
Berbeda dengan Juan dan Selvi yang sedang di selimuti rasa bahagia nya. Bahagia karena mereka akhir nya sudah menikah dan sah menjadi suami istri. Bahagia karena akhir nya Juan bisa kembali lagi ke rumah nya yang dulu dan bertemu dengan Mbok Fatimah.
Tapi di balik kebahagiaan nya itu ada yang mengganggu pikiran nya. Iya, Juan masih memikir kan bagaimana cara nya dia mengurus dan mengelola restauran peninggalan kedua orang tua nya. Bahkan restauran itu sudah memiliki cabang dimana mana. Hal itu yang jadi PR buat Juan nanti nya.
Tadi setelah dari rumah nya, dia langsung ke mansion Anderson. Juan hanya mengantar kan buah yang dia petik bersama Selvi tadi di rumah nya. Mereka hanya duduk sebentar saja. Karena hari yang sudah mulai malam.
Sementara itu di mansion Danuarta, telah terjadi kehebohan. Pasal nya Dion sedang berulah. Tiba tiba dia meminta di buat kan seblak ceker.
Daddy Steven yang mendengar menantu nya itu sedang mengidam pun langsung meminta koki di mansion nya untuk memasak kan nya.
Namun sudah sepuluh mangkuk seblak ceker, tidak ada satu pun yang bisa masuk ke dalam mulut nya. Semua yang di rasa kan nya tidak ada yang cocok di lidah nya.
Hal itu membuat panik Anggi. Pasal nya Dion sama sekali belum ada makan sedikit pun.
"Mas, ini mangkuk yang ke sebelas. Apa masih tidak cocok dengan lidah kamu?" tanya Anggi dengan suara lembut nya.
Dion menggeleng kan kepala dengan mata yang sudah berkaca kaca. Bahkan Dion sudah terisak tertahan.
"Apa mau aku yang masak kan Mas?"
Dion kembali menggeleng kan kepala nya.
"Terus siapa?"
"Daddy" rengek Dion ketika melihat Daddy Steven melangkah memasuki ruang makan.
"Kenapa?"
"Apa Daddy mau masak kan seblak untuk ku?" tanya Dion hati hati dan penuh harap.
Daddy Steven terdiam mendengar permintaan menantu nya kali ini. Bukan dia tak mau memasak kan nya. Hanya saja, dia memang tidak pandai memasak.
Mommy Rianti sudah menahan tawa nya mendengar permintaan menantu nya itu. Karena dia tau bagaimana hasil masakan suami nya.
"Apa tidak bisa yang lain saja Dion yang masak nya?" tanya Daddy Steven.
"Apa Daddy tidak mau memasak nya untuk ku?" tanya Dion yang kembali berkaca kaca mata nya.
__ADS_1
Daddy Steven hanya terdiam. Ia tak tau mau menjawab apa.
"Tak apa Dad kalau Daddy tidak mau memasak nya. Maaf sudah merepot kan Daddy" ucap Dion lalu ia beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju ke kamar nya.
Sambil berjalan Dion menghapus air mata nya yang kembali menetes di pipi nya. Ia sangat sedih karena tak bisa memenuhi apa yang di ingin kan nya. Dan dia juga merasa bersalah karena telah menyuruh Daddy mertua nya memasak untuk nya.
Selepas kepergian Dion. Anggi menatap ke arah Daddy nya yang masih terdiam.
"Dad, Anggi mohon tolong masak kan seblak untuk Mas Dion. Dia sedari tadi siang sampai sekarang belum makan Dad. Anggi mohon" ucap Anggi menangis memohon sambil menyatukan tangan nya di depan dada.
Melihat apa yang di lakukan putri nya membuat nya tak tega.
"Baik lah biar Daddy masak kan. Tapi kalau soal rasa Daddy tak tanggung jawab iya. Kamu tau sendiri Daddy tak pandai memasak." ucap Daddy Steven membawa putri nya kedalam pelukan nya.
"Terima kasih Dad. Terima kasih. Anggi ke Mas Dion dulu iya Dad. Mau kasih tau dia kalau Daddy mau memasak kan nya seblak"
"Ini demi cucu Daddy" ucap nya sambil tersenyum dan mengelus perut putri nya yang sudah membuncit.
Anggi pun segera menghampiri suami nya yang berada di kamar. Ia melihat suami yang sedang meringkuk di atas tempat tidur nya. Anggi mendengar isak tangis sumai nya yang sudah sesenggukan.
"Mas" panggil Anggi yang sudah berbaring di belakang suami nya.
"Ke bawah yuk. Apa Mas nggak mau melihat Daddy masak seblak untuk Mas" ajak Anggi lagi.
Mendengar itu Dion langsung berdiri dari tidur nya. Ia menatap Anggi dengan binar bahagia nya.
"Kamu serius sayang?" tanya Dion antusias.
"Serius Mas. Yuk kita ke bawah"
Dion dengan semangat dan menggandeng Anggi turun ke bawah, tepat nya ke dapur. Ia mau memastikan kalau yang memasak beneran Daddy mertua nya.
Sesampai nya di dapur, wajah Dion kembali berseri. Ia langsung duduk di kursi mini bar yang ada di dapur. Sambil bertompang tangan Dion memandangi setiap gerakan yang di lakukan oleh Daddy Steven.
Ya, Daddy Steven sedang memasak seblak dengan melihat tutorial nya dari internet.
Setelah tiga puluh menit menunggu, akhir nya masakan nya jadi juga. Dengan sangat antusias Dion menerima semangkuk seblak buatan Daddy Steven.
__ADS_1
"Silah kan di makan Dion. Semoga rasa nya tidak mengecewakan. Maaf telah membuat mu bersedih" ucap Daddy Steven sambil menyerah kan semangkuk seblak nya.
"Terima kasih Daddy sudah mau memasak kan nya untuk Dion"
Dion pun langsung memakan nya. Wajah nya berbinar bahagia begitu satu suapan kuah seblak masuk ke dalam mulut nya.
"Wwaaahhh ini enak banget Dad. Terima kasih Daddy. Terima kasih Opa" ucap Dion lalu ia kembali memakan nya lagi.
Daddy Steven yang melihat Dion memakan hasil masakan nya dengan lahap pun bahagia. Ada rasa bersalah tadi telah menolak permintaan menantu nya itu.
"Mas boleh minta?" tanya Anggi yang juga ingin merasakan seblak buatan Daddy nya.
"Boleh sayang. Coba lah. Rasa nya sangat pas di lidah Mas" ucap Dion sambil mengarah kan satu suapan ke arah Anggi.
Anggi pun menerima suapan tersebut. Namun baru saja masuk ke dalam mulut nya. Anggi sudah berlari menuju ke westavel memuntah kan makanan tadi.
"Ouueekkk."
"Iiihhh rasa nya asin banget Mas" ucap Anggi setelah memuntah kan nya.
"Nggak kok. Ini enak banget. Rasa nya pas di mulut Mas. Kalau kamu nggak mau iya uda, biar Mas aja yang habis kan ini" ucap Dion cuek. Lalu ia melanjutkan kembali memakan nya.
"Sayang, apa rasa nya memang asin banget iya sampai kamu memuntah kan nya seperti itu?" tanya Mommy Rianti memastikan.
"Banget Mom. Dad. Apa Daddy memasuk kan garam nya terlalu banyak?"
"Daddy memasuk kan garam nya sesuai sama yang di video itu. Mereka bilang garam nya satu sendok. Jadi Daddy masuk kan saja satu sendok makan garam nya" ucap Daddy Steven dengan wajah tanpa dosa nya.
"Satu sendok makan Dad?" tanya Mommy Rianti dan Anggi berbarengan.
Daddy Steven menjawab nya dengan anggukan kepala.
"Kenapa?" tanya nya dengan wajah polos nya.
"Astafirullah Dad. Itu terlalu banyak Dad. Mungkin yang di maksud mereka itu satu sendok teh bukan sendok makan" ucap Mommy Rianti yang membuat mata Daddy Steven membola.
"Dion jangan di makan itu terlalu asin" ucap Daddy Steven mencoba menghentikan Dion memakan hasil masakan nya.
__ADS_1
Namun naas. Seblak buatan nya sudah habis tak bersisa. Hanya tinggal tulang ceker nya saja.