
Setelah kembali ke rumah masing masing. Setiap suami pun mengungkap kan rencana mereka untuk ikut Dayyan dan Breena ke Bandung ke pondok pesantren orang tua Dayyan. Juga Juan yang tadi juga ikut mengajak mereka singgah ke villa nya yang ada di daerah Bandung.
Setelah di telusuri oleh Juan, ternyata Villa nya tidak jauh dari pondok pesantren Abah Arsya. Jadi Juan pun sekalian mengajak mereka menginap disana nanti nya.
Di mansion Anderson.
Brian dan Ani sedang berada di dalam kamar mereka. Brian sedang duduk di tempat tidur dan menyandar di headbord tempat tidur mereka, dengan Ani yang duduk di depan Brian dan menyandar di dada bidang Brian.
"Sayang. Dayyan lusa mau ke Bandung tempat Abah dan Umma. Dia tadi juga mengajak kita semua untuk kesana. Kamu mau ikut juga nggak?" tanya Brian yang sambil menciumi rambut istri nya itu.
"Apa tidak masalah kalau kita pergi bawa Baby Keen, Mas?"
"Tidak sayang. Keen juga sudah lebih dari 40 hari. Abah dan Umma pasti senang kalau kita juga ikut kesana. Gimana?"
"Sebenar nya Ani juga uda kangen sama Umma Mas. Kalau memang tidak masalah kita membawa Keen. Iya uda kita ikut juga. Tapi tetap bawa Quin iya Mas. Ani nggak mau nanti di pikir Quin karena uda ada adek Keen, Quin tidak di sayang lagi"
"Iya sayang. Quin tetap dan harus kita bawa. Lagian Nova juga akan ikut kok. Jadi Quin nggak akan merasa di acuh kan sama kita. Selama ini juga kita nggak pernah kan mengabai kan Quin dan mendahului Keen. Kita selalu adil membagi kasih sayang dan perhatian kita sama kedua malaikat kecil kita" ucap Brian dengan suara lembut nya.
"Iya Mas benar. Quin itu uda seperti anak Ani sendiri. Ani juga nggak akan membeda beda kan kasih sayang Ani untuk kedua anak kita"
Kini Ani pun membalik kan tubuh nya. Ia menatap suami nya dengan tatapan lembut dan penuh cinta. Ia merasa bersyukur bisa di nikahi oleh seorang Brian Anderson. Lelaki yang tak pernah ia sangka akan menjadi suami nya. Imam nya dalam rumah tangga.
"Love you Daddy" ucap Ani lembut dengan senyuman manis nya.
"Love you more Bunda" balas Brian. Lalu Brian pun mendekat kan wajah nya. Dan mengecup bibir ranum Ani sebentar.
Brian membawa Ani ke dalam dekapan nya. Brian tak menyangka. Hidup nya yang pernah terpuruk karena penyesalan dan rasa bersalah nya pun di bayar dengan kebahagiaan oleh Allah.
Brian pun tak menyangka. Rasa cinta nya kepada Ani berbeda saat waktu ia bersama dengan Breena yang sudah bertahun tahun ia jalani. Brian sangat bersyukur bisa menikahi Ani, wanita sholehah yang di temui nya yang bisa menggetar kan hati nya saat pertama berjumpa.
__ADS_1
......................
Sedang kan itu di mansion Danuarta. Anggi dan Dion saat ini sedang duduk bersantai di halaman belakang mansion bersama dengan kedua orang tua Anggi. Jangan di tanya kemana Thomas. Sudah pasti dia berada di dalam kamar nya. Karena ia begitu lelah dengan kegiatan nya hari ini yang banyak.
"Mom Dad, ada yang ingin Dion kata kan" ucap Dion hati hati.
Daddy Steven dan Mommy Rianti pun saling tatap. Lalu mereka bersamaan kembali menatap Dion yang sedang menggenggam tangan Anggi.
"Ada apa Dion?" tanya Mommy Rianti.
"Emm, Dayyan mengajak kami untuk berlibur ke Bandung lusa Mom. Terus Abang Juan juga ngajak ke villa milik nya. Apa Dion boleh membawa Anggi juga ikut sama mereka Mom?" tanya Dion takut takut.
Mommy Rianti pun terdiam mendengar apa yang di sampai kan oleh Dion barusan. Bergitu pun dengan Daddy Steven. Tatapan nya pun langsung tak terbaca lagi mendengar apa yanh di sampai kam Dion juga.
"Berapa hari?" tanya Daddy Steven.
"Hanya beberapa hari saja Dad. Sekalian menghabis kan waktu weekend juga" jawab Dion yang masih menunduk.
"Belum Dad" jawab Anggi dan Dion berbarengan.
"Kalau begitu besok kita sama sama ke dokter. Kita lihat apakah Anggi bisa di bawa ke perjalanan jauh apa nggak." putus Daddy Steven.
Anggi begitu bahagia mendengar kan apa yang di katakan omeh Daddy Steven.
"Baik Dad. Makasih" jawab Anggi dan Dion serentak.
Di rumah Juan dan Selvi.
Juan saat ini sedang menghubungi Devano, menanyakan berada dimana saat ini dia nya.
__ADS_1
"Hallo Dev, lo dimana?" tanya juan ketika sambungan telepon nya di angkat oleh Devano.
"Gue di rumah. Ada apa?"
"Bisa ke rumah gue nggak?"
"Lah yang butuh elo kenapa gue yang lo suruh ke rumah lo. Aneh lo" omel Devano.
"Elah tinggal datang aja apa susah nya sih. Uda cepat lo ke rumah gue. Gue sibuk nggak bisa ke rumah lo" ucap Juan lalu ia langsung mematikan telepon nya.
"Yakin gue kalau si Devano itu lagi ngomel. Hahhaha emang enak gue kerjain" gumam Juan sambil terkekeh.
Selvi yang baru saja keluar dari kamar mandi nya melihat sang suami yang tertawa pun merasa heran. Kenapa lagi sama suami nya ini.
"Abang kenapa?" tanya Selvi sembari duduk di kursi meja rias nya dan mulai memakai perawatan wajah nya.
"Nggak papa sayang. Duuhh cantik nya istri Abang." puji Juan agar Selvi melupakan pertanyaan nya tadi.
"Muji muji pasti ada mau nya"
"Kamu tau aja sih. Tapi nanti malam aja deh. Soal nya Devano mau kesini"
"Mau ngapain rupa nya Bang? Tumben Mas Dev mau kesini?" tanya Selvi yang penasaran.
"Abang mau ngajak dia liburan bareng kita ntar ke Bandung. Dia kan kemarin itu minta ikut kalau kita mau liburan. Jadi mumpung ini mau libur panjang, dan Dayyan juga ngajakin ke Bandung tempat Umma. Jadi iya uda Abang mau sekalian ajak Devano juga. Nanti kita juga akan ke villa kita sayang." jelas Juan yang hanya di angguki oleh Selvi.
"Tapi kita pergi nya jum'at iya Bang, sepulang sekolah" pinta Selvi.
"Iya sayang. Kita pergi nya Jum'at siang. Abang pun tadi uda bilang sama mereka kalau kita bisa nya nyusul,. Nggak bisa ikut sama rombongan mereka"
__ADS_1
"Iya Bang. Nggak mungkin kan Selvi cuti lagi. Uda banyak banget cuti nya Selvi bulan ini. Nanti apa kata guru guru yang lain. Mereka pasti cemburu. Jangan kan masalah cuti bang. Selvi ke sekolah bawa mobil yang abang kasih aja uda di nyinyirin sama mereka. Untung ada Bunda Aisyah yang bela Selvi semalam itu bang"
Juan yang baru tau kalau istri nya di nyinyirin di sekolah pun merasa terkejut. Bagaimana mungkin dia baru tau sekarang. Sedang kan kejadian itu aja uda lebih dari sebulan yang lalu.