Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Ajakan Liburan


__ADS_3

"Maksud kamu apa sayang? Di nyinyirin bagaimana?" tanya Juan yang penasaran.


Huuufffttt


"Abang ingat nggak waktu abang terbang ke Sulawesi sama Mas Ibra?" tanya Selvi yang langsung mendapat kan anggukan dari Juan.


"Waktu itu Abang kan belum punya supir kan untuk antar jemput aku. Nahh jadi Selvi itu bawa mobil porsche yang abang jadi kan mahar untuk ku itu. Karena disini ada nya mobil abang lambo semua. Terpaksa deh bawa yang porsche. Lah nggak tau nya ada guru yang merasa iri dan cemburu karena Selvi yang hanya guru honorer bisa bawa mobil mewah seperti itu. Disangka nya abang itu korupsi." Jelas Selvi.


"Lah kenapa dia harus iri. Lagian itu mobil kan Abang beli dari tabungan Abang, bukan uang dari hasil korupsi. Lagian abang mau korupsi dimana coba? Lah wong abang juga kerja nya pilot keluarga Anderson. Abang bukan pekerja kantoran yang bisa memanipulasi laporan keuangan. Aneh banget Ibu itu" ucap Juan tak terima.


"Iya itu lah bang. Untung nya ada Bunda Aisyah jadi dia yang membela Selvi dan menjelas kan semua nya."


"Tapi kan sayang. Yang buat abang bingung itu. Kenapa dia harus iri?" tanya Juan yang masih penasaran.


"Iya mungkin karena dia juga ingin hidup enak kali bang. Punya barang barang mewah dan mahal. Tapi suami nya nggak mampu membeli kan nya. Maka nya dia iri sama orang yang selalu punya barang barang baru dan mahal. Bukan sama aku aja dia seperti itu bang. Tapi sama yang lain mya juga" jelas Selvi sambil mengedik kan bahu nya.


"Emang suami nya kerja apa sayang?"


"Kalau nggak salah. Suami nya kerja di perusahaan nya Daddy. Dia karyawan biasa kaya nya Bang."


"Oohhh tapi kan yang, gaji karyawan biasa pun di perusahaan Daddy itu cukup besar juga loh. Setau abang perusahaan Daddy itu menggaji karyawan nya di atas UMR loh."


"Ntah lah bang, Selvi nggak tau. Lagian ibu itu uda nggak pernah lagi nyinyirin Selvi" jawab Selvi acuh.


"Kenapa?"


"Takut dia nya Abang. Takut suami nya di pecat dari pekerjaan nya" ucap Selvi geli yang mengingat kembali ucapan Bunda Aisyah yang mengancam nya.


"Siapa yang bilang gitu?"


"Bunda Aisyah, abang. Bunda ngancam mau ngelaporin dia nya ke Daddy, biar suami nya di pecat. Hahahhaa" jawab Selvi yang terkekeh.


"Ada ada aja sih" ucap Juan yangembawa tubuh Selvi ke dalam pelukan nya.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


Suara pintu kamar di ketuk dari luar. Selvi pun melepas kan pelukan nya.


"Biar Selvi aja bang"


Ceklek


"Ada apa Mbok?" tanya Selvi yang melihat Mbok Fatimah berdiri di depan pintu kamar nya.


"Maaf Nyonya. Di luar ada tamu mau bertemu dengan Tuan. Kata nya tadi uda di tunggu sama Tuan" ucap Mbok Fatimah.


"iissshhh mbok uda berapa kali di bilangin jangan panggil nyonya tuan loh. Berasa aneh dengar nya." protes Selvi.


"Hehehe maaf Non Selvi. Terus itu tamu nya mau di gimanain?" tanya mbok Fatimah lagi.


"Suruh masuk aja Mbok. Selvi mau manggil Abang dulu iya"


Setelah mendapat arahan dari Selvi. Mbok Fatimah oun meminta tamu tersebut untuk menunggu di ruang tamu.


"Kirain nggak jadi datang" ucap Juan yang sudah duduk di sofa ruang tamu nya.


"Ya mau gimana lagi. Mau nggak datang nanti salah. Datang pun juga salah. Iya uda kalau gitu kami pulang aja" omel Devano.


"Yeeee gitu aja ngambek. Nggak cocok banget sama profesi Lo itu"


"Terserah lo lah Ju. Terus ini kita disuruh kesini mau ngapain?" tanya Devano yang jengah dengan tingkah nya Juan.


"Gue sama yang lain nya ada rencana mau liburan ke Bandung. Tepat nya ke pondok pesantren nya Abah Arsya, Abah nya Dayyan. Lo mau ikut nggak? Kami nanti juga mau ke villa gue." ajak Juan.


Devano terdiam sejenak. Ia mengingat kembali jadwal terbang nya. Lalu dia menatap ke arah istri nya.


"Kapan?" tanya Devano.

__ADS_1


"Mereka pergi nya lusa, itu arti nya hari kamis. Gue uda bilang mau nyusul di hari jum'at nya sepulang Selvi dari sekolah. Gimana?" tanya Juan lagi.


Belum sempat menjawab, Mbok Fatimah pun datang membawa nampan berisi jus jeruk dan cemilan untuk mereka.


"Mbok kenalin, ini Mbak Nindi dan suami nya Mas Devano. Mbak Nindi ini sepupu nya Selvi Mbok" ucap Selvi memperkenal kan Nindi kepada Mbok Fatimah.


"Mbak, ini Mbok Fatimah kepala pelayan di rumah ini. Mbok Fatimah ini dulu nya pengasuh nya Abang, yang uda di anggap Ibu sama Abang" lanjut Selvi.


Mbok Fatimah hanya mengangguk kan kepala nya, dia segan untuk berjabat tangan dengan Nindi. Tapi tidak dengan Nindi. Dia justru membawa Mbok Fatimah kepelukan nya.


"Senang bisa bertemu dengan Mbok Fatimah. Semoga Mbok betah serumah dengan adek saya yang nggak tau apa apa itu Mbok. Maklum Mbok anak tunggal jadi dia di manja. Hahahha" ucap Nindi yang sengaja berkata seperti itu sama Mbok Fatimah.


"Non Nindi bisa saja. Non Selvi jago masak kok. Bahkan setiap hari Non Selvi yang masak untuk makan nya Den Juan" ucap Mbok Fatimah yang membuat Selvi tersenyum senang.


"Masa sih Mbok? Mbok yakin?" tanya Nindi tak percaya.


"Tu lah kan nggak percaya sama kemampuan ku. Walau pun aku nggak pernah masak di rumah. Tapi aku selalu tau cara nya masak untuk menyenang kan suami ku. Terbukti kan Abang sehat terus tu lihat perut nya aja uda hampir bulat nggak kotak kotak lagi" ucap Selvi yang membangga kan diri nya.


"Sayang perut abang masih kotak kotak iya. Belum bulat seperti yang kamu bilang" protes Juan yang membuat suasa nya ruang tamu itu ramai dengan kekehan mereka berlima.


Setelah itu Mbok Fatimah pun pamit kebelakang.


"Jadi gimana, ikut nggak?" tanya Juan lagi.


"Gue sih free selama seminggu ini di mulai hari Jum'at. Kalau kamu sayang gimana jadwal kamu?" tanya Devano.


"Kalau aku free nya dari hari kamis sampai senin"


"Jadi kamu mau ikut sama mereka liburan di Bandung nggak sayang?" tanya Devano lagi.


"Ikut aja yuk Mas. Kita kan nggak pernah tuh ngikut liburan sama mereka. Aku juga mau tau gimana cara liburan nya para pengusaha" ajak Nindi.


"Oke kalau gitu kita ikut. Tapi kita berangkat nya bareng sama kalian aja gimana? Gue kamis masih terbang itu" ucap Devano.


"Nggak masalah. Yang penting uda fiks iya kalian juga ikut?" tanya Juan lagi memastikan.

__ADS_1


"Iya kita ikut" jawab Nindi dan Devano berbarengan.


Mereka berempat pun melanjut kan pembicaraan mereka. Hingga jam menunjuk kan pukul 21:30 malam. Devano dan Nindi pamit pulang. Karena mereka ada jadwal terbang besok setelah subuh.


__ADS_2