
Arkam yang terkejut melihat ekspresi sahabat lama nya itu pun tak bisa menutupi keterkejutan nya.
"Kalian kenapa El? Kenapa ekspresi kalian seperti itu dengar kalau mereka memborong es dawet itu? Apa ada yang salah?" tanya Arkam heran.
"Memang nggak salah Arkam. Berbagi rezeki insya allah akan menambah rezeki kita juga. Tapi mau di taruh dimana lagi itu es dawet nya? Mobil kita semua uda penuh bagasi nya" jelas Ansel sambil menggaruk kepala nya yang tak gatal.
"Kenapa sih? Tinggal di taruh di bawah jok mobil kan bisa"
Ansel yang mendapat kan pertanyaan itu pun semakim menggaruk kepala nya yang prustasi. Windy pun langsung mengelus lengan suami nya itu.
Sedangkan tersangka yang nyata nya telah memborong es dawet itu hanya duduk dengan santai nya melihat keputus asaan Kakak ipar nya itu.
"Kau tau Arkam, kami dari Jakarta itu ada sepuluh mobil. Terus kami berhenti di pinggir jalan makan di warung bakso. Kau tau tuh suami nya si Breena borong 1000 bungkus bakso. Terus kan iya kita jalan lagi. Di jalan ketemu sama penjual manisan. Para istri justru memborong manisan lagi. Kau tau bagasi sepuluh mobil itu sudah penuh semua. Dan sekarang dia nya justru menambah kan nya lagi sama es dawet. Mau di taruh dimana Daaaaayyyyyaaaannn?" ucap Ansel semakin prustasi.
Arkam menganga mendengar cerita Ansel. Dia berpikir seberapa banyak uang yang sudah mereka habis kan selama perjalanan dari Jakarta ke Bandung? Batin Arkam.
"Jangan marah Kak, nanti cepat tua. Maksud nya es dawet itu untuk di bagi kan sama nasabah dan karyawan di Bank ini. Kalau memang masih lebih. Ia di bagi kan saja sama orang yang lewat. Nggak ribet kan? Lagian kalau mau di bawa ke pondok. Ia nggak mungkin Kak. Es nya pasti uda mencair" ucap Dayyan santai sambil menikmati kopi nya.
"Alhamdulillah" Ucap semua orang yang ada disana.
Perbincangan mereka pun kembali ke perbincangan random. Banyak yang di ceritakan Arkam ke Ansel begitu pun sebalik nya selepas mereka berpisah setelah wisuda.
Tak lama datang lah lima orang wanita ke atas. Mereka adalah Breena, Anggi beserta pengasuh ketiga bayi kembar Breena yang masing masing menggendong bayi kembar itu.
"Lohhh anak Abi kok nyusul kesini?" tanya Dayyan yang langsung menggendong Deera yang terlihat habis menangis.
"Kamu kenapa nangis sayang?" tanya Dayyan lagi sambil memeluk putri satu satu nya itu.
"Dia baru bangun tidur Mas, terus nangis kaya nyariin kamu gitu. Iya uda jadi kita bawa aja semua nya kesini" ucap Breena.
"Kenapa sayang? Kangen sama Abi iya" ucap Dayyan sambil menciumi wajah sembab nya Deera.
Arkam yang sedari tadi melihat kedatangan Breena pun menatap nya tak berkedip. Breena yang merasa di tatap sama seseorang pun hanya mengangguk kan kepala nya.
__ADS_1
"Jaga mata Lo Arkam. Apa lo mau gue panggilin bini lo biar nyusul lo kesini" ancam Ansel yang melihat tatapan Arkam yang tak berkedip.
"El dia siapa?" tanya Arkam yang masih tak memaling kan wajah dari Breena.
"Disikat sama laki nya baru tau rasa Lo" ucap Ansel sambil meraup wajah Arkam.
"Jadi siapa dia?" tanya Arkam lagi.
"Dia Breena Pak Arkam. Istri saya dan ini anak kami. Kembar tiga" bukan Breena yang jawab tapi Dayyan.
"Dedek Breena" ucap Arkam tak percaya.
Breena yang di panggil seperti itu hanya tersenyum tipis. Ia sama sekali tak mengenal siapa lelaki yang ada di hadapan nya ini.
"Dedek nggak ingat sama Kak Arkam?"
Breena yang mendapati pertanyaan itu hanya menggeleng kan kepala nya.
Ansel dan yang lain nya sudah tak bisa menahan tawa mereka saat Breena menggeleng kan kepala nya.
Breena lagi lagi menggeleng kan kepala nya. Ansel, Brian dan Nova tertawa puas melihat jawaban Breena.
Arkam membuat tubuh nya yang pura pura lemes dan jatuh ke lantai. Bagaimana bisa dia di lupakan sama cinta monyet nya dulu.
"El, kenapa Dedek mu itu sungguh kejam sekali sama ku? Bahkan dia sudah melupakan diriku El" adu nya sesedih mungkin.
"Kak El. Dia siapa?" tanya Breena yang mulai kasihan dengan tingkah Arkam.
"Kamu ingat nggak dek temen Kakak dulu ynag selalu ikut ke rumah Papa Mama. Yang selalu ikut bermain masak masakan dan barbie dengan kamu?" tanya Ansel memberikan clue pada Breena.
Breena pun langsung mengingat ingat siapa teman kakak nya yang selalu ikut bermain dengan nya dulu.
"Nggak usah di jelas kan sampe kesana nya juga kali El. Malu gue sama teman teman Lo dan karyawan gue" protes Arkam dengan tatapan tajam nya.
__ADS_1
Karyawan nya yang mendengar itu langsung menahan tawa mereka. Mereka tak menyangka kalau bos mereka dulu nya bermain seperti itu.
"Apa dia kak Arkam kak El? Kak Arkam yang selalu main barbie nya Breena?" tanya Breena memastikan.
Lagi lagi semua yang ada di lantau dua itu tertawa mengetahui satu fakta yang baru mereka ketahui hari ini. Fakta atasan mereka yang memiliki Bank swasta di tempat mereka kerja, yang ternyata dulu nya suka main barbie.
"Iya sayang. Dia Arkam si barbie boy. Hahahhaha" jawab Ansel yang tertawa lepas.
Arkam menggerutu mendengar panggilan lama nya itu terdengar kembali. Ia tak menyangka kalau Breena mengingat nya ketika di kasih clue kalau dia dulu suka main barbie nya Breena.
"Jadi dedek uda ingat kan?" tanya Arkam dengan senyum manis nya.
Breena pun juga mengangguk kan kepala nya dengan senyum manis nya juga.
"Duuuhhh akhir nya dapat senyuman manis juga dari dedek Breena." ucap Arkam seolah olah dia meleleh karena mendapat kan senyuman dari Breena.
Dayyan yang tak kuat melihat drama di depan nya pun akhir nya berdehem juga.
EKHEM
"Tuh kan pawang nya datang" ucap Dion.
"Panas panas panas" ucap Brian sambil mengipasi wajah nya dengan tangan nya.
"Uda belum sih? Kok lama banget" omel Dayyan yang sudah tak sabaran ingin sampai di rumah Umma nya.
"Gimana nggak lama orang kalian pada gila ngerambok Bank gue" ucap Arkam ketus.
"Maksud nya apa?" tanya Dayyan yang tak paham maksud Arkam.
"Mereka merampok Bank gue, 5 M satu orang. " ucap Arkam
"Serius?"
__ADS_1
Ansel dan yang lain nya mengangguk kan kepala nya membuat Dayyan memijit pangkal hidung nya yang mendenyut.
Mereka hanya liburan beberapa hari. Tapi kenapa banyak sekali uang yang harus mereka cair kan.