Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Bab 48. Menemani Istri Ke Kampus


__ADS_3

Sementara itu Mommy Aletha bersama dengan cucunya Quin pergi menuju ke mansion Danuarta.


Sebelum ke mansion Danuarta, mereka menyempatkan untuk singgah ke toko roti langganan keluarga Mommy Aletha. Mommy Aletha berencana akan membawakan roti kesukaan sahabatnya itu, Mommy Rianti.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil Mommy Aletha sampai di mansion Danuarta. Tapi karena belum membuat janji terlebih dahulu, jadi mobil Mommy Aletha pun ditahan terlebih dahulu di gerbang oleh para pengawal Danuarta.


"Maaf Nyonya ingin bertemu dengan siapa?" tanya salah satu pengawal yang menghampiri mobil MOmmy Aletha.


"Saya ingin bertemu dengan Rianti Aulia" jawab Mommy Aletha ramah.


"Apa Nyonya sudah membuat janji sebelumnya?"


"Belum. Tolong sampaikan padanya kalau saya Aletha Kanaya ingin bertemu" pinta Mommy Aletha.


"Baik. Tunggu sebentar iya Nyonya" ucap pengawal itu.


Kemudian pengawal itu pun pergi ke pos jaganya dan menelpon kedalam Mansion.


Mommy Aletha yang mendapat perlakukan ketat dari pengawal keluarga Danuarta pun malah mengembangkan senyumnya. Ia paham mengapa sahabatnya itu membuat penjagaan ketat di mansion nya. Sudah pasti mereka tidak ingin kejadian 26 tahun yang lalu terulang kembali.


Setelah menunggu beberapa saat, pengawal tadi pun mendekati mobil Mommy Aletha dan mempersilahkannya masuk.


"Silahkan masuk Nyonya. Nyonya Rianti sudah menunggu anda" ucap pengawal tadi dengan sopan.


"Terima kasih Mas" balas Mommy Aletha tersenyum manis.


Supir pribadi Mommy Aletha pun langsung menjalankan mobilnya menuju kepintu utama mansion Danuarta. Dari jauh terlihat kalau Mommy Rianti sudah menunggu sahabatnya itu diteras mansion nya.


"Alethaaa" panggil Mommy Rianti antusias ketika melihat Mommy Aleta sudah turun dari mobilnya.


"Riantiii" balas Mommy Aletha tak kalah antusiasnya.


Kedua paruh baya itu pun lantas berpelukan. Mereka melepas rindu yang sudah lama tak bertemu.


"Siapa ini Al?" tanya Mommy Rianti ketika ia melihat Quin yang berdiri dibelakang tubuh Mommy Aletha.


"Ini Quin. Cucu ku Ri. Anak nya Brian" jelas Mommy Aletha.


"Hai sayang. Kamu cantik sekali" puji Mommy Rianti membuat Quin tersenyum manis.


"Hai Oma. Oma juga cantik" puji Quin balik.


"Ayo masuk Al. Aku kenalkan sama anakku yang ganteng" ajak Mommy Rianti tak lupa ia menggandeng tangan Mommy Aletha.


Sedangkan Quin sudah dibawa masuk terlebih dahulu oleh kepala pelayan.


"Bagaimana kabarmu Rianti?" tanya Mommy Aletha sesampainya mereka diruang tamu.


"Aku baik Al. Bahkan semakin membaik ketika aku tau anakku masih hidup" ucap Mommy Rianti dengan wajah sedihnya.


"Apa kalian sudah mendapatkan kabar dimana anak kalian?"


"Sudah Al. Salah satu pengawal kami bilang kalau anakku dibesarkan disebuah panti asuhan. Kami sudah mendapatkan alamat panti asuhannya. Rencananya besok kami akan kesana Al, untuk memastikannya" jelas Mommy Rianti yang kini sudah tersenyum. Mengingat besok ia akan bertemu anaknya.


"Alhamdulillah Ri. Semoga kamu secepatnya bertemu dengan anakmu. Tapi Ri.." jeda Mommy Aletha.


"Tapi kenapa Al?" tanya Mommy Rianti bingung.


"Aku seperti pernah melihat anakmu disini Ta. Aku pernah melihat seorang gadis cantik, wajahnya perpaduan wajahmu dengan suamimu. Matanya biru, hidungnya mancung. Namun yang menjadi fokusku, dia memakai kalung dengan liontin biru sama seperti kalung yang kamu berikan untuk anakmu. Namanya juga sama Anggita. Tapi aku tak tau nama panjangnya" jelas Mommy Aletha.

__ADS_1


"Benarkah Al? Apa mungkin itu memang Anggita ku? Semoga saja benar Al. Aku sungguh merindukannya" ucap Mommy Rianti antusias.


"Semoga saja Ri. Aku pernah melihatnya bersama seorang wanita kira kira seumuran sama kita. Tapi ketika aku teliti tidak ada kemiripan diantara mereka berdua Ri"


"Apa kamu memfotonya?"


"Tunggu ia sepertinya aku ada memfoto mereka waktu itu" ucap Mommy Aletha kemudian ia membuka ponselnya dan mencari foto orang yang dia maksud.


"Ini Ri, lihatlah. Mirip bukan dengan wajah kalian dan bentuk kalungnya. Aku tau kalung ini kamu pesan khusus untuk anakmu Ri" ucap Mommy Aletha menunjukkan foto yang ada diponselnya.


Mommy Rianti terus memperhatikan foto itu. Seketika air matanya menetes.


"Kamu benar Al. Ini kalung khusus ku pesan untuk anak ku. Untuk Anggi ku. Dia beneran Anggi ku Al. Anak ku sudah besar rupanya Al" ucap Mommy Rianti menangis bahagia.


"Al kirim ke ponsel ku Al. Mana tau ini beneran anakku. Nanti biar aku tanyakan sama Ibu panti" pinta Mommy Rianti.


Mommy Aletha pun segera mengirim foto itu ke ponsel Mommy Rianti.


"Tunggu Mommy sayang. Sebentar lagi. Sebentar lagi kita akan bertemu" ucap Mommy Rianti dalam hati.


Kemudian kedua paruh baya itu pun melanjutkan perbincangan mereka. Sedangkan Quin sedang bermain bersama beberapa pelayan.


...----------------...


Setelah keluar dari ruang rapat meninggalkan Daddy Martin dengan segala masalah yang menghadangnya. Papa Doni dan Dayyan pun segera turun ke lobby perusahaan. Karena Breena sudah menunggu mereka disana.


"Pah, apa rencana Papa sekarang?" tanya Dayyan ketika mereka sudah berada didalam lift.


"Papa akan membiarkan mereka untung mengulur waktu mereka mengadakan konfrensi pers. Rencanya Papa akan ungkap semuanya nanti di acara ulang tahun perusahaan mereka lusa" jawab Papa Doni dengan senyum yang sulit diartikan.


"Baiklah kalau itu rencana Papa. Dayyan ngikut aja Pah" putus Dayyan.


"Apa maksud Papa?" tanya Dayyan bingung.


"Kau tak tau kalau semua kesuksesan yang didapat oleh keluarga mereka karena campur tangan Papa dan keluarga besar Papa?" tanya Papa Doni yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Dayyan.


"Nanti akan Papa ceritakan semuanya diacara ulang tahun perusahaan mereka. Sekarang ayo kita keluar, kasihan Breena menunggu terlalu lama"


Setelah keluar dari lift, kedua pria dewasa beda umur itu pun melihat Breena yang sedang duduk manis di sofa sambil menunggu mereka.


"Sayang" panggil Dayyan.


"Mas sudah selesaikan?" tanya Breena.


"Iya sudah sayang. Jadi kekampusnya?"


"Jadi Mas. Papa abis ini mau pulang apa kerumah sakit?" tanya Breena menghadap kearah Papa nya.


"Papa pulang aja sayang. Melihat kalian seperti ini Papa jadi rindu sama Mama kamu" ucap Papa Doni sambip mengedipkan satu matanya.


"Papa jangan genit gitu. Breena nggak mau punya adik Papa" protes Breena.


"Kalau kamu nggak mau adik, berarti kamu kasih Papa cucu dong nak" goda Papa Doni.


"Papa iihh malu" ucap Breena yang langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Benar kata Papa sayang. Nanti kita kasih saja Papa sama Mama cucu yang banyak" ucap Dayyan yang ikut menggoda istrinya.


"Maaassss" rengek Breena.

__ADS_1


Hahahahaha


"Iya ayok kita pulang sayang. Abis itu kita kekampus kamu" ajak Dayyan setelah Breena melepas pelukannya.


"Ayok Mas. Pah, kami duluan iya" pamit Breena dan Dayyan.


"Iya hati hati bawa mobilnya Dayyan. Anak Paap cuma satu dan jangan sampai ada yang lecet iya"


"Siap komandan. Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


Kemudian mereka berpisah diparkiran.


Sedangkan dari kejauhan semua tingkah Breena diperhatikan oleh seseorang. Ia begitu cemburu Breena bertingkah manja dengan orang lain. Namun ia tidak bisa berbuat apa apa. Yang hanya bisa lakukan hanyalah penyesalan yang mendalam.


...----------------...


Dayyan dan Breena pun sudah sampai dikampus Breena. Setelah mereka pulang kerumah terlebih dahulu untuk makan dan mengambil skripsi Breena. Tak lupa Breena juga mengganti bajunya yang lebih sederhana dari yang ia pakai tadi.


Iya Breena memang terkenal mahawiswi kaya namun terlihat sederhana. Pada hal memang sifat Breena lah yang sederhana dan apa adanya. Bukan sebuah reputasi yang sengaja dibuatnya.


"Mas, kamu mau nunggu di mobil apa ikut masuk juga?" tanya Breena ketika mereka sudah sampai diparkiran mobil khusus fakultas kedokteran.


"Ikut aja iya sayang. Biar Mas nggak bosan nunggu kamu dimobil"


"Iya uda. Ayo kita masuk Mas. Dosen aku uda nunggu diruangannya" ajak Breena.


Dayyan langsung keluar dari mobilnya, dia memutari mobi dan membukakan pintu mobil untuk Breena.


Aksi Dayyan itu dilihat oleh mahasiswa atau mahasiswi kedokteran yang ada di parkiran.


"*Iti siapanya Breena iya. Romantis banget sampai bukain pintu mobil segala"


"Ganteng banget sih"


"Iya ganteng banget. Mau deh gue jadi kekasihnya"


"Jangan kan elo, gue pun juga mau kalau diajak jadi istri keduanya*"


Ucapan bisikan itu terdengar ditelinga Dayyan dan Breena. Dayyan tak menanggapi ucapan para mahasiswa itu. Dia cuek dan justru melingkarkan tangannya dipinggang Breena. Sedangkan Breena sudah manyun ketika mendengar satu mahasiswa yang mau jadi iatri kedua suaminya.


"Jangan didengerin sayang. Mas hanya milik kamu"


"Tapi sebel Mas. Iihhh pengen Breena jahit itu mulut mereka kalau ngomongnya kaya gitu" kesal Breena.


"Jangan sayang. Nanti yang ada kamu yang akan rugi. Uda biarin aja. Yang penting Mas hanya milik kamu"


"Iya Mas"


Mereka berdua pun terus berjalan menuju ruangan dosen pembimbing nya Breena.


"Mas, Breena masuk dulu iya" pamit Breena sambil mencium tangan suaminya.


"Iya, semangat iya sayang. Semoga skripsi nya di ACC iya" doa Dayyan sambil membelai kepala Breena.


"Amin" ucap Breena.


Lalu Breena punengetuk pintu ruangan dosennya dan berjalan masuk kedalam ruangan dosen pembimbingnya. Meninggalkan Dayyan diluar ruangan dosen tersebut sendirian.

__ADS_1


Dengan sabar Dayyan menunggu Breena sambil mengecek email yang dikirimkan oleh asistennya.


__ADS_2