Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Brian Semakin Aneh


__ADS_3

"Mom, apa Ani menyusul Mas Brian aja?" tanya Ani yang khawatir dengan suami nya itu.


"Tidak perlu sayang. Brian uda ada yang menyusul. Tapi kenapa lama sekali iya?"


Ani semakin khawatir mendengar pertanyaan Mommy mertua nya itu.


Ani ingin menyusul, tetapi karena banyak nya tamu yang sudah antri mau salaman. Jadi ia pun menunda nya. Sama dengan Ani, kedua orang tua Brian juga sangat mencemas kan kondisi anak nya. Bagaimana bisa anak nya yang sehat bisa tiba tiba mual.


Sedangkan di dalam kamar mandi, Brian sedang memuntahkan semua isi perut nya. Ia merasakan mual yang sangat berlebihan.


Huueekk


Huueekk


Sudah lebih dari 15 menit, akhir nya Brian pun menyelesaikan muntah nya. Ia mencuci wajah dan mulut nya.


Brian pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat pucat dan berkeringat. Kepala nya sedikit pusing.


"Tuan Muda" panggil anak buah Daddy Martin.


"Max tolong bantu saya kembali ke aula" pinta Brian.


"Apa Tuan yakin? Apa Tuan tidak kembali ke kamar Tuan saja untuk istirahat?"


"Tidak Max. Antar kan saja saya ke aula. Acara nya belum selesai. Tidak mungkin saya meninggal kan istri saya disana sendirian"


"Baik lah Tuan"


Max pun membantu Brian berjalan. Ia memapah tubuh Tuan Muda nya yang begitu lemas. Mereka berjalan sangat hati hati dan pelan.


Sesampai nya di atas pelaminan, Ani langsung berteriak memanggil suami nya yang sudah lemas itu.


"Maaasss"


"Max. Kenapa dengan Brian?" tanya Mommy Aletha yang semakin khawatir.


Max tidak langsung menjawab. Ia justru menduduk kan Tuan Muda nya di kursi pengantin.


"Saya tidak tau Nyonya Besar. Tuan Muda memuntah kan semua isi perut nya di dalam kamar mandi lebih dari 15 menit. Begitu Tuan Muda keluar, dia sudah lemas seperti ini" jelas Max sambil menunduk.

__ADS_1


"Kenapa tidak kamu bawa saja dia ke kamar nya?" tanya Daddy Martin dengan suara penuh penekanan.


"Maaf kan kesalahan saya Tuan Besar. Saya sudah menawar kan nya tadi. Tetapi Tuan Muda tidak mau. Dan beliau memaksa saya untuk membawa nya kembali ke aula"


"Iya sudah. Kamu boleh kembali. Terima kasih atas bantuan nya"


Max pun segera pergi setelah mendapatkan perintah dari Tuan Besar nya.


"Mas" panggil Ani lembut sambil mengelus wajah suami nya yang penuh keringat.


"Bunda, laper" rengek Brian.


Rengekan Brian membuat kedua orang tua serta Abah Arsya dan Umma Hanum melongo. Bagaimana bisa anak yang dingin itu merengek karena laper.


"Daddy mau makan apa? Biar Bunda minta ambil kan sama pelayan"


Brian menggelengkan kepala nya. Ia sedang memikir kan apa yang ingin di makan nya.


"Emm Daddy pengen makan nasi goreng pete buatan Bunda lagi. Boleh?" ucap Brian dengan suara yang menirukan suara anak anak. Tak lupa ia juga mengedip ngedipkan mata nya semenggemaskan mungkin.


"Nasi goreng pete lagi Mas?" tanya Ani tak percaya.


"Iya sayang, Mas mau makan itu lagi. Tapi kamu yang masak iya sayang" ucap Brian dengan mata nya yang berbinar.


"Kamu tidak ingin membuat kan nya untuk Mas sayang?" tanya Brian dengan suara yang bergetar. Bahkan mata nya pun sudah berkaca kaca siap untuk menangis.


"Mom bagaimana ini?" tanya Ani bingung.


"Bri kalau makan nya nanti tunggu di rumah aja bisa nggak?" tanya Daddy Martin memberikan ide.


Brian tak menjawab, ia hanya menggeleng kan kepala nya.


"Kamu mau Umma yang buat kan Nang?" tawar Umma Hanum. Namun tetap saja gelengan kepala yang mereka dapat kan.


"Bagaimana kalau koki kita yang membuat kan nya Bri? Tidak mungkin kan Ani turun dari pelaminan dan ke dapur hanya untuk membuat kan mu nasi goreng pete itu. Sedangkan dia memakai gaun besar seperti itu Bri. Ani pasti kesusahan masak nya" ucap Daddy Martin.


"Iya uda kalau memang nggak mau, Brian nggak jadi makan" rajuk Brian.


"Kalau Ani ganti baju dulu baru buat kan permintaan Mas, boleh?" tanya Ani lembut.

__ADS_1


Brian yang mendengarkan istri nya mau membuat kan permintaan nya itu pun kembali tersenyum cerah. Ia langsung mengangguk kan kepala nya antusias.


"Iya uda Ani ke kamar dulu iya ganti baju. Nanti Ani balik lagi kesini"


"Cepat iya Bunda"


"Sabar iya Daddy" ucap Ani lembut kemudian ia pun berdiri dari duduk nya.


"Mom, Ani tidak tau dapur nya dimana. Bisa Mommy bantu Ani kesana?" tanya Ani malu malu.


"Bisa sayang. Ayo"


Mommy Aletha dan Ani pun berjalan menuruni pelaminan. Beberapa pengusaha dan kolega bisnis keluarga Anderson pun menyapa Mommy Aletha ketika mereka berpapasan.


Selepas kepergian Mommy Aletha dan Ani, Daddy Martin pun menatap tak enak kearah besan nya itu.


"Maaf kan sikap Brian Abah, Umma. Uda beberapa hari ini dia memang selalu meminta Ani memasak kan nya nasi goreng pete. Setiap di larang atau di suruh nanti, dia akan merajuk dan menangis. Kami tidak tau ada apa dengan nya ini.


"Tidak apa apa Besan. Mungkin memang Brian lagi menginginkan makanan itu" ucap Umma Hanum lembut.


"Tidak Umma. Sebenar nya Brian tidak menyukai pete. Tapi ntah kenapa dia justru minta nasi goreng pete. Kami pun di buat heran dengan sikap aneh nya ini"


"Iya kami memaklumi nya besan"


Dari bawah pelaminan, Dayyan, Breena, Anggi, Dion, Juan dan Selvi pun melihat Ani dan Mommy Aletha yang menuruni pelaminan. Mereka daling menatap dan seketika mereka berjalan ke atas pelaminan.


"Dad, ada apa?" tanya Juan begitu ia sudah berdiri disamping Daddy angkat nya.


"Seperti biasa Brian berulah lagi. Dia meminta nasi goreng pete lagi sama Ani" ucap Daddy Martin.


Breena terkejut mendengar itu. Dia juga tau kalau Brian itu tidak menyukai makanan yang berwarna hijau kecil yang mempunyai bau yang tak sedap.


"Daddy yakin?" tanya Breena. Yang langsung di jawab anggukan oleh Daddy Martin.


"Sejak kapan Dad?"


"Uda beberapa hari ini. Jangan kan kamu Breena, Kami yang ada di mansion pun di buat terkejut dengan permintaan nya itu"


Breena pun berpikir sejenak. Seperti yang ia tau. Hanya wanita hamil lah yang akan meminta makanan yang aneh aneh atau pun makanan yang memang tidak dia sukai. Tapu apa mungkin Ani memang hamil saat ini? Itu yang menjadi tanda tanya besar di otak pintar nya Breena.

__ADS_1


Umma Hanum yang sepemikiran dengan menantu nya itu pun langsung tersenyum. Ia juga mengangguk kan kepala nya. Lewat tatapan mata mereka seperti sayang bertanya dan menduga duga. Lalu sedetik kemudian, Breena pun kegirangan.


"Umi kenapa?......"


__ADS_2