
Semua nya menunggu Dayyan untuk menjelas kan apa yang terjadi selama ia berada di Bogor.
Dayyan masih saja diam. Ia tak tau harus memulai nya dari mana. Sedangkan Breena sudah menatap nya dengan kekecewaan yang sangat terlihat di wajah nya. Begitu pun dengan Umma Hanum. Ia kecewa anak nya bisa melakukan hal yang sangat tidak di sukai oleh Allah.
"Baik lah kalau kamu tidak mau menjelas kan nya Ian. Berarti Papa akan membawa Breena pulang ke rumah Papa. Dan Kamu, Papa larang untuk menginjak kan kaki mu di rumah Papa lagi. Setelah melahir kan, Papa akan kirim kan surat gugatan perceraian kalian" ucap Papa Doni tegas. Ia sangat tidak terima putri kesayangan nya di khianati oleh suami nya.
Kejadian yang tak di ingin kan lagi oleh putri nya harus terjadi lagi. Putri nya mengalami lagi yang nama nya di khianati. Apa salah nya di masa lalu sampai putri tercinta nya selalu di khianati oleh pasangan nya.
"Pah, Ian mohon jangan bawa Breena Pah. Jangan pisah kan Ian sama istri dan anak anak Ian Pah" mohon Dayyan.
"Tidak Ian. Ini keputusan yang tepat. Papa masih mentolerir kalau kamu main tangan. Tapi tidak dengan perselingkuhan sampai kamu tidur dengan wanita itu"
"Maaf Pak Kyai. Kalau begitu kami permisi dulu. Dan saya bawa anak saya kembali ke rumah saya. Assalamualaikum" pamit Papa Doni.
Kemudian Papa Doni berdiri dan membawa putri nya yang sedari tadi menangis keluar dari ndalem bersama istri nya. Bahkan ia melarang Breena untuk membawa baju baju nya yang ada di rumah mertua nya itu.
Tidak ada yang melarang dan menghalangi kepergian mereka. Bahkan Dayyan pun masih duduk menunduk tak mengejar istri nya yang sedang hamil anak nya. Ia tak tau harus berbuat apa.
Sepeninggal Keluarga Abraham, suasana di dalam ruang tamu Ndalem itu menjadi hening. Tak ada satu pun yang bersuara.
Sementara wanita yang mengaku telah tidur dengan Dayyan itu tersenyum penuh kemenangan. Rencana nya untuk memisahkan Dayyan dan Breena akhir nya berjalan dengan lancar.
Brian yang sedari tadi sudah emosi melihat Dayyan pun, berjalan mendekati Dayyan. Ia langsung menarik kerah baju Dayyan dan memberikan nya beberapa kali pukulan di wajah tampan nya.
__ADS_1
BUGH
BUGH
BUGH
"Ini pukulan untuk Lo yang uda mengkhianati dia Gus. Dari awal sudah saya pertegaskan, ketika Anda menyakiti nya. Jangan harap Anda masih bisa melihat nya lagi. Saya akan membawa nya pergi sejauh mungkin dari hadapan Anda" ucap Brian marah.
Setelah melampias kan amarah nya, Brian langsung mengejar Papa Doni. Namun ia terlambat, mobil Papa Doni sudah melaju lebih dulu sebelum ia keluar dari rumah itu.
Ani yang melihat kemarahan di wajah suami nya pun takut untuk mendekati nya. Ia tau betapa sayang nya suami nya itu kepada Breena. Ada sedikit rasa sakit di hati nya melihat sang suami yang kacau melihat Breena di khianati suami nya. Namun ia memendam rasa sakit itu.
"Jelas kan semua nya Ian kalau kamu memang tidak mau kehilangan istri dan anak anak mu. Tapi kalau kamu memang ingin kehilangan mereka bertiga maka diam lah terus" ucap Daddy Martin.
"Biar kamu tau saja Ian. Doni tidak pernah main main dengan ucapan nya. Bisa saja setelah ini ia menelpon pengacara nya dan meminta mendaftar kan perceraian kamu dan putri nya di pengadilan. Kamu tau bagaimana kekuasaan nya selama ini. Walau pun dia orang yang pendiam dan lembut. Tapi dia mempunyai sisi mafia nya. Jangan lupa kan Daddy yang seorang mafia dulu. Sudah pasti semua sahabat Daddy juga ikut masuk ke anggota Mafia Daddy" ucap Daddy Steven.
"Kamu yakin hanya itu yang kamu ingat Ian?" tanya Abah Arsya.
"Iya Bah. Ian yakin sekali. Ian tidak pernah mengkhianati Breena Bah. Bagaimana Ian bisa mengkhianati wanita yang sudah lama Ian cintai, bahkan sebelum menikahi nya dulu" ucap Dayyan di sela tangis nya.
"Tapi kita memang melakukan nya Mas. Kamu bahkan memuji tubuh ku yang lebih nikmat dari pada istri mu itu" ucap wanita itu tak tau malu mengucapkan hal yang frontal di depan semua orang.
"Diam. Aku tak pernah melakukan itu sama mu!!" bentak Dayyan.
__ADS_1
Sejak tadi Daddy Steven memperhatikan wanita di depan nya ini. Ia tau mana yang memang sedang bersandiwara atau tidak. Dan dari yang dilihat nya, wanita di depan mereka semua ini memang sedang bersandiwara. Ia sengaja melakukan ini untuk menghancur kan rumah tangga anak sahabat nya itu.
Diam diam Daddy Steven memfoto wanita itu juga memfoto, foto yang tadi di berikan oleh wanita itu. Lalu ia mengirim kan nya kepada anak buah nya yang di markas untuk mencari tau siapa wanita itu.
"Mas, aku kesini mau minta pertanggung jawaban dari mu. Kau tau Mas, aku saat ini hamil anak mu" ucap nya sambil menyodor kan sebuah testpeck dan satu lembar foto USG.
Semua nya semakin tercengang melihat bukti yang di berikan wanita itu. Bahkan Umma Hanum sampai tidak sadar kan diri ketika melihat nya.
"Itu bukan anak ku!!!" teriak Dayyan.
Keadaan Dayyan sudah kacau. Dia yang awal nya sedang bahagia karena acara tujuh bulanan kehamilan istri nya. Kini di ganti kan oleh kehancuran rumah tangga nya.
"Itu anak mu Mas. Kenapa kau tak menganggap nya. Aku hanya melakukan nya dengan mu saja. Bagaimana mungkin kamu tak mengakui anak mu Mas. Buah cinta kita" ucap wanita itu yang sudah berderai air mata palsu nya.
"Stooopp bicara yang tidak tidak. Keluar. Pergi dari sini" usir Dayyan.
Kemudian Dayyan berjalan menuju ke kamar Umma nya. Ia melihat sang Umma masih tidak sadar kan diri di temani oleh Ani yang berusaha membangun kan Umma Hanum.
"Umma bangun Umma. Maafin Ian Umma. Ian mohon bangun Umma. Jangan seperti ini. Siapa yang akan menguat kan Ian kalau Umma seperti ini" ucap Dayyan prustasi.
"Mas" lirih Ani.
"Berdoa lah semoga Umma baik baik saja. Dan semoga ujian yang sedang menerpa rumah tangga Mas segera terselesai kan. Kasihan Breena Mas. Dia begitu terguncang mengetahui semua ini" ucap Ani khawatir.
__ADS_1
"Do'ain Mas iya Dek. Mas mau cari bukti bukti dulu. Biar Mas bisa secepat nya menjemput istri dan anak anak Mas kembali"
"Iya Mas. Semangat"