
Rombongan Dayyan dan Breena beserta yang lain nya pun telah sampai di parkiran jet pribadi milik keluarga Anderson.
Juna berdiri dedepan tangga jet pribadi dengan pakaian pilotnya lengkap dengan pangkat nya berkacak pinggang. Ia sudah dari tadi menunggu orang orang yang akan dia bawa ke Kepulauan Derawan, Berau. Namun sampai ia menunggu 40 menit barulah mereka datang.
"Kenapa lama banget" ucap Juan kesal menatap kearah Brian.
"Apa? Aku tak bersalah. Aku juga tak telat datang kesini. Tuh tanya sama princess mu, kenapa dia baru datang" sewot Brian karena ia ditatap tajam oleh Juan.
"Abang marah?" tanya Breena lembut dengan nada manja nya. Tak lupa dengan mata yang sudah berkaca kaca menatap kearah Juan.
"Eeehhh enngak princess. Abang nggak marah. Duuhh ayo masuk princess kasihan bumil nggak boleh berdiri lama lama" ucap Juan lembut dengan senyum manis nya.
"Terima kasih Uncle uda perhatian sama dedek" ucap Breena menirukan suara anak kecil.
"Kembali kasih sayang sayang nya Uncle"
Setelah mengatakan itu Breena pun mulai memasuki jet pribadi itu terlebih dahulu. Ia akan memilih tempat duduk yang dia inginkan.
Berbeda dengan yang lain nya. Diluar jet pribadi mereka masih tertawa melihat Juan yang tak berkutik dengan Breena.
"Sama Gue aja Lo ngomel. Gitu sama Breena lembut banget kaya kucing anggora" sindir Brian yang membuat Juan menatapnya sinis.
"Gue tanya sama Lo iya Brian. Lo berani nggak sama tu princess milik nya keluarga Abraham? Lo tau sendiri kan dari dulu aduan nya dia tuh kemana. Apa Lo berani berhadapan sama orang yang uda pasti akan membelanya mati matian?" tanya Juan tak terima dengan sindiran Brian.
"Bener juga. Empat keluar pengusaha ada dibelakangnya. Waahhh bisa bisa Gue di depak dari keluarga Anderson kalau uda buat masalah sama dia"
"Nahhh tuh Lo ingat. Tau sendirikan dari dulu dia itu princess nya mereka. Anak kesayangan mereka. Apa lah daya kita yang laki laki ini. Kalah sama dia yang seorang diri perempuan" ucap Juan membenarkan apa yang dikatakan oleh Brian tadi.
"Uda ahh ayo naik. Ntar keburu dia ngambek lagi. Males Gue sama ambekan nya dia" ucap Ansel yang sedari tadi hanya diam lalu ia pun berjalan memasuki jet pribadi.
Entah apa yang telah terjadi dengan nya. Ansel bukan seperti Ansel yang biasa mereka kenal. Dia lebih banyak diam nya.
Juan dan Brian yang melihat Ansel seperti itu pun saling berpandangan.
"Dia kenapa?" tanya Juan.
"Nggak tau. Dari datang dia diam terus. Hanya berbicara sepentingnya aja. Apa dia ada masalah sama kekasih nya?" ujar Brian.
"Ntah lah. Nanti kita tanyakan aja. Uda ayo masuk" ajak Juan.
Brian dan Juan menjadi orang terakhir yang masuk kedalam jet pribadi milik keluarga Anderson.
__ADS_1
Brian menuju ke kursi kosong disamping Ansel. Ia dapat melihat dari wajah Ansel seperti yang banyak pikiran.
Sedangkan Juan menuju ke kokpit. Ia duduk dikursi kebanggaan nya. Disamping nya juga sudah ada copilot yang akan mendampinginya terbang.
Pintu jet pun ditutup oleh seorang pramugari. Juan menghimbau agar para penumpang menggunakan sabuk pengaman nya. Karena ia akan menerbangkan jet pribadi itu.
Sedari tadi Brian memperhatikan Ansel yang selama diatas awan selalu melihat kearah luar jendela.
"kenapa?" tanya Brian yang tak tahan dengan kediaman nya Ansel.
Ansel yang mendengar Brian bertanya dengan nya pun menoleh. Dia memberikan senyuman paksa kepada Brian.
"Nggak papa" jawab nya singkat.
"Yakin?" tanya Brian lagi untuk memastikan.
Yang hanya dibalas dengan anggukan kepala Ansel.
"Gue yakin Lo lagi nggak baik baik aja. Gue tau Lo lagi banyak pikiran. Kenapa?"
"Gue nggak papa. Lagi mikirin kerjaan aja" sanggah Ansel lagi.
Ia tak ingin menceritakan apa yang terjadi dengan nya. Biarlah nanti ia akan bercerita kepada adik dan suami nya saja.
"Thanks"
Hanya itu yang terucap dari bibir Ansel. Ia pun mulai terdiam lagi. Pandangan mata nya terlihat kosong mematap langit dan awan yang mereka lewati.
"Mas Brian" panggil Dayyan dari kursi nya.
"Kenapa Gus?"
Brian lebih suka panggil Dayyan dengan sebutan Gus. Pada hal Dayyan sudah melarang nya. Tapi tetap saja Brian tetap memanggilnya Gus.
"Ada kamar nggak Mas?" tanya Dayyan ragu.
"Ada. Ada 2 kamar di jet ini. Kenapa Gus?"
"Breena minta tidur dia bilang pinggang nya pegel duduk di kursi terus. Eemmhh saya boleh pinjam kamar nya?" tanya Dayyan hati hati.
"Boleh Gus. Ayo saya tunjukan kamar nya" ajak Brian.
__ADS_1
Brian pun langsung menuju kekamar yang tersisa satu. Karena kamar satu lagi sudah digunakan oleh Quin dan Ani. Quin meminta tidur tetapi harus ditemani dengan Ani.
Dayyan pun mengikuti Brian dari belakang smabil menggendong Breena yang sudah mulai tertidur.
Setelah menunjukan kamar dan Dayyan meletakan Breena di ranjang. Brian pun bersuara.
"Gus bisa kita bicara sebentar"
"Ada apa Mas?" tanya Dayyan menghampiri.
"Ini tentang Ansel Gus. Saya melihat dia seperti sedang ada masalah. Tapi tadi saya tanya dia hanya bilang lagi memikirkan pekerjaan. Coba nanti Gus atau Breena tanyakan dengan nya. Sedari tadi saya lihat dia hanya terdiam saja Gus" jelas Brian.
"Iya uda Mas. Nanti setelah sampai di penginapan kita tanyakan sama dia"
"Iya uda kalau gitu saya tinggal dulu Gus"
Brian pun langsung meninggalkan pasangan halal itu dikamar. Ia kembali duduk di sebelah Ansel yang masih setia menatap kearah luar jendela.
...****************...
3 jam 55 menit, akhirnya jet pribadi yang dikumudikan oleh Capten Juanda pun akhirnya mendarat sempurna di Bandara Internasional Kalimaru Berau yang terletak di Tanjung Redep ( Ibukota Kebupaten Berau).
Butuh waktu yang tak sebentar untuk sampai di Kepulauan Derawan, Berau. Karena setelah naik pesawat, perjalanan akan dilanjut melalui perjalanan darat dengan mobil menuju ke pelabuhan Tanjung Batu. Dan akan dilanjut lagi dengan naik boat selama 30 menit menuju ke Kepulauan Derawan, Berau.
Sebenarnya untuk ke Kepulauan Derawan ada dua jalur, yaitu dari Berau dan dari Tarakan. Masing masing jalur memiliki kelebihan dan kekurangan nya. Tetapi untuk dari Tarakan, perjalanan akan lebih lama berada dilaut dengan menggunakan boat sekitar 3 jam.
Melihat hari yang sudah sore ketika mereka sampai di Pelabuhan Tanjung Batu. Dayyan berinisiatif untuk bermalam dulu dipenginapan di dekat Pelabuhan. Dan akan dilanjutkan lagi besok siang.
Ia memikirkan istri nya yang tengah hamil muda. Ia tak ingin istri nya kelelahan dan berujung dengan kondisi kehamilan nya.
"Baik lah ini kunci kamar masing masing. Ingat yang belum menikah. Jangan satu kamar sama pasangan nya" ucap Dayyan memperingati beberapa pasangan.
"Lahhh bawa bawa status sihh ahhh. Kan jadi ketahuan kalau Gue belum nikah" canda Juan yang disambut gelak tawa dari semua orang.
Dayyan pun berpisah dengan rombongan menuju ke kamarnya bersama Breena. Ia tau kalau istri cantik nya itu uda terlalu lelah selama perjalanan.
Di Lobby hotel mereka masih membagi kamar kamar mereka.
Ani akan satu kamar dengan Selvi. Anggi satu kamar dengan Windy. Brian memilih satu kamar dengan Quin dan Juan. Bahkan Brian harus menambahkan satu bad lagi untuk Juan. Sedangkan Ansel akan satu kamar dengan Dion. Dan 4 orang fotografer terbagi menjadi 2 kamar.
"Oke nanti malam kita ketemu di lobby, untuk makan malam bersama. Jangan sampai telat. Kita kumpul jam 19:00 WITA" ucap Brian sebelum ia melangkah menuju ke kamar nya.
__ADS_1
"Oke" jawab semua orang.