
Setelah duduk beberapa menit Mbak Ani pun memutuskan untuk mandi dan bersiap siap. Ia tak ingin membuat keluarga Brian menunggu nya.
Selesai bersiap, Mbak Ani pun keluar dari kamar nya yang berada di lantai atas, yang tepat beerada didepan kamar Dayyan.
Mbak Ani berjalan menuju ruang keluarga, dan melihat Umma Hanum dan Abah Arsya yang sedang menonton televisi sambil mengemil.
"Umma"
"Sini Nduk" ucap Umma Hanum sambil menepuk sofa disampingnya.
"Kenapa? Kamu deg degan iya?" tanya Umma Hanum yang melihat wajah Mbak Ani yang sudah dianggap nya anak itu.
"Nggih Umma. Ani gugup banget"
"Memang seperti itu Nduk. Umma dulu juga gitu ketika Abah mengajak Umma ta'aruf. Tapi setelah nya bakalan lega kalau kita sudah menjawab ajakan mereka" jelas Umma Hanum sambil mengelus kepala Mbak Ani.
Mbak Ani pun merebahkan kepalanya dipangkuan Umma Hanum. Lalu memeluk perut Umma Hanum.
"Terima kasih Umma untuk segalanya. Ani banyak berhutang budi kepada keluarga Umma" ucap Mbak Ani yang sudah menyembunyikan wajahnya diperut Umma Hanum.
"Tidak ada nama nya hutang budi untuk seorang anak Nduk. Umma dan keluarga ikhlas membesarkan kamu, dan menjaga kamu selama disini. Selain itu adalah permintaan dari kedua orang tua kamu sendiri. Bahkan Umma bahagia kamu ada disini Nduk. Umma jadi berasa memiliki anak perempuan" ucap Umma Hanum menyanggah ucapan Mbak Ani.
"Nduk" panggil Abah Arsya.
Mbak Ani pun langsung duduk setelah mendengar suara Abah Arsya.
"Nggih Bah"
"Maaf kalau Abah terkesan lancang. Namun ini semua memang sudah seharus nya terjadi. Abah telah menghubungi pengacara keluarga kamu Nduk. Abah mengatakan kalau kamu akan menerima ta'aruf dari seorang pria. Dari yang Abah tau, kalau syarat kamu mendapatkan hak waris mu itu, kamu harus menikah dulu. Jadi Abah menghubungi pengacara keluarga kamu. Namun Abah tidak mengatakan kalau kamu akan menerima ta'aruf dari Brian. Biar nanti ketika kalian menikah, pengacara keluarga kamu itu baru mengetahuinya. Inti nya, beliau menitipkan kamu sama Abah sampai nanti acara pernikahan kalian terlaksana. Dan surat surat untuk hak waris mu sudah selesai" jelas Abah Arsya.
Mbak Ani tak menyangka kalau ia memiliki hak waris dari keluarga nya. Ia bahkan sudah pasrah kalau memang harta milik Ayah nya itu jatuh ketangan saudara tiri sang Ayah. Asalkan mereka tak menyakitinya dan nyawa nya tetap aman.
"Terima kasih Abah. Ani sangat bersyukur memiliki kalian saat ini. Tapi Abah apa Ani memang wajib menerima hak waris itu?" tanya Mbak Ani hati hati.
"Wajib Nduk. Karena itu memang harta keluarga kamu. Buka. Harta dari keluarga saudara tiri Ayah mu itu. Jadi mau bagaimana pun kamu menolak nya. Harta itu memang hak kamu" ucap Abah Arsya tegas.
Mbak Ani hanya menganggukan kepalanya. Ia tak ingin memikirkan masalah harta itu. Yang penting hidupnya aman dan tak ada yang mengganggunya.
Diluar telah terdengar suara beberapa mobil yang telah memasuki halaman ndalem. Ada enam mobil mewah yang terparkir rapi dihalaman ndalem. Salah satunya mobil mewah milik Dayyan.
Iya Dayyan dan Breena beserta kedua orang tuanya memang ikut ke Bandung. Mereka baru datang karena Dayyan memiliki acara pengajian tadi malam.
Begitu sampai dan mobil berhenti dengan sempurna, Breena langsung keluar dan berlari menghampiri Ibu mertuanya yang sudah menunggu diteras rumah.
"Umma" panggil Breena manja.
"Menantu Umma uda sampai. Bagaimana dijalan tadi sayang? Macet nggak?" tanya Umma Hanum sambil memeluk menantunya itu yang sedang dalam mode manja.
__ADS_1
"Lumayan macet Umma. Tapi nggak terlalu parah. Hmm Umma"
"Kenapa sayang?" tanya Umma Hanum menatap heran kearah Breena.
"Breena pengen makan rujak tapi Umma yang buat, boleh?" tanya Breena ragu sambil menunduk.
"Rujak?" tanya Umma Hanum yang masih bingung dengan permintaan Breena.
Breena pun mengangguk dengan antusias dan binar dimatanya. Umma Hanum menatap kearah sang anak, meminta penjelasan.
Huufftt
Dayyan menghela nafasnya.
"Dari beberapa hari yang lalu Breena minta rujak ke Dayyan Umma. Tapi dia bilang cuma mau rujak buatan Umma. Karena Dayyan banyak pekerjaan jadi baru bisa sekarang datang kesini Umma" jelas Dayyan lesu.
"Baik lah nanti kita buat rujak iya" ucap Umma lembut.
"Yyeeehhhh terima kasih Umma" ucap Breena girang.
"Iya uda Breena langsung kekamar iya Umma. Pinggang Breena sakit banget, kaya nya Breena mau istirahat dulu Umma" pamit Breena yang kemudian langsung masuk kedalam. Ia sudah tak mempedulikan lagi tamu sang Umma. Karena kondisi tubuhnya yang sudah merasa tidak enakan.
Semua yang melihat tingkah Breena bertanya tanya. Mereka pun kompak menatap kearah Dayyan, seolah meminta penjelasan.
"Dayyan nggak tau. Breena memang sering ngeluh kalau dia capek. Tapi begitu dibawa istirahat uda enakan katanya" jelas Dayyan.
Semua nya pun hanya menganggukan kepala.
Dengan sigap Ani langsung menyuguhkan teh dan cemilan untuk para tamu.
"Duduk sini Nduk" pinta Abah Arsya.
Kemudian Mbak Ani pun duduk ditengah tengah antara Umma Hanum dan Mama Ratih.
"Apa bisa kita mulai Pak Kyai?" tanya Daddy Martin.
"Silahkan Pak Martin"
"Baiklah. Kalau begitu izin kan saya menyampaikan apa yang menjadi niat saya dan keluarga saya datang kesini" jeda Daddy Martin.
"Saya selaku Daddy dari Brian, ingin menyampaikan niat baik dari putra bungsu saya yang ingin meminang salah satu putri dari Pak Kyai Arsya. Kalau begitu saya persilahkan Brian untuk menyampaikan niat baik nya" lanjut Daddy Martin yang ingin anaknya mengutarakan niatnya.
Dengan gugup Brian pun menatap semua orang yang ada. Ia menghembuskan nafasnya perlahan untuk mengurangi kegugupannya.
"Assalamualaikum Pak Kyai. Izin kan saya untuk menyampaikan niat baik saya kepada anda Pak Kyai" ucap Brian meminta izin.
"Wa'alaikum salam. Silahkan nak Brian"
__ADS_1
"Saya Brian Anderson, ingin menyampaikan niat baik saya untuk meminang putri anda yang bernama Ani untuk menjadi istri beserta Ibu dari anak anak saya. Memang saya dan Ani baru saja dipertemukan beberapa waktu yang lalu. Namun ketika Gus Dayyan mengusulkan untuk saya sholat istikhorah dan saya melakukannya. Ketika saya mendapatkan jawaban dari sholat istikhorah saya. Saya jadi memantapkan hati untuk meminang putri Pak Kyai yang bernama Ani. Sesuai dengan janji sebelum nya. Kalau saya memberikan waktu kepada Ani untuk memikirkan nya dan mencari petunjuk. Tepat hari ini 2 minggu saya menunggunya. Saya ingin mengetahui apakah Ani bersedia menjadi istri dan Ibu dari anak anak saya atau tidak?"
"Bagaimana Ani? Apa jawaban dari sholat istikhorah kamu Nduk?" tanya Abah Arsya yang menatap lekat putri angkatnya itu.
Ani menunduk. Ia meremas gamisnya. Umma dan Mama Ratih pun kemudian menggenggam tangan nya. Memberikan kekuatan kepada Ani. Ani pun menatap Umma nya yang dibalas senyuman dan anggukan oleh sang Umma.
"Bismillah, sesuai dengan janji saya kemarin. Saya pun sudah mendapatkan jawaban nya. Namun boleh kah saya bertanya terlebih dahulu kepada Mas Brian?" tanya Ani hati hati.
"Boleh Ani"
"Apa Mas Brian menerima semua kekurangan saya dan kelebihan saya?"
"Iya saya menerima kamu apa adanya. Saya menerima semua kekurangan dan kelebihan kamu"
"Apakah Mas Brian ada rencana untuk berpoligami?" tanya Ani dengan wajah yang tetap tertunduk.
Semua yang mendengar pertanyaan Ani pun sontak memucat.
"Insya Allah saya tidak akan mempoligami kamu Ani" jawab Brian tegas.
Senyum mengembang diwajah cantik Ani yang tertunduk. Ia pun memberanikan diri untuk menatap semua orang yang berada diruangan itu.
"Bismillah, saya bersedia menjadi istri dan Ibu untuk anak anak Mas Brian. Saya menerima pinangan dari Mas Brian" ucap Ani dengan senyum mengembang nya.
Seketika semua yang ada disana mengucap syukur.
"Alhamdulillah" ucap semua nya dengan senyum bahagianya.
Brian pun langsung mengekuarkan cincin yang ada disaku jas nya. Ia menyerahkan nya kepada Mommy nya. Kemudian Mommy Aletha pun memakaikan nya dijari manis Ani.
"Terima kasih sudah menerima anak Mommy sayang. Selamat bergabung dikeluarga Anderson" ucap Mommy Aletha dengan mata berkaca kaca nya.
"Terima kasih Mommy. Terima kasih sudah menerima Ani masuk kedalam keluarga Mommy" ucap Ani tulus.
"Selamat Brian. Untuk kali ini saya minta sama kamu. Tolong jaga Ani dengan baik. Jika kamu sudah tak mencintainya lagi, Abah mohon kembalikan dia kepada Abah dengan baik baik. Jangan menyakitinya" pesan Abah Arsya.
"Iya Bah. Brian akan menjaga Ani dengan baik. Seperti Brian menjaga nyawa Brian sendiri" janji Brian dengan sungguh sungguh.
"Abah pegang janji kamu nak" ucap Abah Arsya sambil menepuk bahu Brian pelan.
Ucapan selamat terus terdengar di ruangan itu. Sampai satu suara menghentikan mereka semua.
"Mas" panggil Breena dengan muka merajuk nya.
"Ada apa sayang?" tanya Dayyan khawatir.
"Laper Mas" rengek Breena.
__ADS_1
Sontak saja perkataan Breena membuat yang ada disana tertawa. Rasa haru dan bahagia mereka tergantikan dengan gelak tawa.
"Baiklah karena menantu dirumah ini sudah lapar. Jadi mari kita keruang makan. Untuk menyantap masakan yang sudah disediakan" ucap Abah Arsya dengan kekehan kecilnya.