
Hari hari berlalu. Kini usia ketiga anak kembar nya Breena sudah memasuki umur tiga bulan. Breena masih belum masuk KOAS lagi. Walau pun cuti melahir kan nya sebenar nya sudah lewat. Tapi karena itu rumah sakit milik orang tua nya. Jadi Breena mendapat kan masa cuti sampai umur bayi nya enam bulan.
Hari hari Breena pun semakin berwarna karena suara tangis ketiga anak nya yang bergantian.
Seperti saat ini si bungsu Kalandra saat ini sedang menangis. Bayi tampan itu baru saja bangun dari tidur siang nya.
"Maaf Ning, Gus Andra menangis. Mungkin Guse haus Ning" ucap Mbak Diyah pengasuh Kalandra.
"Siniin Mbak"
Mbak Diyah pun langsung memberikan Kalandra ke gendongan Umi nya.
"Duduk sini Mbak temeni saya" ucap Breena ketika ia melihat pengasuh anak bungsu nya itu hendak pergi.
Dengan sopan Mbak Diyah memilih duduk di atas karpet di ruang keluarga.
"Mbak Diyah betah kerja disini jadi pengasuh Kalandra?" tanya Breena yang sambil menyusui Kalandra.
"Alhamdulillah betah Ning"
"Alhamdulillah iya Mbak. Kalau boleh tau Mbak asli mana?"
"Saya asli Jombang Ning"
"Jauh iya Mbak. Mbak uda lama nyantri di pondok nya Abah?"
"Alhamdulillah Ning. Saya nyantri sudah dari umur 13 tahun Ning. Begitu tamat SD saya langsung nyantri sampai sekarang"
"Sekarang umur Mbak berapa?"
"25 tahun Ning"
"Waahh uda lama banget iya Mbak. Semoga Mbak selalu betah iya bekerja disini"
"Nggih Ning"
Pembicaraan antara Breena dan Mbak Diyah pun terhenti karena kedatangan Dayyan. Breena pun merasa heran, kenapa suami nya ini masih siang sudah pulang saja.
"Assalamualaikum Umi, dedek Andra"
"Wa'alaikum salam Abi. Abi uda pulang?" tanya Breena dengan raut wajah heran nya.
"Iya sayang. Hmm sayang..."
__ADS_1
"Kenapa Mas?"
"Emmhh Mas mau bilang sama kamu, kalau nanti sore Mas harus berangkat ke Jepang. Perusahaan yang ada di Jepang sedang ada masalah. Jadi Mas sama Dion mau tidak mau harus berangkat kesana" ucap Dayyan hati hati.
Breena terdiam. Ia sedang mencerna ucapan suami nya itu.
"Berapa hari Mas?"
"Mas belum tau sayang. Sebisa mungkin Mas akan cepat menyelesaikan masalah yang ada disana. Biar Mas bisa cepat pulang nya"
"Iya uda. Mau Breena bantu nyiapin pakaian Mas?" tawar Breena.
"Boleh sayang"
Setelah mendapat persetujuan dari suami nya. Breena segera memberikan Kalandra kepada Mbak Diyah. Karena Kalandra sudah kembali tertidur lagi.
Dayyan pin juga mengikuti langkah kaki istri nya menuju kamar pribadi mereka.
Breena yang sedang berada di walk in closet dan berdiri di depan lemari pakaian suami nya, tersentak kaget karena ada sepasang tangan yang memeluk nya dari belakang.
"Kenapa Mas?" tanya Breena yang masih memilih baju suami nya.
"Berikan Mas nutrisi sayang sebelum Mas berangkat" ucap Dayyan dengan suara rendah nya.
"Nanti iya, setelah Umi selesai packing baju baju Abi dulu" ucap Breena yang menikmati sentuhan suami nya.
Dayyan tak menggubris ucapan istri nya. Ia justru sedang menciumi punggung sang istri.
"Lepas dulu Abi. Tunggu Umi di kasur aja. Nggak lama kok cuma 15 menit aja"
"Baik lah"
Dengan berat hati Dayyan pun menyetujui permintaam istri nya. Ia berjalan menuju ke kasur mereka.
Sedangkan Breena yang sudah selesai mempacking baju suami nya. Memilih mengganti pakaian nya dengan baju dinas malam.
Tak lupa Breena juga menrias wajah nya terlebih dahulu dan memakai parfum kesukaan suami nya.
Breena melangkah ke arah kasur mereka. Membuat Dayyan pun menyungging kan senyum merekah nya.
"Dduuhh cantik nya istri Mas" ucap Breena ketika Breena sudah berdiri di hadapan nya.
Dayyan pun langsung memulai menciumi seluruh wajah istri nya itu. Dan ibadah halal mereka pun terjadi sebelum Dayyan berangkat ke Jepang sore nanti nya
__ADS_1
...----------------...
Tak berbeda jauh dengan Breena dan Dayyan. Dion yang juga ikut dalam perjalanan dinas ke Jepang pun juga melakukan hal yang sama dengan Dayyan.
Dion dan Anggi yang juga memilih pulang untuk menyiapkan keperluan suami nya yang akan ke Jepang pun. Juga harus mengisi batrai suami nya sebelum berangkat.
Mereka melakukan ibadah halal nya tidak hanya sekali saja tapi berulang ulang kali.
"Terima kasih sayang. Semoga batrai nya cukup sampai Mas nanti pulang kesini" ucap Dion ketika mereka sudah selesai melakukan ibadah halal mereka.
"Ingat Mas jangan lirik lirik perempuan Jepang selama disana"
"Ia sayang. Mas nggak akan lirik lirik perempuan yang ada disana. Hanya kamu yang akan selalu menemani hidup Mas"
Anggi yang mendengar itu pun langsung memeluk suami nya yang masih polos. Akhir nya mereka pun melakukan lagi ibadah halal mereka.
"Maafin Anggi Mas yang belum bisa memberikan Mas anak" ucap Anggi setelah mereka selesai melakukan ibadah halal nya.
"Tak apa sayang. Jangan terlalu di pikir kan. Kamu juga nggak boleh terlalu setres. Anak merupakan rezeki dari Yang Maha Kuasa sayang. Mungkin Allah belum memberikan kita kepercayaan untuk memiliki anak. Atau mungkin karena Allah mau kita pacaran halal dulu. Jadi kamu nggak boleh mikir yang macem macem iya" ucap Dion mencoba menenang kan hati Anggi.
"Jangan tinggalin Anggi Mas" ucap Anggi sedih.
"Mas akan selalu ada bersama mu sayang. Hanya takdir yang akan memisahkan kita. Kalau pun nanti nya kita tidak di berikan kepercayaan untuk memiliki anak. Mas hanya ingin tinggal berdua dengan kamu. Percaya lah Mas nggak akan pernah meninggalkan bidadari nya Mas ini" ucap Dion lembut dan tulus.
Anggi hanya bisa menghambur kepelukan suami nya.
Tiga jam berselang saat ini Dayya, Breena, Dion dan Anggi sudah berada di bandara. Saat ini mereka berada di ruang tunggu. Mereka menunggu jadwal keberangkatan mereka.
Menunggu selama hampir 30 menit, akhirnya sudah terdengar perintah untuk melakukan boarding pass. Dayyan dan Dion pun mendekati istri mereka masing masing dan memeluk nya. Mereka berdua pamit kepada istri istri mereka.
Ya, walau pun awal nya tidak ada ingin mengeluarkan air mata. Tapi nyata nya air mata itu pun tumpab juga di pipi istri istri mereka.
"Jangan nangis Umi, sebisa mungkin Abi dan Dion akan secepat nya menyelesaikan masalah yang ada di perusahaan yang disana" ucap Dayyan sambil menenangkan tangis Breena.
"Iya Abi. Abi cepat pulang iya" ucap Breena dengan suara serak nya.
"Iya Umi. Doakan Abi iya semoga masalah nya cepat selesai" ucap Dayyan sambil mencium lama kening istri nya.
Setelan itu Dayyan dan Dion berjalan meninggalkan dua orang kesayangan mereka.
Dayyan sangat berat meninggalkan istri beserta ketiga anak nya. Walau pun ia sudah menggunakan jasa pengasuh, tapi tetap aja Dayyan takut kalau Breena akan kewalahan mengurus ketiga anak nya.
Sebelum melakukan penerbangan nya, Dayyan tadi sudah menelpon mertua serta kedua orang tua nya. Dayyan mengatakan ada perjalanan dinas ke Jepang. Sehingga Dayyan meminta mereka untuk menginap di rumah nya, untuk membantu Breena mengurua ketiga buah hati nya yang sangat menggemas kan itu.
__ADS_1