
"Mas Brian" panggil Ani tiba tiba setelah mereka selesai makan.
"Iya Dek. Kenapa?" tanya Brian lembut.
"Emhh Ani dengar dari Umma kalau pernikahan kita akan dilaksanakan di pesantrennya Umma. Apa Mas uda tau?" tanya Ani hati hati.
"Iya Mas uda tau. Maka nya Mas minta kamu untuk datang sekarang untuk feeting. Takut nya nggak keburu waktu nya. Lagian Dion sama Anggi juga mau foto prewed, jadi apa salah nya kalau kita juga ikut sekalian foto. Fhotograper nya juga sama" jelas Brian.
"Iya nggak salah kok Mas. Ani cuma kaget aja dengar dari Umma kalau akad nya jadi di pesantren bukan di Jakarta sesuai rencana awal"
"Iya Mas lupa tadi mau bilang sama kamu Dek. Maaf iya"
"Iya nggak papa Mas. Yang penting bukan masalah tempat nya. Yang penting itu sah nya di agama dan hukum Mas" ucap Ani lembut.
Bagi yang tidak tau tentang kehidupan Ani pun akan bertanya tanya, termasuk Juan dan Selvi. Namun mereka hanya bisa bertanya dalam hati saja. Nanti Juan akan tanya kan langsung oleh Brian kalau mereka uda bubar.
Jam pun menunjukan pukul 15:00, mereka akhir nya membubarkan diri dan kembali ke rumah mereka masing masing.
Ani pulang bersama dengan Dayyan dan Breena. Dipertengahan jalan Breena melihat ada penjual asinan mangga muda. Dan seketika Breena pun meminta Dayyan untuk membeli nya.
Dayyan yang tau istri nya itu mulai lagi ngidam nya pun langsung membelikan nya. Tak tanggung tanggung, Dayyan membelikan nya sebanyak 10 bungkus asinan mangga munda itu sekaligus.
Setelah membeli asinan mangga muda, Dayyan kembali melajukan mobil nya menuju ke rumah nya.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Dayyan pun telah sampai dirumah nya. Dayyan langsung memarkirkan mobilnya di garasi mobil.
"Assalamualaikum" salam ketiga nya ketika memasuki rumah.
"Wa'alaikum salam" jawab Mama Ratih dan Papa Doni dari dalam rumah Dayyan.
"Loohh ada Mama sama Papa. Uda lama Pah?" tanya Dayyan sambil menyalami tangan kedua mertua nya itu. Diikuti oleh Breena dan Ani.
"Uda ada sekitar 30 menit lah. Kalian dari mana? Tadi kata Dina kalian lagi ikut feeting. Terus kok nggak langsung pulang?" tanya Mama Ratih.
"Kita makan dulu Mah. Breena pengen makan udon tadi. Terus kita ngobrol juga disana. Maka nya lama Mah" jelas Breena.
"Terua itu belanjaan kamu siapa yang beliin sayang?" tanya Mama Ratih penasaran.
Karena tadi Mama Ratih sempat melihat Mbak Dina membawa beberapa paper bag kedalam kamar Breena.
"Oohh itu dibeliim Mas Brian Mah" jawab Breena santai.
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya Mama Papa berbarengan.
"Iya bisa lah Mah. Orang dedek yang minta"
"Maksudnya ini gimana sih?" tanya Mama Ratih lagi yang masih tidak mengerti.
"Breen lagi ngidam nya. Kata nya Dedek pengen dibeliin baju sama Daddy. Jadi ia uda Brian membelikan nya Mah" jelas Dayyan.
"Terus abis berapa itu Dek?" tanya Papa Doni yang sedari tadi hanya jadi pendengar.
"Dikit Pah cuma 251 juta" jawab Breena santai sambil menikmati asinan mangga muda nya.
"Cuma kamu bilang Dek?" tanya Mama Ratih tak percaya.
Bagaimana ia mau percaya. Walau pun ia memfasilitasi anak nya dengan kemewahan dan uang yang berlebih. Tetapi anak nya itu tak pernah menggunakan uang sampai sebanyak itu. Apa lagi ini uang Brian. Ia tak pernah meminta sebanyak itu dulu nya sama Brian. Mama Ratih pun menoleh kearah Ani yang sedari tadi hanya terdiam.
Breena yang mendapat pertanyaan seperti itu hanya menganggukan kepala nya.
"Terus baju sebanyak itu hanya untuk mu sendiri Dek? Kamu nggak belikan untuk Ani juga?" tanya Mama Ratih yang tadi tak melihat Ani membawa barang satu pun.
"Ooohhh Mama tenang aja. Itu baju bukan untuk Breena aja kok. Itu juga ada yang untuk Mbak Ani"
"Mama pikir cuma untuk mu aja sayang. Kan nggak enak masa kamu minta beliin baju sama calon suami nya Ani. Kan nggak enak nanti nya sayang" nasihat Mama Ratih.
"Iya Mama ngerti gimana rasa nya jadi ibu ibu nya ngidam sayang" ucap Mama Ratih lembut sambil mengekus kepala anak nya.
"Mah Pah, Ani ke kamar dulu iya. Ani juga mau packing baju baju yang mau dibawa untuk besok prewed" pamit Ani pada Mama Ratih dan Papa Doni.
"Iya sayang. Selesai packing kamu istirahat dulu iya. Pasti tubuh kamu sangat lelah" ucap Mama Ratih.
"Iya Mah pasti"
Ani pun langsung beranjak menuju kamar nya yang ada di rumah Dayyan. Ya setiap rumah keluarga Abah Arsya pasti selalu ada kamar khusus untuk Ani. Karena baik Abah Arsya mau pun keluarga nya uda menganggap Ani keluarga mereka juga. Jadi setiap rumah pasti ada kamar Ani.
...----------------...
Keesokan hari nya.
Setelah selesai sholat Jum'at dan makan siang. Dayyan, Breena dan Ani pun menuju ke Bandara Soekarno-Hatta. Mereka akan melakukan perjalan jauh kali ini.
Untuk pertama kali nya Breena akan melihat bagaimana keindahan pulau pribadi milik nya yang diberikan oleh Brian untuk baby twins nya.
__ADS_1
Mereka bertiga diantar oleh Kang Ali. Nanti Kang Ali dan Mbak Dina akan menginap di rumah Dayyan dulu. Mereka akan kembali ke Bandung nanti setelah Dayyan, Breena dan Ani pulang dari pulau pribadi nya.
"Sayang nanti setelah dari Bandara. Kamu mau naik heli atau jalur darat naik mobil terus dilanjut naik boat?" tanya Dayyan sewaktu mereka masih diperjalanan menuju Bandara.
"Naik mobil lanjut boat kaya nya seru deh Mas. Lagian kan kita orang nya banyak. Nggak mungkin kan kita sewa heli itu sampai banyak. Kalau kita sewa untuk kita aja kaya nya kurang enak juga Mas. Takut nya ada yang nggak suka" jelas Breena.
"Iya uda nanti kita bilang aja sama yang lain nya kalau kita naik mobil terus lanjut naik boat" ucap Dayyan.
Beberapa menit kemudian akhirnya mobil yang dikendarai oleh Kang Ali pun sampai di Bandara. Kang Ali memarkirkan mobil nya di parkiran Bandara. Dengan sigap ia menurunkan koper koper milik Gus dan Ning nya. Tak lupa juga koper milik Ani.
Kang Ali pun membawa koper koper itu menggunakan troli. Karena koper yang dibawa ada 3 koper.
Sesampainya di dalam, mereka sudah melihat semua orang uda berkumpul. Hanya tinggal menunggu kedatangan Dayyan Breena dan Ani saja.
"Bundaaaa" panggil Quin ketika ia melihat Ani berjalan mendekati nya.
"Sayang nya Bunda. Masya Allah kamu cantik banget sayang pakai hijab. Siapa yang nyuruh Quin pakai hijab? Apa Daddy?" tanya Hana penasaran.
Karena biasa nya anak anak yang umur nya belum genap 3 tahun masih belum mau mengenakan hijab.
"No Bunda. Ini Quin yang mau sendiri. Nanti Quin mau ikut foto juga sama Bunda. Jadi biar tambah cantik seperti Bunda jadi Quin mau pakai hijab juga" jelas Quin yang sudah berada di dalam gendongn Ani.
"Pintarnya anak Bunda" puji Ani kemudian ia mendaratkan ciuman nya di pipi chubby Quin.
"Waaahhh ada Mbak Selvi juga" ucap Breena antusias ketika melihat Selvi duduk bersama Anggi dan Windy.
Lalu dimana Anita? Ya Anita tidaj bisa ikut bersama mereka. Karena ia sedang berada diluar kota.
"Iya Mbak. Ayah uda izinin aku ikut. Tapi tetap pakai syarat juga" ucap Selvi lembut.
"Syarat?" tanya semua wanita yang ada disana.
"Iya Mbak. Syarat nya nggak boleh sekamar sama Mas Juan. Uda gitu harus sering sering hubungi Ayah dan Ibu" ucap Selvi malu malu.
"Ooohh kalau untuk syarat yang pertama tenang aja Mbak. Nanti Mbak Selvi akan selalu sama kami dan nggak akan pernah kami izin kan untuk berduaan aja dengan Abang" ucap Breena dengan kekehan kecil nya.
"Oke karena uda berkumpul semua. Jadi ayo kita masuk. Juan uda nunggu kita disana. Kata nya jet nya uda ready" aja Brian.
Semua nya berjalan mengikuti Brian. Quin dengan manja nya ia meminta terus di gendong oleh Ani. Dan berjalan disamping Brian.
Brian yang tak tega melihat Ani yang kecil justru menggendong anak kecil juga pun berinisiatif meminta Quin ke gendongan nya. Namun Quin menolak nya.
__ADS_1
"Nanti kalau capek bilang iya Dek. Biar gantian gendong nya" pinta Brian yang hanya dibalas anggukan oleh Ani.