Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Kedatangan Besan Ke Rumah Papa Doni


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam berkutat didapur, akhirnya Breena pun selesai membuat menu sarapan pagi ini.


"Mbak nanti yang di mangkuk besar ini tolong letakkan di atas meja makan iya, sama yang lainnya juga" pinta Breena pada salah satu pelayan nya.


"Baik Nona"


"Terus kalau yang ini untuk kalian iya Mbak" ucap Breena sambil menunjukkan nasi goreng yang sama yang sudah dipisah di mangkuk yang lainnya untuk para pelayan.


"Untuk kami Nona?" tanya pelayan tersebut yang kaget, pasalnya ia masih pelayan baru. Jadi ia belum mengetahui kalau pagi terkadang majikannya sekalian memasak sarapan untuk semua orang yang ada dirumah itu.


"Iya memang nya kenapa mbak?" tanya Breena heran, biasa nya pelayan yang lain akan langsung mengucapkan terima kasih bukan bertanya.


"Apa Nona tidak salah memberikan masakan Nona kepada kami?"


"Tidak. Apa mbak pelayan baru?"


"Iya Nona, saya pelayan baru disini. Baru sekitar 2 minggu Nona"


"Pantas saja mbak tidak tau. Mungkin Mama selama 2 minggu tidak memasak sarapan. Iya uda ini dibawa untuk teman teman nya yang lain iya mbak. Dan harus habis kalau tidak saya akan marah" ucap Breena dengan tawa kecilnya.


"Terima kasih Nona"


"Iya uda saya kekamar dulu iya mbak. Tolong ini disiapkan dimeja makan iya"


Setelah mengatakan itu Breena langsung beranjak kekamar nya. Iya akan berganti pakaian dan mengajak suami nya sarapan.


"Mas" panggil Breena ketika ia tidak menemukan suaminya didalam kamarnya.


"Disini sayang" jawab Dayyan dari arah balkon.


"Lagi apa disini Mas?"


"Lagi menikmati udara pagi sayang"


Kemudian Dayyan membawa Breena kedalam pelukannya. Baru saja ditinggal beberapa menit ia sudah merasakan rindu kepada istrinya itu.


"Geli Mas. Nanti dilihat orang" protes Breena ketika Dayyan mendusel dilehernya.


"Hehehhe Mas kangen sayang"


"Baru juga pisah karena Breena masak tuk sarapan kita, tapi Mas uda rindu aja"


"Iya namanya juga rindu sayang" rengek Dayyan.


"Iya Breena mau ganti baju dulu Mas. Setelah itu ayo kita sarapan"


"Kamu jadi kekampus hari ini sayang?" tanya Dayyan sambil berjalan mengikuti istrinya dari belakang.


"Jadi Mas nanti abis sarapan Breena berangkat. Mas kekantor kan hari ini?"


"Iya sayang. Tadi Dion nelpon katanya ada berkas penting yang harus Mas tanda tangani" jelas Dayyan.


"Iya uda Breena siapkan baju untuk Mas kekantor iya"


"Terima kasih istri cantiknya Mas" yang hanya dibalas dengan senyuman manis istri nya.


Beberapa menit kemudian, Dayyan dan Breena menuruni anak tangga menuju keruang makan.


"Assalamualaikum, selamat pagi Mah Pah" ucap Dayyan dan Breena kompak.


"Selamat pagi sayang"


"Selamat pagi"

__ADS_1


"Kalian mau kemana? Sepagi ini uda rapi aja" tanya Papa Doni.


"Dayyan hari ini mau ke kantor Pah, ada berkas penting yang harus ditanda tangani" jawab Dayyan sambil menarik kursi untuk istrinya.


"Terima kasih Mas" ucap Breena yang dibalas anggukan oleh Dayyan.


"Terus kamu mau kemana sayang?"


"Breena mau kekampus Pah. Mau daftar sidang skripsi. Skripsi Breena uda di ACC. Breena juga sudah mendapatkan tanda tangan dari dosrn penguji. Tinggal daftar saja. Kalau cocok 2 minggu lagi Breena ujian Skripsi nya Pah" jelas Breena sambil menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Papa doakan semoga urusan kamu lancar iya sayang. Nanti kamu jadikan KOAS di rumah sakit kita?" tanya Papa Doni memastikan.


"Jadi Pah. Nanti Breena bareng sama Windy dan Anita Pah"


"Iya nggak papa sayang. Yang penting KOAS nya di rumah sakit kita, nggak boleh jauh jauh"


"Iya uda ayo kita mulai sarapan nya" ajak Papa Doni.


Mereka pun sarapan dalam keheningan. Hanya terdengar dentingan anatara piring sendok dan garpu.


"Papa berangkat duluan iya. Ada jadwal operasi jam 09:00 nanti" pamit Papa Doni ketika ia sudah menyelesaikan sarapan nya.


Dayyan dan Breena pun menyalami tangan Papa Doni. Sedangkan Papa Doni memberikan ciuman di puncak kepala putrinya.


Mama Ratih pun mengantarkan Papa Doni kedepan.


"Hati hati dijalan Pah. Nanti Mama shift siang Pah"


"Iya Mah. Kalau gitu Papa jalan dulu iya. Takut macet nanti kalau sedikit siang perginya" pamit Papa Doni sambil mengulurkan tangannya.


Mama Ratih pun langsung mencium tangan suaminya. Dan tak lupa Papa Doni mencium kening istrinya lama.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


Masih berdiri diluar, Breena dan Dayyan pun datang menghampiri Mama Ratih.


"Mah, kami pamit juga iya" ucap Breena.


"Kamu bawa mobil sendiri sayang?" tanya Mama Ratih.


"Nggak Mah. Breena diantar sama Mas Dayyan. Nanti pulangnya Breena minta antar sama Anita ke kantornya Mas Dayyan" jelas Breena.


"Iya uda kalian juga hati hati iya"


"Iya Mah. Assalamualaikum" ucap keduanya bergantian menyalami tangan Mama Ratih.


Setelah melepas kepergian suami, anak serta menantunya, Mama Ratih pun kembali masuk kedalam rumahnya. Ia menuju ke kamar nya.


...----------------...


Beberapa menit berkendara akhirnya Dayyan telah sampai di kampus istrinya.


"Mas tunggu di kantor iya sayang. Jangan lama lama datangnya" ucap Dayyan sebelum membiarkan istri nya turun.


"Iya Mas, Breena cuma sebentar kok. Cuma mau daftar aja"


"Iya sayang. Oiya kata Umma nanti siang ba'da Dzuhur Umma berangkat dari Bandung sayang. Kemungkinan sore uda sampai di rumah Papa" jelas Dayyan.


"Iya Mas. Breena uda kangen banget sama Umma. Tapi Umma jadikan bawa Mbak Ani Mas?"


"Jadi sayang. Maka nya Umma langsung ke rumah Papa. Takut ada yang melihat Mbak Ani sayang. Karena keluarga tiri Ayah nya masih mencari keberadaan Mbak Ani"

__ADS_1


"Iya Mas. Memang lebih bagus di rumah Papa aja. Iya uda Breena kedalam dulu iya Mas. Mas hati hati bawa mobilnya" pamit Breena lalu ia menyalami tangan suaminya.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


Dayyan pun langsung menuju ke kantornya. Karena sudah ditelponin terus oleh asistennya. Siapa lagi kalau bukan Dion.


...----------------...


Sesampainya dikantor.


Dion yang melihat Dayyan masuk kedalam ruangan nya pun segera menyusul.


"Selamat pagi Pak. Ini berkas yang harus ditanda tangani" ucap Dion sambil meletakkan setumpuk berkas diatas meja kerja Dayyan.


"Sebanyak ini?" tanya Dayyan tak percaya.


"Iya Pak. Kan Bapak sudah 3 hari tidak masuk ke kantor. Jadi berkas berkas ini sudah menanti anda dari kemarin kemarin" sindir Dion.


"Terus jadwal saya hari ini apa saja?" tanya Dayyan sambil membuka berkas pertama yang dia ambil.


"Hari ini hanya ada jadwal menandatangani berkas saja Pak. Tidak ada jadwal meeting"


"Baiklah. Oiya Dion. Jangan lupa untuk datang ke rumah mertua saya makan malam. Kamu juga pasti uda tau kan kalau keluarga Anggi juga di undang?"


"Iya Pak. Tapi bukannya acara nya di rumah anda?" tanya Dion bingung.


"Iya awalnya mau diadakan dirumah saya. Tapi tidak jadi. Jadinya di rumah mertua saya. Jangan lupa bawa juga orang tua kamu" pesan Dayyan.


"Kenapa orang tua saya juga ikut Pak?"


"Iya tidak kenapa kenapa. Biar lebih akrab saja" jawab Dayyan santai.


"Baiklah Pak. Besok saya akan datang bersama orang tua saya. Kalau begitu saya permisi dulu" pamit Dion kemudian iya keluar dari ruangan bos nya itu.


Dayyan pun kembali fokus memeriksa kembali berkas berkas yang diberikan oleh Dion tadi sebelum ia menanda tangani nya.


...----------------...


Sore harinya. Dayyan dan Breena sudah kembali ke rumah Papa Doni. Dan ternyata Umma dan Abah nya sudah sampai terlebih dahulu.


"Assalamualaikum" ucap Dayyan dan Breena berbarengan ketika masuk kedalam rumah.


"Wa'alaikum salam" jawab semua orang yang ada diruang tamu.


"Umma" ucap Breena riang.


Kemudian ia memeluk Ibu mertua nya itu.


"Apa kabar Umma?"


"Alhamdulillah Umma baik sayang. Kamu apa kabar juga?"


"Alhamdulillah Breena juga sehat Umma. Tapi dimana Mbak Ani?" tanya Breena yang tidak melihat keberadaan Mbak Ani nya.


"Dia lagi ke dapur sayang"


Kemudian Breena berpindah ke Abah Arsya. Ia menyalami Abah Arsya.


Mereka pun berbincang diruang tamu itu. Terlebih lagi Breena, ia yang banyak bersuara diantara Mama Ratih dan Umma Hanum. Sedangkan para lelaki sibuk membahas maslah bisnis.


"Ning"

__ADS_1


__ADS_2