Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Hadiah Untuk Ani


__ADS_3

Sesuai janji. Malam ini keluarga Abraham, Danuarta, Bagaskara dan Pratama beserta anak dan menantu mereka akan datang ke mansion Keluarga Anderson. Mereka datang kesana untuk mengucapkan selamat atas kehamilan menantu baru mereka.


Bukan hanya untuk mengucap kan selamat saja. Tetapi mereka datang kesana juga untuk memberi kan hadiah atas kehamilan Ani. Sama seperti waktu mereka tau Breena hamil dan memberikan Breena banyak hadiah yang tak ternilai harga nya. Yang pasti hanya sultan lah yang bisa memberi kan hadiah itu.


Di mansion Anderson


Semua pelayan sedang sibuk menyiap kan sajian makan malam beserta cemilan untuk tamu Tuan dan Nyonya mereka. Mommy Aletha meminta menu sehat untuk makan malam nya. Ia juga meminta makanan dan cemilan khusus untuk Ibu hamil.


Di dalam kamar Brian. Satu keluarga kecil yang sedang berbahagia itu sedang berebut mengelus perut Ani yang masih rata. Siapa lagi kalau bukan Brian dan anak nya Quin.


"Daddy awas, Quin mau usap usap perut Bunda" omel Quin karena Daddy nya tidak mau mengalah dengan nya.


"Daddy juga sama sayang. Daddy juga mau elus elus adik kamu" ucap Brian tak mau kalah.


"Quin dulu Dad"


"No Quin. Daddy dulu baru kamu. Oke"


Ani geleng geleng kepala melihat tingkah dua orang kesayangan nya itu. Dengan cepat Ani memegang kedua tangan mereka berdua, lalu menempelkan nya di sisi perut nya masing masing. Brian di kanan dan Quin di kiri.


"Oke adil kan kalau begini. Sama sama bisa elus elus perut Bunda" ucap Ani dengan senyum lembut nya yang membuat anak dan Ayah itu tersenyum malu.


"Bunda, apa dedek di dalam perut Bunda ada dua seperti Umi Breena?" tanya Quin


"Tidak sayang. Dedek di dalam perut Bunda hanya ada satu. Apa Quin mau dedek nya dua?"

__ADS_1


"Tidak Bunda. Quin mau berapa aja. Kalau memang satu Quin juga bahagia Bunda. Yang penting Quin punya adik. Jadi Quin ada teman main nya" ucap Quin polos.


Brian yang mendengar jawaban anak nya itu pun terdiam. Dia berpikir apakah selama ini anak nya itu kesepian? Tetapi selama ini anak nya selalu di temani oleh babysiter nya. Oma dan Opa nya juga menemani nya. Lalu kenapa dia berkata seperti itu.


Ani yang melihat suami nya seperti sedang berpikir pun menggenggam tangan suami nya. Ia memberi kan senyuman manis nya untuk menenangkan pikiran sang suami.


"Apa selama ini anak Daddy kesepian?" tanya Brian.


"Sedikit Daddy. Quin hanya ingin punya adik biar bisa di ajak main. Karena selama kita di Jerman, Quin hanya di temani sama Mbak. Tapi ketika kita uda disini Quin punya banyak teman."


"Maafin Daddy sayang. Selama di Jerman Daddy selalu sibuk sama kerjaan Daddy dan melupakan keberadaan kamu" ucap Brian pelan.


"Tidak apa apa Daddy. Daddy kan disana bekerja cari duit banyak untuk beli mainan Quin"


"Terima kasih sayang. Daddy janji tidak akan pernah mengabaikan kamu lagi" ucap Brian yang membawa Quin kedalam pelukan nya.


Malam hari nya satu persatu mobil mewah memasuki halaman mansion keluarga Anderson. Keluarga Abraham dan Pratama beserta Dayyan dan Breena datang terlebih dahulu. Di susul oleh mobil keluarga Danuarta dan Doni beserta Anggi. Setelah itu mobil milik Keluarga Calvin Bagaskara beserta istrinya.


Ketika mereka hendak berjalan menuju ke pintu utama yang sudah terbuka dan berdiri kepala pelayan. Langkah kaki mereka terhenti karena ada satu mobil lagi yang baru datang. Mereka menunggu sampai si pemilik mobil keluar.


Ternyata itu mobil milik Bagaskara Admaja, Paman Ani. Ia datang bersama anak dan istri nya. Entah siapa yang memberitahu nya kalau mereka sedang berkumpul di Mansion Anderson.


"Selamat malam Tuan Tuan dan Nyonya Nyonya. Saya tidak menyangka kalau malam ini akan bertemu dengan kalian semua disini" ucap Bagaskara ketika ia sudah bersada di hadapan para pengusaha sukses itu.


"Selamat malam Pak Bagaskara. Iya kami memang merencanakan berkumpul disini karena akan merayakan sesuatu. Ayo kita masuk bersama Pak Bagaskara" ucap Abah Arsya mengajak Paman satu satu nya Ani ini masuk.

__ADS_1


Mereka semua pun akhir nya masuk ke dalam mansion mewah keluarga Anderson. Pelayan menuntun langkah mereka ke halaman belakang. Karena mereka akan mengadakan makan malam nya di halaman belakang. Mengingat kalau yang datang banyak. Jadi tidak akan cukup kalau hanya makan di meja makan yang kursi nya hanya ada sepuluh.


Dihalaman belakang, sudah tersusun rapi beberapa meja dan lengkap dengan hidangan nya di atas meja itu. Tak hanya itu disana juga ada alat panggang barbeque. Beberapa pelayan juga sedang memanggang daging dan beberapa udang dan sosis.


Acara makan malam itu pun berjalan lancar. Para pengusaha itu berkumpul membuat grup mereka sendiri. Pembahasan mereka pasti tak jauh jauh dari saham dan bisnis yang mereka rintis.


Berbeda dengan para Nyonya Besar. Mereka membahas masalah fashion dan perawatan. Hanya Umma Hanum lah yang tak begitu paham tentang perawatan. Karena memang dia tak pernah melakukan itu. Kecantikan nya natural tanpa ada bantuan dari produk produk kecantikan.


Berbeda dengan pasangan pasangan muda, mereka sedang membahas tentang bagaimana mereka seharian dalam menjalani rumah tangga mereka. Terutama dua Ibu hamil. Mereka saling membahas masalah kehamilan.


Setelah lelah berbincang. Papa Doni meminta mereka semua untuk berkumpul di ruang keluarga. Karena ada yang ingin di sampai kan oleh nya.


Dan disini lah mereka sekarang. Di ruang keluarga duduk bersama pasangan masing masing dan keluarga nya.


"Baik lah kita mulai saja. Ani ini dari Papa dan Mama. Selamat untuk kehamilan kamu" ucap Papa Doni sambil menyodorkan satu buah map kearah Ani dan Brian.


Ani memandang heran kearah Papa Doni dan Mama Ratih. Ia lalu memandang suami nya. Brian hanya tersenyum dan mengangguk. Meminta Ani untuk menerima map yang di berikan oleh Papa Doni.


"Ini apa Pah?" tanya Ani yang masih tak menyentuh map itu.


"Hadiah untuk kehamilan mu. Itu dari Mama dan Papa. Papa harap kamu mau menerima nya nak" ucap Papa Doni sedikit memaksa. Bukan tanpa alasan Papa Doni memaksa nya. Karena ia tau kalau Ani tidak akan mau menerima pemberian dari orang lain tanpa tau alasan nya.


Ani kembali menatap suami nya. Brian pun tersenyum melihat keraguan sang istri.


"Ambil lah sayang. Dan buka lah. Kau akan tau apa isi nya itu" ucap Brian dengan tenang.

__ADS_1


Dengan ragu Ani mengambil dan membuka map itu. Ia perlahan membaca isi nya. Seketika mata nya membola. Ia menatap tak percaya isi dari dalam map itu.


__ADS_2