
Dengan telaten Dayyan terus menyuapi sang istri sampai nasi yang ada didalam piring itu habis mereka makan berdua.
Selesai sarapan Mama Ratih pun mengajak suami, anak dan menantunya berangkat ke rumah sakit.
"Ayo kita berangkat sekarang" ajak Mama Ratih.
"Mama duluan aja iya. Kan Mama sama Papa ada jadwal visit. Breena sama Mas Dayyan nyusul aja nanti iya Mah" ucap Breena sambil menahan rasa mual nya.
"Iya uda nanti langsung ke ruangan Mama iya sayang. Mama tunggu loh" pesan Mama Ratih.
"Iya Mah. Iya uda Breena kekamar dulu iya Mah Pah" pamit Breena yang langsung berlari kearah kamar nya. Karena ia sudah tak tahan ingin muntah.
"Susul istri mu Dayyan, seperti nya dia sedang tak baik baik saja" perintah Papa Doni tegas.
"Iya Pah. Tadi pagi pun Breena sudah berulang kali muntah. Tapi yang keluar hanya air saja. Breena bilang cuma masuk angin ajaa" jelas Dayyan
"Iya uda kamu lihat lah dia dulu, seperti nya dia kembali muntah lagi. Nanti kalau uda enakan langsung bawa saja kerumah sakit iya. Mama sama Papa pergi dulu"
Dayyan pun segera menyalami tangan kedua mertuanya itu. Kemudian ia langsung beranjak menuju kekamar nya.
Dan benar saja seperti dugaan mertua nya kalau Breena sedang muntah muntah.
"Sayang" panggil Dayyan yang wajahnya kini sudah terlihat sangat khawatir.
Huueekk
Huueekk
Breena terus terusan memuntahkan semua isi perutnya. Ia bahkan sampai tak menyadari kehadiran suaminya.
Setelah selesai lagi lagi Breena terduduk didekat closet. Ia begitu lemas. Bahkan wajah nya kini sudah semakin pucat.
Dengan cepat Dayyan langsung menggendong Breena keluar kamar. Ia membawa Breena kedalam mobilnya. Kemudian dengan kecepatan sedikit cepat, Dayyan menuju ke rumah sakit milik mertua nya.
Dayyan berkali kali melirik kearah istrinya. Ia berulang kali membangunkan istrinya. Namun tak ada jawaban dari Breena. Dan yang bisa dipastikan oleh Dayyan kalau Breena saat ini sedang pingsan. Dayyan pun semakin meninggikan laju kecepatan mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit Dayyan langsung berhentikan mobilnya di lobby rumah sakit. Kemudian ia menggendong Breena.
Beberapa perawat yang melihat kedatangan Dayyan dengan menggendong Breena pun langsung mendekat dan membawa brangkar. Mereka segera membawa Breena ke ruang UGD.
Melihat kepanikan dari beberapa rekan kerjanya, seorang perawat pun menyinyir nya.
"Baru pingsan seperti itu saja uda di istimewakan saja. Uda kaya pemilik rumah sakit ini aja" sindir perawat itu.
Sindirannya terdengar oleh salah satu perawat senior disana.
"Apa yang barusan kau bilang. Coba ulangi lagi" ucap perawat itu tegas.
Perawat tadi pun kembali mengulang apa yang dibilang nya tadi dengan tatapan sinis nya. Membuat perawat senior itu meeasa geram.
"Kau anak baru disini. Kau tak tau siapa tadi yang digendong sama pria tadi?" tanya perawat senior itu dengan tatapan tajam nya.
__ADS_1
Perawat baru itu pun menggeleng dengan santainya.
"Biar ku kasih tau. Kau tau pemilik rumah sakit kita hanya memiliki satu anak perempuan yang sangat cantik. Dan biar kau tau, wanita yang digendong tadi adalah anak dari pemilik rumah sakit ini. Dan yang menggendongnya adalah suami nya. Dengan kata lain lelaki tadi adalah menantu dari pemilik rumah sakit ini" ucap perawat senoir itu dengan lantang.
Breena sedang diperiksa diruang UGD, sedangkan Dayyan menunggu diluar sambil berjalan mondar mandir. Ia sangat khawatir dengan kondisi istrinya itu.
Dari arah yang berlawanan asisten Papa Doni melihat menantu dari Tuan nya sedang mondar mandir pun mendekat.
"Tuan Dayyan, sedang apa anda disini?" tanya Damian.
"Oohh Pak Damian. Saya sedang menunggu Breena Pak. Tadi selepas sarapan ia muntah muntah sampai lemas. Ketika saya bawa kerumah sakit, diperjalanan ia sudah tidak sadarkan diri lagi" ucap Dayyan gelisah.
"Apa anda sudah memberi tahu Tuan Doni dan Nyonya Ratih?" tanya Damian lagi.
Damian yakin kalau menantu Tuan nya ini pasti belum menghubungi mertuanya. Dan tebakan nya pun benar ketika ia melihat Dayyan menggelengkan kepala nya sambil mencari ponsel nya.
"Astafirullah saya lupa Pak. Saya juga tidak membawa ponsel saya" ucap Dayyan sambil mengusap kasar wajahnya.
Damian pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Papa Doni.
"Hallo Damian. Ada apa?" tanya Papa Doni ketika ia baru saja memeriksa pasien nya.
"Maaf mengganggu Tuan. Tapi di UGD ada Tuan Dayyan yang sedang menunggu Nona Breena diperiksa Tuan" ucap Damian.
"Kau tunggu disana" ucap Papa Doni langsung mematikan telponnya.
Ia pun segera berlari keluar dan meninggalkan perawat yang berjalan bersama nya untuk mengecek pasien yang lain. Tujuan Papa Doni sekarang adalah UGD. Bahkan ia lupa untuk menghubungi istrinya, karena khawatir dengan keadaan putrinya.
"Iya ada apa Damian? Kenapa kau menelpon saya?" tanya Mama Ratih dengan lembut.
"Maaf mengganggu Nyonya. Saat ini Tuan Dayyan sedang berada di UGD menunggu Nona Breena" ucap Damian dengan tenang.
"Kau jangan bercanda Damian. Breena sedang dirumah sekarang" ucap Mama Ratih kesal.
"Saya sedang tidak bercanda Nyonya. Kata Tuan Dayyan, Nona Breena tadi muntah muntah sampai lemas, dan dketika dibawa ke rumah sakit diperjalanan sudah tidak sadarkan diri" jelas Damian agar sang Nyonya percaya.
Mama Ratih masih terdiam. Ia mencerna ucapan dari asisten suaminya. Mama Ratih baru percaya ketika mendemgar suara suaminya.
"Dayyan apa yang terjadi?" tanya Papa Doni dengan nafas yang ngos ngosan karena berlari.
Mama Ratih pun langsung mematikan telepon nya. Ia langsung pergi menuju ke UGD.
"Dayyan nggak tau Pah. Tadi begitu Dayyan masuk kekamar Breena sudah muntah muntah sampai lemas Pah. Terus Dayyan bawa ke rumah sakit. Tapi dijalan Breena sudah tidak sadarkan diri Pah" jelas Dayyan dengan mata yang berkaca kaca.
Ia sungguh sangat takut melihat kondisi sang istri.
"Apa dokter sudah keluar?" tanya Papa Doni yang hanya mendapatkan gelengan kepala dari Dayyan.
"Iya uda kita tunggu saja dulu iya" ucap Papa Doni sambil mengelus pundak menantunya.
Cklek
__ADS_1
Pintu UGD pun terbuka. Dokter keluar dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
"Dokter bagaimana kondisi istri saya?" tanya Dayyan cepat ketika ia melihat dokter sudah keluar.
Belum sempat menjawab Mama Ratih sudah lebih dulu bertanya.
"Pah , Dayyan. Bagaimana?" tanya Mama Ratih dengan raut wajah cemas nya.
"Nona Breena tidak kenapa kenapa Tuan, Nyonya. Dia baik baik saja ---" ucap Dokter tersebut.
"Baik baik saja bagaimana Dokter. Istri saya muntah muntah sampai pingsan anda bilang baik baik saja" ucap Dayyan dengan nada yang mulai meninggi.
"Sabar Nak. Kita dengarkan dulu penjelasan nya?" ucap Papa Doni menenangkan Dayyan.
"Nona Breena beserta bayi nya baik baik saja Tuan Nyonya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya rasa Nyonya Ratih lebih tau kalau soal ini" ucap Dokter tersebut sambil tersenyum.
Papa Doni dan Dayyan pun terdiam. Mereka masih mencerna perkataan dokter tersebut. Sedangkan Mama Ratih sudah terlihat sangat bahagia.
"Alhamdulillah ya Allah. Akhirnya aku akan jadi nenek juga" ucap Mama Ratih penuh rasa syukur.
Dayyan pun semakin dibuat bingung. Kenapa Mama mertuanya itu terlihat bahagia pada hal anak nya sedang tidak baik baik saja.
"Benar Nyonya, anda akan menjadi seorang nenek. Selamat Nyonya Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu" pamit Dokter tersebut. Kemudian meninggalkan keluarga pemilik rumah sakit yang masih berdiri didepan ruangan UGD.
Mama Ratih mengernyitkan alis matanya menatap kearah suami dan menantunya yang masih diam membeku.
"Apa kamu tidak bahagia Dayyan mendengar istri mu hamil?" tanya Mama Ratih heran.
"Breena beneran hamil Mah?" tanya Dayyan polos.
"Iya, dokter tadi bilang begitu. Itu lah alasan Mama meminta kalian datang ke rumah sakit. Karena Mama sudah menduga kalau istri kamu itu hamil" ucap Mama Ratih.
Seketika senyum mengembang diwajah tampan nya.
"Alhamdulillah ya Allah. Mah apa Dayyan sudah boleh melihat Breena?" tanya Dayyan antusias.
"Boleh. Sepertinya Breena sudah dipindahkan keruangan khusus keluarga di lantai 5. Kalau gitu ayo kita kesana" ajak Mama Ratih.
Dayyan dengan semangat pun berjalan kearah lift. Sedangkan Papa Doni masih terdiam disana. Hal itu membuat Mama Ratih menatap suaminya.
"Pah ayo kita lihat Breena" ajak Mama Ratih lagi.
"Mah beneran putri Papa hamil?" tanya Papa Doni memastikan lagi.
"Bener Pah. Nanti Mama periksa lagi iya. Sekarang ayo kita kekamar Breena" ajak Mama Ratih sambil menarik tangan suaminya menuju ke kamar anak nya.
Sementara itu Dayyan sudah terlebih dahulu sampai di kamar Breena. Bisa Dayyan lihat istrinya sedang tertidur diatas brangkar dengan wajah pucatnya.
Dayyan pun langsung menghampiri Breena dan mencium seluruh wajah Breena dengan sayang.
Lalu pandangan nya terarah ke perut istrinya. Dayyan mengusap nya lembut, mata nya berkaca kaca. Ia teringat baru saja tadi malam ia berharap kalau didalam perut Breena tumbuh buah hatinya mereka. Namun Allah telah mengabulkan nya secepat ini.
__ADS_1