Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Pelaku


__ADS_3

Setelah menelpon menantu nya yang alhamdulillah nya si menantu sudah berada di Jakarta. Papa Doni kembali menghubungi Ibra. Untuk menanyakan stok darah Rh-Nul di rumah sakit milik nya.


"Hallo Om"


"Hallo Ibra. Apa di rumah sakit mu masih ada stok darah Rh-Nul?" tanya Papa Doni tanpa basa basi.


"Sebentar Om. Ibra lihat dulu stok nya iya" ucap nya, setelah itu ia pun langsung mengecek nya.


Lima menit menunggu dengan gekisah. Namun seperti nya keberuntungan tidak berpihak di Papa Doni.


"Maaf Om. Stok untuk Rh-Nul lagi kosong Om. Ternyata uda beberapa bulan ini stok Rh-Nul tidak tersedia Om" jelas Ibra.


"Iya uda terima kasih Ibra. Om akan bertanya ke rumah sakit lain nya. Atau kalau kamu punya kenalan yang memiliki golongan darah itu. Om minta tolong kasih tau Om iya. Om sangat membutuhkan darah itu sekarang"


"Untuk siapa Om?"


"Untuk Bu Ayu. Dia kecelakaan dan membutuhkan 3 kantong darah. Di rumah sakit Om hanya ada 1 kantung. Om membutuhkan 2 kantung lagi. Sedang kan Dayyan masih perjalanan dari bandara ke rumah sakit"


"Iya Om nanti Ibra tanya tanya sama teman Ibra"


"Terima kasih Ibra"


Setelah mengatakan itu Papa Doni pun langsung mematikan sambungan telepon nya. Ia lalu menghubungi rumah sakit yang lain nya. Dan hasil nya pun tetap sama. Mereka tidak mempunyai stok darah Rh-Nul. Karena itu adalah golongan darah langka.


Satu satu nya rumah sakit yang belum di telpon Papa Doni adalah rumah sakit milik Erlangga Setiawan. Ayah dari David Erlangga. Mau tidak mau Papa Doni harus menelpon nya juga.


"Hallo Dokter Doni" sapa Tuan Erlangga.


"Hallo Dokter Erlangga. Apa saya mengganggu waktu Anda Dokter?" tanya Papa Doni.


"Oh tidak Dokter. Ada apa iya Dokter Doni? Tumben sekali Anda menelpon saya" tanya Dokter Erlangga heran.


"Begini Dokter. Apakah saya bisa meminta bantuan Anda Dokter Erlang?" tanya Papa Doni ragu.


"Iya. Apa yang bisa saya bantu Dokter Doni?"


"Apakah stok darah Rh-Nul di rumah sakit Dokter masih ada? Saya lagi membutuhkan golongan darah itu Dokter. Di rumah sakit saya hanya tersisa 1 kantung. Saya sudah meminta menantu saya untuk mendonorkan darah nya juga. Tapi masih kurang 1 kantung lagi. Apakah Dokter Erlang bisa membantu saya?" jelas Papa Doni penuh permohonan.


"Kalau boleh tau untuk siapa iya Dokter darah nya?"


"Untuk Ibu Ayu. Pemilik panti asuhan Bu Ayu yang sudah membesarkan putri dari Steven Danuarta. Dia kecelakaan dan membutuhkan 3 kantung darah. Apakah Dokter Erlangga bis membantu saya?" tanya Papa Doni lagi.


"Sebentar iya Dokter, saya cek dulu"

__ADS_1


"Iya Dokter saya tunggu"


"Gimana Don, ada?" tanya Daddy Steven yang khawatir.


"Masih di cek Stev. Tunggu lah sebentar. Dayyan juga lagi dijalan. Mungkin macet maka nya mereka belum sampai" ucap Papa Doni mencoba menenangkan Daddy Steven.


Tak lama ponsel Papa Doni kembali berdering.


"Iya Hallo Dokter Erlangga, bagaimana?" tanya Papa Doni tak sabaran.


"Ada Dokter Doni. Nanti akan saya kirim kan ke rumah sakit Anda" ucap Dokter Erlangga.


"Alhamdulillah. Terima kasih Dokter. Terima kasih. Saya tunggu Dokter" ucap Papa Doni lega.


"Sama sama Dokter Doni. Kalau begitu saya tutup dulu"


Setelah panggilan nya terputus. Dayyan dan yang lain nya pun datang tergesa. Terlihat jelas kepanikan di wajah wajah mereka.


"Assalamualaikum Pah, Dad" panggil mereka semua, lalu bergantian menyalami Papa Doni dan Daddy Steven.


"Wa'alaikum salam. Kalian sudah sampai"


"Pah, gimana? Apa mau sekarang donor darah nya?" tanya Dayyan.


"Sayang, kamu nunggu disini aja iya sama yang lain nya. Mas donor darah dulu" ucap Dayyan.


"Iya Mas"


Breena pun memilih duduk di kursi tunggu depan ruang operasi. Sementara Dayyan dan Papa Doni pergi ke ruangan donor darah.


...----------------...


Di hotel, Anggi telah sadar. Ia pun kembali menangis mengingat Bunda yang sudah membesarkan nya kecelakaan.


"Mom" panggil Anggi.


"Iya sayang. Alhamdulillah kamu sudah sadar" ucap Mommy Rianti.


"Mom gimana uda dapat kabar belum dari Daddy?" tanya Anggi khawatir.


"Uda sayang. Bu Ayu sedang menjalankan operasi nya. Kaki dan bahu nya retak. Kening nya terluka cukup dalam. Namun tidak terjadi apa apa dengan kepala nya. Dia juga membutuhkan 3 kantung darah" jelas Mommy Rianti.


Ya, setelah Dokter menyampaikan apa yang terjadi dengan Bu Ayu. Daddy Steven pun menelpon Mommy Rianti. Memberitahu kabar tentang Bu Ayu.

__ADS_1


"Dapat darah dari mana Mom? Setau Anggi darah Bunda itu darah langka" tanya Anggi dengan raut wajah sedih.


"1 dari rumah sakit Papa Doni, 1 dari rumah sakit lain, 1 lagi dari Dayyan sayang."


"Mom, ayo kita kesana Mom. Anggi mau lihat Bunda Mom" pinta Anggi namun tak ditanggapi oleh Mommy Rianti.


"Mas. Ayo kita kerumah sakit. Bunda sendirian disana Mas. Anggi mau nemenin Bunda. Anggi mohon Mas" mohon Anggi sambil menyatukan kedua tangan nya.


Tak tahan melihat istri nya seperti itu. Dion pun menyetujui permintaan Anggi.


"Iya ayo kita kesana. Tapi kamu janji nggak boleh nangis lagi iya" pinta Dion yang di angguki oleh Anggi.


Mereka pun segera ke rumah sakit dengan dikawal dengan pengawal mereka.


...----------------...


Sementara itu di ruang penjara milik keluarga Danuarta. Seorang pria sedang di introgasi oleh kaki tangan Daddy Steven. Ia menatap tajam kearah seorang pria yang menabrak tubuh Bu Ayu pagi tadi.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Pak Aji.


Pria itu hanya diam saja. Ia tak ada niat untuk menjawab pertanyaan Pak Aji.


"Apa tujuan mu menabrak Bu Ayu?" tanya Pak Aji lagi.


Tapi lagi dan lagi pria itu masih saja diam.


"Baik lah kalau kau tak mau menjawab nya. Kalian siksa dia sampai dia mau buka suara" perintah Pak Aji.


Lalu Pak Aji pun pergi meninggalkan ruangan itu. Menyisakan tiga orang bawahan nya yang mulai menghajar pria itu.


Dari ruangan nya, Pak Aji menatap pria itu dari CCTV yang ada di dalam ruangan si pelaku.


"Hallo Tuan" sapa Pak Aji setelah panggilan nya di angkat oleh Daddy Steven.


"Hmm. Kata kan" ucap tegas Daddy Steven.


"Dia masih belum mau bersuara Tuan" ucap Pak Aji.


"Tak apa. Buat dia mau buka mulut nya. Apa pun cara nya buat dia mengaku" perintah Daddy Steven.


"Baik Tuan"


Panggilan pun langsung di putuskan oleh Daddy Steven. Ada rasa tak terima di hati nya. Kenapa ini harus terjadi. Siapa yang tega menyakiti seorang wanita yang sudah membesarkan putri nya itu.

__ADS_1


__ADS_2