Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Syarat Pindah Rumah Dari Selvi


__ADS_3

Juan satu harian itu menghabis kan waktu nya bersama Selvi di rumah nya dulu. Rumah yang penuh dengan kenangan bahagia bersama kedua orang tua nya. Walau pun terkadang Mama nya selalu menemani Papa nya ketika dinas ke luar kota. Tapi tetap saja banyak kenangan kenangan bahagia di rumah itu.


Apa lagi ketika Juan tau kalau pengasuh nya dulu Mbok Fatimah masih bekerja di rumah nya sampai saat ini. Mbok Fatimah adalah pekerja terlama di rumah nya Juan.


Ketika Juan dan Selvi sampai di halaman taman belakang, ternyata banyak sekali pohon pohon yang di tanam disana. Bahkan pohon pohon itu sedang berbuah.


Tapi ada yang membuat Selvi heran. Kenapa buah yang di tanam bukan buah buahan lokal?


"Abang, siapa yang nanam semua pohon ini?"


"Abang dan Mama sayang. Kenapa?"


"Kenapa buah nya Apel, Plum, dan semua jenis buah berry? Kenapa tidak buah lokal saja?" tanya Selvi penasaran.


"Buah lokal ada kok. Tapi nggak di halaman belakang. Kalau disini memang khusus buah buahan ini semua. Karena Mama sangat suka semua buah buahan ini."


Selvi tak menjawab, dia hanya mengangguk kan kepala nya.


"Ayo kita panen buah nya" ajak Juan.


Kemudian Juan pergi ke gudang tempat penyimpanan keranjang buah. Dia membawa dua buah keranjang besar untuk menempati buah buahan yang di ambil mereka.


Dengan semangat Selvi memetik semua buah yang ada di halaman belakang. Bahkan ia sampai langsung memakan nya disana.


Kebahagiaan Juan dan Selvi tak lepas dari penglihatan Mbok Fatimah dari jendela yang menghadap ke halaman belakang. Mbok Fatimah tersenyum melihat tawa kebahagiaan Juan.


"Setelah dua puluh tahun lebih, akhir nya Mbok bisa melihat tawa kamu lagi Juju. Mbok sangat merindu kan kamu. Berbahagia lah Ju, Mbok akan selalu mendampingi kamu sampai nafas terakhir Mbok" gumam Mbok Fatimah.


Selesai memanen buah buahan yang ada, Juan dan Selvi pun langsung masuk ke dalam rumah dengan membawa empat keranjang buah. Ternyata dua keranjang buah tadi tak cukup untuk menempati buah buahan yang mereka panen. Juan dan Selvi kalap ketika memanen buah buahan tersebut.


"Maaf iya Bang, karena kalap jadi nya banyak banget buah yang di ambil" ucap Selvi merasa bersalah.

__ADS_1


"Nggak papa sayang. Nanti kita bagi kan sama Daddy dan Ayah. Tenang kita punya banyak pasukan yang bisa menghabis kan buah buahan ini semua" jawab Juan sambil terkekeh.


"Beneran nggak papa Bang? Selvi jadi nggak enak" ucap Selvi yang masih merasa bersalah.


"Nggak papa sayang. Uda iya jangan merasa bersalah gitu. Nanti juga kamu setiap hari akan memetik nya. Nanti ajak aja Mbok Fatimah buat metik buah nya. Atau kalau kamu mau buah lokal, juga bisa kok kamu petik langsung. Tapi kalau pas lagi buah iya" canda Juan yang membuat Selvi langsung mengarah kan tangan nya mencubit perut kotak kotak nya Juan.


Bukan nya kesakitan Juan justru semakin tertawa di buat tingkah nya Selvi.


"Juju makan malam disini kan?" tanya Mbok Fatimah yang tiba tiba datang.


"Bagaimana sayang?" bukan nya menjawab, tapi Juan justru bertanya pada istri nya.


"Boleh Mbok. Kalau gitu ayo kita masak Mbok" ajak Selvi.


"Loohh nggak usah Non. Biar simbok aja yang masak sama pelayan yang lain. Non sama Juju disini aja menikmati buah buahan nya." tolak Mbok Fatimah yang tidak enak kalau Selvi juga ikut membantu memasak makan malam mereka.


"Nggak papa Mbok. Aku juga terbiasa masak kok sama Ibu. Ayo mbok kita masak" ajak Selvi sambil membawa Mbok Fatimah ke dapur.


Setelah hampir satu jam Selvi dan Mbok Fatimah memasak di dapur. Hanya Selvi dan Mbom Fatimah saja yang masak. Pelayan yang lain yang ingin membantu di tolak oleh Selvi. Karena dia ingin menyajikan makan malam hasil masakan nya bukan masakan pelayan untuk suami nya.


Selesai memasak Juan dan Selvi mengajak Mbok Fatimah untuk bergabung makan dengan mereka. Walau pun sudah di tolak, tapi Juan dan Selvi tetap memaksa Mbom Fatimah. Jadi mau tidak mau Mbok Fatimah mau makan bersama dengan merek.


"Jadi kapan kamu akan pindah kesini Ju?" tanya Mbok Fatimah ketika mereka sudah menghabis kan makanan nya.


"Belum tau Mbok. Kami belum merunding kan nya dengan orang tua Selvi. Lagi pula besok Juan dan Selvi mau honeymoon Mbok. Mungkin pulang dari honeymoon baru kami merunding kan nya dengan keluarga yang lain juga" jawab Juan sambil berpikir kapan waktu yang tepat untuk nya pindah.


"Baik lah. Mbok akan menunggu kalian pindah kesini. Oiya soal kamar, kamu mau pakai kamar yang mana?"


"Sayang kamu mau pakai kamar yang mana? Kamar utama, atau kamar Abang yang dulu, atau mau kamar yang baru?" tanya Juan meminta pendapat Selvi.


"Selvi nggak mau kamar utama Bang. Kamar itu kan kamar Mama dan Papa nanti kalau kita tempati pasti semua akan di rombak. Gimana kalau kita di kamar Abang yang dulu aja?"

__ADS_1


"Emmm boleh juga sih kamar Abang yang dulu. Iya uda nanti kamu kasih tau aja kamar impian kamu yang gimana, biar nanti Abang kasih tau sama arsitek di AD grup biar dia aja yang ngerjain kamar impian kamu"


Akhir nya kesepakatan pun sudah terjadi. Kamar Juan yang dulu yang akan di rombak jadi kamar mereka nanti nya. Jadi ketika Juan pulang dari honeymoon , kamar itu pasti sudah selesai.


"Mbok kami pulang dulu iya. Kami mau ke mansion Anderson dulu, mau ngantar buah buahan ini. Beson kami akan honeymoon ke Aceh sama ke Danau Toba. Mbok mau di bawa kan oleh oleh apa?"


"Mbok mau di bawa kan cucu aja iya Ju. Mbok berdoa semoga kalian cepat di berikan momongan. Biar rumah ini semakin ramai dengan tangisan bayi kalian. Kamu tau Ju, selama dua puluh tahun lebih, rumah ini seperti tidak ada nyawa nya. Sunyi dan sepi" ucap Mbok Fatimah dengan wajah sendu nya menatap Juan yang juga menatap sendu kearah nya.


"Tapi untuk hari ini, rumah ini hidup kembali. Mbok bahagia, akhir nya kamu kembali nak. Jantung rumah ini kembali bersama istri nya. Mbok berharap rumah ini akan selalu ramai dengan kebahagiaan kalian dan anak anak kalian nanti nya" ucap Mbok Fatimah penuh harap.


"Insya Allah Mbok. Insya Allah rumah ini akan kembali ramai dan penuh kebahagiaan lagi. Mbok jangan sedih lagi iya. Setelah pulang dari honeymoon, Selvi dan Abang akan tinggal disini bersama Mbok. Tapi dengan syarat" bukan Juan yang menjawab tapi Selvi.


"Syarat?"


"Iya syarat nya, Mbok harus tinggal di rumah utama bersama kami. Mbok nggak boleh lagi tinggal di kamar paviliun. Bagaimana Mbok?" tanya Selvi tersenyum tulus.


"Tapi..."


"No tapi tapi Mbok. Selvi benar. Kalau Mbok mau Juan tinggal disini, berarti Mbok juga harus tinggal di rumah utama. Bukan di paviliun lagi" ucap Juan tak menerima penolakan.


"Baik lah Mbok bersedia" jawab Mbok Fatimah pasrah.


"Iya uda kalau gitu kami pergj dulu ita Mbok. Sampai bertemu lagi Mbok. Dan iya Mbok harus menempati kamar tamu yang ada di lantai bawah. Biar Mbok nggak capek naik turun tangga. Jadi nanti Mbok tinggal bilang sama arsitek nya. Untuk. Mendesain kamar Mbok sendiri"


"Iya iya Mbok akan lakukan apa pun asal kan kamu kembali ke rumah ini lagi Juju"


"Iya uda kami pamit iya Mbok"


Setelah pamit, Juan dan Selvi pun keluar dari rumah itu dan memasuki mobil mereka dengan buah yang sudah duduk cantik di kursi belakang.


Juan langsung mengendarai mobil nya menuju ke mansion Anderson terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2