Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Menjemput Selvi


__ADS_3

Di Jakarta


Saat ini Juan sedang berada di rumah kedua orang tua nya Selvi. Tadi malam memang mereka memutus kan untuk menginap di rumah orang tua Selvi.


Mereka kesana untuk pamit kepada Ayah dan Ibu Selvi, karena mereka akan pergi liburan ke Bandung.


"Kamu belum berangkat Juan?" tanya Ibu Sisil yang keluar rumah.


"Belum Bu. Juan masih nunggu Devano sama Mbak Nindy."


"Kenapa kamu nungguin mereka?" tanya Ibu Sisil heran.


"Juan ngajak mereka juga Bu. Kebetulan mereka juga libur, jadi mereka mau ikut. Devano juga kemarin itu bilang pengen ikut liburan barenga sama Juan dan yang lain nya Bu" jelas Juan.


"Oohh iya uda. Ibu mau ke warung dulu. Ada yang mau Ibu beli" pamit Bu Sisil.


Juan hanya mengangguk kan kepala nya. Ia lalu mengambil ponsel nya dan menghubungi istri nya.


Tak lama mobil Devano masuk ke dalam halaman rumah Ayah Galih. Devano dan Nindy pun turun dari mobil.


"Kita langsung berangkat Ju?" tanya Devano.


"Bentar lagi deh. Ibu masih ke warung." ucap Juan.


"Lo yakin mau bawa lambo Lo itu?" tanya Devano ketika melihat mobil Juan yang berada di sebelah mobil nya.


"Iya lah. Emang kenapa?"


"Kalau Lo bawa lambo Lo itu, terus koper Lo taruh mana?"


"Iya di bagasi nya lah" jawab Juan enteng.


"Emang muat?" tanya Nindy tak percaya.


"Iya muat orang kami bawa koper kecil. Kami nggak baw baju banyak. Di villa juga uda ada baju kami disana" jelas Juan.


Sepuluh menit menunggu Bu Sisil pun kembali dari warung dekat rumah nya. Ia sudah melihat kedatangan keponakan nya itu bersama suami nya.


"Kalian uda mau berangkat?" tanya Bu Sisil yang sudah berdiri disamping Nindy.


"Iya Bu. Kami mau jemput Selvi juga di sekolah. Kami langsung ke Bandung iya Bu. Nggak pulang ke rumah lagi" ucap Juan.


"Iya uda hati hati di jalan iya. Ibu panggil kan Ayah dulu"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Bu Sisil pun langsung masuk ke dalam rumah nya dan memanggil suami nya.


"Uda mau berangkat iya?" tanya Ayah Galih.


"Iya Yah. Kami pamit dulu iya Yah" ucap Juan sambil mencium tangan Ayah mertua nya itu.


"Iya kalian hati hati di jalan nya. Kalau ada apa apa segera telepon Ayah"


"Siap Yah"


Setelah berpamitan Juan, Devano dan Nindy pun memasuki mobil mereka masing masing. Juan menjalan kan mobil nya terlebih dahulu. Tujuan nya sekarang adalah sekolah sang istri.


Brruuummm


Brruuumm


Suara mobil dan Devano membuat kehebohan di sekolah nya Selvi tempat nya mengajar. Bagaimana tidak heboh. Sekolah mereka di masuki mobil mewah dan mahal. Jarang orang memiliki mobil itu karena harga nya yang sangat sangat fantastis.


Juan dan Devano memarkir kan mobil mereka di parkiran khusus roda empat. Kemudian mereka keluar dari dalam mobil dan menunggu Selvi di depan mobil mereka.


Banyak pasang mata yang memperhatikan Juan dan Devano. Terutama para siswi SMA dan guru yang masih single. Mereka terpesona melihat wajah tampan kedua pilot tersebut.


'mereka ganteng banget'


'iya pasti jemput Bu Selvi lah" jawab salah satu siswi yang sudah mengenal siapa suami nya Selvi.


'Bu Selvi?"


"Iya. Tuh yang pakai kaos press body suami nya Bu Selvi"


Kedua siswi itu menatap tak percaya. Guru nya yang diketahui baru menikah itu ternyata menikah dengan lelaki yang sangat tampan.


Nindy yang melihat beberapa siswi SMA yang terpesona oleh ketampanan suami nya pun langsung turun dari mobil dan menghampiri sang suami.


"Kenapa keluar sayang? Disini panas" ucap Devano sambil menutupi wajah istri nya dari terik matahari.


"Sebel aku. Mereka lihatin kamu sebegitu nya banget. Uda kaya yang nggak pernah lihat orang ganteng aja" ucap Nindy yang sudah mengerucut kan bibir nya.


Devano bukan nya kesal di bilang seperti itu. Dia justru tersenyum mendengar ucapan sang istri.


"Jadi aku ganteng nih?" tanya Devano sambil menaik turun kan alis nya.


"Ck"

__ADS_1


Nindy semakin mengerucut kan bibir nya. Sedang kan Devano membawa Nindy kedalam pelukan nya. Dan menyembunyi kan wajah cantik istri nya itu di dada bidang nya agar tak terkena matahari.


"Ck! Malah mesra mesraan" kesal Juan.


Nindy dan Devano pun sama sama terbawa melihat Juan yang kesal.


Teeeetttt


Teeeetttt


Bunyi suara bell sekolah pun terdengar. Itu bell pulang sekolah. Satu persatu siswa siswi berkeluaran menuju ke gerbang sekolah. Dan ada yang beberapa mengambil kendaraan mereka sendiri.


Juan, Devano dan Nindy pun masih setia berdiri di depan mobil mereka menunggu kedatangan Selvi.


Di kantor guru, Selvi sedang terburu buru memberes kan meja kerja nya. Hal itu di perhatikan oleh beberapa guru yang berada di dekat nya. Tak terkecuali Bunda Aisyah.


"Bu Selvi kenapa seperti nya sedang terburu buru?" tanya seorang guru yang meja nya berada di belakang meja Selvi.


"Iya bu, saya memang lagi buru buru. Suami saya sudah menunggu di luar" jawab Selvi ramah.


"Tumben Bu Selvi di jemput?" tanya guru yang meja nya ada di samping kanan Selvi.


"Iya Bu, kami mau lamgsung ke Bandung hari ini"


"Oohhh mau liburan iya Bu Selvi?" tanya guru yang ada di depan Selvi.


"Iya Bu. Liburan sama sahabat nya Bang Juan. Mereka uda dari kamarin ke Bandung nya. Kami menyusul hari ini"


"Enak dong yang uda nikah sama orang kaya. Bisa liburan terus. Apa lagi liburan nya sama para sultan. Mana mikir kalau mau mengeluar kan uang. Nggak kaya kita kita yang mau ngeluarin uang mikir dulu. Mereka mah bebas" sindir guru yang memang tak menyukai Selvi.


Selvi tak menanggapi. Dia hanya tersenyum menjawab sindiran dari guru tersebut.


"Kalau gitu saya duluan iya Ibu Ibu semua nya." pamit Selvi sama semua guru yang memperhatikan nya.


"Ayo Bunda. Bunda pulang juga nggak?" tanya Selvi sama Bunda Aisyah.


"Pulang dong sayang, ngapain Bunda disini. Bisa bisa Ayah mu bakalan galau kalau Bunda nggak pulang" canda Bunda Aisyah. Membuat Selvi dan beberapa guru yang mendengar candaan Bunda Aisyah tertawa.


"Bunda ada ada aja. Ayo kalau gitu Bun. Ayah pasti uda nungguin Bunda di parkiran" ajak Selvi sambil menggandeng tangan Bunda Aisyah.


Selvi dan Bunda Aisyah pun berjalan beriringan menuju ke parkiran khusus guru. Sepanjang perjalanan menuju ke parkiran. Beberapa pasang mata melihat ke arah Selvi dengan tatapan iri nya.


Mereka iri karena Selvi bisa mendapat kan suami yang menjadi idaman semua kaum hawa.

__ADS_1


__ADS_2