
Setelah kepergian Windy, Breena menatap sang Kakak yang biasa aja.
"Kak, are you okey?" tanya Breena ragu.
"I'm okey princess" ucap Ansel dengan senyum manis nya.
"Kakak uda dengar semua nya kan tadi?"
"Iya sayang. Makasih iya uda bantu Kakak" ucap Ansel tulus.
"Ooohh itu tidak gratis Kak" sangkal Breena.
Ansel mengerutkan alis nya sampai menyatu.
"Maksud kamu sayang?"
"Maksud nya Breena itu, semua itu tidak gratis. Breena mau minta imbalan nya" ucap Breena dengan senyuman jahil nya.
"Ooohh astaga Gue lupa kalau ada bumil sultan disini yang bisa saja mengidam dadakan" keluh Ansel mendramatisir.
"Baiklah princess nya Kakak mau apa?"
"Mobil Uncle mobil. Uncle uda janji" ucap Breena menagih janji Ansel kemarin.
"Tenang sayang. Mobil masih dicari sama Raihan" ucao Ansel santai lalu membawa Breena kedalam pelukan nya.
"Yyeeehhhh makasih Uncle. Sayang Uncle banyak banyak" ucap Breena seperti anak kecil.
Dayyan yang melihat tingkah istri dan Kakak sepupu nya itu pun hanya bisa menghela nafas dan menggeleng kan kepala nya.
Dia yang suami Breena namun Ansel lah yang lebih sering memeluk Breena didepan umum. Bukan Dayyan yang tak mau memamerkan kemesraan didepan umum. Tetapi Dayyan lah yang memang tak bisa berbuat seperti itu. Ia akan merasa canggung setiap kali memamerkan kemesraan didepan orang. Cukup ia bermesraan di dalam ruangan dan berdua dengan Breena.
Kalau ditanya apakah Dayyan cemburu dengan Ansel? Tentu saja jawaban nya tidak. Mau bagimana pun mereka itu sepupu sepersusuan.
...----------------...
Malam hari nya kembali dibuat acara BBQ untuk acara perpisahan karena adanya beberapa rombongan yang akan kembali terlebih dahulu ke Jakarta. Iya salah satu nya adalah Selvi dan Windy.
Selvi meminta kembali lebih dulu karena alasan pekerjaan nya yang tidak bisa ditinggalkan. Sementara Windy memberi alasan Ibu nya meminta nya pulang ke kampung nya, karena ada urusan.
Dan tim fhotograper pun ternyata besok juga harus kembali ke Jakarta. Karena mereka akan mencetak foto foto prewed Ani Brian dan Anggi Dion.
"Hei kalian para CEO, apakah kalian tidak akan pulang juga besok?" tanya Juan.
"Nooo kita masih mau disini" tolak Breena.
"Princess pulang yuk. Masa Abang pulang nggak sama princess nya sih" bujuk Juan cemberut seperti anak umur lima tahun.
"Nggak mau. Dedek masih masu disini. Masih mau menikmati pulau yang dikasih sama Daddy Brian" tolok Breena dengan senyum mengejek nya.
"Princess nggak sayang sama Abang?" rayu Juan.
"Sayang. Tapi lebih sayang sama Abi" ucap Breena sambil memandang Dayyan yang ada disamping nya penuh cinta.
"Iya Abang tau. Tapi pulang yuk? Princess nggak kangen sama Mama Ratih?" ucap Juan mencoba membujuk Breena agar ia mau pulang juga.
__ADS_1
"Hei brother. Yang kau bujuk itu istri orang. Kenapa dirimu yang ngebet ngajak dia pulang? Suami nya aja anteng gitu" ucap Brian yang mulai jengah dengan ucapan Juan.
"Lahh biarin. Yang dibujuk juga suami nya nggak protes. Kenapa mantan yang protes" ejek Juan dengan senyum meremehkan nya.
"Waahhh ngajak berantem ini orang. Segala bawa bawa status lagi" omel Brian.
"Santai Brother. Ingat hanya status. Lihat tuh yang pakai hijab biru calon istri idaman" ucap Juan sambil menatap kearah Ani yang sedang menyuapi Quin makan.
"Ya kau benar brother, dia memang calon istri idaman" ucap Brian membenarkan ucapan Juan.
"Ingat mata. Mata juga bisa jadi zina mata kalau yang dilihat bukan mahram nya" ucap Dayyan memperingati.
"Hahahha sabar Bro. 3 minggu lagi" ucap Juan tertawa puas melihat Brian yang lesu.
"Princess jadi mau iya pulang besok" bujuk Juan lagi.
"Noo Abang. Abang aja yang pulang. Kan uda ditungguin sama Daddy disana. Abang harus bawa Daddy terbang ke Inggris" tolak Breena lagi.
"Terus nanti Princess pulang nya gimana?"
"Bang. Breena bisa pulang naik pesawat lain"
"Baik lah abang ngalah" ucap Juan lesu karena tidak bisa membujuk Breena pulang bersama nya.
Beberapa orang menikmati malam terakhir di pulau itu. Terutama Windy. Ia berdiri di bibir pantai. Menatap kearah lautan yang tampak gelap itu.
"Ngapain disini sendirian?" tanya Ansel sambil memakaikan jaket nya di tubuh Windy.
Windy pun terkejut mendapati Ansel yang sudah berdiri disamping nya. Mata Windy berkaca kaca melihat Ansel yang tersenyum kepada nya.
Namun belum ada lima langkah. Ia sudah merasakan pelukan dari belakang tubuhnya. Pelukan yang begitu ia rindukan.
"Maaf" ucap Windy pelan.
"Maafin aku sayang. Maaf" ucap Windy yang sudah menangis.
Ansel pun melepaskan pelukan Windy. Dan berbalik menatap gadis kesayangan nya yang sedang menangis. Mata sembab nya semakin membengkak.
Tanpa Windy sadari, Ansel membawa nya kedalam pelukan nya. Seketika tangis Windy pun semakin kencang.
"Jangan minta maaf terus. Aku tau ini memang berat buat kita. Tapi kalau Tuhan mengatakan kita tidak berjodoh, mau sampai kapan pun kita tetap tidak berjodoh" ucap Ansel lembut.
"Jangan nangis lagi. Aku nggak suka lihat air mata kamu menetes. Uda iya jangan nangis terus" bujuk Ansel yang dibalas anggukan oleh Windy.
"Aku berharap jodoh yang sudah di siapkan oleh almarhum Ayah, adalah jodoh yang terbaik untuk mu sayang. Aku uda mencari tau tentang mereka. Dan mereka orang orang baik. Mereka tidak akan menyayangi mu seperti anak mereka sendiri sayang. Jadi terima lah mereka setulus hati mu. Sayangi mereka. Sebentar lagi mereka akan menjadi keluarga kamu" ucap Ansel menasehati Windy.
"Iya sayang. Maafin aku yang uda nggak jujur sama kamu. Maafin aku sayang. Maafin aku" ucap Windy yang kembali menangis.
"Uda iya, aku uda maafin kamu. Salam iya sama Ibu kamu" ucap Ansel.
Ansel pun ingin melepas pelukan nya. Namun Windy justru memeluknya dengan erat.
"Biar kan seperti ini dulu sayang. Setelah ini aku nggak bisa lagi merasakan pelukan kamu" pinta Windy.
Ansel pun menurutinya. Ia mencium puncak kepala Windy sayang. Mereka hanya terdiam meresapi rasa sakit yang mereka alami.
__ADS_1
Selama tiga puluh menit, akhirnya dengan terpaksa Windy menyudahinya.
"Ayo kita akhiri hubungan kita dengan baik baik Win. Setelah hari ini anggap aku hanya sebagai Kakak dari sahabat mu. Dan aku hanya menganggap mu sahabat dari adik ku" pinta Ansel dengan senyum tulus nya.
Windy pun juga tersenyum. Namun disenyum nya Windy masih terlihat seperti terpaksa.
"Iya Kak. Ayo kita akhiri hubungan kita" ucap Windy tersenyum paksa.
"Selamat atas pertunanga mu. Semoga lancar sampai hari H nya" ucap Ansel sambil mengulurkan tangan nya yang langsung disambut oleh Windy.
"Terima kasih"
Setelah itu Ansel pun berlalu dari hadapan Windy dengan senyum tulus nya. Ia bahagia melepas cinta nya dengan baik baik saja. Setelah ini ia akan meraih kebahagiaan nya juga.
...----------------...
Pagi hari nya semua orang sudah berkumpul di halaman Villa. Mereka sedang menunggu boat yang akan menjemput mereka untuk mengantarkan beberapa rombongan yang akan kembali ke Jakarta hari ini.
Disana hanya tinggal Breena, Dayyan, Ani, Brian, Quin, Anggi, Dion dan Ansel. Selebihnya akan kembali ke Jakarta hari ini.
Pemandangan yang berbeda pagi hari ini. Juan kembali mengenakan pakaian seragam pilot nya dengan pangkat yang berada di bahu nya. Ia terlihat gagah.
Breena perlahan mendekati nya.
"Abang" panggil Breena manja.
"Iya Princess"
"Mau foto boleh?" pinta Breena lembut.
"Tentu sayang. Ayo kita foto berdua" ajak Juan semangat.
"No. Tidak boleh foto berdua. Bukan mahram nya" tolak Dayyan tegas.
"Emm kita foto berempat iya Bang. Sama Mbak Selvi juga" pinta Breena.
"Boleh princess. Sayang ayo kita foto berempat sama Princess Breena" panggil Juan.
Selvi pun mendekat. Dengan posisi dua wanita ditengah dan para pria di samping pasangan masing masing.
Selesai berfoto, boat yang akan membawa mereka telah sampai.
"Hati hati di jalan Abang. Bawa pesawat nya juga hati hati" ucap Breena sebelum Juan naik ke boat.
"Pasti princess. Segera lah kembali. Abang menanti mu di Jakarta" ucap Juan setelah itu ia pun naik ke atas boat.
Kini giliran Windy yang pamit. Ia memeluk Breena kan kembali menangis.
"Hati hati di jalan Win. Maaf semalam Gue sempat marahin Lo dan membentak Lo" ucap Breena dengan wajah menyesalnya.
"Lo nggak salah. Gue yang salah sama Lo. Gue uda mengakhiri hubungan Gue sama Kakak Lo. Sekali lagi Gue minta maaf Bree" ucap Windy tulus.
"Gue uda maafin Lo Win"
Windy pun menjadi penumpang yang yerakhir naik. Setelah Windy sudah duduk dengan aman. Boat pun mulai melaju meninggalkan satu pasangan halal. 2 pasangan menuju halal. Dan satu orang jomblo.
__ADS_1
"Gue pergi Kak. Gue melepaskan Lo. Gue harap Lo akan secepatnya menemukan pengganti Gue yang lebih baik dari Gue. Gue tau ini terlalu berat bagi kita. Tapi insya Allah semoga ini jalan kita menuju kebahagiaan. Gue sayang sama Lo Kak Ansel Ivander Bagaskara" ucap Windy dalam hati.