan tadi Brian makan sampai tambah dan lahap begitu" puji Brian sambil tersenyum mengingat masakan dari tangan calon istrinya.
"Syukurlah kalau Ani tidak salah paham Boy. Yang Daddy dan Mommy takut kan itu, kalau Ani sampai salah paham dan berpikir kalau kamu masih menyimpan perasaan sama Breena. Kau harus menjaganya dengan ketat Bri. Hidupnya tidak sebaik yang kita lihat. Kau lihat saja tadi bagaimana Paman nya harus bersusah payah mengelabui orang yang terus mengintainya. Jadi Daddy harap kamu benar benar menyayanginya dan mencintainya, serta menjaga keselamatan nya" pesan Daddy Martin dengan tatapan tegasnya.
"Iya Dad. Brian janji akan selalu menyayanginya, mencintainya dan selalu menjaga keselamatannya" janji Brian.
"Iya uda istirahatlah Boy. Besok kamu juga harus kekantor. Daddy dan Mommy juga mau istirahat" ucap Daddy Martin. Kemudian ia berjalan bersama Mommy Aletha menuju ke kamar mereka.
Pagi harinya di rumah Papa Doni Abraham.
Breena tiba tiba terbangun dari tidurnya. Ia merasakan mual yang sangat berat. Ia menatap kearah suami nya yang masih tertidur.
Breena pun segera berlari kekamar mandi. Ia memuntahkan semua isi perutnya.
Huuueekk
Huueekk
Dayyan yang sedang tertidur nyenyak pun langsung terbangun ketika mendengar suara orang yang sedang muntah. Ia melirik kearah tempat istrinya dan tempat itu kosong.
Kemudian Dayyan menatap kearah jam dinding. Masih jam 03:40 pagi. Belum masuk waktu subuh.
Dayyan pun mendengar lagi suara orang muntah.
Hhuuuueekk
Hhuuueekk
Dan seketika ia tersadar suara itu dari dalam kamar mandi dikamar nya. Itu berarti istrinya yang sedang muntah muntah. Dengan cepat Dayyan pun berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
"Sayyyannnggg" teriak Dayyan ketika melihat sang istri sudah terduduk lemas dibawah closet.
"Mas" ucap Breena lirih. Ia sangat lemas karena semua isi dalam perutnya keluar.
"Astafirullah, kamu kenapa sayang? Kenapa sampai lemas seperti ini." tanya Dayyan sambil mengusap keringat dikening istrinya.
"Breena nggak tau Mas. Tiba tiba Breena mau muntah" lirih Breena pelan.
Dayyan pun segera membersihkan mulut sang istri. Kemudian ia menggendong istrinya kembali ke tempat tidur mereka.
"Apa kamu kebanyakan makan mangga muda selamam iya sayang?" tanya Dayyan yang masih khawatir.
"Nggak tau Mas" ucap Breena lemas.
"Kamu istirahat dulu iya. Mas mau kedapur buatin kamu teh hangat dulu" ucap Dayyan kemudian ia langsung keluar dari kamar menuju ke dapur.
Sesampainya di dapur Dayyan langsung membuat teh hangat untuk Breena. Kemudian kembali ke dalam kamar nya.
"Diminum dulu sayang biar nggak lemas lagi. Abis itu kamu tidur lagi iya"
"Tapi peluk iya Mas" pinta Breena manja.
"Iya sayang"
Dayyan pun membawa Breena kedalam pelukannya. Ia tak melanjutkan tidurnya karena waktu subuh sudah mau dekat. Ia hanya memeluk sang istri sambil memandnagi wajah cantik istrinya yang sedikit pucat.
Saat ini sudah pukul 07:00 pagi. Dayyan turun dari kamar nya sambil menggendong Breena. Papa Doni dan Mama Ratih yang sudah berada diruang makan pun khawatir melihat putrinya di gendong oleh suaminya.
"Breena kenapa nak? Kenapa harus digendong gitu?" tanya Papa Doni yang terlihat jelas kekhawatiran diwajah nya.
"Breena nggak papa kok Pah. Hanya lemas saja" jawab Breena lirih.
"Dayyan kenapa dengan istrimu?" tanya Papa Doni lagi yang masih tidak puas dengan jawaban sang anak.
"Tadi Breena muntah muntah di kamar Pah sampai lemas. Jadi ini Dayyan gendong aja untuk turun sarapan" jelas Dayyan.
Mama Ratih yang sudah menduga pun mengembangkan senyumnya. Ia semakin yakin jika putri nya itu sedang hamil.
"Selesai sarapan kalian langsung ke rumah sakit. Mama tunggu di ruangan Mama" ucap Mama Ratih kembali mengingatkan kepada anak dan menantunya itu.
"Iya Mah" jawab kedua nya kompak.
Mereka pun langsung menyantap sarapan mereka. Sesekali Mama Ratih tersenyum melihat Breena yang berubah manja dengan sang suami.
Breena yang biasanya melayani suaminya, kini ia lah yang minta dilayani. Breena hanya mau makan kalau disuapi oleh suaminya. Dayyan dengan senang hati menyuapi sang istri. Sesekali ia juga memakan nasi goreng dari piring istrinya.
__ADS_1