Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Dua hari telah berlalu. Seperti apa yang di kata kan oleh Dayyan tempo hari sama Dion. Kalau hari ini ia akan kembali ke Jakarta. Dan besok ia akan mengungkap kasus penggelapan dana proyek di perusahaan nya.


Kemarin Mommy Aletha, Daddy Martin serta Ibra dan keluarga nya telah kembali ke Jakarta terlebih dahulu. Mereka kembali duluan karena akan mempersiap kan kedatangan menantu di mansion mereka.


Papa Doni dan Mama Ratih juga kembali. Namun mereka bukan kembali ke Jakarta. Justru mereka pergi ke cabang rumah sakit nya yang ada di daerah Bandung. Memang letak nya sedikit jauh dari area pesantren. Maka dari itu mereka lebih memilih tinggal di rumah mereka yang dekat dengan rumah sakit nya. Agar tidak kejauhan ketika mereka pulang dari rumah sakit.


Mama Ratih dan Papa Doni akan kembali 2 hari sebelum resepsi Brian dan Ani.


Sedangkan Dayyan dan Breena tentu saja masih betah di pesantren. Bukan tanpa alasan. Sudah pasti Breena betah karena dia setiap hari akan memetik semua buah buahan yang ada di area pesantren. Termasuk juga yang ada di kebun milik Abah Arsya.


Dan hari ini sebelum kembali, pagi pagi sekali selepas Subuh, Breena mengajak suami serta mertua nya ke kebun strawberry untuk memetik buah merah itu terlebih dahulu.


Siang hari nya, Breena dan Dayyan sudah mulai sibuk memasuk kan barang yang akan mereka bawa ke Jakarta. Banyak buah yang mereka bawa.


Tak ketinggalan, Brian juga melakukan itu. Ia juga ikut bersama Ani pagi tadi ke kebun strawberry milik Abah Arsya. Dengan riang nya Ani bersama Breena memetik buah buahan yang ada.


"Semua nya sudah di masuk kan ke mobil Nang?" tanya Umma Hanum menghampiri anak dan menantu nya.


"Sudah Umma" jawab kedua nya kompak.


"Kalian hati hati ia nanti di jalan. Jangan ngebut ngebut bawa mobil nya" pesan Umma Hanum.


"Iya Umma. Lagian Ian bawa bumil kembar Umma. Mana tega Ian bawa mobil nya ngebut ngebut" ucap Dayyan dengan senyuman nya.


"Bri juga Umma. Bri nggak mungkin bawa Ani ngebut ngebutan. Bisa bisa Bri di suruh tidur di luar Umma" canda Brian membuat Umma Hanum dan Dayyan terkekeh.


"Ada ada aja kamu Nang" ucap Umma Hanum masih dengan kekehan nya.

__ADS_1


Ani dan Breena pun keluar dari dalam rumah. Dua wanita beda usia itu kompak menggunakan baju gamis berwarna taro dengan cardigan brukat berwarna putih.


Dayyan dan Brian pun mengernyitkan kening nya. Lalu saling memandang melemparkan tanya melalu tatapan mereka. sejak kapan mereka punya baju yang sama? Lalu kedua nya kompak menggelengkan kepala nya.


"Umma, sejak kapan mereka berdua memiliki baju yang samaan seperti itu?" bisik Dayyan di telinga Umma Hanum.


"Masa kamu nggak tau kapan istri mu itu punya baju samaan sama Ani"


"Beneran Ian nggak tau Umma"


"Beberapa hari yang lalu sebelum pernikahan, mereka berdua kompak membeli baju di online yang berwarna biru. Umma, Mommy Aletha, Mama Ratih, Quin juga di belikan. Bahkan Quin senang banget sama baju nya" jelas Umma Hanum.


Dayyan pun berpikir. Lalu ia ingat ada laporan uang keluar dari atm yang di berikan nya kepada Breena. Jadi uang keluar itu untuk membayar belanja online nya. Dayyan pun menggelengkan kepala nya. Tingkah istri nya sejak hamil sungguh di luar dugaan nya.


"Mas sudah siap?" tanya Breena sambil menggelayut di lengan suami nya.


"Uda sayang. Mau berangkat sekarang?" tanya Dayyan sambil mengelus puncak kepala sang istri.


"Iya uda ayo kita pulang. Mas uda kangen sama rumah kita yang nggak pernah kita tiduri" ucap Dayyan sedikit menyindir istri nya.


Bagaimana mau di tiduri kalau orang yang punya rumah aja selalu keluar kota, memenuhi ngidam sang istri.


"Hehehe kan dedek yang minta jalan jalan terus Mas" ucap Breena sambil memamerkan gigi putih nya.


"Umma kami pamit dulu iya. Salam iya Umma sama Abah. Maaf nggak bisa pamit langsung sama Abah" ucap Breena sambil memeluk Ibu mertua nya.


"Iya nggak papa Nduk. Abah juga kan lagi ngisi kajian di desa sebelah. Kalian hati hati iya bawa mobil nya"

__ADS_1


"Iya Umma. Dadah Umma Assalamualikum" ucap Breena yang kemudian menyalami dan mencium tangan Umma Hanum dan di ikuti oleh Dayyan. Tak lupa Dayyan mencium kening Umma Hanum lama.


"Umma, Ani pergi dulu. Maaf kalau selama ini Ani punya salah sama Umma dan Abah. Terima kasih telah membesarkan Ani, menjaga Ani sampai Ani mendapatkan Jodoh" ucap Ani dengan mata yang sudah berkaca kaca. Ia tak pernah menduga kalau akhirnya ia akan menikah dan keluar dari pesantren yang sudah menjaga dan membesarkan nya, setelah kedua orang tua nya meninggal dunia.


"Umma sudah memaafkan kamu Nduk. Baik baik iya di rumah mertua kamu. Jangan pernah membantah apa pun ucapan suami kamu iya Nduk. Umma minta kamu menyayangi keluarga suami mu seperti kamu menyayangi keluarga pesantren ini Nduk" pesan Umma Hanum dengan suara bergetar nya.


"Terima kasih sekali lagi Umma. Maaf Ani tidak bisa membalas budi Umma dan Abah" ucap Ani yang sudah meneteskan air mata nya.


"Umma dan Abah tidak meminta apa pun dati kamu Nduk. Cukup kamu hidup bahagia bersama suami dan keluarga mu. Dan jangan lupa kasih Umma dan Abah cucu yang banyak. Biar rumah kami tidak sepi" goda Umma Hanum membuat rona merah di pipi Ani muncul.


"Iya Umma. Brian akan membuat kan Umma dan Abah cucu yang banyak. Biar nanti kalau kita kumpul, tumah Umma dan Abah nggak sepi lagi" jawab Brian dengan alis yang naik turun menatap sang istri.


Ani hanya bisa menunduk. Ia begitu malu di goda seperti itu oleh suami dan Umma Hanum. Ani lalu memeluk Umma Hanum dan mencium tangan Umma Hanum berulang kali. Dengan isak tangis nya. Ani masuk ke dalam mobil Brian.


Sedangkan Brian masih berbicara dengan Umma Hanum.


"Umma titip Ani Brian. Tolong sayangi dan cintai dia. Dia sudah hidup tanpa orang tua kandung nya dari usia nya masih kecil. Tolong lindungi dia juga dari paman nya. Umma takut identitas nya terbongkar dan nyawa nya jadi bahaya. Mengingat kalau Paman nya masih berusaha mencari nya sampai saat ini. Jadi Umma dan Abah minta tolong sekali sama kamu dan keluarga mu untuk menjaga dan melindungi Ani dari paman nya" ucap Umma Hanum dengan suara bergetar nya dan mata yang berkaca kaca.


"Brian janji Umma. Brian janji untuk menjaga dan melindungi Ani dan keluarga Paman nya itu. Brian akan menyayangi dan mencintai Ani sampai Brian tutup usia Umma. ini janji Brian kepada Umma. Tolong ridhoi dan restui setiap langkah pernikahan kami Umma" ucap Brian serius dan tulus.


"Umma dan Abah sudha meridhoi dan merestui pernikahan kalian Nang"


"Terima kasih Umma. Kalau gitu kami pergi dulu iya Umma. Salam sama Abah. Assalamualikum" ucap Brian sambil mencium tangan Umma Hanum"


"Hati hati iya. Wa'alaikum salam"


Setelah mendapatkan jawaban dari Umma Hanum. Brian pun masuk ke dalam mobil nya. Ia duduk di kursi kemudi. Ia tersenyum melihat sang istri yang twrsenyum menatap nya. Dengan iseng Brian pun mencium sekilas bibir ranum milik Ani.

__ADS_1


Mendapatkan ciuman mendadak dari suami nya. Ani pun melotot kan kedua mata nya. Brian terkekeh mendapatkan pelototan dari sang istri. Kemudian Brian menghidupkan mesin mobil nya. Lalu membunyikan klakson mobil nya, sambil melajukan mobil nya meninggalkan area pesantren. Di ikuti oleh mobil Dayyan.


Umma Hanum menatap kepergian kedua anak nya dengan pasangan mereka masing masing dengan derai air mata. Ia tak menyangka kedua anak yang di besarkan nya sudah memiliki pendamping hidup. Ia bahkan harus menekan ego nya untuk tak menahan Ani agar tetap bersama nya. Ani berhak bahagia. Sudah waktu nya ia melihat bagaimana kehidupan di luar pesantren. Dan menghadapi masalah rumit di keluarga nya. Bagaimana pun Ani adalah pewaris tunggal dari kerajaan bisnis Admaja.


__ADS_2