
Sore hari waktu nya jam pulang kantor. Dion pun dengan segera melajukan mobil nya menuju ke rumah sederhana milik kedua orang tua nya.
Iya bukan Dion yang tak mau membangunkan rumah atau membelikan rumah yang lebih besar dan mewah dari rumah kedua orang tua nya. Tetapi memang kedua orang tua nya lah yang tak ingin pindah dari rumah itu.
Rumah itu adalah hasil kerja keras Bunda dan Ayah nya. Rumah yang banyak kenangan didalam nya.
Setelah menempuh waktu hampir 1 jam dijalanan karena macet. Akhirnya Dion pun sampai di rumah kedua orang tuanya.
Ia hanya melihat sepeda motor milik Bunda nya saja yang ada di samping rumah mereka. Ia belum melihat mobil Ayah nya.
"Assalamualaikum Bunda" ucap salam Dion sebelum masuk kedalam rumah nya.
Bunda yang sedang berada didapur pun langsung menuju ke depan.
"Wa'alaikum salam. Sudah pulang sayang"
"Iya Bunda, baru aja sampai" jawab Dion lalu ia mencium tangan Bunda nya.
"Bunda lagi apa? Kok tangan nya bertepung gitu?" tanya Dion.
"Bunda lagi buat kue kering untuk Anggi. Besok kamu bawa kan sekalian iya ke kantor"
"Siap Bunda. Pasti Anggi senang banget dapat kue dari Bunda"
"Iya seperti biasa sayang, dia pasti langsung menelpon Bunda kalau uda dapat titipan dari Bunda mu ini" ucap Bunda sambil terkekeh.
"Ayah mana iya Bunda?"
"Ayah lagi keluar sebentar sayang. Ada urusan katanya. Iya uda kamu mandi dulu gih. Bunda mau liat kue nya dulu"
"Siap Bunda ku sayang" ucap Dion sambil mencium pipi Bunda nya. Lalu ia berjalan menuju kekamarnya.
Bunda Aisyah pun juga berjalan menuju ke dapur. Ia akan menyelesaikan membuat kue kering untuk calon mantunya, setelah itu ia akan memasak menu makan malam untuk suami dan anak nya.
Malam hari nya ketika keluarga Dion sudah selesai makan malam, mereka pun berkumpul diruang tengah sambil menonton TV.
"Ayah Bunda ada yang mau Dion sampaikan" ucap Dion membuka pembicaraan diantara mereka bertiga.
"Ada apa nak?" tanya Ayah Hermawan tanpa mengalihkan tatapan nya dari siaran berita di TV mereka.
"Dayyan mengundang kita untuk makan malam bersama dengan keluarga nya dan keluarga sahabat mertuanya"
__ADS_1
Ayah Hermawan langsung menatap anak nya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedangkan Bunda nya sudah mulai gelisah.
"Apa kamu tidak salah nak?" tanya Ayah Hermawan yang masih kurang percaya dengan yang dikatakan anaknya.
"Tidak Ayah. Tadi Dayyan sendiri yang mengatakan nya. Apa kita akan datang Ayah?" tanya Dion ragu.
"Menurut Bunda gimana?" tanya Ayah Hermawan meminta pendapat sang istri.
"Bunda nggak yakin Yah. Bunda malu sama keluarga mereka. Mereka kekuarga pengusaha semua. Sementara kita hanya keluarga sederhana Yah. Apa kita pantas untuk datang?" tanya Bunda Aisyah yang mulai khawatir.
"Keluarga Anggi juga akan datang Bunda. Jadi Bunda tidak perlu cemas" ucap Dion mencoba menenangkan Bunda nya.
"Bukan begitu sayang. Sebelumnya Bunda mau minta maaf. Sebenarnya tadi waktu disekolah banyak teman teman Bunda yang memuji keluarga Anggi sayang. Juga keluarga Abraham dan Anderson. Jadi karena Bunda penasaran, Bunda browsing di internet. Bunda mencari tau tentang keluarga atasan kamu, keluarga Anggi, keluarga Abraham dan keluarga Anderson. Mereka semua orang yang memiliki kekuasaan yang besar sayang. Mereka pengusaha sukses. Bunda merasa tidak pantas untuk bersanding dengan mereka. Apa lagi kita harus ikut makan malam bersama mereka. Bunda malu nak" jelas Bunda Aisyah.
"Bunda percaya sama Dion. Keluarga mereka semua nya baik baik Bunda. Tidak ada yang nama nya dikeluarga mereka itu merendahkan orang lain. Mereka sangat baik. Apa lagi keluarga nya Breena istri nya Dayyan. Mereka tidak pernah membeda bedakan status mereka Bunda" ucap Dion mencoba memberikan pengertian kepada Bunda nya.
"Tap-"
"Bunda percaya kan sama Dion. Lagian disana juga ada keluarga Anggi Bunda. Jadi Bunda tidak perlu takut dan cemas. Mau iya Bunda datang?" mohon Dion.
"Bagaimana Yah?" tanya Bunda Aisyah meminta persetujuan suaminya.
"Menurut Ayah kita datang saja Bunda. Tidak enak kalau menolak undangan dari mereka" saran Ayah Hermawan.
...----------------...
Keesokan harinya. Semua persiapan untuk makan malam pun sudah selesai. Tak hanya makan malam tetapi keluarga Abraham juga akan mengadakan BBQ di halaman belakang rumah nya. Itu adalah permintaan sang putri tercinta mereka.
Satu persatu tamu mereka pun berdatangan. Dari keluarga Anderson yang mengajak seluruh anggota keluarga nya termasuk Quin.
"Silahkan masuk Tuan Nyonya Anderson. Tuan Doni sudah menunggu di halaman belakang" ucap pelayan rumah Papa Doni kepada keluarga Anderson.
"Kenapa dihalaman belakang Bi?" tanya Mommy Aletha.
"Nona Breena meminta BBQ setelah acara makan malam Nyonya" ucap sang pelayan. Kemudian ia menuntun keluarga Anderson menuju ke halaman belakang.
"Kau cepat sekali datang nya Martin. Apa kau tak sabar ingin melihat calon menantu mu?" goda Papa Doni.
"Iya kau benar, aku memang ingin melihat calon menantu ku. Dimana dia?"
"Sabar dong. Dia masih di kamar. Bi tolong panggilkan Ani iya" pinta Papa Doni kepada pelayan nya.
__ADS_1
"Baik Tuan"
"Martin kenalin ini besan ku. Kyai Arsya dan ini istrinya Bu Nyai Hanum"
Daddy Martin pun menyalami Abah Arsya. Sedangkan Umma Hanum hanya mengatupkan kedua tangannya saja.
"Papa manggil Ani?" sapa Mbak Ani ketika sudah berada didekat Papa Doni.
Kenapa Mbak Ani juga manggil Papa ke Papa Doni? Karena itu adalah permintaan langsung dari Papa Doni dan Mama Ratih.
"Sini Nduk. Ini perkenalkan sahabat Papa"
Mbak Ani pun mengatupkan tangan nya kepada Daddy Martin. Dan menyalami tangan Mommy Aletha.
"Waaaahhh cantik dan sopan Dad. Mommy mau mantu yang seperti ini" ucap Mommy Aletha penuh semangat. Bahkan ia terus menggandeng tangan Mbak Ani.
"Iya Mom. Nanti kita tanya sama Brian, dia mau apa nggak iya"
Mbak Ani pun bingung kenapa mereka membahas tentang menantu. Dia melirik ke Papa Doni meminta penjelasan.
"Mereka orang tua yang akan dijodohkan Breena sama kamu Nduk" jelas Papa Doni.
Tak lama berselang keluarga Danuarta pun datang. Bersamaan dengan Dion dan kedua orang tuanya.
"Dion, apa kita harus masuk?" tanya Bunda yang kembali dilanda kegelisahan.
"Iya Bunda kita sudah sampai. Ayo kita masuk Bunda. Bunda jangan gelisah lagi iya. Mereka itu orang baik Bunda. Mereka tidak pernah membeda beda kan orang lain dengan status mereka. Percaya sama Dion iya Bunda. Tuh lihat mantu kesayangan Bunda, uda nungguin Bunda itu"
Bunda Aisyah pun menghela nafas berat. Iya sangat takut keberadaan nya tidak diterima dengan baik oleh keluarga pengusaha ini.
"Baiklah ayo kita turun"
"Bunda makasih iya kue kering nya. Kue nya enak banget Bun. Malah Anggi kurang Bunda kue nya" ucap Anggi dengan mimik wajah nya yang cemberut.
"Besok Bunda buatkan lagi untuk kamu iya sayang" ucap Bunda Aisyah lembut sambil mengelus lengan Anggi.
Anggi pun langsung semangat menganggukan kepalanya.
"Ayo kita masuk besan" ajak Daddy Steven yang langsung berjalan beriringan dengan Ayah Hermawan.
Sedangkan Anggi berjalan bersama kedua Ibu nya. Mommy Rianti dan Bunda Aisyah.
__ADS_1
Thomas berjalan bersama Dion.
Sesampainya dihalaman belakang mereka disambut dengan baik dan hangat oleh si pemilik rumah. Hal itu membuat kegelisahan yang dirasakan Bunda Aisyah menghilang. Ada kelegaan dihatinya. Karena kedatangan nya diterimana dengan baik.