
Hampir tiga puluh menit, akhir nya yang di tunggu pun datang juga. Pak Zainal datang bersama seorang asisten nya. Tak lupa satu buah koper berukuran sedang di bawa oleh nya juga.
"Selamat pagi Tuan Anderson" sapa Pak Zainal begitu memasuki ruang tamu mansion Anderson.
"Selamat pagi Pak Zainal. Apa kabar?"
"Baik Tuan"
"Silah kan duduk Pak Zainal" ucap Daddy Martin mempersilah kan Pak Zainal dan Asissten nya duduk.
Di ruang tamu itu sudah ada Mommy Aletha, Juan, Selvi, Brian, serta Gabriel asisten nya Daddy Martin. Mereka semua akan mendengar kan apa saja yang akan di kata kan oleh Pak Zainal.
"Apa kabar Tuan Juan? Apa Anda masih mengingat saya?" tanya Pak Zainal menyapa Juan.
Juan yang di tanya seperti itu pun mengernyit kan kening nya. Mengingat nya? Apa kami dulu pernah bertemu,? Tanya Juan dalam hati sambil memperhatikan wajah Pak Zainal.
"Pak Zainal. Seperti nya dia melupakan mu" ucap Daddy Martin sambil terkekeh.
"Seperti nya begitu Tuan" balas Pak Zainal yang juga ikut tertawa.
"Dad, apa kami pernah bertemu?" tanya Juan akhir nya.
"Iya, dulu sewaktu kau berusia sekitar tiga atau empat tahun. Bahkan kau dulu lebih dekat dengan Pak Zainal dari pada Daddy mu ini" ucap Daddy Martin tenang.
"Maaf Pak Zainal. Saya tidak mengingat Anda"
"Tak apa Tuan Juan. Itu hal yang wajar, karena dulu kita bertemu nya saat Anda maaih kecil"
"Bagaimana Tuan, bisa kita mulai?" tanya Pak Zainal.
"Boleh. Sebelum di mulai saya akan memperkenal kan terlebih dahulu istri nya Juan. Ini Anggraini Selvi. Istri nya Juan yang baru saja di nikahi nya kemarin Pak Zainal" ucap Daddy Martin memperkenal kan Selvi.
__ADS_1
Pak Zainal menatap lekat wajah Selvi. Dia seperti mengenali wajah itu.
"Maaf Nona. Kalau boleh tau siapa nama orag tua anda? Saya seperti familiar dwngan wajah Anda" tanya Pak Zainal yang masih menatap lekat wajah Selvi.
"Ayah saya bernama Galih dan Ibu nya bernama Sisil, Pak Zainal"
"Galih Baskoro dan Sisil Rahayu. Benar?" tanya Pak Zainal menebak.
"Iya Pak. Itu orang tua saya" ucap Selvi yang bingung kenapa pengacara keluarga Anderson bisa kenal dengan orang tua nya.
"Pantas saja, wajah mu secantik wajah ibu mu" puji Pak Zainal membuat Juan membelalak kan mata nya.
Bagaimana bisa pengacara Daddy nya terang terangan memuji kecantikan istri nya di depan mata nya.
"Emm Bapak mengenal orang tua saya?"
"Sangat. Bahkan saya sangat mengenal mereka. Sebab Ayah mu adalah sahabat ku. Dan Ibu dulu nya mantan kekasih ku. Mereka menikah setelah saya dan Ibu mu putus karena saya harus kuliah di luar negeri. Jadi saya memutus kan untuk mengakhiri hubungan kami. Tapi tiga tahun berselang saya mendapat kabar kalau Ayah mu akan menikahi Ibu mu. Salam iya sama orang tua mu" jelas Pak Zainal yang di balas anggukan oleh Selvi.
"Baik lah ayo kita mulai sekarang"
Lalu Pak Zainal pun meminta asisten nya untuk menaruh koper yang di bawa nya di atas meja yang ada di hadapan mereka.
Kemudian Pak Zainal membuka koper itu dengan password. Setelah terbuka terlihat lah beberapa surat surat dan tempat tempat perhiasan.
Pak Zainal mengambil satu buah map yang berisikan surat wasiat yang di tulis langsung oleh Papa nya Juan.
"Ini adalah surat wasiat yang di tulis oleh Papa kamu Juan sebelum beliau kecelakaan. Apa kamu sudah siap mendengar apa isi surat wasiat ini?" tanya Pak Zainal yang memperhatikam mimik wajah Juan yang tegang. Bahkan Juan sampai harus menggenggam tangan Selvi erat.
Juan menoleh kearah Selvi lalu ke arah Mommy Aletha. Terakhir Juan menoleh ke arah Daddy Martin. Mereka semua mengangguk kan kepala nya.
"Si–siap Pak Zainal" jawab Juan terbata.
__ADS_1
"Baik lah saya akan membaca kan inti dari surat ini saja"
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Arhan Arsenal dengan sadar menulis surat wasiat ini untuk putra saya satu satu nya, Juanda Arsenal. Setelah kamu membaca surat ini berarti Papa sudah tidak ada lagi di dunia ini. Papa hanya ingin menyampai kan pada mu, bahwa semua harta Papa akan menjadi milik mu setelah kamu menikah dengan pujaan hati mu. Tapi sebelum kamu menikah, semua harta itu akan berada di bawah kendali Tuan Martin Anderson yang Papa pilih sebagai wali mu setelah Papa dan Mama tidak ada lagi. Pengacara Taun Martin Anderson akan menyampaikan pada mu, apa saja yang akan kamu waris kan. Karena 20% harta Papa sudah Papa sumbangkan untuk panti asuhan yang membutuh kan nya.
"Itu lah isi surat wasiat yang di tulis langsung oleh Tuan Arhan Arsenal" ucap Pak Zainal setelah selesai membaca surat wasiat tersebut.
Juan yang mendengar apa yang di baca kan oleh Pak Zainal menetes kan air mata nya. Ternyata selama ini harta milik Papa nya masih aman berada di kendali Daddy Martin. Ia dulu nya berpikir, kalau harta peninggalan kedua orang tua nya jatuh ke tangan kakek dan Nenek nya. Tapi Papa nya justru menyerah kam harta nya untuk nya.
Asisten Pak Zainal mengeluar kan satu persatu map yang ada di dalam koper tersebut.
"Baik lah jadi harta milik mu adalah, berupa rumah utama tempat tinggal mu dulu bersama dengan kedua orang tua mu Juan"
Juan yang mendengar itu langsung mendongak menatap Pak Zainal.
"Bukan kah rumah itu sudah di kuasai oleh Kakek dan Nenek ku Pak Zainal?" tanya Juan tak percaya.
"Tidak, rumah itu sudah atas nama mu sebelum kedua orang tua mu meninggal. Kakek dan Nenek mu memdapat kan rumah milik Papa mu yang lain nya. Bukan rumah utama" jelas Pak Zainal.
"Selain rumah utama, kamu juga mendapat kan rumah di beberapa kota yang lain nya, tepat nya di Jogya, Semarang, Makasar dan Medan. Ini sertifikat kelima rumah yang kamu dapat kan" ucap Pak Zainal sambil menyodor kan lima buah sertifikat rumah.
Tangan Juan bergetar mengambil lima sertifikat rumah tersebut. Air mata nya masih terus berjatuhan.
"Selain rumah kamu juga mendapat kan villa di Bandung, Bogor dan Bali" ucap Pak Zainal yang kemudian menyodor kan lagi sertifikat villa tersebut.
"Kamu juga memiliki saham di AD Grup sebanyak 40%. Saham itu adalah saham Papa mu. Karena selain sebagai orang kepercayaam Tuan Martin. Papa mu juga ikut main saham di perusahaan beliau" ucap Pak Zainal sambil menyodor kan surat kepemilikan saham.
"Ini beberapa surat kepemilikan mobil milik Tuan Arhan. Dan Ini juga perhiasan milik Mama Kamu Juan" lagi lagi Pak Zainal menyodor kan surat mobil milik Papa nya dan beberapa kotak perhiasan milik Mama nya dulu.
"Ini surat kepemilikan reatauran milik Papa mu juga. Restauran ini sekarang sudah memiliki banyak cabang di beberapa kota besar" ucap Pak Zainal mengakhiri apa saja yang menjadi milik Juan.
"Ini Restuaran Ju'ars yang terkenal itu?" tanya Juan tak percaya.
__ADS_1
"Iya ini restauran milik mu Juan" ucap Pak Zainal lagi.
"Dan untuk beberapa rekening tabungan milik Tuan Arhan dan Bu Anastasya untuk saat ini sedang di beku kan. Jadi untuk semua pendapatan dari semua usaha usaha milik Almarhum Papa mu, ada di beberapa tabungan khusus milik mu yang di buat langsung oleh Tuan Martin. Dan tabungan itu di pegang langsung oleh Tuan Martin" jelas Pak Zainal.