
"Awww sakit Dad" ringis Brian ketika kepala nya di geplak oleh Daddy Martin.
"Kau. Kenapa kau berbicara seperti itu? Apa kau pikir menikah itu tidak perlu mengurus surat nya ke kantor KUA?" ucap Daddy Martin meninggi kan suara nya.
"Kan ada asisten Daddy. Ada orang orang kepercayaan Daddy. Lagi pula Daddy punya kekuasaan. Jadi Daddy bisa menggunakan kekuasaan Daddy untuk meminta pihak KUA secepat nya membuat buku nikah untuk mereka." protes Brian tak terima.
"Kau betul Bri. Kenapa Daddy tak mau menggunakan kekuasaan Daddy? Apa Daddy tak sayang lagi pada ku?" tanya Juan dengan wajah sedih nya.
Semua orang hanya memperhatikan drama yang sudah dibuat oleh kedua anak nya Daddy Martin. Mereka tak mau ikut campur dalam urusan tersebut.
Apa lagi keluarga Selvi. Yang jelas jelas mereka tidak memiliki kekuasaan seperti seorang Martin Anderson. Mereka hanya bisa mengikuti apa perkataan mereka, dan rencana mereka saja.
"Kenapa kau jadi ikut ikutan Juan?"
"Karena Daddy tak mau mengusahakan pernikahan ku secepat nya dilaksana kan. Tak mungkin aku menunggu hingga baby Keen besar kan Daddy. Benar kata Brian. Kami bisa menikah dulu. Untuk resepsi nya bisa setelah baby triplet sama baby Keen besar. Yang penting kami sudah sah secara negara dan agama Dad" ucap Juan membenar kan apa yang di kata kan oleh Brian tadi.
"Maaf menyela Pak Martin. Apa yang dikatakan oleh Juan dan Brian ada benar nya juga. Mereka bisa menikah terlebih dahulu. Untuk resepsi bisa menyusul. Saya bukan tidak mau menunggu Pak Martin. Tapi saya sebagai Ayah dari pihak perempuan mempunyai banyak ketakutan nya. Terutama takut kalau mereka sampai khilaf dan melakukan hal yang di larang oleh Agama. Kalau mereka khilaf dan tidak sampai menghasil kan anak, kita masih bisa menyembunyikan aib itu. Tapi kalau khilaf mereka sampai di luar batas dan menghasil kan anak diluar nikah. Sampai kapan pun kita tidak akan bisa menyembunyikan aib itu. Apa lagi kita hidup di Indonesia Pak Martin. Bapak tau sendiri bagaimana kehidupan orang orang di Indonesia. Kita yang berbuat baik saja, masih suka di jadikan bahan gosip oleh mereka. Apa lagi kalau kita melakukan aib, sudah pasti mereka akan terus memandang kita tidak baik, dan akan menjadikan kita bahan gosip mereka sampai mereka puas" ucap Ayah Galih sedikit memberikan nasehat kepada Daddy Martin.
Daddy Martin yang mendengar itu pun mengangguk kan kepala nya. Ia menyetujui semua ucapan dari Ayah nya Selvin.
"Kau tanya sama Selvi, mau nggak dia kalau nikah nya seminggu lagi" ucap Daddy Martin menatap kearah Juan.
Juan langsung berdiri dan berjongkok di depan Selvi duduk. Ia menggenggam tangan Selvi.
"Sayang. Kamu mau nggak kalau kita nikah seminggu lagi? Abang bukan tak sanggup menunggu keempat baby K itu besar. Tapi yang abang takut kan itu, ketika kita khilaf dan melakukan hal yang dilarang agama. Mau kan sayang?" tanya Juan lembut sambil mengelus punggung tangan Selvi.
Selvi tak langsung menjawab. Ia menatap kearah Ibu nya kemudian beralih kearah Ayah nya. Lewat tatapan mata nya, Selvi seolah meminta persetujuan oleh mereka.
Kedua orang tua nya Selvi pun yang paham dengan tatapan mata anak nya, langsung mengangguk kan kepala nya, dengan senyum merekah mereka.
__ADS_1
"Selvi mau Bang" lirih Selvi.
Mendengar tiga kata itu seketika membuat hati nya Juan menghangat. Ia tak menyangka Selvi akan menyetujui permintaan nya.
Juan pun tak sadar, ia ingin memeluk Selvi. Namun belum sempat terjadi, kerah baju belakang Juan sudah di tarik oleh seseorang.
"Jangan main peluk, belum muhrim" ucap Mommy Aletha, yang sukses membuat tawa semua orang yang ada disana pecah.
Sedang kan Juan, ia mengerucut kan bibir nya. Memandang kesal kearah Mommy nya.
"Baru juga mau di peluk Mom, uda di larang aja. Belum lagi Juan bawa ke hotel. Apa jadi nya nanti" protes Juan kesal.
"Oohh berani kamu melakukan itu. Mommy potong burung perkutut mu itu Ju, biar abis sekalian" sentak Mommy Aletha.
"Tega bener" ucap Juan sambil menutupi area paha nya dengan bantal.
...----------------...
Hari semakin larut, saat ini sudah pukul 21:00, semua orang pun sudah mulai pamit pulang. Begitu pun dengan Breena. Breena yang memang membawa anak anak nya juga pengasuh anak anak nya pun, juga pamit kepada tuan rumah.
Sedang kan Juan. Dia juga pamit izin mengantar kan Selvi dan kedua orang tua nya. Di perjalanan kembali Ayah Selvi menanyakan keyakinan Juan untuk menikahi Selvi seminggu lagi.
"Nak Juan sudah yakin dan pasti untuk menikahi putri Ayah seminggu lagi?" tanya Ayah Galih.
"Yakin Ayah. Yakin 1000%. Juan takut khilaf Ayah. Ya walau pun Juan sering terbang. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau kami bisa khilaf ketika kami bertemu Ayah." jawab Juan.
"Baik lah. Jadi mulai besok Ayah akan ke kelurahan untuk meminta surat surat penunjang untuk syarat menikah."
"Tidak perlu Ayah. Nanti biar anak buah Daddy saja yang melakukan nya. Ayah tidak perlu capek capek untuk melakukan itu. Yang penting Ayah banyak banyak berlatih saja untuk menghafal mahar yang akan Juan berikan untuk Selvi"
__ADS_1
"Kamu serius nak? Apa itu tidak merepot kan Daddy mu?" tanya Ayah Galih merasa tak enak.
"Ayah tenang saja. Semua akan mudah kalau sudah menyebut kan nama Daddy. Yang penting kita tinggal beres aja" ucap Juan meyakin kan Ayah Galih.
"Oiya sayang. Kamu bisa izin cuti kan dari sekolah. Nggak mungkin kamu masih masuk mengajar, sementara kamu mau menikah" tanya Juan menatap Selvi dari kaca spion tengah.
"Besok Selvi coba iya Bang."
"Kalau memang di izin kan abang mau Selvi mengambil cuti nya tiga hari sebelum kita nikah, dan masuk lagi setelah seminggu kita nikah" ucap Juan yang masih fokus dengan setir mobil nya.
"Kenapa begitu bang?"
"Setelah menikah abang mau ajak kamu honeymoon sayang. Kamu mau kan?"
Pipi Selvi merona mendengar kata honeymoon. Ia tak menyangka Juan akan mengajak nya honeymoon.
"Kamu mau kan sayang?" tanya Juan lagi memastikan.
Selvi tak menjawab. Ia hanya mengangguk kan kepala nya. Ia begitu malu mengatakan kata honeymoon di hadapan orang tua nya.
Kedua orang tua Selvi, tersenyum bahagia. Anak nya begitu di sayangi oleh kekasih nya. Ia tak menyangka kalau anak nya begitu di cintai dan di sayangi oleh seorang Juanda.
"Oiya sayang. Acara nya mau di adakan di rumah apa di hotel?"
"Emmm di rumah aja iya Bang. Nggak usah di hotel" jawab Selvi ragu.
"Kenapa?" tanya Juan dengan kernyitan di dahi nya.
"Kalau di hotel nanti bisa jadi acara nya meriah juga Bang. Selvi cuma mau acara nya sederhana. Hanya di hadiri oleh keluarga dan tetangga saja" ucap Selvi mengutarakan keinginan nya.
__ADS_1