
Brian mendatangi tempat penyewaan gondola. Ia menyewa gondola itu sampai sore hari.
Brian dan Ani duduk saling bersisian. Terkadang Brian pindah duduk di belakang Ani. Agar ia bisa memeluk istri tercinta nya itu dari belakang sambil menikmati pemandangan di sepanjang Little Venice yang mereka lewati.
Senyum terkembang di wajah Ani. Ia sangat bahagia hari ini. Brian menunjuk kan kasih sayang dan cinta tulus nya itu pada nya.
"Kamu senang sayang?" tanya Brian dari belang tubuh Ani.
"Hmmm. Sangat Mas. Ani sangat senang dan bahagia. Terima kasih Mas" ucap Ani dengan senyum tulus nya.
"Terima kasih untuk apa sayang?" tanya Brian bingung.
Ya, Brian bingung. Terima kasih untuk apa maksud dari istri nya itu. Sebab apa yang ia lakukan semua nya adalah untuk membahagia kan istri nya. Agar Ani tau kalau dia juga sangat menyayangi dan mencintai istri nya itu. Bukan karena Quin.
"Terima kasih untuk kebahagiaan yang sudah kamu dan keluarga kamu berikan untuk ku Mas. Terima kasih sudah menerima ku di dalam hidup kamu dan keluarga kamu"
Brian tersenyum mendengarnya. Ia memutar tubuh istri nya agar menghadap kearah nya. Brian memegang ke dua tangan Ani. Menatap Ani begitu dalam dengan tatapan penuh cinta nya.
"Mas yang seharus nya berterima kasih dengan mu sayang. Terima kasih sudah mau menerima Mas yang seorang duda anak satu. Terima kasih sudah mau menyayangi Quin seperti anak kamu sendiri. Terima kasih untuk kasih sayang yang telah kamu curah kan untuk kami berdua sayang" ucap Brian tulus. Lalu ia mencium kedua tangan Ani yang di genggam nya.
"Mari kita berjuang bersama Sayang. Setelah kita mengadakan acara resepsi, mari kita rebut kembali hak kamu. Kamu sudah terlalu lama bersembunyi dari mereka. Sekarang waktu nya kamu untuk menunjuk kan diri mu di depan mereka. Melawan mereka dan mengambil hak kamu di keluarga kamu. Sesuai dengan isi surat warisan Kakek kamu" lanjut Brian menyakin kan Ani.
"Temani Ani sampai semua nya selesai Mas. Ani tak punya siapa siapa lagi kecuali kalian orang orang baik yang sudah menjaga dan melindungi Ani" ucap Ani tanpa terasa air mata nya menetes membasahi pipi nya.
Ani sangat terharu, ternyata banyak orang orang yang sayang dengan nya. Tekat Ani pun semakin yakin untuk merebut kembali hak milik nya.
Sore hari nya, puas menikmati aliran air Little Venice, Brian dan Ani pun memutus kan untuk makan terlebih dahulu sebelum kembali ke villa yang mereka tempati.
...----------------...
__ADS_1
Di Jakarta, Dion sedang sebel dengan tingkah atasan nya sekaligus sahabat nya itu. Bagaimana tidak, Dayyan yang datang ke kantor di siang hari. Melewati meeting bersama klien nya. Dan harus di gantikan oleh Dion. Dan sekarang ia justru minta di buat kan sop buah oleh atasan nya itu. Dan harus ia yang membuat nya.
Kekesalan nya semakin menjadi ketika Dayyan meminta Dion membuat sop buah nya di dalam ruangan nya, bukan di pantry. Dengan hati yang masih kesel. Dion mengupas buah buahan yang sudah di bawa oleh Dayyan tadi.
Sementara Anggi menahan tawa nya melihat suami nya yang lagi kesal. Berbeda dengan Dayyan. Ia hanya menatap Dion yang sedang membuat sop buah dengan binar antusias nya. Ia sudah tak sabar menikmati sop buah buatan tangan Dion.
Setelah menunggu beberapa menit. Akhir nya sop buah ala Dion pun jadi. Dayyan dengan semangat memakan nya. Bahkan Dion yang tak yakin buatan nya itu enak pun, hanya bisa menganga melihat kelakuan sahabat nya itu.
"Jadi gimana meeting nya tadi?" tanya Dayyan di sela makan nya.
"Meeting berjalan lancar. Mereka menerima kerja sama dengan perusahaan kita. Dan lusa adalah jadwal tanda tangan kontrak." jawab Dion.
Dayyan hanya mengangguk anggukan kepala nya.
...----------------...
Ke esokam hari nya, Brian heran melihat istri nya sudah memakai pakaian yang rapi. Celana kulot dengan tunik dan hijab nya. Bahkan Ani juga memakai sepatu sport nya.
"Mau sepedaan Mas. Kaya nya enak sepedaan disini. Apa lagi pagi gini udara nya masih segar. Kamu mau ikut Mas?" tanya Ani menghampiri suami tampan nya itu.
"Boleh deh. Mas cuci muka dulu iya. Nanti Mas minta tolong sama penjaga supaya menyiap kan sepeda untuk kita"
Setelah mengatakan itu Brian pun berjalan ke kamar mandi dengan wajah bantal nya. Ani langsung menyiap kan baju sang suami. Setelah itu ia membereskan tempat tidur mereka.
Setelah semua nya selesai. Ani berjalan meninggalkan kamar, tujuan nya adalah dapur. Ia akan membuat sarapan terlebih dahulu. Berhubung Brian yang tidak biasa sarapan dengan menu yang berat, jadi Ani hanya menyiap kan roti selai saja. Di tambah dengan kopi pahit.
"Mas sarapan dulu" ajak Ani ketika melihat suami nya yang berjalan menghampiri nya.
Brian tak menjawab, ia hanya mengangguk kan kepala nya. Brian menghadiahi kecupan singkat di puncak kepala istri nya. Kemudian mereka menikmati sarapan pagi mereka.
__ADS_1
"Ayo Mas kita sepedaan. Mumpung udara nya masih segar" ajak Ani setelah mereka selesai sarapan.
"Ayo sayang"
Kedua nya berjalan menuju pintu utama villa. Di depan teras villa mereka sudah ada satu buah sepeda. Ani mengernyitkan alis nya, lalu menatap sang suami.
"Mas kenapa hanya satu sepeda?" tanya Ani heran.
"Iya memang hanya satu yang Mas minta sayang. Biar kita bisa berboncengan" jawab Brian santai.
Brian pun menaiki sepeda itu. Kemudian meminta Ani duduk di boncengam belakang. Dan menarik kedua tangan Ani agar memeluk nya.
Tanpa bantahan, Ani menuruti permintaan sang suami. Ia dengan senyum yang mengembang memeluk tubuh tegap sang suami.
"Sudah siap?"
"Sudah. Ayo jalan Mas" ucap Ani semangat.
Brian pun melajukan sepeda nya, mengelilingi area puncak dekat villa nya.
Di sepanjang jalan Brian hanya diam. Sesekali tersenyum ketika berpapasan dengan penduduk yang sedang memetik daun teh. Sedang kan Ani di belakang nya asyik bernyanyi sendirian. Terkadang Brian pun juga ikut bernyanyi.
Sepasang pengantin baru itu menikmati kebersamaan mereka berdua di atas sepeda. Bagi Ani tak perlu mahal untuk sesuatu yang membahagia kan. Cukup bersama dengan orang yang di sayang dan di cintai nya. Melakukan kegiatan kegiatan sederhana namun membuat nya bahagia.
Brian pun demikian. Ia yang dulu selalu memberikan uang ke mantan istri nya yang hanya bisa belanja dan belanja. Menurut nya itu adalah bentuk kebhagiaan. Namun ketika ia bersama dengan Ani. Tak pernah sekali pun wanita itu meminta uang kepada nya untuk hal yang membahagia kan. Namun Ani mengajak nya melakukan hal hal kecil dan sederhana yang akhir nya membuat ia dan pasangan nya bahagia.
Perbedaan kedua wanita yang pernah menjadi istri nya itu sangat kentara. Nova yang selalu hobby belanja untuk membahagiakan diri nya. Kesalon, arisan dengan teman teman nya.
Sedangkan Ani, wanita yang sangat sederhana. Bahkan selama mereka berpergian yang ada di ingatan nya Ani adalah putri kecil nya. Ia akan membeli kan oleh oleh untuk putri kecil nya dan keluarga nya yang lain. Bahkan ia tak pernah sekali pun membeli untuk dirinya.
__ADS_1
Apa pun dan bagaimana pun kelakuan ke dua wanita yang menjadi istri nya, ia selalu bersyukur. Ia tak pernah menyesal dan membeda beda kan satu dengan yang lainnya.