Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Kesedihan Windy


__ADS_3

Breena membawa semua keluarga nya keluar aula. Mereka akan berfoto di tempat yang sudah disedia kan oleh pihak kampus. Senyum bahagia terpancar dari wajah cantik Breena.


Mereka berfoto secara bergantian. Terakhir Breena dan Dayyan berfoto berdua. Berbagai gaya di lakukan mereka untuk menghasil kan foto yang bagus.


Anita dan Windy beserta keluarga mereka pun juga keluar. Mama Papa Anita berpamitan terlebih dahulu dengan Ibu nya Windy, sebab mereka setelah ini ada perjalanan bisnis. Begitu juga dengan keluarga Breena. Mama Papa Anita juga menghampiri mereka dan berpamitan. Sebelum pergi mereka berbasa basi terlebih dahulu. Kemudian mengucap kan selamat kepada Breena.


Dari posisi Anita dan Windy, dapat kedua nya lihat bagaimana bahagia nya Breena. Namun fokus nya Windy bukan kearah Breena melain kan ke arah Ansel yang lebih banyak diam.


Windy menatap ke arah Ansel dengan mata yang berkaca kaca. Ada rindu dan penyesalan yang terpancar dari sorot mata nya.


Anita pun mengelus bahu Windy, memberikan gadis itu ketenangan.


"Ayo kita hampiri. Bagaimana pun Breena sahabat kita. Dia juga sudah banyak membantu kamu Win selama ini" ajak Anita.


"Tidak Nit. Aku nggak sanggup harus menghampiri mereka. Keluarga mereka terlalu baik untuk ku sakiti. Aku nggak sanggup melihat tatapan nya Kak Ansel Nit" ucap Windy penuh penyesalan.


Huufftt


Anita hanya bisa menghela nafas nya. Ia pun juga bingung harus memihak kepada siapa. Di satu sisi ia tidak bisa menyalah kan Windy yang terpaksa harus menerima perjodohan itu. Tapi di sisi lain, ia juga tak membenar kan kelakuan Windy yang menyembunyi kan tentang pertunangan nya. Apa lagi Ansel melihat langsung saat Windy dan laki laki yang di samping nya itu bertunangan.


"Kamu yakin?" tanya Anita memastikan.


"Iya Nit. Aku yakin nggak akan menghampiri mereka. Bukan karena aku tak tau terima kasih. Tapi aku kehilangan muka di hadapan Mommy Gantari. Kamu bisa lihat sendiri, bagaimana kecewa nya Mommy sama aku"


"Iya uda. Aku mau hampiri mereka dulu iya. Setelah ini aku langsung pulang. Soal nya mau nyusul ayang bebeb. Hehehe"


"Iya nggak papa. Hati hati iya"

__ADS_1


Anita pun berpelukan dengan Windy. Lalu beralih ke Ibu nya Windy yang sedari tadi diam dan memperhatikan keluarga Breena.


"Selamat iya Win. Semoga ilmu yang kamu dapat kan berguna. Dan semoga kamu menjadi Dokter yang sukses nanti nya" ucap Anita sebelum iya pergi.


"Iya Nit. Selamat juga buat kamu. Semoga ilmu mu juga berguna"


"Mau berguna gimana? Orang abis ini Gue mau nikah. Hahaha" ucap Anita sambil terkekeh.


"Dasar gila" ejek Windy


"Dah ahh Bye"


Setelah kepergian Anita. Ibu nya Windy yang sedari tadi diam pun mulai berbicara.


"Siapa mereka Win? Kenapa tadi mereka seperti menyalahkan kamu gitu?" tanya Ibu nya Windy penasaran.


"Iya. Emang siapa mereka? Kenapa Anita tadi bilang mereka banyak membantu mu selama disini? Apa mereka orang kaya?" tanya Ibu Windy beruntun.


"Semoga Ibu tidak menyesal setelah tau siapa mereka semua nya" ucap Windy dingin.


Ya, Windy memang berubah sejak ia dipaksa bertunangan oleh Ibu nya dengan dalih perjodohan yang telah di lakukan oleh Ayah nya.


"Yang wisuda itu nama nya, Aurellia Abreena, anak dari pasangan Doni Abraham dan Ratih. Kedua orang tua nya adalah Dokter. Papa nya Dokter spesialis jantung. Mama nya Dokter spesialis kandungan. Papa nya pemilik rumah sakit Abraham. Ibu tau kan berapa banyak rumah sakit Abraham di negara kita ini. Breena istri dari Dayyan Pratama. Anak dari Kyai Arsya Pratama dan Nyai Hanum. Mereka pemilik pondok pesantren Al-Hidayah yang ada di Bandung. Sedangkan suami nya pemilik perusahaan Pratama.Corp. Perusahaan yang bergerak di bidang properti" ucap Windy yang sengaja menjeda penjelasan nya. Ia ingin melihat ekspresi wajah Ibu dan tunangan nya itu.


"Rumah sakit Abraham. Yang salah satu rumah sakit nya ada di kampung kita. Rumah sakit terbesar di kampung kita itu?" tanya Ibu Windy tak percaya.


"Ya. Itu rumah sakit milik mereka pribadi. Bukan rumah sakit umum milik pemerintah" ucap Windy datar.

__ADS_1


"Lalu siapa lagi yang ikut bersama nya?"


"Pria yang mempunyai anak perempuan yang baru berusia hampir 3 tahun itu nama nya Brian Anderson. Anak dari Martin Anderson dan Aletha Kanaya. Pemilik AD Grup. Dia adalah mantan kekasih nya Breena. Namun ia menikah dengan perempuan lain. pernikahan nya tak lama. Dia baru saja menikah lagi dengan wanita yang berhijab dan bercadar itu seminggu yang lalu. Mereka juga memiliki rumah sakit yang di pegang langsung oleh anak sulung mereka. Bisnis mereka ada dimana mana"


"Yang berdiri di sebelah wanita yang bercadar itu nama nya Anggita Maharani Danuarta. Dia sekretaris nya Dayyan, suami nya Breena. Dia anak dari Steven Danuarta dan Rianti Aulia. Mereka pemilik DN Grup. Dan suami Anggi bernama Dion Wijaya, ia bekerja sebagai asisten nya Dayyan"


"Terus yang marah marah tadi siapa?" tanya Ibu Windy yang sangat penasaran dengan Mommy Gantari.


"Nama nya Falisha Gantari Abraham. Kakak nya Doni Abraham Papa nya Breena. Suami nya nama nya Calvin Bagaskara, pria keturunan Indo-Belanda. Pemilik Bagaskara corporation. Mereka memiliki anak tunggul. Ansel Ivander Bagaskara" ucap Windy sambil menatap kearah Ansel yang tersenyum lembut kearah Breena.


"Ibu tau siapa itu Ansel?" tanya Windy dengan mata yang berkaca kaca.


Ibu yang memperhatikan Windy sejak tadi hanya bisa menggelengkan kepala nya. Tatapan Ibu beralih kearah lelaki yang sudah menjadi calon menantu nya.


"Ansel kekasih ku Bu sebelum pertunangan itu dilakukan. Dia pria yang baik. Seharus nya hari ini dia melamar ku Bu. Namun semua nya gagal karena pertunangan itu. Ia menyaksi kan langsung acara pertunangan itu. Kekasih nya yang di perjuangkan dia cukup lama, bertunangan dengan lelaki lain. Hati nya hancur Bu. Dia kehilangan cinta nya yang dia perjuang kan selama ini. Aku sudah menyakiti nya Bu. Menyakiti hati Breena, terutama hati Mommy Gantari. Aku melukai hati mereka semua. Mengkhianati semua kebaikan mereka kepada ku. Apa Ibu tau kalau selama ini keluarga mereka lah yang membantu biaya tambahan ku selama hidup di Jakarta ini Bu. Uang kiriman Ibu selalu kurang setiap bulan nya. Tapi mereka dengan suka rela membantu biaya hidup ku Bu. Teruta Mommy Gantari. Ia selalu meminta ku ke rumah nya setiap selesai kuliah. Ia selalu memasak kan makanan untuk ku Bu. Ia sudah menganggap ku seperti anak nya sendiri. Bahkan aku memiliki kamar tersendiri di mansion mewah mereka Bu. Mereka menerima ku yang hanya dari keluarga tak punya Bu. Ibu tau kekayaan mereka tak kan berkurang sampai ke anak cucu cicit mereka" jelas Windy dengan air mata yang berderai.


Ibu pun juga tak kuasa menahan air mata nya. Ia begitu bersalah karena telah menyakiti hati orang yang selama ini membantu anak nya. Tapi ia juga tak punya pilihan, janji suami nya harus di tepati.


"Apa yang harus ku lakukan Bu? Karena aku anak mereka satu satu nya memilih tinggal di Belanda bersama Grandma nya. Aku sudah memisahkan anak dari Ibu nya Bu. Apa Ibu tau bagaimana perasaan nya Mommy Gantari? Dia pasti tersiksa harus berpisah dengan anak nya" tangis Windy dengan sesenggukan.


Lelaki yang ada di samping nya pun meraih tubuh Windy. Membawa nya kedalam pelukan nya. Ia mengusap punggung Windy, memberikan ketenangan. Ia tau kalau ia telah merebut milik orang lain. Namun lagi lagi janji memang harus di tepati.


"Jangan nangis lagi. Kita akan meminta maaf sama keluarga mereka. Bagaimana pun aku juga ikut bersalah disini. Uda iya jangan lagi nangis. Mata kamu uda sembab banget" ucap Pria itu lembut. Ibu pun juga ikut menenangkan Windy.


"Aku uda jahat Mas. Aku uda menyakiti orang yang uda terlalu baik dan membantu ku selama ini. Aku uda jahat Mas" ucap nya di sela tangis nya.


"Kamu nggak jahat Dek. Kamu melakukan ini karena janji Ayah mu dan Ayah ku. Nanti malam kita temui mereka di rumah nya. Kita akan minta maaf sama mereka iya. Uda sekarang kamu jangan nangis lagi" bujuk pria itu lembut.

__ADS_1


Windy hanya bisa mengangguk kan kepala nya. Ia tak tau lagi harus berkata apa. Hati nya sangat sakit melihat Ansel yang tidak baik baik saja. Apa lagi Mommy Gantari yang memandang nya tak bersahabat. Itu membuat nya semakin merasa bersalah.


__ADS_2