
Mendengar apa yang di ceritakan oleh Windy, membuat Ansel geram. Ternyata sikap manis nya Andri saat datang ke mansion nya dan permintaan maaf nya kemarin hanya lah kebohongan belaka. Dibalik itu dia mempunyai rencana yang lain nya. Untuk istri siri nya agar mendpatkan tempat yang sama dengan Windy.
"Lalu kenapa kamu tidak ke mansion sayang? Apa kamu sudah melupakan Mommy mu ini?" tanya Mommy Gantari sedih.
"Tidak Mom. Tidak sama sekali. Windy tidak akan pernah melupakan Mommy. Windy malu Mom. Windy malu untuk bertemu dengan Mommy dan yang lain nya" ucap Windy yang sudah sesenggukan.
"Kenapa malu?"
"Karena Windy sudah menyakiti hati anak Mommy. Windy uda buat anak Mommy pergi jauh dari keluarga nya"
"Bukan kamu yang membuat aku pergi Dek. Tapi memang disana lagi membutuhkan tenaga ku. Bukti nya aku bisa berada disini saat ini kan"
Windy hanya mengangguk kan kepala nya.
"Kamu KOAS dimana sayang?"
"Di rumah sakit umum dekat sini Mom"
"Kalau Mommy minta kamu KOAS di rumah sakit Abraham mau?"
"Apa bisa pindah Mom?"
"Bisa nanti kita minta Papa Doni untuk mengurus nya. Sekarang kamu ikut ke mansion Mommy iya. Tinggal disana aja"
"Nggak bisa Mom" tolak Windy.
"Kenapa?" tanya Mommy Gantari sedih.
"Kalau Windy pindah disana bagaimana tanggapan orang lain Mom. Sedangkan di mansion ada putra Mommy yang belum menikah. Windy nggak mau buat keluarga Mommy malu" jelas Windy.
"Kalau begitu kamu nikah sama Mas aja dek. Mau iya nikah sama Mas" ajak Ansel dengan wajah serius nya.
Tangis Windy semakin menjadi. Bagaimana bis aorang yang dulu disakiti nya justru mengajak nya menikah.
Jujur saja Windy pun sama dengan Ansel. Windy masih menyimpan rapi cinta nya pada Ansel. Tak pernah sedikit pun ia menghilangkan rasa cinta nya untuk Ansel.
"Bagaimana sayang. Mau iya jadi mantu nya Mommy. Biar kamu bisa tinggal di mansion bareng sama Mommy" bujuk Mommy Gantari.
Windy pun akhir nya mengangguk kan kepala nya. Ia menerima ajakan menikah dari Ansel. Ansel yang terlalu bahagia, ia sampai lupa kalau disitu ada orang lain. Ansel pun langsung memeluk erat tubuh Windy. Bahkan ia menciumi seluruh wajah Windy. Membuat Mommy Gantari kesal.
__ADS_1
"Dasar anak jomblo. Belum nikah uda main peluk sama cium sembarangan. Nikah dulu sana baru boleh cium cium" omel Mommy Gantari sambil menjewer telinga Ansel.
"Iiiissss, Mommy apaan sih. Gangguin orang lagi bahagia aja" protes Ansel yang masih belum melepas pelukan nya.
"Malu Mas, ada Ibu kost juga" ucap Windy yang kini wajah nya merona karena malu.
"Sebentar iya, Mommy mau telepon Papa Doni dulu, biar dia urus perpindahan KOAS kamu"
"Mommy serius?" tanya Windy ragu.
"Serius dong. Kamu lupa kalau Mommy masih punya saham di rumah sakit itu. Itu rumah sakit keluarga Abraham sayang. Bahkan kalau Mommy mau Mommy bisa jadi pemimpin di rumah sakit itu. Sayang nya Mommy nggak mau" canda Mommy Gantari sambil terkekeh.
Mommy Gantari pun segera mengambil ponsel nya. Ia langsung menelpon adik nya itu dan meminta mengurus perpindahan Windy. Pembicaraan pun sedikit alot, karena Windy masih KOAS. Tapi Papa Doni akan mengusahakan agar Windy bisa pindah KOAS ke rumah sakit nya.
Bukan tanpa alasan. Selain karena permintaan kakak nya, juga karena ia sudah menganggap Windy seperti anak nya sendiri. Apa lagi setelah mendengar dari kakak nya kalau Windy sudah tidak punya orang tua lagi. Itu juga yang membuat Papa Doni mau bersusah payah membawa Windy ke rumah sakit nya. Agar lebih mudah mengawasi Windy nanti nya.
Sedangkan saat ini Windy dan Ansel sedang berada di luar rumah pemilik kost. Mereka sedang duduk sama sama diam. Mereka merasakan kecanggungan setelah perpisahan mereka. Sama canggung nya seperti awal awal Ansel memdekati nya.
"Kak Ansel apa kabar?" tanya Windy membuka suara.
"Kok manggil nya Kak lagi sih?" rajuk Ansel.
"Panggil kaya biasa nya lah" ucap Ansel kesal.
"Mas? Hubby? Sayang? Atau..." jeda Windy karena ia memikir kan panggilan yang cocok untuk Ansel sekarang.
"Hubby. Mulai sekarang panggil Hubby" ucap Ansel memaksa.
Windy terkekeh mendengar nya. Ini sama dengan seperti mereka jadian dulu. Ansel memaksa nya memanggil Mas. Kalau sekarang Ansel memaksa nya memanggil Hubby.
"Hubby" ucap Windy pelan.
"Apa nggak dengar"
"Hubby"
"Ngomong apa sih?" ucap Ansel yang masih pura pura nggak dengar.
"Hubby" panggil Windy dengan suara sedikit di kuat kan.
__ADS_1
Ansel pun tersenyum. Ia kemudian mengecup punggung tangan Windy.
"Terima kasih sudah mau menerima ku lagi Dek. Kamu tau selama ini Hubby nggak pernah melupakan mu apa lagi menghilang kan perasaan ini untuk mu sayang" ucap Ansel tulus.
"Terima kasih juga sudah berusaha mencari ku Hubby" ucap Windy dengan mata yang sudh berkaca kaca.
"Sebenar nya aku tak mencari mu sayang"
Mendengar pengakuan Ansel seketika Windy menatap nya horor.
"Hehehhe. Kemarin Hubby ketemu sama Anita di rumah sakit. Awal bertemu karena salah ke rumah sakit waktu mau jenguk Breena. Terus Hubby ajak aja dia ke rumah sakit Erlangga's. Terus waktu pulang, Hubby nanya kabar kamu. Dari situ lah Anita menceritakan semua nya. Hubby terus memikirkan kamu dari semalam. Hubby juga meminta izin sama Daddy dan Mommy untuk menemui kamu sayang. Dan alhamdulillah Mommy dan Daddy mengizin kan nya. Maka nya sekarang Hubby ada di samping kamu" jelas Ansel di sertai dengan cengiran nya.
"Kirain beneran nyariin, kaya bayar orang untuk memata matai gitu. Rupa nya karena si Anita yang mulut nya ember, bocor halus tapi keliling. Uda kaya mulut mulut netizen aja" omel Windy membuat Ansel tertawa senang.
Sudah lama ia tak mendengar omelan dari mulut Windy.
"Ya uda sih, yang penting kan sekarang kita uda ketemu. Apa lagi uda mau nikah juga kan. Kamu ikut iya ke mansion hari ini" bujuk Ansel.
"Kalau aku ikut sekarang, Hubby nanti tinggal dimana?"
"Di apart atau di rumah nya Papa bisa kok. Yang penting kamu ikut dulu ke mansion. Di mansion juga ada GrandMa sama GrandFa. Mereka ikut ke Indonesia waktu tau Breena uda melahir kan"
"Oiya? Jadi Breena uda lahiran Hubby. Pasti anak anak nya tampan dan cantik" ucap Windy dengan mata berbinar.
Windy sungguh sangat merindukan sahabat nya itu. Sahabat yang selalu ada untuk nya. Sahabat yang sudah banyak membantu nya selama ia kuliah.
"Kamu merindukan nya sayang?" tebak Ansel yang di balas anggukan oleh Windy.
"Sangat Hubby. Dia begitu berjasa untuk ku. Tapi aku yang tak tau malu ini justru menyakiti Kakak nya" ucap Windy menunduk sedih.
"Jangan sedih. Nanti kita jenguk Breena iya. Tapi kalau dia uda di rumah aja. Kamu tau Breena melahir kan bayi triplet"
"Serius? Bukan nya twins?" tanya Windy tak percaya.
"Serius. Hubby juga kaget waktu melihat nya. Anak nya sangat tampan dan cantik. Kadga punya lesung pipi di kanan. Kadeera si cantik sendiri. Dan Kalandra punya lesung pipi di kiri dan punya tanda lahir di bawah mata. Mereka sangat tampan dan cantik. Duuhh jadi pengen punya anak juga"
Mendengar ucapan terakhir Ansel pun, Windy hanya tersenyum.
"Ku tunggu janji mu Hubby" ucap Windy lalu meninggal kan Ansel sendirian di teras rumah, sambil mencerna ucapan Windy.
__ADS_1