
Kedua orang tua Selvi terdiam mendengar kan apa yang di kata kan oleh Juan. Mereka tak menyangka kalau akhir nya putri satu satu nya mereka akan segera pergi meninggal kan rumah mereka setelah menikah.
"Rumah mana Nak?" tanya Ayah Galih yang tak paham.
"Rumah peninggalan orang tua Juan Yah" ucap Juan lagi.
Ayah Selvi terlihat bingung dengan pernyataan Juan. Begitu pun dengan Ibu nya Selvi. Karena memang mereka yang tak tau menahu tentang Juan, selain Juan adalah anak angkat nya keluarga Anderson.
"Kemarin ketika kami ke mansion Anderson. Daddy Martin meminta pengacara nya datang juga ke mansion. Disana pengacara Daddy menyerah kan semua warisan yang jatuh ke tangan Juan dan harta itu sudah di pisah untuk Kakek dan Nenek juan juga. Jadi rumah yang dulu nya kami tempati ternyata itu untuk Juan. Kemarin kami juga sudah datang kesana. Ternyata rumah itu masih berdiri kokoh. Juan sudah meminta pendapat sama Selvi, Yah. Selvi mau kalau Juan mengajak nya tinggal disana. Jadi sekarang Juan meminta izin Ayah dan Ibu untuk kami tinggal disana" jelas Juan.
Juan tidak menyebut kan apa saja yang di waris kan untuk nya. Yang ia sebut kan hanya rumah utama nya saja. Bukan Juan ingin menutupi dari Ayah mertua nya. Tapi ia tak ingin Ayah dan Ibu mertua nya syok mendengar apa saja yang Juan dapat kan.
Ayah dan Ibu Selvi saling berpandangan. Ibu Selvi terlihat murung.
"Juan janji Yah Bu. Setiap weekend kami akan menginap disini. Juan juga akan resign dari pilot. Jadi setiap hari nya nanti Juan akan ada di rumah" ucap Juan meyakin kan lagi kedua orang tua Selvi yang masih terdiam.
"Terus kalau kamu keluar dari pekerjaanmu. Kamu mau kerja dimana Nak?" tanya Ibu Sisil.
Juan tak langsung menjawab. Ia menatap kearah Selvi. Seolah meminta pendapat apa ia akan mengatakan kalau ia akan mengelolah restaurant peninggalan kedua orang tua nya atau tidak.
Selvi kembali mengangguk kan kepala nya. Ia tak mungkin juga menutupi dari kedua orang tua nya.
"Juan akan mengelolah restaurant peninggalan kedua orang tua Juan juga Bu. Selama ini Juan tidak tau menahu tentang harta dan usaha milik kedua orang tua Juan. Karena setelah mereka meninggal, Juan langsung di bawa ke mansion Anderson. Jadi semua nya yang mengurus selama ini Daddy dan orang orang kepercayaan nya" jelas Juan lagi.
"Apa rumah nya jauh dari sini?" tanya Bu Sisil yang gusar.
"Rumah nya dekat sama mansion Anderson Bu. Tapi beda beda perumahan saja" ucap Selvi hati hati.
Wajah Bu Sisil semakin murung. Itu arti nya anak nya akan jauh dengan nya nanti.
__ADS_1
"Kapan kalian akan pindah?" tanya Ayah Galih yang membuat Selvi dan Juan saling tatap.
"Kalau Ayah memberikan izin, kami akan pindah satu minggu lagi Yah. Karena kamar yang akan kami tempati masih tahap renovasi" ucap Juan.
"Beri Ayah waktu untuk memikir kan nya Juan, apa bisa?"
"Bisa Ayah. Kami juga tidak buru buru kok pindah nya. Kami menunggu izin dari Ayah dan Ibu" ucap Juan merasa sedikit lega.
Ia yakin pasti Ayah mertua nya akan mengizin kan nya membawa putri mereka tinggal berdua bersama nya.
Malam pun semakin larut, Juan dan Selvi pun pamit masuk ke kamar mereka terlebih dahulu. Apa lagi saat ini tubuh mereka masih sedikit lelah karena perjalanan jauh.
Di dalam kamar Selvi merebah kan tubuh nya di samping Juan yang sedang duduk di kasur mereka. Juan yang melihat Selvi pun langsung merebah kan tubuh nya juga dan membawa Selvi ke dalam pelukan nya.
"Kenapa sayang?" tanya Juan yang melihat Selvi seperti sedang berpikir berat.
"Abang. Apa Ayah akan mengizin kan kita oindah dari sini?" tanya Selvi sambil menggambar abstrak di dada Juan yang tanpa baju.
"Abang yakin?"
"Pasti sayang" ucap Juan kemudian mencium puncak kepala istri nya.
Selvi pun semakin menjadi, jari nakal nya semakin menjadi. Dan hal itu membuat Juan semakin panas dingin di buat nya.
"Sayang" lirih Juan.
Selvi hanya tersenyum melihat Juan yang memandang nya sayu. Juan yang mendapat persetujuan dari Selvi pun langsung melancar kan aksi nya. Dan terjadi lah ibadah halal mereka.
Di kamar yang berbeda di rumah yang sama, Ibu Sisil dan Ayah Galih sama sama terdiam. Mereka masih memikir kan apa yang menjadi permintaan Juan tadi.
__ADS_1
Hal yang tak terduga pun terjadi, isak tangis Bu Sisil tiba tiba terdengar. Ayah Galih membawa tubuh Bu Sisil kedalam pelukan nya.
"Kenapa Bu?"
"Ibu sedih Yah. Akhir nya datang juga waktu nya Selvi meninggal kan rumah ini ikut bersama suami nya" ucap Bu Sisil sesenggukan.
"Apa Ayah akan mengizin kan mereka pindah?" lanjut nya.
"Jujur Bu, sebenarnya Ayah berat mengizin kan Selvi keluar dari rumah ini. Tapi mau bagaiman lagi. Putri kecil kita sudah menikah. Dan suami nya berhak membawa nya pergi dari rumah ini dan tinggal berdua bersama nya. Ayah tak ingin egois Bu, melarang mereka untuk hidup mandiri" ucap Ayah Galih sambil mengelus kepala Bu Sisil.
"Tapi Yah. Ibu tak bisa jauh dari Selvi" rengek Bu Sisil manja.
"Ayah pun sama Bu. Tapi kita harus percaya sama Juan. Ayah yakin Juan pasti akan menjaga dan melingdungi putri kita. Juan pasti bisa membahagia kan putri kita." ucap Ayah Galih yang masih berusaha meyakin kan istri nya kalau putri nya akan bahagia tinggal bersama Juan.
"Jadi, Ayah uda pasti mengizin kan mereka tinggal di rumah Juan?" tanya Bu Sisil memasti kan.
"Iya Bu. Besok Ayah akan bilang sama mereka. Ibu jangan takut kalau mereka tidak bisa kesini. Kita aja yang kesana." ucap Ayah Galih memberi saran.
"Ayah benar. Kita bisa kesana main main. Dan nginap disana kalau kita rindu sama anak kita" ucap Bu Sisil yang sudah mulai bisa tersenyum.
Pagi hari nya, di meja makan Juan, Selvi dan kedua orang tua nya sedang menikmati sarapan pagi buatan Selvi. Juan makan dengan lahap. Bahkan ia sampai tambah dua kali. Pada hal yang di masak Selvi hanya nasi goreng biasa dengan telur mata sapi. Berbeda sekali dengan sarapan di mansion Anderson.
Kalau biasa nya Juan akan memakan roti selai, sandwitch, puncake atau waffel. Kali ini serapan nya adalah makanan berat, nasi goreng dengan telur mata sapi.
Selesai sarapan. Ayah Galih memulai pembicaraan nya.
"Ayah mengizin kan kalian pindah ke rumah kamu Juan. Tapi dengan syarat" ucap Ayah Galih tiba tiba.
"Apa Ayah?" tanya Juan dan Selvi berbarengan.
__ADS_1
"Ayah mau setiap weekend kalian menginap disini. Tapi kalau kalian tidak bisa, maka kami yang akan menginap disana" ucap Ayah Galih tenang.
"Boleh Ayah. Kapan pun kalian mau kalian boleh nginap disana." ucap Juan senang.