
Dihalaman depan ndalem, semua orang menikmati kebersamaan mereka. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok.
Breena terlihat sangat lahap memakan rujak buatan Umma Hanum. Bahkan ia sampai meminta dibawakan bumbu rujak nya ketika nanti kembali ke Jakarta.
Ditengah tengah mereka menikmati kebersamaan mereka sambil memakan rujak. Tiba tiba satu buah mobil mewah masuk kedalam pesantren. Dan berhenti tepat di depan ndalem.
Kekuarlah seorang pria paruh baya mengenakan setelah jas. Ia menatap kearah keluarga yang sedang berkumpul.
Ia begitu mengenali mereka. Karena ia sangat tau kalau mereka itu adalah para pengusaha sukses.
"Assalamualaikum" ucap nya memberi salam.
"Wa'alaikum salam" jawab semua yang ada disana.
"Maaf mau cari siapa iya Pak?" tanya Abah Arsya. Karena ia tak mengenali siapa orang yang ada dihadapan nya ini.
"Saya mau mencari Kyai Arsya pemilik pondok pesantren Al-Hidayah" ucap pria paruh baya itu sambil mengedarkan pandangan nya.
"Iya saya sendiri Kyai Arsya. Maaf sebelum nya Bapak ini siapa iya? Ada keperluan apa datang kesini?" tanya Abah Arsya lagi. Pasal nya ia benar benar tidak mengenal pria didepan nya ini.
"Bisa kita bicara didalam saja Kyai?"
"Bisa Pak. Ayo silahkan masuk" ajak Kyai Arsya.
Abah Arsya pun kemudian membalikan badan nya.
"Besan dan para Bapak Bapak, saya izin kedalam dulu. Ada tamu yang datang" pamit Abah Arsya kepada perkumpulan Bapak Bapak.
"Iya besan, silahkan dijamu dulu tamu nya" ucap Papa Doni mempersilahkan.
Kemudia Abah Arsya dan pria paruh baya itu pun melangkah kearah ndalem. Abah Arsya mempersilahkan pria itu untuk duduk diruang tamu...
"Maaf sebelumnya Pak. Kalau boleh saya tau anda ini siapa iya?" tanya Abah Arsya memulai pembicaraan.
"Perkenalkan Pak. Saya Bagaskara. Saya pengacara keluarga Almarhum Bapak Leo Admaja. Dengan kata lain saat ini saya menjadi pengacara nya Ani Yulia Admaja" jelas Pak Bagaskara.
Abah Arsya pun terkejut mendemgar ucapan pria di depan nya. Ia baru pertama kalinya bertemu dengan pengacara keluarga Ani. Memang ia telah menghubungi Pak Bagaskara untuk menyampaikan kalau Ani akan menerima pinangan dari seorang pria. Namun ia tidak pernah bertemu dengan pengacara keluarga Ani.
"Bagaimana bisa Bapak bisa sampai kesini? Bukan nya Bapak selalu diawasi oleh keluarga Pak Arsenal?" tanya Abah Arsya
"Saya mengelabui mereka Pak. Saya kesini hanya ingin bertemu dengan Ani Pak. Apakah boleh?" tanya Pak Bagaskara penuh harap.
"Boleh Pak. Biar saya panggilkan dulu" ucap Abah Arsya.
Kemudian Abah Arsya meminta kepada Mbak Dina untuk memanggilkan Ani, Umma Hanum, Brian dan kedua orang tuanya untuk menyusul kedalam.
__ADS_1
"Saya tunggu di ruang kerja saya iya Mbak" pesan Abah Arsya sebelum Mbak Dina berjalan keluar.
"Nggih Bah"
"Ayo Pak Bagaskara kita ke ruang kerja saya saja. Karena saya rasa lebih aman berbicara disana dari pada disini" ajak Abah Arsya.
Abah Arsya dan Pak Bagaskara pun menunggu diruang kerja Abah Arsya.
Beberapa menit kemudian beberapa orang yang dipanggil pun memasuki ruang kerja Abah Arsya.
"Duduk dekat Abah sini Nduk" pinta Abah Arsya.
Ani pun duduk tepat diantara Abah Arsya dan Umma Hanum.
"Ada apa Bah? Kenapa Abah memanggil kami semua kesini?" tanya Umma Hanum penasaran.
"Biar Pak Bagaskara saja yang menjelaskan nya Umma. Silahkan Pak Bagaskara" ucap Abah Arsya mempersilahkan Pak Bagaskara untuk menyampaikan maksud kedatangannya.
"Baiklah terima kasih Pak Kyai. Perkenalkan saya Bagaskara. Pengacara keluarga Almarhum Leo Admaja dan Almarhum Jonathan Admaja. Dengan kata lain saya sampai saat ini adalah pengacara dari Ani Yulia Admaja" jelas Pak Bagaskara.
Ani yang namanya disebut pun mendongak, menatap tepat kearah Pak Bagaskara. Seketika air mata Ani pun menetes.
Ia ingat betul siapa itu Bagaskara. Sepupu satu satu nya yang dimiliki Ayah nya. Ia juga begitu dekat dengan Pak Bagaskara sebelum masuk di pesantren ini.
Pak Bagaskara pun tersenyum melihat Ani. Ia pun merentangkan tangan nya.
"Kau tak merindukan Paman mu ini princess" tanya Pak Bagaskara.
Ani pun langsung berdiri dan dengan cepat ia memeluk Pak Bagaskara. Kedua nya pun menangis melepaskan rindu yang sudah bertahun tak bertemu.
"Lia rindu Paman. Kenapa Paman tak pernah menemui Lia? Apa Paman sudah tak sayang Lia lagi?" tanya Ani dengan tangis yang sudah sesenggukan.
"Paman selalu merindukan kamu Lia. Paman ingin sekali mengunjungimu. Namun Paman tak bisa. Keluarga Paman Arsen selalu mengawasi Paman. Paman tak ingin kau celaka sayang" jelas Pak Bagaskara.
"Lia?" tanya Brian yang bingung.
"Iya di keluarga kami Ani di panggil Lia Mas. Tapi semenjak masuk di pesantren ini, Lia dipanggil Ani. Bahkan Ani lebih suka dipanggil Ani dari pada Lia lagi" ucap Ani dengan wajah sendu nya.
Brian yang mendengar itu hanya menganggukan kepalanya.
"Paman Aska sehat? Apa sekarang Paman Aska sudah menikah?" tanya Ani
"Paman sehat princess. Iya Paman sudah menikah. Bahkan kau memiliki 4 orang adik" ucap Pak Bagaskara.
"Baiklah kalau begitu Paman akan mengatakan apa tujuan Paman nekat datang kesini" ucap Pak Bagaskara dengan mimik wajah yang sudah berubah menjadi serius.
__ADS_1
"Ani diwasiat kakek mu. Kau lah pewaris tunggal dari seluruh kekayaan yang dia miliki. Kakek mu sudah membaginya dengan Pamen Arsen. Keluarga Paman mu mendapatkan harta warisan sebanyak 10% dari harta yang dimilikinya. Sedangkan kamu mendapatkan 90%. Sebenarnya harta itu milik Ayah mu. Namun Ayah mu membalik nama surat wasiat itu menjadi nama mu." jelas Pak Bagaskara.
"Karena Istri Paman Arsen yang tak terima dengan pembagian harta itu. Ia pun menghasut Paman mu untuk merebut hak bagian mu. Selama bertahun tahun merek terus meminta harta itu. Namun tidak diberikan oleh Ayah mu. Sampai akhirnya mereka pun membunuh Ayah dan Ibu mu. Mereka membuat seakan akan kedua orang tua mu meninggal karena kecelakaan tunggal. Pada hal mereka lah yang membuat kecelakaan itu" lanjut Pak Bagaskara.
"Tapi Paman. Kenapa Ayah bisa mendapatkan lebih banyak bagian nya?" tanya Ani yang masih tak paham.
"Karena seluruh harta milik Leo Admaja itu adalah harta milik Ibu Ayah mu. Dalam arti ketika Ibu Ayah mu meninggal. Dan Kakek mu menikah lagi dengan janda anak 1. Maka harta itu sepenuhnya milik Ayah mu. Dengan berbesar hati Ayah mu meminta kepada Kakek mu untuk membagi harta milik nya juga kepada saudara tirinya. Namun mereka yang tamak tak merasa puas dengan apa yang mereka dapatkan. Tanpa mereka sadari kalau itu semua harta milik Ibu Ayah mu" jelas Pak Bagaskara. Kemudian ia mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tas nya.
"Selain Paman ingin bertemu dengan mu. Paman juga membutuhkan tanda tangan mu dan tanda tangan calon suami mu"
"Untuk apa Paman?" tanya Ani bingung.
"Untuk mengsah kan dokumen pengurusan hak warismu. Syarat kau akan mendapatkan hak waris mu iadalah kalau kau sudah menikah. Dan karena kau sudah bertunangan, maka Paman harus mengurusnya segera. Sebelum Paman Arsen mu itu membuat huru hara lagi"
"Baiklah Paman, mana yang harus Ani tanda tangani?"
"Tunggu sebentar princess. Paman ingin bertanya kepada calon suami mu dulu"
Kemudian Pak Bagaskara menatap lekat kearah Brian.
"Maaf Tuan Brian. Apakah anda sanggup menjaga Ani dari mara bahaya yang akan datang menghampirinya ketika ia sudah keluar dari pesantren ini?" tanya Pak Bagaskara dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Iya saya akan menjaga nya dari mara bahaya yang akan datang. Saya akan menjaga nyawanya semampu saya" ucap Brian dengan tenang.
"Baiklah kalau begitu silahkan kalian tanda tangani dibagian nama kalian masing masing" ucap Pak Bagaskara lalu menyerahkan dokumen nya.
Ani dan Brian pun bergantian menandatangani dokumen itu setelah diperiksa terlebih dahulu oleh Brian.
Setelah selesai Pak Bagaskara pun segera memasukan dokumen itu kedalam tas nya.
"Princess, Paman tidak bisa lama lama. Paman takut yang mengincar Paman tau kalau kamu ada disini. Jaga diri baik baik iya sayang. Paman tunggu kamu di Jakarta nanti sayang" pamit Pak Bagaskara.
"Paman juga hati hati iya"
"Pak Kyai, Bu Nyai, dan Tuan dan Nyonya Anderson. Saya pamit terlebih dahulu" ucap Pak Bagaskara sambil membungkukan badan nya.
Abah Arsya pun mengantarkan Pak Bagaskara menuju ke mobilnya.
"Hati hati dijalan Pak. Ingat lah selalu waspada" pesan Abah Arsya sebelum Pak Bagaskara melajukan mobilnya
"Iya Pak Kyai. Saya titip Ani dulu iya pak"
Kemudian Pak Bagaskara pun melajukan mobilnya menuju ke Jakarta. Sepanjang perjalan ia selalu tersenyum.
Sementara itu disebuah rumah besar, ada seorang lelaki yang berteriaj karena pekerjaan anak buahnya tidak ada yang becus
__ADS_1