
Didalam feeting room, Ani dan Anggi sepakat tidak akan memperlihatkan gaun yang akan mereka pakai saat acara resepsi nanti. Biarlah akan jadi kejutan untuk kedua pasangan mereka.
Ani yang sudah selesai terlebih dahulu feeting nya, kini sedang menunggu Anggi yang sedang mengganti gaun nya yang ketiga.
Ani duduk sambil memainkan ponselnya. Ia membaca pesan yang tadi sempat masuk saat ia mengganti gamis nya. Dan ternyata pesan itu dari Umma Hanum.
Ani tak membalas pesan itu tetapi langsung menelpon Umma Hanum melalui panggipan video.
"Assalamualaikum Umma" sapa Ani ketika panggilan nya sudah diangkat.
"Wa'alaikum salam Nduk. Kamu masih di butik?" tanya Umma Hanum
"Iya Umma masih nunggu Mbak Anggi ganti gaun yang ketiga Umma. Umma lagi dimana?" tanya Ani yang melihat Umma Hanum seperti sedang tidak di ndalem.
"Umma lagi di luar Nduk. Lagi lihat lihat tempat yang pas untuk acara nikahan kamu nanti. Karena ada perubahan rencana Nduk" jelas Umma Hanum lembut.
"Maksud nya gimana Umma? Ani nggak ngerti" tanya Ani yang tak paham.
"Rencana awal kan Akad dan resepsi nya akan di adakan di Jakarta. Tetapi Pak Bagaskara mengatakan lebih bagus akad nya di pesantren aja. Jadi resepsi nya yang di Jakarta 3 hari setelah akad" jelas Umma Hanum.
"Kenapa jadi seperti itu Umma? Apa Paman Aska ada mengatakan sesuatu?"
"Iya Nduk. Paman mu itu takut kalau saat nanti di acara akad, ternyata ada orang suruhan dari paman tiri mu. itu akan sangat berbahaya Nduk. Karena Paman Aska mu itu yang akan menikahkan kamu nanti. Walau pun keluarga calon suami mu akan menjaga acara itu. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau Paman tiri mu tidak memiliki rencana buruk. Jadi setelah berunding antara Abah, Paman mu, dan Daddy nya Brian. Kami sepakat akad nikah nya dipesantren" jelas Umma Hanum lembut.
"Apa Mas Brian tau mengenai rencana ini Umma?" tanya Ani memastikan.
"Mungkin sudah tau Nduk. Nanti kamu tanyakan aja iya Nduk"
"Iya Umma nanti Ani tanyakan. Kalau gitu uda dulu iya Umma. Mbak Anggi uda selesai feeting nya. Kami mau gabung sama yang lain dulu. Assalamualaikum Umma" pamit Ani.
"Wa'alaikum salam. Oiya Nduk kamu cantik pakai gamis tadi" puji Umma Hanum.
"Terima kasih Umma"
Panggilan pun terputus. Sekarang didalam kepala Ani begitu banyak pertanyaan pertanyaan yang akan ia tanyakan nanti kepada calon suami nya.
"Uda Mbak?" tanya Ani ketika Anggi sudah menghampiri nya lagi.
"Uda, ayo kita keluar menemui para lelaki itu" ajak Anggi sambil menggandeng tangan Ani.
Sesampainya diluar Ani dan Anggi pun melihat kearah sofa dimana diterdapat 3 orang pria dan satu orang wanita hamil yang sedang bermanja dilengan suaminya.
"Uda selesai sayang?" tanya Dion saat melihat Anggi dan Ani menghampiri mereka.
__ADS_1
"Uda Mas. Mas Dion sama Mas Brian uda feeting belom?" tanya Anggi yang langsung duduk disebelah Dion. Sedangkan Ani lebih memilih duduk disebelah Breena.
Dan dimana Mbak Dina? Ya Mbak Dina sudah kembali ke mobil membawa barang belanjaan Breena. Dan diminta Breena langsung kembali ke rumah mereka bersama Kang Ali.
"Uda sayang baru aja selesai" jawab Dion.
"Mas makan yuk. Breena laper" rengek Breena manja.
"Oke ayo kita makan dulu. Kasihan bumil twins uda lapar" bukan Dayyan yang menjawab tetapi Brian yang menjawab dengan nada bercanda.
"Daddy yang bayarin iya" ucap Breena sambil mengerjap ngerjap kan mata nya.
"No sayang. Hari ini Mas yang bayarin. Kasihan Daddy uda habis uang nya kamu pakai untuk belanja tadi" tolak Dayyan.
"Alhamdulillah selamat kartu kredit ku" ucap Brian dengan senyum mengejek nya.
"Oke deh siapa pun yang bayar terserah, tapi twis mau makan udon. Jadi ayo kita ke restauran Jepang" ajak Breena yang langsung berdiri dan meninggalkan kelima orang yang menatap nya aneh.
"Bumil mah memang super banget ngidam nya" ucap Brian yang mendapat kekehan dari yang lain.
"Sabar Mas. Hitung hitung belajar ngadepin bumil sebelum Mbak Ani hamil anak Mas" canda Dion sambil terkekeh.
"Iya uda kita jumpa di restauran Jepang iya" ucap Dayyan yang langsung berjalan menyusul istri nya.
"Jadi Mas Brian uda di rampok berapa sama bumil itu?" tanya Anggi yang penasaran.
Bukan Brian yang menjawab melain kan Dion. Anggi dan Ani melongo mendengar jawaban Dion.
"Banyak banget" jawab Ani refleks.
Bagi Ani yang tak pernah memegang uang banyak. Uang sebanyak itu membuat nya pusing. Bagaimana bisa Breena sekali belanja menghabiskan uang sebanyak itu. Itu lah yang ada didalam pikiran nya.
Anggi yang melihat Ani yang terdiam pun menatap kearah nya.
"Mbak kenapa?" tanya Anggi namun tidak ada sahutan dari Ani.
"Dek" panggil Brian karena Ani masih terdiam.
"Dek kenapa?" tanya Brian lagi.
"Mas uang segitu banyak apa nggak sayang uang nya hanya untuk beli baju? Kalau di buat bangun rumah kira kira bisa sebesar apa iya Mas?" tanya Ani polos.
Brian yang mendengar pertanyaan Ani justru tersenyum.
__ADS_1
"Bagi kami yang dari keluarga pengusaha uang segitu tidak ada apa apa nya Dek. Yang penting bahagia. Mungkin karena Adek yang biasa nya hidup sederhana di pesantren, akan terkejut ketika melihat istri istri para pengusaha kalau lagi berbelanja. Nanti setelah menikah kamu juga akan mendapatkan jatah bulanan yang lebih besar dari itu Dek" jelas Brian lembut. Ia juga tak ingin membuat Ani tersinggung karena kata kata nya.
"Maaf Mas Ani nggak tau. Walau pun dulu Ani pernah hidup bergelimang harta tapi sewaktu kecil. Tapi itu hanya sebentar, sebab Ani langsung di masukan ke pesantren nya Umma. Ani nggak mau nuntut Mas harus ngasih uang bulanan lebih banyak dari yang Mas abis kan hari ini untuk Breena. Bagi Ani sudah cukup Mas sayang dan cinta sama Ani. Terima Ani apa ada nya. Dan bisa jagain Ani dari saudara tiri nya Ayah Ani" ucap Ani dengan mata yang berkaca kaca.
"Mas pasti akan selalu menyayangi mu dan mencintai mu Dek. Mas akan selalu menjaga dan melindungi mu" ucap Brian dengan tulus.
"Duuuhhh kok jadi melow sihhh. Jadi pengen nangis. Uda aahhh nggak usah di bahas lagi soal uang. Bahas itu nggak ada abis nya. Sekarang ayo kita susul bumil yang lagi ngidam udon itu" ajak Anggi sambil menggandeng tangan Ani meninggalkan dua pria tampan ditempat nya.
Beberapa menit kemudian. Tiga mobil mewah memasuki parkiran sebuah Mall besar. Mereka akan ke restauran Jepang sesuai permintaan bumil.
Sebelum masuk ke dalam Mall, Dayyan meminta Ani untuk menggunakan masker. Bukan apa apa. Dayyan tidak mau kalau orang suruhan saudara tiri Ayah Ani itu mengetahui keberadaan nya. Di dalam restauran itu pun, Dayyan sengaja memesan ruangan VIP agar privasi mereka tidak terganggu oleh pelanggan yang lain.
Breena pun memesan semua jenis menu makanan udon dan sushi. Bahkan ia juga yang memesan makanan untuk yang lain nya.
Disela sela menunggu makanan mereka datang, tiba tiba ucapan Breena menghentikan pembicaraan mereka semua.
"Kok aku pengen ke pulau pribadi naik jet pribadi iya?" ucap Breena tanpa merasa bersalah.
"Kamu ngidam lagi sayang?" tanya Dayyan sambil mengelus perut istrinya.
"Iya deh Mas. Kaya nya enak gitu kalau kesana naik jet pribadi" ucap Breena polos.
"Iya uda kita sewa jet pribadi nanti iya. Biar dedek nyaman duduk nya" ucap Dayyan lembut.
"Eehh eehhh nggak usah nyewa Pak Bos. Naik jet pribadi Daddy aja" ucap Anggi menyela ucapan Dayyan.
"Nggak enak lah Nggi naik jet pribadi nya Daddy Steven"
"Nggak papa Mas biar aku telepon Daddy dulu iya" ucap Anggi.
Tanpa menunggu jawaban dari Dayyan, Anggi langsung menelpon Daddy nya.
"Hallo princess" ucap Daddy Steven lembut.
"Dad, apa besok jet pribadi ada yang pakai?" tanya Anggi to the point.
"Iya princess. Bukan besok tapi nanti sore Daddy ada perjalanan bisnis ke Amerika. Kenapa sayang?"
"Yyyaaaahh nggak bisa pakai dong Anggi" ucap Anggi lesu.
"Kenapa princess?" tanya Daddy Steven lagi.
"Breena ngidam Dad, mau ke pulau pribadi besok tapi naik jet pribadi kesana nya" ucap Anggi lemah.
__ADS_1
"Sorry princess, tapi Daddy benar benar tidak bisa meminjam kan nya. Karena ada perjalan bisnis ke Amerika" ucap Daddy Steven merasa bersalah.
"Nggak papa Dad. Masih ada jet pribadi Anderson. Biar Brian hubungi Juan nanti" ucap Brian menyela pembicaraan anak dan ayah itu.