
Umma Hanum pun berdiri dari kursi nya, dan mengajak para Mama untuk membuat rujak. Dan ajakan itu pun disambut meriah oleh para Mama. Terlebih Mommy Aletha dan Mommy Rianti yang memang tidak pernah membuat rujak.
Dengan semangat Umma Hanum mengajak mereka membuat rujak di halaman depan Ndalem, dibawah pohon jambu air yang sedang berbuah lebat.
"Mbak, tolong bawa kan buah buahan ini semua ke bawah pohon jambu air iya. Sama saya minta tolong siapkan juga bahan bahan untuk membuat bumbu rujak iya. Nanti biar saya aja yang ngulek bumbu nya" pinta Umma Hanum pada salah satu Mbak Khadamah.
"Nggih Umma"
"Ayo Mama Mama kita kebawah pohon jambu yang ada dihalaman depan. Disana lebih enak kalau mau rujakan" ajak Umma Hanum.
Setibanya dihalaman depan. Para Mama sudah melihat kalau suami mereka dan anak anak mereka sudah duduk berkelompok dibawah pohon jambu itu.
Dan Umma Hanum pun langsung duduk. Lalu ia mengulek bumbu rujak nya. Dengan telaten Umma Hanum membuatnya.
Breena melihat apa yang dikerjakan Ibu mertuanya itu. Seketika matanya berbinar. Bahkan ia sampai merasa ngiler dengan bumbu buatan Umma Hanum.
"Umma apa uda selesai bumbunya?" tanya Breena tak sabaran.
"Sebentar lagi iya sayang. Masih sabarkan?" tanya Umma Hanum..
"Breena uda ngiler Umma. Uda nggak sabar banget" keluh Breena.
Yang ditanggapi kekehan dari para Mama Mama.
"Umma apa tidak ada buah mangga nya?" tanya Breena ketika ia melihat buah buah yang sudah bersantai diatas sebuah wadah besar.
"Itu kan ada mangganya sayang" ucap Mama Ratih sambil menunjuk buah mangga yang sudah dipotong.
"Bukan mangga yang masak Mah. Tapi mangga yang muda"
Ucapan Breena mengalihkan atensi semua orang.
"Kalau mangga muda tidak ada sayang. Yang ada cuma mangga yang sudah mateng" ucap Mama Ratih.
"Tapi kan enak kalau ada mangga mudanya Mah. Asem asem gimana gitu" ucap Breena sambil berbinar.
"Kamu mau mangga muda Sayang?" tanya Dayyan.
Breena menganggukan kepala nya antusias.
"Umma apa pohon mangga di asrama putra berbuah?" tanya Dayyan.
"Umma nggak tau Nak kalau yang disana buah apa nggak. Tapi kalau pohon mangga yang di asrama putri setau Umma berbuah" jelas Umma Hanum sambil mengulek bumbu rujak.
"Iya uda Dayyan ke asrama putri aja. Ada yang mau ikut ambil mangga?"
__ADS_1
"Aku ikut deh Mas. Mana tau ada yang sudah mateng mangga nya" ucap Brian.
"Ayo kalau gitu. Kita berburu mangga"
Dayyan dan Brian pun berdiri hendak menuju ke asrama putri. Namun tiba tiba Ibra dan Dion juga ikut berdiri.
Keempat lelaki tampan itu pun berjalan menuju asrama putri. Sepanjang perjalanan mereka menjadi tatapan dari para santri putri dan Ustadzah.
"*Wahh ganteng banget"
"Siapa iya mereka? Kenapa wajah nya ganteng banget iya. Kaya nya bukan dari orang sembarangan"
"Iya lihat saja mereka pakai pakaian yang terlihat mahal. Apa mereka teman nya Gus Dayyan yang pengusaha dikota iya*?"
Bisik bisik itu pun terdengar di telinga keempat lelaki tampan itu. Dayyan pun menggeram. Santri Abah nya begitu terpesona oleh ketampanan dari pria yang bukan muhrim nya. Ia pun berhenti menatap tajam para santri.
"Jaga pandangan kalian. Kalau tidak mau apa yang kalian lihat jadi zina mata" ucap Dayyan tegas. Lalu melanjutkan lagi jalan nya menuju pohon mangga yang ada dihalaman depan asrama putri.
Para santri pun membubarkan dirinya ketika mendapat teguran dari Gus mereka.
"Wahh benar kata Umma, pohon yang disini berbuah" ucap Dayyan berbinar melihat buah mangga yang sangat banyak didepan nya.
"Iya Gus. Mana buah nya banyak lagi. Pohon nya juga rendah" ucap Ibra.
"Oke ayo kita ambil. Aku mau cari yang matang matang" ucap Brian semangat.
Dengan semangat keempat lelaki tampan itu pun mengambil mangga sesuai keinginan mereka.
Tanpa rasa malu mereka berebut mangga seperti anak kecil. Dayyan pun mengambil beberapa tangkai buah mangga yang masih muda.
Setelah mereka rasa cukup yang mereka ambil. Keempatnya pun kembali menuju ketempat para orang tua mereka mengumpul.
Sementara itu di halaman depan ndalem Breena sudah tidak sabar menunggumangga muda yang diminta nya tadi.
"Umma kenapa Mas Dayyan lama sekali ngambilnya?" rengenk Breena yang sudak berkaca kaca.
"Sabar sayang. Mungkin sebentar lagi mereka datang" ucap Umma Hanum sambil mengelus kepala Breena.
"Kamu makan buah yang lain dulu sayang. Kan masih banyak tuh buah nya" usul Mama Ratih.
"Tapi Breena cuma mau mangga muda nya Mah. Iiihhh lama banget sih Mas Dayyan nya" ucap Breena yang sudah meneteskan air matanya.
"Sayang" panggil Dayyan dari jarak yang sedikit jauh sambil menunjukkan buah mangga muda yang dimintanya.
Breena yang melihat buah yang ada di tangan suaminya pun langsung berdiri dan berlari mengejar suaminya dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Sayang jangan lari lari" ucap Dayyan, Umma Hanum dan Mama Ratih bersamaan.
Umma dan Mama Ratih yang sudah menduga kalau Breena hamil pun khawatir. Sedangkan Dayyan ia memang kerap kali khawatir ketika istrinya melakukan hal hal yang tak terduga.
"Maaasss" ucap Breena sambil memeluk suaminya.
"Jangan seperti itu lagi sayang. Kalau kamu jatuh tadi bagaimana? Mas tidak mau kamu kenapa kenapa sayang" ucap Dayyan lembut menegur istrinya.
"Maaf Breena terlalu bersemangat lihat Mas bawa mangga nya. Ayo cepat Mas kupas buah nya. Breena uda nggak sabar"
Dayyan pun menuruti kemauan istrinya. Ia dengan telaten mengupas buah mangga yang baru ia ambil dan memotongnya kecil kecil.
"Eeeemmmmm enak banget Mas" ucap Breena sambil memejamkan mata nya menikmati buah mangga muda dimulutnya.
Dayyan yang melihat itu pun meneguk salivanya susah payah. Ia yang hanya melihat sudah merasakan keasaman buah mangga itu.
"Apa tidak asam sayang?"
"Tidak Mas. Mas mau?" ucap Breena sambil mengerahkan satu potong mangga muda kemulut suaminya.
Dayyan yang penasaran pun memakan nya. Dan seketika ia merasakan rasa asam menguasai lidah nya.
"Ini asam banget sayang" ucap Dayyan ketika ia sudah meneguk air putih nya.
"Iihhh ini enak tau Mas. Mas kalau nggak suka ia uda biar Breena aja yang abisin" omel Breena. Lalu ia memegang piring yang berisi hanya buah mangga muda.
Dayyan yang ingin melarang istri nya memakan itu pun langsung mendapatkan gelengan kepala dari Umma dan Mama Ratih.
"Biarkan Dayyan. Besok kamu akan tau jawaban nya" ucap Mama Ratih sambil menikmati rujak nya.
"Apa tidak masalah Mah?" tanya Dayyan khawatir.
"Tidak nak. Uda kamu jangan khawatir gitu. Ikutin saja apa kata Mama mu. Dia lebih tau soal ini" ucap Umma Hanum.
"Iya uda Breena gabung sama yang lain dulu iya Mah, Umma"
Dayyan pun menghampiri perkumpulan lelaki muda. Mereka berbincang membahas segala hal. Sama seperti perkumpulan para bapak bapak. Mereka juga membahas segala hal. Dari membahas tentang bisnis, sampai ke sekolah.
Bahkan para pengusaha itu justru membuat ide akan membangun sekolah. Hal itu justru membuat Ayah Hermawan syok. Bagaimana bisa mereka tiba tiba membahas ingin membangun sekolah. Dan mereka meminta Ayah Hermawan yang mengurusnya.
Sedangkan diperkumpulan para ibu ibu, mereka tengah asyik berbincang sambil memakan rujak buatan Umma Hanum. Mereka lebih banyak membahas masa lalu mereka dulu.
Dibagian para wanita muda. Mereka membahas tentang acara pernikahan Mbak Ani dan Anggun yang akan dilaksanakan hanya berbeda minggu saja.
Ditengah tengah keasyikan mereka berbincang.
__ADS_1
Tiba tiba....