
Ani tak sanggup lagi menahan butiran air mata nya yang mengenang di pelupuk mata indah nya.
"Bibi Mayang" lirih Ani memanggil istri Pak Bagaskara.
"Li .. Lia. Ini beneran kamu nduk?" tanya Bu Mayang tak percaya.
Ani mengangguk kan kepala nya. Ia sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan keluarga nya. Walau pertemuan nya harus dilakukan secara sembunyi sembunyi.
"Bibi"
Ani langsung memeluk Bibi nya. Bibi yang sudah lama tak ia temui. Bu Mayang pun membalas pelukan Ani sangat erat. Ia begitu merindukan keponakan nya itu.
Kedua wanita berbeda usia itu pun menangis bersamaan dalam pelukan mereka. Cukup lama mereka berpelukan. Hingga suara seseorang mengalihkan tatapan kedua wanita itu.
"Kau tak merindukan Mas mu ini Dek?" tanya pemuda itu yang tak lain adalah Dendy, anak Pak Bagaskara.
"Mas Dendy" lirih Ani yang langsung mendapat pelukan dari Dendy.
"Kau sudah besar Dek. Kau tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik Dek" ucap Dendy sambil mengelus sayang puncak kepala Ani.
"Adek rindu Mas" isak Ani.
Dendy dulu nya snagat dekat dengan Ani. Setiap hari Ani pasti selalu di titip kan di rumah Pak Bagaskara. Usia Ani dan Dendy hanya terpaut 4 tahun lebih tua Dendy.
Kedekatan Dendy dan Ani sudah bukan seperti saudara sepupu tetapi seperti kakak dan adik kandung.
"Apa Paman sendiri yang tidak mendapatkan pelukan?" tanya Pak Bagaskara.
Ani cepat cepat melepas pelukan nya dari Dendy dan beralih memeluk Pak Bagaskara.
"Paman Aska. Terima kasih sudah membawa Bibi Mayang dan Mas Dendy kesini" ucap Ani dengan senyum manis nya.
"Sama sama sayang. Besok Paman yang akan menikah kan mu. Hanya Paman yang akan menjadi wali mu sayang" ucap Pak Bagaskara dengan senyum hangat nya.
__ADS_1
"Terima kasih Paman sudah bersedia menjadi wali nikah nya Ani"
Abah Arsya tersenyum melihat kehangatan keluarga Pak Bagaskara dengan Ani. Ia pun segera pamit karena masih banyak tamu yang harus di temui nya. Ia juga mau memberikan waktu untuk mereka berbicara.
"Iya uda kalau gitu saya permisi dulu iya Pak Bagaskara. Silahkan di lanjut kan pertemuan nya" pamit Abah Arsya.
"Terima kasih Abah" ucap Ani yang hanya di balas dengan senyum dan tepukan di puncak kepala Ani.
Ani pun membawa keluarga Paman nya masuk kedalam kamar nya. Ia tau kalau Paman nya ini pasti di ikuti oleh anak buah paman tiri nya. Sehingga ia memilih mengobrol di dalam kamar nya saja.
"Lia tolong cerita kan sama Bibi kenapa kamu ada di pesantren ini. Dan sejak kapan kamu dan Paman mu ini bertemu?" tanya Bu Mayang.
"Sebelum kecelakaan Ayah dan Ibu dulu, Lia sudah di masukan duluan ke pesantren ini Bi. Ayah memilih pesantren yang jauh dari kota agar Lia aman. Ayah juga sempat menitipkan Lia sama pemilik pesantren ini. Lia juga nggak tau kenapa Ayah begitu percaya degan Abah Arsya. Bahkan Lia tidak di perboleh kan keluar dari area pesantren ini Bi" jelas Ani dengan senyum manis nya.
"Kalau bertemu sama Paman, baru sekitar sebulanan lalu Bi. Lia juga nggak tau kenapa Paman tiba tiba bisa datang ke pesantren ini waktu Lia mau di khitbah sama calon suami Lia" lanjut nya.
Iya kalau ada yang bingung kenapa Ani di panggil Lia sama keluarga nya. Itu uda di jelaskan waktu di part nya Pak Bagaskara iya. Keluarga Ani memang memanggil nya Lia. Ani nama panggilan sejak ia tinggal di pesantren. Dan di pesantren pun hanya di ketahui nama nya Ani Yulia, bukan Ani Yulia Admaja.
"Pah coba jelasin sama Mama Pah. Kenapa Papa bisa tau Lia ada disini?" tanya Bu Mayang yang masih penasaran.
"Sejak saat itu lah Papa tau kalau Lia selama ini tinggal disini. Dan identitas nya disembunyikan. Lia disini di kenal sebagai anak angkat nya Kyai Arsya Mah. Dan nama Admaja nya tidak di gunakan. Maka nya saat Papa memcari nya itu sulit untuk menemukan keberadaan Lia selama ini" lanjut Pak Bagaskara.
"Tapi kenapa Papa nggak bilang sama Mama" protes Bu Mayang yang masih saja menyalahkan suami nya karena tidak jujur.
"Bukan Papa tidak mau mengatakan nya sama Mama. Tapi Mama tau sendiri di dalam rumah kita ada pengkhianat. Ada anak buah nya Arsenal. Maka nya Papa nggak berani mengatakan nya sama Mama. Takut keberadaan Lia diketahui sama mereka" jelas Pak Bagaskara.
"Papa benar juga. Memang Arsenal itu orang yang sangat berbahaya. Bahkan kasus kecelakaan dulu pun tak di tuntaskan sama pihak kepolisian karena sogokan yang dilakukan sama Arsenal" ucap Bu Mayang.
"Uda iya Bi jangan ungkit masalah itu lagi. Lia uda bahagia disini. Dan akan lebih bahagia lagi kalau menikah sama calon suami nya Lia. Keluarga mereka baik banget Bi. Mereka menerima Lia dengan tangan terbuka" ucap Ani dengan pipi yang merona.
"Aduuhh Adek Mas lagi jatuh cinta rupa nya. Lihat Mah Pah pipi nya Lia merah begitu" goda Dendy yang sukses membuat pipi Ani semakin merona.
"Uda uda jangan di godain. Lihat tu pipi nya uda merona banget" lerai Bu Mayang.
__ADS_1
Obrolan pun berlanjut, Ani meminta Bu Mayang untuk tidur di kamar nya nanti malam. Sedangkan Pak Bagaskara dan Dendy tidur di kamar asrama putra.
...----------------...
Berbeda dengan di asrama putri. Terlihat Breena, Mama Ratih dan Umma Hanum yang sedang berkeliling asrama mencari buah buahan yang sudah bisa di panen. Di temani dengan dua mbak ndalem yang selalu mengikuti kemana pun mereka pergi.
"Jadi Mah, keluarga Daddy Martin juga sudah di Bandung?" tanya Breena sambil memakan kelengkeng yang sudah ia ambil tadi.
"Uda sayang. Mereka nginao di hotel mereka. Nanti malam mereka akan kesini. Mau melakukan acara seseran" ucap Mama Ratih.
"Terus keluarga Paman nya Ani sudah datang belum Umma?" tanya Breena lagi.
"Tadi kata Abah uda sayang. Mereka lagi di kamar nya Ani lagi ngobrol. Tadi sempat ada kecemburuan saat Ani memeluk Pak Bagaskara. Istri nya cemburu" ucap Umma Hanum sambil terkekeh geli.
"Lah gimana cerita nya Umma?" tanya Breena tak percaya.
"Kata Abah, Ani langsung meluk Paman nya. Terus Pak Bagaskara juga menyambut pelukan Ani. Pak Bagaskara juga nggak bilang kalau mau ketemu sama Ani. Maka nya itu istri nya cemburu. Umma juga belum bertemu dengan mereka" jelas Umma Hanum
"Umma kaya nya Breena mau deh buah strawberry yang ada di kebun Abah" ucap Breena tiba tiba.
"Tapi kebun nya kan sedikit jauh sayang. Siapa yang mau kesana?"
"Eemmhh Breena sama Mas Dayyan aja Umma. Breena mau makan strawberry yang langsung di petik Umma. Boleh iya? Mah boleh kan?" tanya Breena kepada kedua wanita paruh baya yang masih terdiam memikir kan permintaan Breena yang mulai aneh aneh lagi.
"Boleh, asal kan pergi nya sama Dayyan, mbak santri sama kang santri iya. Umma nggak bolehin kalau pergi nya hanya berdua. Bener kan Bu Ratih?"
"Bener Umma. Kalau pergi nya banyak orang, akan lebih aman. Karena ada yang jagain kalian"
"Yeeeehhh makasih Mah, Umma. Kalau gitu Breena mau balik ke ndalem dulu. Mau ngajak Mas Dayyan" ucap Breena yang kesenangan seperti anak kecil.
Mama Ratih dan Umma Hanum pun hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah anak dan menantu mereka.
"Ayo Bu Ratih kita juga kembali ke Ndalem. Bu Ratih belum istirahat juga sejak tiba disini" ajak Umma Hanum.
__ADS_1
"Ayo Umma"
Kedua wanita paruh baya itu pun akhir nya kembali ke Ndalem.