
Papa Doni melihat satu persatu video yang di dapat kan oleh anak buah Daddy Steven. Ia menatap geram dan emosi pada wanita yang sengaja menjebak menantu nya itu.
Dayyan sedari tadi hanya menunduk. Ia tak tau harus seperti apa. Rasa nya ia ingin sekali mendekat ke istri nya, dan memeluk nya erat. Tapi ia tak memiliki nyali untuk melakukan itu.
Sedangkan Breena sedari tadi hanya bisa menangis. Ia merasa bersalah karena tak mempercayai suami nya.
Papa Doni menyerah kan laptop itu kembali kepada Daddy Steven. Ia belum mau bereaksi. Ia masih menunggu apa yang akan di kata kan oleh menantu nya. Namun sampai dua puluh menit pun menantu nya itu masih diam saja.
"Ada lagi yang akan disampaikan?" tanya Papa Doni.
"Ini hasil USG yang di serahkan wanita itu kemarin. Kami menyimpan nya untuk menambah kan bukti kejahatan nya" ucap Daddy Martin sambil menyodor kan hasil USG Hana.
"Kami juga membawa dokter kandungan. Bukan kami tak mau meminta Ratih untuk membacakan hasil USG nya. Tapi kami melakukan ini agar kalian percaya" lanjut Daddy Martin
Kemudian dokter yang dibawa oleh Daddy Martin pun mengambil kertas foto USG yang di berikan oleh Hana. Dia mengamati semua nya. Lalu ia meletak kan kembali Foto USG itu.
"Maaf Tuan Martin. Di foto USG ini terlihat umur janin sudah 10 minggu." ucap Dokter tersebut.
Sontak semua nya terdiam. Mereka tak percaya dengan fakta yang baru saja mereka dengar. Dengan cepat Mama Ratih mengambil foto USG itu. Dan memang benar, disana tertulis '10 weeks" untuk umur janin nya.
Dayyan bernafas lega karena memang terbukti kalau itu bukan anak nya. Begitu pun dengan yang lain nya. Terutama Breena. Ia sudah sangat takut kalau memang anak yang di kandung wanita itu memang benar anak suami nya.
"Maaf kan Papa Dayyan. Maaf kalau tindakan gegabah Papa membuat kamu dan Breena berpisah. Sungguh Papa melakukan itu bukan karena niat. Papa hanya tidak ingin putri Papa mengalami trauma lagi. Terlebih saat ini kondisi nya sedang hamil besar. Kalau Breena terus memikir kan masalah ini dan stres, itu akan berakibat ke kehamilan nya. Sekali lagi maafin Papa Ian" ucap Papa Doni menatap sendu wajah menantu nya yang kini sudah kusut. Tidak seperti dua minggu yang lalu.
"Ian sudah memaaf kan Papa. Ia n paham dan mengerti kenapa Papa melakukan ini. Pasti semua nya untuk menjaga kesehatan Breena. Maafin Ian juga Pah karena nggak cerita sama Papa dan yang lain nya tentang kejadian waktu di Bogor itu" ucap Dayyan yang masih menunduk.
"Dengar Nang, sebisa mungkin komunikasi dan kejujuran itu sangat penting nak. Yang kita takut kan ada nya salah paham yang berakibat fatal. Umma tidak tau bagaimana kehidupan kamu nanti nya jika istri dan anak anak mu beneran meninggal kan kamu karena kesalah pahaman. Jadi sebisa mungkin jujur lah sama pasangan kita. Walau pun kejujuran itu terkadang menyakit kan Nang" ucap Umma Hanum memberi nasehat kepada putra nya.
"Iya Umma, sekali lagi maafin Ian"
__ADS_1
"Mas" lirih Breena.
Dayyan tak langsung menjawab. Ia masih menunduk kan kepala nya. Tak mampu menatap wajah sedih istri nya.
"Mas" panggil Breena lagi.
Perlahan Dayyan mulai mendongak kan wajah nya. Ia menatap sendu wajah istri nya yang mulai kurusan. Wajah yang sangat di rindukan nya.
"Apa Abi tak merindukan kami?" tanya Breena dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Dayyan langsung berdiri. Begitu pun dengan Breena. Bahkan Breena sampai merentang kan kedua tangan nya. Menunggu pelukan suami nya yang begitu di rindukan nya.
Dengan cepat Dayyan berjalan menghampiri istri nya. Ia pun langsung memeluk istri dan calon anak anak nya.
Breena langsung menangis di pelukan suami nya. Begitu pun dengan Dayyan. Tangis yang awal nya adalah tangisan kesedihan karena tuduhan perselingkuhan yang di lakukan oleh suami nya dengan wanita lain. Kini berubah menjadi tangis bahagia karena semua terbukti kalau suami nya tidak bersalah.
"Maafin Breena juga Mas. Maaf karena Breena pergi meninggal kan Mas sendirian menghadapi masalah ini. Terima kasih sudah kembali bersama kami" ucap Breena di sela tangis nya.
Kebahagiaan mereka pun menjalar kesemua nya. Mereka sangat senang melihat kebahagiaan Breena dan Dayyan.
"Ekhem"
Deheman Daddy Martin membuat pasangan suami istri itu melepas kan pelukan nya. Wajah mereka merona. Mereka malu karena sangking senang nya sampai mereka lupa kalau ada para orang tua di ruangan yang sama dengan mereka.
"Maaf Daddy" ucap Dayyan dan Breena berbarengan.
Para orang tua hanya bisa menggeleng kan kepala mereka.
"Duduk lah. Sekarang kita bahas rencana pembalasan kita untuk mereka" ucap Daddy Steven.
__ADS_1
Breena dan Dayyan kembali duduk. Kali iji mereka duduk saling bersampingan. Dayyan tak melepas genggaman tangan nya dari tangan Breena.
"Dasar anak muda" celetuk Daddy Martin.
Dayyan hanya cengengesan di sindir seperti itu.
"Baik lah. Sekarang apa yang akan kamu lakukan Dayyan?" tanya Papa Doni.
"Sebenar nya Ian sudah ingin rasa nya menjeblos kan mereka berdua ke penjara Pah. Tapi seperti nya itu tidak akan membuat mereka jera Pah" ucap Dayyan menyuara kan keinginan nya.
"Iya kamu benar. Mereka tidak akan jera. Dan hukuman yang mereka terima pun pasti tidak akan lama" ucap Daddy Martin sependapat dengan Dayyan.
"Kita memang mempunyai banyak bukti. Tapi itu tidak akan memberat kan hukuman mereka. Mereka pasti akan di hukum beberapa tahun penjara saja. Itu tidak setimpal dengan rasa sakit yang putri Papa rasa kan" ucap Papa Doni.
"Dad, tadi Daddy bilang memiliki banyak rencana untuk mereka. Lalu apa sekarang rencana Daddy?" tanya Dayyan pada Daddy Steven yang sedang menikmati potongan buah yang ada di hadapan nya.
"Oohh rencana untuk mereka.Dengar kan baik baik. Karena Daddy tidak akan mengulang nya" ucap Daddy Steven membuat semua orang duduk tegak menanti apa yang akan di katakan oleh nya.
"Pertama Daddy akan memviralkan video mesum mereka"
"Kenapa di viral kan Dad? Itu kan bisa terkena pasal ITE" ucap Breena memotong ucapan Daddy Steven.
"Iya memang itu tujuan Daddy. Daddy akan menyuruh anak buah Daddy memviral kan video itu di semua media. kalian tau kan bagaimana reaksi netizen kalau sudah ada video viral. Mereka akan berkomentar sesuka hati mereka tanpa memikir kan orang nya." ucap Daddy Steven.
"Iya Daddy setuju. Mereka harus merasakan apa yang kalian rasakan. Walau pun tidak ada yang tau tentang masalah kalian. Tapi apa yang di lakukan mereka ini sudah sangat keterlaluan" ucap Daddy Martin.
"Lalu apa lagi Dad?" tanya Dayyan tak sabar.
"Tenang lah Boy. Kenapa kamu seperti terburu buru seperti itu" ledek Daddy Martin yang berusaha mencair kan suasana tegang di antara mereka.
__ADS_1