Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Ibu Ayu


__ADS_3

Seakan tau yang ada di pikiran kekasih nya, Juan langsung mengambil ponsel nya didalam saku celana nya. Dia langsung mencari nomor kontak Ayah kekasih nya itu.


Tuuuttt ttuuuttt


"Hallo Assalamualaikum" ucap salam suara seseorang di seberang telepon.


"Wa'alaikum salam Ayah" jawab Juan.


"Ada apa Juan?" tanya suara tegas itu.


"Ayah. Apa Juan boleh meminta izin lagi untuk membawa Selvi?"


"Mau kemana Juan?"


"Ayah tau Breena kan?" bukan nya menjawab Juan justru memberi pertanyaan.


"Emmhh yang kemarin itu iya, yang ngidam pengen ke pulau pribadi nya naik jet pribadi itu iya?" tanya Ayah Selvi menerka nerka.


"Iya Ayah. Hmm ini dia ngidam lagi Yah, minta Juan terbang ke Lombok sama Ke Aceh. Juan uda menolak nya Yah. Tapi kata Daddy, kami semua harus terbang kesana Yah, untuk memenuhi ngidam nya" jelas Juan.


Ayah Selvi mengangguk anggukan kepala nya tanda mengerti. Walau pun Juan tak bisa melihat nya.


"Terus?"


"Emmhh boleh Juan izin membawa Selvi juga Yah? Mungkin kami akan kembali besok Yah" ucap Juan meminta izin.


Ayah Selvi terdiam sesaat. Banyak pertanyaan yang berterbangan di dalam kepala nya.


"Yah" panggil Juan karena tak mendapatkan jawaban apa pun.


"Boleh. Tapi tetap iya seprti yang kemarin. Jangan berduaan. Dan tidak boleh tidur berdua dalam satu kamar. Selvi harus tidur bersama teman cewek juga. Apa kalian hanya berempat?"


"Tidak Yah. Kami pergi bertujuh. Juan, Selvi, Dayyan, Breena, Brian, Ani dan Quin. Nanti Selvi akan satu kamar dengan Ani dan Quin Yah. Kalau Juan satu kamar sama Brian" jelas Juan agar Ayah Selvi percaya pada nya.


"Iya uda boleh. Kalian hati hati iya pergi nya" ucap Ayah Selvi memberikan izin.


"Terima kasih Ayah. Iya nanti kami akan hati hati. Uda dulu iya Yah, Assalamualaikum" ucap Juan mengakhiri panggilan nya.

__ADS_1


Setelah panggilan nya terputus, Juan menatap semua orang yang ada didekat nya. Ia mengulas senyum lebar menatap kekasih nya yang juga melihat nya.


"Oke aman. Izin dari Ayah Selvi juga uda Juan kantongi. Kalau begitu Juan akan menghubungi pihak dari bandara biar jet pribadi nya di siapkan dan diperiksa mesin nya dulu" ucap Juan yang langsung membuat Breena tersenyum senang.


"Aaahhh terima kasih Abang. Sayang Abang banyak banyak" ucap Breena senang.


"Oke karena masalah nya uda selesai. Jadi Daddy sama Papa Doni pergi dulu. Mau menyapa rekan rekan kerja yang lain dulu" ucap Daddy Martin.


Sebelum beranjak, Daddy Martin mengeluarkan dompet nya dari saku jas nya. Ia mengekuarkan sebuah kartu dan menyodorkan nya ke Breena.


"Pakai ini untuk memenuhi keinginan cucu cucu Daddy iya sayang" ucap Daddy Martin menyodorkan salah black card nya.


"Dad, tidak perlu sampai segini nya. Daddy mengizinkan kami menggunakan jet pribadi Daddy aja uda alhamdulillah Dad. Biar untuk ngidam nya Breena, Dayyan aja yang nanggung Dad" ucap Dayyan yang berusaha menolak black card dari Daddy Martin.


"Daddy tak menerima penolakan Dayyan" ucap Daddy Martin tegas dan berwibawa.


"Tapi Dad" ucap Dayyan. Ia tak enak hati kalau ngidam anak nya dipenuhi oleh Daddy Martin. Diperbolehkan menaiki jet pribadi nya aja ia sudah bersyukur. Apa lagi ini ia dan istri nya diberikan black card khusus untuk memenuhi ngidam istri nya.


"Simpan Dayyan. Daddy hanya bisa ngasih itu untuk cucu cucu Daddy. Jadi jangan di tolak" ucap Daddy Martin memaksa Dayyan menerima nya.


"Terima kasih Dad" ucap Dayyan tulus dengan mata yang sudah berkaca kaca.


"Hmm. Sekarang pergi lah. Kasihan cucu cucu Daddy kalau ia telat makan"


"Iya ini kami akan pergi ke bandara Dad"


Dayyan, Breena, Selvi dan Juan pun langsung berdiri dan meninggalkan meja tempat mereka berkumpul. Meninggalkan para rekan rekan guru di sekolah Selvi yang melongo melihat perdebatan mereka.


"Itu yang hamil istri nya CEO Pratama.Corp. Anak nya Bapak Doni Abraham. Tapi kenapa justru Tuan Martin Anderson yang terlihat sibuk iya?" tanya Bu Yasmin.


"Iya Ibu benar. Ngidam aja di kasih black card. benar benar anak sultan itu nanti nya kalau uda lahir" ucap Bu Luna.


"Yang saya tau dari suami saya iya Ibu Ibu. Nyonya Breena mendapatkan hadiah yang sangat mewah dan diluar nalar kita ketika ia baru saja ketahuan tengah hamil. Bahkan waktu Ibu Selvi pergi ke pulau Pribadi waktu itu. Itu pulau hadiah dari mantan kekasih nya Nyonya Breena" jelas Bu Siska.


"Serius Bu?" tanya mereka tak percaya.


"Iya, saya tau dari suami saya"

__ADS_1


Berbanding terbalik dengan Breena yang sedang bahagia karena ngidam nya akan terpenuhi. Berbeda dengan Anggi.


Di atas pelaminan Anggi terlihat gelisah. Sebab Ibu Ayu belum juga terlihat kehadiran nya.


Mata nya pun mulai berkaca kaca. Ia terus saja menunduk menahan laju air mata nya yang siap menetes.


"Sayang" panggil Dion sambil mengekus bahu istri nya.


"Iya Mas" jawab nya tanpa melihat suami nya.


"Kamu kenapa sedih gitu?" tanya Dion sambil mengangkat dagu istri nya.


"Bunda Ayu belum datang juga Mas. Apa Bunda lupa sama Anggi?" tanya Anggi yang sudah menetes kan air mata nya.


"Sssttt istri Mas tidak boleh mennagis. Ini hari bahagia kita sayang. Hari yang sudah kita tunggu beberapa tahun ini. Kamu harus bahagia. Jangan nangis iya. Bisa aja kan Bunda Ayu terkena macet sayang. Kamu sendiri tau kan jarak antara panti kesini itu cukup jauh dan memakan waktu yang lama" ucap Dion lembut mencoba menenangkan sang iatri.


"Tapi kenapa sampai sekarang belum datang juga Mas?"


"Kita tunggu aja iya sayang. Sabar iya"


"Iy....."


Belum sempat Anggi melanjutkan ucapan nya. Seseorang sudah memotong nya terlebih dahulu dari arah panggung hiburan.


"Assalamualaikum, selamat sore semua para tamu yang sudah menyempatkan datang keacara ini" ucap seseorang dari panggung.


"Wa'alaikum salam" jawab semua yang datang.


"Maaf mengganggu waktu para tamu semua nya. Disini saya akan menyampaikan sesuatu untuk pengantin baru kita yang berbahagia hari ini. Karena hubungan yang mereka jalin selama beberapa tahun ini, akhir nya telah resmi di mata negara dan di agama" jeda Ibu Ayu sambil menatap pengantin baru yang ada di pelaminan dengan senyum manis nya.


"Selamat berbahagia sayang, Anggita Maharani Danuarta. Putri kecil Bunda yang sekarang sudah dewasa dan berstatus istri dari orang yang kamu cintai. Bunda do'akan sakinah mawaddah warohmah untill Jannah. Semoga kalian berdua selalu menyayangi satu sama lain. Selalu diberkahi dengan kebaikan kebaikan. Untuk Anggi pesan Bunda taat lah sama suami kamu sayang. Jangan pernah memancing emosi nya. Kamu beruntung mendapatkan lelaki yang terlalu menyayangi mu dan menerima kamu apa ada nya, tanpa memandang kamu berasal dari mana. Dan Untuk Dion, tolong jaga selalu dan lindungi putri kecil Bunda. Dia permata hati Bunda yang berhasil membuat Bunda tersenyum kembali, setelah kesakitam yang Bunda rasakan. Dia cahaya hidup Bunda selama ini. Bahagia kan dia nya Dion. Hanya itu pesan Bunda untuk kalian" ucap Bunda Ayu dengan mata yang berkaca kaca.


"Bunda sayang kalian. Semoga Allah memberikan kalian malaikat malaikat yang berhati baik, soleh dan solehah" lanjut Bunda Ayu.


Breena tak kuasa menahan tangis nya. Orang yang sedari tadi ia tunggu, sekarang berdiri di atas panggung. Dengan cepat Anggi berlari menuruni pelaminan dengan mengangkat gaun nya. Ia tak perduli dengan tatapan tatapan dari para tamu nya. Bagi nya Bunda Ayu adalah segala nya.


Setelah berdiri berhadapan dengan Bunda Ayu, Anggi langsung memeluk sang Bunda. Ia menangis di pelukan Bunda Ayu. Bahkan ia berkali kali menciumi wajah Bunda nya yang telah membesarkan nya.

__ADS_1


__ADS_2