
Sore hari Mama Ratih sedang sibuk di dapur bersama beberapa pelayan yang memang bertugas untuk membantu Mama Ratih memasak.
Walau pun mereka mempunyai banyak pelayan, namun tetap saja kalau urusan makanan, tetap masakan Mama Ratih lah yang selalu terhidang di atas meja makan mereka.
Saat ini Mama Ratih memasak banyak sekali makanan. Dari makanan permintaan Ansel yaitu ayam madu dan sup iga. Lalu makanan kesukaan suaminya dan menantu nya, udang saus padang.
Tak tertinggal permintaan Ibu hamil, yang kata nya lagi ngidam pengen makan coto Makasar dan Sop konro. Entah kenapa Breena sangat ingin makan kedua menu itu malam ini. Jadi sebelum ia beristirahat tadi, ia sudah berpesan terlebih dahulu ke Mama nya.
Coto Makasar sendiri merupakan makanan yang berbahan dasar kan daging sapi dan jeroan sapi. Biasa nya Coto Makasar disajikan bersama dengan ketupat dan sambal tauco yang khas. Makanan khas dari Makasar ini menggunakan segudang rempah sehingga dapat menghasilkan makanan dengan cita rasa yang tinggi.
Sedangkan Sop Konro. Konro itu merupakan masakan sup iga sapi. Makanan yang berkuah berwarna coklat kehitaman ini biasanya dimakan dwngan burasa atau ketupat. Dengan iga sapi yang memiliki tekstur yang sangat empuk. Sementara itu kuahnya perpaduan antara gurih, asam dan pedas. Sehingga mampu membuat penikmatnya ketagihan.
Mama Ratih juga membuat puding buah untuk cemilan ketika nanti mereka kumpul di ruang keluarga.
Setelah menghabiskan waktu hampir 2 jam akhirnya Mama Ratih pun selesai juga memasak nya.
"Mbak tolong ini nanti di siap kan di meja makan iya. Saya mau mandi dulu" pesan Mama Ratih lalu iya berjalan menuju ke kamar nya.
Sementara itu Ansel sedang berada di taman belakang. Ia sedang menatap bunga bunga yang sengaja diletakkan ditaman belakang.
Ansel sedang melamun memikirkan hubungan nya dengan Windy. Ia ingin sekali menikah dengan Windy. Bahkan kedua orang tua nya juga sudah mendesak nya untuk segera menikah. Namun ia melihat dari sisi Windy kalau Windy seperti yang belum siap untuk membina rumah tangga. Hal itu membuat Ansel dilema.
Dari atas balkon kamar Breena. Breena dan Dayyan yang sedang bersantai sore hari pun dapat melihat keberadaan Ansel.
"Mas, itu seperti Kak Ansel. Apa iya?" tanya Breena yang tak yakin.
"Iya sayang. Itu memang Kak Ansel"
"Kok kaya yang lagi melamun gitu iya Mas. Ada apa dengan tuh orang iya. Nggak biasanya dia seperti itu"
"Mungkin dia lagi ada pikiran sayang. Uda biarin aja dulu. Kalau uda waktu nya pasti dia akan cerita kok sama kita"
"Iya deh. Mas?"
"Iya Umi. Umi mau sesuatu?" tanya Dayyan lembut.
"Twins kata nya mau makan ice cream Mas. Boleh?" tanya Breena sambil mengerjap ngerjapkan matanya segemas mungkin.
"Duuhh mata nya sayang. Uda jangan digituin. Bikin Mas gemea aja sama kamu. Baiklah sesuai permintaan baby twins. Abi ambilkan dulu iya ice cream nya. Mau rasa apa sayang sayang nya Abi?" tanya Dayyan sambil mengelus perut Breena.
Iya setelah tau Breena hamil, mengelus perut Breena adalah kewajiban baginya sekarang.
"Coklat aja Mas. Lagi pengen makan coklat ini"
__ADS_1
"Iya uda tunggu sebentar iya"
Dayyan pun pergi menuju ke dapur dan mencari ice creak sesuai pesanan anak anak nya. Lalu iya kembali ke kamar nya dan menemani Breena makan ice cream. Selesai makan ice cream mereka pun mandi dan menjalankan sholat magrib.
Tepat jam menunjukkan pukul 07:00 malam. Dayyan dan Breena pun turun kebawah untuk makan malam. Cacing cacing yang ada di dalam perut Breena sudah mendemo minta di kasih makan.
"Lahh ada Kak Ansel. Ngapain kesini Kak?" tanya Breena sambil duduk dikursi yang sudah Dayyan tarik.
"Lagi numpang Makan. Dirumah malas makan sendirian" jawab Ansel santai.
"Mommy sam Daddy kemana Kak?"
"Biasa lagi perjalanan bisnis selama sebulan. Jadi selama itu juga Gue nginap disini"
"Ooohhh baiklah"
"Uda ayo dimakan dulu. Nanti lagi bicara nya" ucap Papa Doni.
Mereka semua pun memulai makan malam nya. Breena makan dengan sangat lahap. Bahkan ia masih kurang setelah makan satu mangkuk coto Makasar dan satu mangkuk sop konro + nasi hangat. Ia nambah makan nya.
Ansel yang melihat cara makan Breena yang banyak pun menelan ludah nya dengan susah payah. Iya pun melirik kearah perut Breena lalu ke arah perut nya.
Breena yang maka namun perut nya pula lah yang begah karena Breena makan banyak malam ini.
Sadar karena diperhatikan terus oleh Ansel. Breena pun langsung membuka suaranya.
"Ada apa Kak? Kenapa gitu banget lihatin aku nya?" tanya Breena tanpa melirik kearah Kakak sepupunya itu.
"Belum kenyang Dek?"
"Belum. Maklum aja lah Kak. Kan Breena hamio kembar jadi harus banyak makan biar dedek bayi yang didalam perut tidak kekurangan nutrisi" jelas Breena yang hanya diangguki oleh Ansel.
"Dek"
"Hmm"
"Dek" panggil Ansel lagi.
"Ada apa Kakak ku Ansel Ivander Bagaskara?" tanya Breena kesal.
"Ada yang mau Kakak tanyakan sama kamu"
"Tentang apa?" tanya Breena bingung.
__ADS_1
"Windy"
Satu kata yang disebutkan oleh Ansel berhasil membuat Breena menghentikan makan nya.
"Kenapa dengan Windy?" tanya Breena dengan kening yang mengkerut.
"Kakak ada rencana mau melamar nya dan ingin mengajak nya menikah" jeda Ansel.
"Lah terus masalah nya apa Kak? Kan niat Kakak uda bagus. Semua orang juga mendukung hubungan kalian kan?" tanya Breena merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Kakak sepupunya itu.
"Iya memang semua orang uda mendukung dan merestui hubungan kami. Tapi Kakak lihat sepertinya dia belum bersedia kalau di ajak menikah" ucap Ansel pelan.
"Uda Kakak tanyakan apa alasan nya?"
"Kata nya dia mau membanggakan Ibu nya dulu. Dia mau jadi dokter dulu baru mau nikah" jawab Ansel lesu.
Huuufffttt
Breena menghela nafasnya. Ia yakin bukan hanya itu alasan yang dikatakan oleh sahabat nya itu. Pasti ada alasan yang lain nya.
"Yakin hanya itu alasan nya Kak?" tanya Breena lagi.
"Iya Dek. Hanya itu alasan yang ia katakan. Kenapa Dek?" tanya Ansel gusar.
Semua orang dapat melihat kegusaran yang melanda Ansel. Baru kali ini mereka lihat Ansel yang sedang putus asa karena masalah percintaan.
"Adek rasa bukan hanya itu alasan nya dia menolak Kakak melamar nya. Pasti ada alasan lain nya yang dia sulit untuk mengatakan nya Kak" ucap Breena.
"Apa kamu tau sesuatu tentang nya Dek?" tanya Ansel. Ia sangat berharap kalau Adik nya ini tau banyak hal tentang pujaan hatinya, Windy, sahabat adik nya itu.
"Apa Kakak sudah mengenal Windy dari luar dan dalam nya?" tanya Breena yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Ansel.
Breena pun juga menggelengkan kepala nya. Ia jadi berpikir selama ini apa aja yang dilakukan dua manusia yang sedang dilanda cinta ini. Sampai sampai sisi luar dalam nya pasangan mereka aja mereka tidak tau.
Ralat bukan mereka. Tapi hanya Ansel yang tidak tau. Iya windy memang tau semua tentang Ansel. Itu pun Windy tau nya dari Breena. Tetapi tidak dengan Ansel. Ia tidak tau apa apa. Yang ia tau Windy anak nya ceria, ramah kepada semua orang. Baik, sopan. Selain itu ia tak tau apa apa lagi.
"Apa Kakak mau tau sesuatu hal tentang Windy?" tanya Breena.
Ansel pun dengam semangat menganggukan kepala nya. Ia sangat ingin tau tentang pujaan hatinya itu.
"Baikalh mungkin setelah Kakak mendengar nya, Kakak tidak akan percaya begitu saja. Tapi itu lah kenyataan nya" jeda Breena.
Ia dapat melihat Ansel yang duduk dengan tidak sabaran menanti apa yang akan dikatakan oleh Breena.
__ADS_1
"Jadi......