
Juan masih tak percaya kalau Papa nya memiliki aset begitu banyak. Pada hal dulu setau nya, Papa nya hanya bekerja sebagai tangan kanan Daddy Martin. Mereka hanya memiliki rumah utama yang mereka tempati dulu nya. Serta beberapa mobil mewah milik Papa nya. Tapi kenapa jadi segitu banyak aset yang di miliki sang Papa.
Daddy Martin yang melihat keterdiaman Juan, meminta Brian untuk mengambil sebuah amplop besar di dalam laci meja kerja nya.
Brian pun langsung menuju ke ruang kerja sang Daddy di lantai dua tepat di samping kamar utama mansion Anderson.
Tak lama Brian pun datang membawa satu buah amplop besar. Dia langsung menyerah kan nya kepada Daddy nya.
Daddy Martin pun membuka amplop itu dan mengeluar kan beberapa buku tabungan, dan beberapa kartu debit serta satu buah kartu sakti yaitu black card.
"Ini semua tabungan kamu Juan. Daddy menyimpan nya di tabungan khusus punya mu. Silah kan kamu cek jumlah nya" ucap Daddy Martin sambil menyerahkan hak Juan yang selama ini ia pegang.
"Tak perlu di cek Dad. Juan percaya sama Daddy. Terima kasih sudah menjaga nya Dad" ucap Juan tulus.
"Itu juga sudah jadi tanggung jawab Daddy Juan. Karena kamu sekarang itu anak Daddy"
Juan langsung berdiri. Dia memeluk Daddy Martin. Bahu nya bergetar. Ia menangis di pelukan Daddy Martin. Orang yang sudah berbaik hati membesar kan nya dan menjaga semua hak milik nya. Pada hal kalau di ingat ingat Juan dan Daddy Martin tidak memiliki ikatan darah. Tapi Daddy Martin mau menjaga nya selama ini.
"Terima kasih Dad" lirih Juan di sela isak tangis nya.
"Ini semua Daddy serah kan pada mu Juan. Ini akan jadi tanggung jawab mu. Jadi mulai lah untuk mengurus nya. Dan ajak lah istri mu ke makam kedua orang tua mu. Kenal kan dia pada kedua orang tua mu. Dan jangan lupa, bawa dia ke rumah kalian juga" ucap Daddy Martin sambil menepuk bahu Juan.
"Iya Dad. Setelah dari sini Juan memang berencana membawa Selvi ke makam Mama Papa, Dad"
__ADS_1
"Baik lah kalau begitu. Ini semua saya serah kan pada mu Juan. Karena sesuai berdasar kan isi wasiat nya. Kamu berhak memiliki ini semua setelah kamu menikah" ucap Pak Zainal yang menyerahkan semua isi koper yang di bawa nya tadi kepada Juan.
"Terima kasih Pak Zainal karena sudah menjaga nya juga" ucap Juan tersenyum tulus.
"Sama sama Juan. Itu sudah menjadi pekerjaan saya"
Setelah itu Pak Zainal pun pamit undur diri karena masih ada yang mau di urus nya. Terutama membuka kembali rekening tabungan milik Mama dan Papa nya Juan yang dia beku kan. Dan akan segera di serah kan nya kepada Juan.
Selepas kepergian Pak Zainal, Daddy Martin, Mommy Aletha, Juan, dan Selvi masih duduk di ruang tamu. Sedangkan Brian sudah melipir ke kamar nya. Ia ingin melihat istri dan anak anak nya.
Selvi sendiri yang melihat begitu banyak harta warisan yang dimiliki Juan, justru memijat kening nya. Ia sampai pusing memikir kan seberapa banyak aset milik suami nya saat ini. Selvi tak pernah menyangka ternyata Juan adalah anak orang kaya juga.
"Simpan lah semua nya ini di tempat yang aman Juan. Jangan sampai ada yang berniat mengambil nya dari mu. Kamu tau Kakek dan Nenek mu sampai saat ini masih berusaha mengusai semua harta Papa mu" ucap Daddy Martin yang membuat Juan tak percaya.
"Bukan kah mereka sudah mendapat kan bagian nya Dad? Lagi pula Juan sudah lama tak bertemu dengan mereka. Bahkan Juan tak tau mereka masih hidup apa sudah tiada"
"Mereka pasti mengincar sertifikat rumah itu Dad. Dan perhiasan milik Mama. Karena setau Juan perhiasan ini belum semua nya Dad"
"Kamu yakin ini belum semua nya sayan?" tanya Mommy Aletha.
"Iya Mom. Setau Juan perhiasan Mama itu ada spesial kotak penyimpanan nya. Dan isi kotak itu penuh dengan perhiasan Mom. Dan kotak itu hanya bisa di buka dengan sandi" jelas Juan.
"Berarti bisa jadi kalau Nenek mu juga mengincar itu Juan"
__ADS_1
"Benar Mom. Tapi tenang aja Juan. Daddy sudah menyuruh orang orang Daddy untuk berjaga di rumah mu selama ini. Jadi Kakek dan Nenek mu tidak pernah bisa memasuki rumah itu selama ini"
"Terima kasih Dad. Mungkin kalau bukan Daddy, Juan tidak tau akan jadi seperti apa Dad. Karena jasa Daddy dan Mommy, Juan bisa hidup dengan mewah. Sekali lagi terima kasih Dad, Mom" ucap Juan tulus.
"Sama sama sayang. Sekarang simpan semua ini iya. Kalau menurut Mommy, biar ini semua kamu simpan di mansion ini. Karena kalau kamu simpan di tempat lain tidak akan aman"
"Mommy kamu benar Juan. Simpan di kamar mu semua nya ini. Atau kamu bisa simpan di brangkas Daddy"
"Simpan di brangkas Daddy aja ini semua Dad. Juan percaya kan semua nya sama Daddy" purus Juan.
"Bagaimana menurut mu Selvi?" tanya Daddy Martin yang meminta pendapat Selvi.
"Selvi nurut sama keputusan Abang saja Dad. Bagaimana pun itu hak milik Abang. Itu warisan dari kedua orang tua Abang. Selvi juga sependapat dengan Abang kalau ini semua Daddy saja yang menyimpan nya. Kalau pun di bawa ke rumah Selvi. Selvi sendiri tidak yakin ini akan aman Dad. Bukan mencurigai atau tidak mempercayai kedua orang tua Selvi. Tapi untuk mencegah hal hal yang tidak di ingin kan. Jadi lebih baik Daddy aja yang menyimpan nya" ucap Selvi yang juga menyetujui keputusan Juan.
"Baik lah. Ini akan Daddy simpan di brangkas Daddy." ucap Daddy Martin lalu ia membantu Juan untuk menyimpan semua nya.
Tapi saat sedang menyimpan nya, Juan melihat satu buah cincin milik Mama nya. Cincin yang setiap hari selalu melingkar di jari manis Mama nya. Itu adalah cincin pernikahan kedua orang tua nya.
"Dad. Apa Juan boleh mengambil ini?" tanya Juan menunjuk cincin tersebut.
"Boleh, ambil lah Juan"
Juan lalu mengambil nya dan langsung memakai kan nya di jari manis Selvi. Yang ternyata cincin itu sangat pas dengan ukuran jari Selvi.
__ADS_1
"Abang mohon, di jaga iya sayang. Ini cincin pernikahan Mama dan Papa. Cincin ini setiap hari selalu di pakai sama Mama. Jadi sekarang Abang minta kamu memakai nya juga iya" pinta Juan.
"Iya Bang. Selvi akan selalu memakai nya. Terima kasih sudah mempercayai cincin ini Selvi pakai" ucap Selvi memandang cincin tersebut dengan binar bahagia.