Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Bab 49. Panti Asuhan


__ADS_3

Didalam ruangan dosen, Breena duduk dihadapan dosen pembimbingnya.


"Abreena" sapa Prof. Nina setelah Breena duduk dikursi dihadapannya.


"Iya Prof. Ini skripsi saya Prof." ujar Breena sambil menyerahkan setumpuk kertas skripsinya.


"Kemarin tinggal karya ilmiah nya iya Breena. Yang lainnya sudah oke kan?" tanya Prof. Nina sambil membuka kembali skripsi Breena dari halaman depan.


"Iya Prof. Sudah saya rampungkan semuanya Prof." jawab Breena.


"Saya periksa dulu iya Breena. Kalau sudah oke semua nya tinggal saya ACC. Tinggal kamu daftar untuk ikut ujian skripsi nanti"


"Iya Prof. Kalau memang hari ini Prof. ACC skripsi saya, besok saya langsung daftar ujian skripsi nya Prof."


Setelah itu Prof. Nina pun langsung memeriksa skripsi Breena.


Hampir satu jam menunggu, akhirnya setelah banyak mendapatkan pertanyaan dari Profesor nya, skripsi Breena pun di ACC oleh Dosen pembimbing nya.


Setelah selesai, Breena pun keluar dari ruangan dosen nya.


"Maaasss" panggil Breena semangat.


"Iya sayang. Uda selesai" tanya Dayyan lembut.


"Sudah Mas. Skripsi Breena di ACC Mas" ucap Breena semangat sampai reflek memeluk Dayyan ditempat umum.


"Selamat sayang. Terus setelah ini bagaimana?" tanya Dayyan membalas pelukan Breena.


"Besok rencananya Breena mau daftar ujian Skripsi Mas. Tapi Breena mau minta persetuan dulu dari dosen yang lain"


"Semoga lancar iya sayang" ucap Dayyan sambil mencium puncak kepala Breena.


"Aminnn do'ain Breena biar cepat lulus nya iya Mas" pinta Breena dengan wajah memohon.


"Iya sayang. Mas selalu mendoakan kamu"


Aksi Breena dan Dayyan diperhatikan oleh semua mahasiswa yang berada tak jauh dari ruangan Prof. Nina. Tak terkecuali dua sahabat Breena, Windy dan Anita.


"Nit, itu Breena sama siapa iya pelukan gitu?" tanya Windy penasaran karena hanya melihat punggung Dayyan.


"Aku juga nggak tau Win. Apa itu suaminya iya?"


"Bisa jadi sih Nit. Dari pada kita kepo, cus kita datangin aja" ajak Windy sambil menarik tangan Anita.


"Enak banget iya yang pelukan itu sampai nggak tau lagi dimana ini" sindir Windy.


"Eeehhhh" kaget Breena yang langsung melepas pelukannya dari Dayyan.


"Eh eh eh. Siapa ini Breena? Nggak biasanya seorang Aurellia Abreena mau berpelukan dengan lelaki di tempat umum gini" goda Anita.


"Hehehehe Mas kenalin ini sahabat sahabat Breena. Anita dan Windy" ucap Breena memperkenalkan sahabatnya pada suaminya.


"Assalamualaikum. Perkenalkan saya Dayyan suaminya Breena" ucap Dayyan sambil mengatupkan kedua tangannya didepan dada.


"Wa'alaikum salam. Saya Windy dan ini Anita" jawab Windy yang juga mengatupkan kedua tangannya didepan dada begitu juga dengan Anita.


"Jadi ini laki Lo Bree?" tanya Anita berbisik.

__ADS_1


"Hmm ganteng kan?" tanya Breena bangga.


"Bukan lagi Bree. Speek nya uda kaya Gus Gus gitu. Anak Kyai" puji Anita.


"Iya dia memang seorang Gus. Dia anak Kyai Arsya pemilik pesantren Al-Hidayah" terang Breena yang membuat Anita membulatkan matanya.


"Serius?" tanya Anita tak percaya.


"Hmmm seribu rius"


Anita yang baru mengetahui kalau suami sahabatnya itu seorang Gus pun hanya bisa terdiam. Ia tak menyangka sahabatnya bisa seberuntung itu mendapatkan hati seorang Gus.


"Sayanh, uda selesai kan?" tanya Dayyan.


"Uda Mas. Mau langsung pulang iya?" tanya Breena balik.


"Hmm iya sih. Kamu pasti sudah kecapekan kan tadi abis dari Bandung, terus ikut rapat pemegang saham, abis itu ke kampus. Kamu belum ada istirahat sayang" ucap Dayyan.


"*Sweet banget sih suaminya Breena" ucap Windy dalam hati.


"Wwaaahhh gila suaminya Breena perhatian banget. Beruntung banget sahabat Gue dinikahin sama cowok modelan Gus ini. Nggak kaya si ono itu" batin Anita*.


"Iya sih Mas, Breena memang uda capek banget" keluh Breena.


"Iya uda kalau gitu kita pulang sekarang iya biar kamu bisa istirahat dulu sebelum masuk waktu magrib"


"Iya Mas"


"Gaes, Gue sama laki Gue pulang dulu. Capek banget badan Gue ini abis dari Bandung tadi. Besok kita ketemu lagi. Bye Assalamualaikum" pamit Breena pada kedua sahabatnya.


"Wa'alaikum salam. Hati hati Gus bawa istrinya jangan sampai istrinya nanti lecet" ucap Anita.


"Wa'alaikum salam" jawab Windy dan Anita berbarengan.


Dayyan dan Breena pun akhirnya pergi menuju parkiran mobil mereka dengan bergandengan tangan. Seperti tadi, saat ini pun mereka tetap menjadi perhatian para mahasiswa yang mengenal atau pun tidak mengemal Breena.


...----------------...


Sementara itu di mansion Danuarta.


Setelah kepulangan Mommy Aletha, Mommy Rianti terus menatap foto yang dia dapat dari sahabatnya itu.


Thomas yang melihat Mommy nya senyum senyum sendiri pun mengerutkan alisnya. Nggak biasa nya Mommy nya seperti itu ketika melihat ponselnya.


"Mom" panggil Thomas.


"Sini sayang" panggil Mommy Rianti sambil menepuk sofa disampingnya.


"Lihat ini sayang" tunjuk Mommy Rianti ketika Thomas sudah duduk disebelahnya.


Thomas pun memandangi foto itu. Ia memperhatikan wanita yang lebih muda dari wanita paruh baya yanh ada disebelahnya.


"Mom, kok wajahnya seperti wajah Mommy sama Daddy iya? Kok bola matanya mirip bola mata Daddy iya Mom?" tanya Thomas penasaran.


Mommy Rianti tersenyum mendengar pertanyaan anak laki lakinya.


"Dia mirip seperti Kakak mu sayang. Dan kamu tau kalung yanh dia pakai itu, kalung pesanan Mommy khusus untuk kakak mu dengan liontin bermata biru" ujar Mommy Rianti.

__ADS_1


"Serius Mom?" tanya Thomas tak percaya. Yang hanya di angguki oleh Mommy nya.


"Mom semoga dia beneran Kak Anggi Mom. Terus dimana dia sekarang Mom?"


"Iya sayang semoga dia beneran Kakak mu. Besok kita pergi ke panti asuhan tempat Kakak mu dibesarkan. Mommy mau menanyakan tentang foto ini sayang. Semoga saja foto ini beneran Kakak mu iya sayang"


"Iya Mom. Semoga penantian kita berbuahkan hasil iya Mom. Kita akan berkumpul lagi Mom"


"Waaahhh ada apa ini kok kaya nya ada yang lagi bahagia?" tanya Daddy Steven tiba tiba sudah ada dihadapan kedua Ibu dan Anak itu.


"Lihat Dad, dia seperti Kak Anggi Dad" ucap Mommy Rianti menunjukan foto yang ada di ponselnya.


Daddy Steven pun langsung melihatnya. Dan tak lama air mata turun membasahi pipinya.


"Mom, dia beneran putri kita Mom. Dia Anggi kita Mom. Dari mana Mommy mendapatkan foto ini?" tanya Daddy Steven.


"Dari Aletha Dad. Dia tadi datang ke mansion, kami bercerita tentang Anggi. Kemudian dia menunjukkan foto ini Dad" ucap Mommy Rianti yang kini ikut meneteskan air matanya.


"Dad, besok jadikan ke panti asuhannya?" tanya Mommy Rianti.


"Jadi Mom, Daddy sudah tak sabar mau bertemu dengan putri Daddy"


"Mommy juga Dad. Besok kita semua kesana iya" ucap Mommy Rianti yang diangguki oleh Thomas dan Daddy Steven.


...----------------...


Pagi harinya keluarga Danuarta sudah bersiap berangkat ke panti asuhan yang sudah diberitahu oleh orang suruhannya.


Dengan dikawal oleh 2 mobil berisi para bodyguard, mobil keluarga Danuarta pun terparkir sempurna dihalaman panti asuhan tersebut.


Jarak antara mansion dan panti asuhan yang terlalu jauh membuat mereka lama sampainya. Apa lagi harua terjebak oleh kemacetan.


Terlihat di depan panti ada pamplet bertuliskan PANTI ASUHAN IBU AYU. Satu keluarga itu pun segera masuk dan menuju ke kantor pengurus.


Tok Tok Tok


"Assalamualaikum"


Pintu pun terbuka, dan keluarlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian gamis dan hijab syar'i nya.


"Wa'Alaikum salam. Cari siapa iya Pak?" tanya wanita itu.


"Saya ingin mencari pemilik panti asuhan ini Bu" jawab Mommy Rianti dengan senyum ramahnya.


"Silahkan masuk Bu, Pak, Aden. Nanti saya panggilkan pemilik panti asuhan ini" jawabnya.


"Terima kasih"


Kemudian keluarga Danuarta itu pun masuk kedalam dan duduk disofa yang disediakan untuk para tamu.


"Sebentar iya Bu, Pak, saya panggilkan dulu Ibu Ayu nya" jawab Ibu itu lalu meninggalkan keluarga Danuarta.


"Dad, kasihan sekali kalau anak kita memang dibesarkan disini Dad. Selama ini kita hidup bergelimang harta, tapi anak kita hidup harus serba kekurangan dan berbagi" ucap Mommy Rianti sedih yang sudah meneteskan air matanya.


"Sabar Mom. Itu bukan salah kita sepenuhnya. Nanti kita bisa perbaiki semuanya Mom" ucap Daddy Steven menenangkan istrinya.


Tak lama Ibu pemilik panti pun datang dan menyapa keluarga Danuarta.

__ADS_1


"Maaf Ibu Bapak. Ada yang bisa saya bantu?"


__ADS_2